The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Penjahat Terburuk



Arunika menjemput, kembali menyinari langit gelap, pagi hari tiba. Udara begitu segar, daun kecil mendarat di hidungnya yang membuat tersadar dari tidurnya yang cukup nyenyak. Dia memikirkan tentang hal semalam, berlangsung begitu lama dari yang diharapkan. Menit, mungkin jam berlalu saat mereka melakukannya.


Mereka tanpa busana, hanya selimut yang menjaga agar tubuh mereka tidak terekspos seluruhnya. Membiarkan kulit saling bertukar kehangatan, kelembutan dan rasa. Dirinya menatap gadis cantik yang tertidur di sisinya selagi memeluknya, membiarkan sesuatu di dadanya menempel padanya.


Mungkin akan jadi seperti ini? Rasanya membangun rumah tangga??


—Rigel mulai memiliki pemikiran untuk mengabaikan segalanya dan memulai hidup baru dengannya. Dirinya tentu akan bahagia. Menjalani hidup biasa, memperbaiki atap rumah, menjemur dan melahirkan buah hati. Hal itu tentunya bisa diraih, hanya jika dia memilih meninggalkan segalanya. Termasuk merelakan orang-orang yang dia ingin lindungi.


Namun disayangkan. Aku bukan tipe orang yang memilih jalan mudah untuk dilalui..., dia mendengus, mencerca pemikirannya sendiri.


Kecantikan Sylph memang tiada duanya, namun dia yakin hatinya masih belum memilih siapapun diantara gadis-gadis yang dekat dengannya. Hatinya sendiri labil, tidak tahu mana yang akan ditinggalinya.


'Mari pikirkan itu lain waktu...' gumamnya.


Membelai lembut pipi gadis yang bermain bersamanya semalaman, dia lekas bangun dari tempat tidur dan menggunakan pakaian lalu pergi ke danau tempatnya melaksanakan pernikahan.


Butuh waktu mencapai tempatnya, namun berkat para peri dan monster roh yang menuntunnya, dia dapat mencapai danau itu tanpa masalah. Matahari masih belum terbit seutuhnya, karena langit masih terlihat sedikit gelap.


Meski begitu, pemandangan danau super jernih sangat memukau mata. Pemandangan yang begitu menyejukkan untuk dilihat pada pagi hari. Di tengahnya, terbentuk gelombang air dan mewujudkan sosok gadis peri nan cantik.


"Selamat pagi Raja peri, Pahlawan Rigel..., atau haruskah saya memanggil anda, Pahlawan??"


Dia terlalu banyak memiliki gelar yang tidak bisa terabaikan. Pahlawan, bahkan kini Raja peri. Wajar orang akan menjadi bingung harus memanggilnya yang mana.


Mengingat dirinya hanya akan menjadi Raja sementara saja, maka bukan pilihan bijak memanggilnya Raja. Karena dia tidak menginginkan hal ini tersebar luas. Namun, Pahlawan mungkin bukan pilihan tepat. Dia memang tidak pernah mengungkit, namun sudah dipastikan dia membuang gelar konyol itu.


Yeah, nampaknya memang harus kubiarkan gelar itu melekat padaku...


"Panggil saja, Pahlawan atau sejenisnya itu. Raja peri terlalu mencolok, barangkali dirimu keceplosan memanggilku Raja di depan Pahlawan lain..." ujarnya dengan acuh tak acuh.


"Baiklah, kalau begitu Pahlawan Rigel. Lantas, hal apa yang membuat engkau datang ke tempat saya yang biasa-biasa saja??"


Dia sedikit berpikir, menatap danau indah di depannya dengan terkesima. Hingga akhirnya mengungkapkan keinginannya.


"Rencananya aku berniat membasuh tubuh di danau ini untuk menyegarkan tubuh..., bolehkah?"


Terhadap pertanyaan bodohnya itu, Undine cukup tersenyum ramah dan seakan mendengar sesuatu yang sedikit lucu tentang itu. Meskipun Rigel sendiri tidak tahu bagian mana yang lucu.


"Anda adalah Raja peri saat ini. Segala sesuatu yang berada di hutan roh, terbilang rumah anda, milik anda. Lalu tidak perlu izin menggunakan danau yang biasa ini untuk membersihkan tubuh."


Singkatnya, seseorang tidak perlu meminta izin untuk menggunakan barang yang memang miliknya. Jadi, danau ini sudah seperti milik Rigel, karena dia seorang Raja peri yang memiliki kedudukan sama dengan Ratu peri.


