
Hari pertama, para pahlawan telah bersiap menghadapi Tortoise yang baru saja bangun dari tidurnya. Tortoise mengaum kencang seakan menguap.
*Gaoooo..........
"Kalian semua siap?"Tanya Marcel.
Tidak ada yang menjawab, jawabannya sendiri sudah terpampang jelas di wajah mereka yang fokus sepenuhnya kepada Tortoise. Marcel tersenyum dan berfikir bahwa dia bisa mengalahkan mahkluk ini meski tiga pahlawan bodoh itu tidak hadir.
"Kalau begitu... Ayo!" Ujar Marcel.
Semua pahlawan berlari melesat menuju Tortoise sementara tim kecil dari Kerajaan mengikuti di belakang mereka. Nadia, pahlawan Cakar berayun dari satu pohon ke pohon lain. Hampir seperti Tarzan. Dia dapat melemparkan cakarnya dan menancapkannya di pohon sekitar lalu menariknya kembali sehingga membuat dirinya terbawa.
Untuk Petra, dia menghempaskan dirinya dengan kipasnya sehingga dia berada di depan semua orang.
Meskipun kemarin mereka terkena Parasit Tortoise, berkat Ozaru, mereka telah pulih sepenuhnya dan siap bertarung. Seharusnya mereka beristirahat sekitar satu hari, namun karena keadaan tidak bisa membiarkan mereka melakukannya.
Selagi berlari, Marcel mengatakan, "Jika kita tidak dapat mengalahkannya hari ini, setidaknya kita harus cari cara mengalahkannya!" dengan suara lantang.
Semua orang berkata "Ya!" dengan tegas dan fokus kembali ke Tortoise yang telah berdiri sepenuhnya. Di lihat dari manapun, Mahkluk ini tetaplah luar biasa. Ukurannya tampak lebih besar jika di lihat dari dekat dan bola matanya bersinar putih cahaya.
Tortoise menyadari kehadiran para pahlawan yang mendekatinya dan mengangkat kaki kirinya. Dia berniat menginjak Rata para pahlawan yang mendekat itu.
"Berpencar!" Teriak Takatsumi.
Semua pahlawan menyebar ke penjuru tempat. Bahkan bantuan kecil dari Kerajaan hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Mereka tidak memiliki kecepatan yang sama dengan pahlawan, jadi jika Tortoise berniat menginjak mereka dengan kaki besarnya, mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk menghindar. Pilihan terbaik untuk mereka adalah membantu dari jarak yang aman.
"Serang bagian kepalanya saja!" teriak Argo.
menyerang bagian lainnya sangatlah membuang waktu, terutama tempurungnya yang tertutupi gunung. Hanya orang bodoh yang mencoba untuk menyerangnya. Aland berlari menuju Tortoise dan berdiri tepat di bawah kepalanya. Dia memutar palunya dan melemparkannya ke leher Tortoise.
"Palu penghancur!" Teriak Aland.
Palu itu dengan uniknya mengeluarkan bayangan berwarna biru berukuran raksasa. Hampir seperti Mana Manipulasi milik Rigel. Palu itu menghantam leher Tortoise dengan sangat keras. Kepala Tortoise sedikit terhempas ke atas karena hantaman keras itu.
*Gaooo......
Tortoise mengaum kesal dan melihat kesempatan itu, Takumi berlari dengan ancang-ancang untuk melemparkan tombaknya.
"Javelin Strike!" Teriak Takumi.
Tombak Takumi melesat dengan cepat ke bagian dalam mulut Tortoise. Di sisi lain, Hazama menciptakan perisai udara se agar pijakan Marcel.
Marcel melompat dan menginjak perisai udara Hazama sebagai pijakannya dan melompatau lagi. Marcel berputar di udara dan menghantamkan ujung bilah sabitnya ke kepala Tortoise dengan kekuatan yang sangat kuat.
*Clangg.....
Sabitnya menghantam Tortoise secara bersamaan dengan Tombak Takumi yang menghantam nya dari dalam. Mereka berhasil melukai Tortoise dengan menyerangnya dari luar dan dalam. Meski begitu, bagi Tortoise luka itu hanya seperti sengatan nyamuk. Marcel segera melompat kembali ke Takumi dan berdiri di sisinya.
Tortoise hendak menyerang mereka dengan menggunakan kekuatannya, namun sesuatu menyerang kedua matanya.
"Rasakan ini, sialan!" Ujar Nadia.
Nadia mencakar mata kiri Tortoise dengan cepat dan membuatnya kehilangan mata kirinya. Di sisi lain, Petra juga ikut menyerang mata kanannya.
"rasakan ini, Kipas Mawar!" Teriak Petra, menggunakan Skill.
Petra melipat Kipasnya dan mengacungkan ujungnya ke mata Tortoise. Kipas itu mulai bercahaya dan mengeluarkan bilah kipas yang melesat langsung ke mata Tortoise. Saat bilah itu menancap, dia mulai mengeluarkan cabang duri seperti Mawar dan menghancurkan matanya.