Awalnya dia berpikir bahwa danau itu sebuah tempat yang tidak boleh ternoda, bahkan untuk mandi sekalipun.


"Selain itu, saya menyadari bahwa tubuh anda masih memiliki kelelahan dan luka mendalam. Danau ini cukup bagus untuk menyembuhkan luka, meski mungkin tidak semuanya dapat sembuh."


Cukup hebat untuk mengetahui luka yang tidak terlihat dari tubuhnya. Namun, mengetahui fakta bahwa danau itu dapat menyembuhkan lukanya lebih mengejutkan baginya.


"Kalau begitu baiklah. Aku akan membasuh tubuhku disana..., kau tidak akan mengintip kan?" meski terdengar seperti guyonan, namun dia sungguh-sungguh bertanya. Dikarenakan dia peri air yang mendiami danau ini, bukannya mustahil dia melakukan hal semacam itu.


"Jika anda memintanya, maka akan saya lakukan dengan senang hati..." balasannya tidak terduga dan Rigel melambaikan tangan sebagai bentuk penolakan.


"Ah, beritahu peri kecil lainnya untuk menjauh selagi aku membasuh diri..." hal yang paling tidak disukainya adalah diganggu ketika membasuh diri.


"Sesuai keinginan anda..." Undine membungkuk hormat dan pergi dari danau untuk memberikan waktu bagi Rigel sendirian.


Tanpa membuang waktu lebih lama, Rigel membuka pakaiannya dan membiarkan ****** ******** tetap terpakai. Perlahan memasuki air yang tidak terduga hangat, dia menenggelamkan seluruh tubuh dan hanyut dalam kenyamanan.


Tubuhnya yang lelah terasa segar begitu terkena oleh air super jernih yang sangat nyaman.


"Hoh? Sepertinya memang benar bahwa air ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka. Perlahan rasa sakit yang tertinggi dalam tubuhku menghilang..." dia menatap air dan membasuh wajahnya dengan air itu.


Meskipun Undine berkata bahwa air ini tidak dapat menyembuhkan setiap luka yang dimilikinya, namun kenyataannya sebagian besar lukanya telah pulih. Rasa sakit yang membebaninya telah menghilang, lantas tidak sia-sia datang ke tempat ini.


Apa mungkin karena Mana alam berlimpah atau tempat ini menjadi sarang peri? Sampai membuat pengobatan seperti ini, pastinya terdapat sesuatu..., perangainya.


Karena penasaran, pada akhirnya dia tertarik untuk menyelam ke tengah danau dan berharap menemukan sesuatu yang menarik. Mungkin dia perlu menciptakan tabung oksigen, namun itu terlalu berat dan menyusahkan untuk bergerak. Selain itu, dia sendiri tidak memiliki pengalaman diving, mungkin akan beresiko menggunakannya, meskipun hanya sedikit.


"Yeah, lagipula aku bisa menggunakan elemen angin."


Dengan kemampuan serba gunanya, Creator Skill yang berwujud Imagination Creator, semua masalah rumit dapat terpecahkan dengan mudahnya. Sebelum memulai menyelam, dia mengumpulkan udara di tangannya dan membuatnya berputar di sekelilingnya.


Begitu memasukinya, udara yang mengitarinya nampak seperti gelembung raksasa yang melindunginya dari air. Dengan hal ini, dia tidak perlu mengkhawatirkan tekanan air.


"Hmm. Mungkin karena air ini sangat jernih, aku dapat melihat dengan sangat jelas. Hampir tidak ada bedanya dengan di permukaan..." gumamnya selagi melihat sekitarnya.


Tidak ada apapun yang spesial, selain ikan dan tanaman hijau seperti rumput laut dan daun hijau yang tidak dia tahu benda apa itu. Hanya ada air dan tentunya air sejauh mata memandang.


"Seharusnya ini menjadi rumah Undine. Apa mungkin ada semacam pintu atau tempat lain dimana para peri air tinggal?" percuma memeras otaknya, tidak ada satupun jawaban yang muncul.


Merasa bosan karena tidak ada apapun yang menarik, dia memutuskan kembali ke permukaan dan menyudahi mandi pagi yang benar-benar menyegarkan ini.


Dia kembali ke permukaan, menyimpan baju yang dia gunakan sebelumnya karena kotor dan menciptakan baju baru yang serupa. Kekuatannya sendiri memberikan kenyamanan tertentu yang sangat berarti baginya.


Seakan menyadari bahwa Rigel telah selesai membasuh diri, Undine muncul dan menghampirinya lalu memberikan hormat tulus padanya.


"Pahlawan Rigel, Yang mulia Ratu Sylph tengah menunggu anda di dekat pohon roh untuk menyantap sarapan khas hutan roh..." tukasnya tanpa kehilangan sedikitpun rasa hormat pada Rigel.


Meski dia berniat menolaknya, sangat disayangkan bahwa dia sendiri tertarik terhadap makanan khas yang dimaksud. Lagipula hari masih teramat pagi, tidak ada salahnya baginya menghabiskan sedikit lebih lama lagi di hutan peri.


"Baiklah. Antar aku ke tempatnya..." tukasnya selagi membiarkan Undine menjadi pemandu jalannya.


Selagi berjalan dalam keheningan, Rigel teringat dengan kata-kata yang terucap Undine ketika pertama kali berjumpa dengannya. Hal itu sedikit mengganggunya, sampai saat ini.


"Bisakah aku bertanya satu hal padamu?"


"Silahkan tanyakan apapun yang anda inginkan, Pahlawan Rigel..." Undine menjawab dengan lembut dam senyuman.


"Aku tidak perduli kau mau menjawab atau tidak. Mengenai perkataan yang kau katakan tempo hari, apa maksudmu dengan ternodai?" Rigel berusaha mencaritahu reaksi yang dimiliki Undine, namun sayangnya wajahnya tidak dapat dia lihat.


"..."


Tidak ada jawaban berasal darinya. Mungkin hal itu adalah sesuatu yang tidak pernah dia ingin ungkapkan. Nampak jelas bahwa Rigel berniat mengungkapkan luka lama yang dimilikinya tanpa belas kasihan. Meski dia tidak terlalu perduli tentangnya, namun dia tertarik mengetahui jatidiri peri bernama Undine ini.


"Ada apa? Jika tidak ingin menjawabnya, maka tidak apa..." tukasnya.


"..., maaf karena saya melamun. Saya akan menjawabnya, meski anda tidak mewajibkan saya untuk menjawabnya...," tukasnya, dengan suara gemetar sedikit sedih. "Ini kisah yang terjadi pada seribu tahun lalu. Sebuah dosa yang aku perbuat dan tidak akan termaafkan."


Lagi-lagi seribu tahun lalu. Hal apa saja yang terjadi pada masa itu?? perangainya.


Sejauh ini, kisah yang dia dengar selalu saja terhubung pada seribu tahun yang lalu. Seandainya ada alat atau buku yang dapat menceritakan segala hal pada masa yang dikenal 'masa kekacauan' maka tanpa ragu Rigel akan mencarinya.


Terakhir, dia hampir mendapati sebuah buku yang dikenal kitab Kebijaksanaan. Buku yang mencatat kejadian yang pernah terjadi di dunia ini. Ensiklopedia yang berisi segala pengetahuan yang selalu dicari-cari oleh kebanyakan orang.


"Seribu tahun lalu, ketika kekacauan terbesar pertama. Waktu ketika Tortoise bangkit dari tidurnya, terdapat seseorang bermain dengan senangnya di tengah kekacauan. Dia melakukan segala hal yang mempersulit keadaan pada saat itu. Menambah kehancuran di tengah kehancuran, menghamburkan duri menuju jalan kemenangan. Manusia— penjahat terburuk sepanjang masa."


"Pada masa kritis itu, dia membuat suatu rancangan mengerikan yang membuat saya harus membuat pilihan sulit. Alhasil, saya harus merelakan tubuh saya ternodai beberapa kali oleh penjahat itu."


Kemarahannya terukir jelas, karena auranya yang setenang air mulai mendidih terbakar kemarahan. Rigel hanya menatap, menerka seberapa jauh perbuatan penjahat yang dimaksud itu.


"Apa kau mengingat nama orang yang melakukan hal-hal itu??"


Undine menggelengkan kepalanya dengan kecewa, sangat kesal karena tidak dapat mengingat nama ataupun rupanya.


"Maafkan saya, karena tidak dapat mengingatnya. Entah semenjak kapan, ingatan tentangnya menjadi abu-abu. Saya tentu merasa sangat marah karena tidak dapat mengingat apapun tentang orang yang menodai tubuh ini...," tukasnya, mengepalkan tangannya. "Saya seharusnya tidak lagi diizinkan tinggal di hutan roh. Namun berkat Ratu Sylph yang mengabaikan hal itu dan memilih untuk tetap menerima saya."