Tortoise menjerit sakit dan kesal, namun tidak ada waktu bagi pahlawan untuk diam dan menunggu. Takatsumi dan Argo yang berada di sisi lain melompat dari dua sisi yang berlawanan. Takatsumi mengubah pegangan pedangnya dan menancapkannya di leher Tortoise, begitu juga dengan Argo.
"Pedang Bintang!" Teriak Takatsumi, menggunakan Skill.
"Pisau Bintang!" Teriak Argo, menggunakan skill.
Pedang Takatsumi dan Pisau Argo mengeluarkan cahaya yang sama dan menancap ke leher Tortoise dalam waktu yang sama. Argo berhasil menikam kan Pisaunya, namun Takatsumi hanya berhasil menancapkan setengah dari pedangnya.
*Clang....
Meski begitu, rencana tetap berlanjut. Mereka menarik senjata mereka ke arah yang berlawanan. Takatsumi ke atas sementara Argo ke bawah.
"Hoaaaaa!!!" Argo mengaum.
Rencananya adalah untuk memenggal kepala Tortoise dengan cara itu. Namun sepertinya ini akan gagal karena leher Tortoise lebih tebal dan keras dari sebelumnya. Takatsumi dan Argo langsung melompat turun dan pergi ke tempat Marcel dan Takumi.
"Tch, sepertinya itu tidak berhasil." Marcel mengutuk.
"Ya... Ada yang aneh dengan kekerasan kulitnya." Lanjut Takatsumi.
"Ini lebih keras dari kemarin, apa yang terjadi dengan itu?" Tanya Argo.
Hazama yang mendukung dari belakang berlari menghampiri Marcel dan yang lainnya. Dia seakan menemukan sesuatu tentang misteri di balik ke anehan Tortoise.
"seperti yang di katakan Argo. Kulitnya tampak lebih keras dari sebelumnya... aku berfikir, jika Tortoise meningkatkan ketebalan kulitnya." Ujar Hazama.
"Bahkan Luka bekas ledakan Nuklir Rigel dan luka yang kemarin kita berikan kepadanya telah pulih sepenuhnya. Yang menjadi pertanyaan, kapan dan bagaimana dia melakukannya?" Ujar Takumi dengan bingung.
Semua orang berfikir sama dengan apa yang Takumi katakan. Selama pertarungan, mereka tidak melihat Tortoise menyembuhkan luka yang diterimanya dan untuk waktunya menyembuhkan, hanya ada satu...
"... Begitu, ya. Dia menyembuhkan dirinya saat masuk ke cangkang dan tertidur!" Ujar Takatsumi dengan kesal.
"Ah, brengsek... Ini akan jauh lebih sulit dari yang aku bayangkan..." Ujar Argo.
"Terlebih lagi, hanya Aland yang memiliki serangan dengan jangkauan luas... ini semua karena keegoisan kalian menolak kerja sama dengan Rigel..." Ujar Takumi, menatap Marcel, Takatsumi dan Argo dengan kesal.
"Ya... Dia orang penuh misteri, aku yakin dia memiliki banyak kartu dengan serangan luas seperti bom Nuklir... Untuk sekarang ayo lupakan itu. Kita harus memikirkan bagaimana cara mengalahkan mahkluk ini." Ujar Hazama.
Marcel dan yang lainnya tidak bisa mendebat kata-kata Takumi. Jika membicarakan serangan dengan jangkauan luas dan kuat, memang, Bomb Nuklir milik Rigel bisa di andalkan.
Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki sesuatu yang lebih hebat dari itu. Bahkan Takumi mempunyai serangan dengan jangkauan luas seperti Tombak penghakiman dan peningkatan kekuatan dari Kutukan kemalasan. Tetapi hal seperti itu terlalu menguras energi.
'Tch... aku juga memiliki serangan yang bahkan lebih kuat dari Nuklir. Karena terlalu kuat, aku mungkin hanya bisa mengeluarkannya empat kali dan setelah itu aku akan sangat kelelahan.' Batin Takatsumi.
Takatsumi memperhatikan keadaan sekitar lagi. Aland, Nadia dan Petra sedang menyibukan Tortoise selagi yang lainnya berkumpul. Bahkan Takumi sedang mengamati Tortoise dengan baik. Dia merasa ada keganjilan dengan Tortoise. Selagi mengamati pertarungan Petra dan yang lainnya, Takumi menyadari satu hal yang mengganjal di dalam pikirannya. Dia ingin menyerukan nya, namun hanya butuh waktu sampai Petra dan yang lain kelelahan, sehingga tidak ada waktu sampai menunggu malam hari. Saat Tortoise tertidur.
"Aku memiliki hal yang patut di bahas. Namun untuk ktu, kita harus menahan Tortoise sampai malam hari tiba..." Ujar Takumi.
Takatsumi, Marcel, Argo dan Hazama terkejut dengan apa yang di katakan Takumi.
"Kau benar. Kita harus memperhatikan segala gerak-gerik mahkluk ini dan menemukan cara mengalahkannya... Ayo, kita bantu Petra dan lainnya!" Ujar Marcel.
Mereka kembali bergerak dan menahan Tortoise dengan mengeluarkan energi sedikit mungkin. Setidaknya, Tortoise tetap berada di tempat dan tidak mendekat ke dinding besi, pertahanan terakhir mereka sampai malam hari tiba.