Meski samar, Rigel dapat menebak siapa orang itu. Mungkin hanya dia yang memiliki kemungkinan paling besar dan satu-satunya yang paling misterius yang pernah dia kenal. Yeah, mari kesampingkan pembahasan tentang orang yang tidak akan pernah dia ketahui siapa sebenarnya.


"Begitu. Kau nampaknya telah melalui masa sulit ya. Aku kagum karena kau dapat bertahan dari segala cobaan yang ada..." pujiannya tulus, tida hanya bertujuan untuk menghiburnya belaka. Namun dia benar-benar mengakui ketabahan Undine mengatasi kebencian yang mengakar padanya.


Jika itu Rigel yang melupakan orang yang dibencinya. Tidak mengejutkan bila dia akan mengarahkan kebenciannya kepada orang lain yang barangkali cocok dijadikan pelampiasan.


"Terima kasih atas pujian anda...," tuturnya tersenyum lembut. "Kita sudah sampai, Pahlawan Rigel."


Ketimbang sarapan pagi, hal ini lebih seperti sebuah perjamuan ataupun pesta besar-besaran. Di depannya, terdapat buah-buahan dan makanan lain yang tidak pernah dia lihat dihidangkan disebuah meja. Saking banyaknya, meja itu sendiri penuh dengan makanan.


Rigel menyadari keberadaan Sylph, menemukan dirinya tersenyum masam dan menandakan bahwa itu bukan perbuatannya. Lantas, perhatiannya teralih pada para peri kecil dan monster roh yang mengelilinginya dengan riang.


"Jadi ini ulah kalian pribadi..." Rigel mendesah lelah, menarik poni rambutnya. Dia tidak menduga, dengan kelahiran seorang Raja mereka akan menjadi ribut seperti ini.


"Aku tahu kalian berusaha menghiburku. Namun ini terlalu berlebihan. Mana mungkin aku menghabisi ini semua seorang diri??"


Mendengar perkataannya, mereka tampak kecewa dan menyesal atas perbuatan egois mereka. Mereka mungkin mengharapkan semacam pujian dan sambutan lain, namun sangat disayangkan bahwa yang menjadi Raja adalah Rigel. Orang yang tidak akan dengan mudahnya menyambut sesuatu dengan damai.


"Mereka nampaknya ingin mendapatkan perhatianmu sebagai Raja baru mereka. Karena kau seorang manusia, asupan gizi pasti diperlukan. Jadi, mereka bersemangat untuk berlomba-lomba mencari buah dan makanan dari hutan roh..." ujar Sylph, tersenyum bahagia seakan keadaan saat ini terlihat lucu baginya.


"Huh, tampaknya memang begitu..."


Mau bagaimana lagi. Dia harus memakan sebanyak yang dia bisa karena mereka telah repot-repot mencarikan makanan-makanan ini untuknya.


Dia memulai dari buah yang nampak seperti apel hijau. Begitu mengambil gigitan pertama, dia terkejut akan rasanya.


"Ini hanya apel biasa."


Sejauh ini dia tidak menemukan banyak buah-buahan yang sama dengan yang ada di bumi. Selain strowberry dan blueberry dunia ini yang memiliki rasa unik, apel adalah satu-satunya yang terasa persis dengan yang di bumi.


"Rasanya tidak buruk. Terima kasih..." mendengar ucapan terima kasih dari Rajanya, mereka melompat dalam kegembiraan dan berputar, menari-nari dengan ricuh di udara.


Pemandangan yang memang nampak menggelitik, sekaligus pemandangan yang menghangatkan hati.


[***]


Selingan beberapa menit setelah sarapan dan mengucapkan selamat tinggal, Rigel akhirnya kembali ke Region. Semuanya kini tengah sibuk mempersiapkan segala hal demi Raid yang akan datang. Raid terbesar kedua di dunia setelah Tortoise. Namun bagi militer veteran di Region, ini menjadi kali ketiga.


Dimulai dari para Dwarf yang kini dikerahkan untuk membuat berbagai peralatan tempur dari sisa-sisa Hydra dan White Tiger. Mereka juga menggunakan bulu-bulu Phoenix yang jumlahnya terbilang sedikit untuk membuat jubah tahan api dan armor tahan api.


Tergantung pada seberapa banyak yang dapat dibuat, mungkin Rigel hanya akan memberikan jubah dan armor tahan api kepada mereka yang bertugas sebagai pelindung.


Mengenai Asoka, Natalia dan eksekutif lainnya dikerahkan untuk mendidik sekaligus menyeleksi mereka yang berkemampuan saja untuk ikut andil dalam Raid. Namun, Rigel tidak meminta mereka untuk melarang yang tidak berkemampuan untuk berlatih. Barangkali dengan pelatihan ini mereka menjadi berkemampuan dan memiliki kualifikasi dalam Raid.


Mengenai Tirith dan budak Raja, mereka kembali ke Britannia untuk melakukan hal yang sama, yaitu mengumpulkan pasukan dan membentuk kesatuan tempur yang terdiri dari tentara elite empat negara besar.


"Raid masih jauh, namun jantung ini bersemangat menantikan pertarungan..." gumam Rigel, memegang dadanya dan mendengarkan alunan detak jantungnya.


Pertarungan besar yang hampir di depan mata telah mendekati secara perlahan. Kondisinya sendiri hampir mencapai puncaknya, lantas tidak akan ada beban apapun dan rasa sakit yang menghantui tubuhnya.


Selagi merasakan detak jantungnya yang terus berdebar, dia berjalan dan mencari Asoka di ruangannya. Terdapat beberapa pengaturan yang perlu dilakukan.


"Yo, pekerjaanmu semakin banyak ya. Bahkan tumpukan sampah disana semakin bertumpuk..." ejek Rigel ketika menemui Asoka sibuk mengurus dokumen.


Entah Tirith yang bekerja terlalu cepat atau Asoka yang lambat, dia tidak tahu mana yang benar. Terakhir kali ketika Tirith menggantikan pekerjaannya, tumpukan kertas beres dengan cepat. Seakan hilang ditelan bumi.


"Tidak hanya permintaan perjanjian Pakta non agresi, namun kini datang perjanjian multilateral dari negara-negara kecil. Belum lagi, ada banyaknya surat dari Asosiasi Petualang yang mengirimkan dokumen tentang petualang veteran dari penjuru negeri yang terdaftar..." tuturnya, selagi membaca dokumen dan menyetujui atau tidaknya isi dari dokumen.


"Yeah, nampak menyusahkan memang. Namun baguslah bila negara kecil yang sejauh ini tidak melibatkan diri mulai mengambil langkah untuk terlibat. Meskipun tidak ada informasi berarti dari negara Kekaisaran."


Rigel telah menginstruksikan kepada para Kandidat Kaisar Surgawi untuk tidak mengatakan hal-hal yang dapat membocorkan tujuan mereka sebenarnya. Rigel juga memperingati Natalia untuk memberitahu bangsawan yang dapat dikendalikan dan dipercaya saja. Jadi hampir mustahil adanya informasi dari orang dalam.


Namun, gerakan yang dilakukan sangat mencolok. Terutama pada Quest khusus yang menyangkutkan para Pahlawan. Bila mana mereka mengamati gerak-gerik negara-negara besar dan Asosiasi Petualang, tidak mengejutkan bila mereka menebak akan ada hal besar yang terjadi.


Mungkin hal itu mendorong mereka untuk secepatnya membangun hubungan dengan Region. Negara baru yang belum mereka mintai perjanjian.


"Karena Britannia dan dua lainnya telah lama berdiri, wajar bila mereka tidak sesibuk dirimu..." Rigel mengambil secarik kertas yang berisikan identitas petualang yang dia anggap lemah dan langsung membuangnya, sebagai bentuk bantuan terhadap Asoka.


"Yeah, itu tidak bisa dihindarkan..." tuturnya, bersandar lesu di singgasana. "Jadi, keperluan apa yang membuatmu kemari, Rigel?"


"Kamu cepat mengerti. Aku ingin kau mengirimkan beberapa orang ke Kekaisaran Timur untuk melatih orang lemah disana menggunakan senjata api. Karena Marcel masih berada di Region, minta dia untuk mengantarkan orang-orang yang akan dikirim ke sana."


Tidak hanya Marcel, melainkan Pahlawan yang tersisa masih menetap di Region, dengan alasan mencari suasana baru dan menyegarkan diri.


Mereka terlalu santai, sementara Rigel dan yang lainnya bekerja keras demi mempersiapkan Raid untuk melawan Naga malapetaka. Yeah, meskipun begitu, Rigel tidak berhak mencerca mereka. Dikarenakan dia memiliki enam hari tersisa untuk memanjakan diri dengan wanita secantik Sylph.


Meskipun dia bisa membuat Tirith melakukannya juga, namun dia tidak ingin menjadi terlalu serakah dalam berhubungan.


Menikahi dua atau tiga wanita tidak jadi masalah..., perangainya dengan bangga karena dilahirkan dengan pesona yang memikat.


"Hanya itu saja? Baiklah. Aku akan menghubungi Fang dan memintanya memilih beberapa orang untuk dikirim ke sana..." Asoka mulai menuliskan dokumen lainnya demi menyelesaikan tumpukan yang ada.


"Aku serahkan itu kepadamu. Sekarang, sebaiknya aku melihat bagaimana kondisi para orang bodoh itu..." tuturnya selagi meninggalkan Asoka dalam keheningan bersama tumpukan kertas.


"Sampai jumpa Asoka. Tetap jaga kesehatanmu."


"Yea. Sama halnya denganmu."


Setelah mengucapkan perpisahan singkat, mereka kembali mengerjakan hal yang patut dikerjakan. Rigel tidak merasakan keberadaan Pahlawan lain di kerajaan, alhasil dia pergi menuju kota untuk mencari mereka.


Benar saja, mereka berada di ibukota dan tengah bersenang-senang dengan menjajah kios makanan untuk bernostalgia mencicipi makanan dan bahkan menggunakan mobil serta motor tanpa izin darinya. Begitu menyadari keberadaan Rigel, para idiot— Pahlawan berkumpul dan mengitarinya.


Dia tidak menemukan keberadaan Ray, Merial ataupun Ozaru. Nampaknya mereka pergi bersama dan hendak mempersiapkan pertarungan secara serius. Tidak seperti orang-orang yang tersisa.


"Selamat pagi Rigel! Hal apa yang membawamu kemari?" tanya Petra selagi mengunyah gulali yang telah lama hadir di Region sebagai daya tarik utama makanan manis.


"Apa yang membawaku kemari? Tentunya ini negaraku dan sepatutnya bagiku mengusir benda asing seperti kalian. Ampun deh, selagi aku dan yang lainnya sibuk, kalian justru bermain-main..." dia mendesah lelah dan menarik poninya seperti biasa.


"Meskipun kau berkata begitu, saat ini kami tengah memulihkan kekuatan dengan mencari suasana baru. Tidak sepertimu yang entah bagaimana dapat bertapa dan memulihkan diri, kami hanya dapat bergantung pada index..." Marcel mengungkapkan pendapatnya yang sangat masuk akal.


Rigel sangat jarang membahas index. Bahkan dia tidak lagi menggunakannya dalam pertarungan. Paling-paling dia menggunakan index hanya ketika menyimpan dan mengeluarkan barang dari infetory saja.


"Daripada itu, tidak bisakah kau membuat hal hebat seperti video game, Rigel??" tanya Aland dengan bersemangat. Diikuti dengan idiot lain yang sama semangatnya.


"Apa kau pikir sihir bisa merancang sebuah program?! Video game ada karena terdapat program yang membuatnya berjalan. Lantas aku tidak tahu seperti apa program dan sesuatu yang berhubungan dengannya."


Bahkan jika dia mencoba membuatnya, tanpa pengetahuan lengkap benda semacam itu tidak akan pernah terwujud. Bahkan jika iya, hasilnya akan jauh berbeda dari yang diharapkan.


"Huh, selama kalian tetap membayar dan tidak membuat kekacauan aku tidak perduli. Jangan lupakan bahwa Raid yang akan datang tidak akan berlangsung mudah."


Entah mereka akan mendengar peringatannya atau tidak, dia tidak tahu. Namun, suasana para Pahlawan menjadi sunyi begitu dia membahasnya.


"Ada apa?" Rigel bertanya.


"Aku hampir lupa tentang ini..." tutur Takumi, menggaruk kepalanya. "Dari Raid sebelumnya, kami menyadari bahwa kekompakan kita belum terjalin. Karena itu, kami berencana berlatih bersama demi meningkatkan kerjasama tim. Bagaimana? Mau bergabung??"


Dia salah menilai. Tidak terduga bahwa mereka juga mengkhawatirkan Raid itu.


"Baiklah. Kapan hal itu akan dilakukan??"


"Besok siang. Kami berencana melakukanya esok hari."


Jika begitu, hal esok yang dia harus lakukan telah ditentukan. Sepanjang hari yang tersisa, Rigel habiskan dengan bertapa hingga malam telah dekat. Tidak ada satupun hal yang spesial untuk diceritakan, selain hal yang akan dilakukan Rigel pada malam hari ini.