The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Panah Bulan Arcanum



Semua Pahlawan telah berkumpul dan bersamaan dengan itu, ledakan besar terjadi. Territory berhasil dihancurkan oleh Rigel, lantas hanya tinggal menunggu hasil dari serangan Takumi yang entah berhasil atau tidak. Dikarenakan awan debu yang berkumpul, mereka tidak dapat melihat keadaan sekitar. Namun yang pasti, Rigel masih dapat merasakan energi White Tiger.


"Apakah berhasil??" ujar Marcel, menutupi matanya dengan lengan agar tidak terkena debu.


Angin yang berhembus kencang mulai kembali tenang, kabut di sekitar perlahan menghilang dikarenakan hancurnya Territory, namun entah mengapa pohon besar di sana tetap berdiri tegak seakan tidak terjadi apapun.


Begitu kabut dan debu menghilang, lantas memperlihatkan keadaan sekitar dengan cermat. Dinding yang dibuat dari pasukan macan hampir roboh, namun masih ada cukup banyak yang tersisa, meski dengan luka-luka yang cukup buruk.


Dapat bertahan dari serangan Takumi dapat diacungi jempol. Kendati serangannya tidak menghasilkan apapun, maka Rigel akan mengakuinya sebagai musuh paling sulit yang dia hadapi selama ini.


Lantas begitu semua penghalang menghilang, sesuatu yang dinantikan yaitu kematiannya tiba. Begitu melihatnya, Pahlawan lain berseru gembira dan beberapa menghela nafas lega seperti Nadia dan Marcel.


"Kita menang?? Ini kemenangan kita kan?!" Aland berseru dengan semangat. Mendengar hal itu, Takumi mengangguk untuk mengkonfirmasi.


Sama halnya dengan Takumi, Nadia juga setuju dikarenakan tidak ada energi kehidupan yang tersisa dari White Tiger yang dalam transformasi itu. Tubuhnya terbujur kaku dengan setengah bagian tubuhnya hancur tak bersisa.


"Ahh, sial! Akhirnya ini berakhir juga," ujar Petra terjatuh di tanah dengan lelah. Padahal dia tidak banyak melakukan pertarungan, seharusnya dia tidak seletih itu, namun, yah biarlah.


"Ada apa Rigel? Kau nampak tidak senang atau apapun??" Yuri menyadari dan bertanya kepadanya.


Berbeda dengan yang lainnya, tidak sedikitpun Rigel bernafas lega terhadap pemandangan di depannya. Meski tampak bagus, namun dia tidak berharap White Tiger kalah semudah itu. Entah bagaimana dengan pertarungannya bersama Ozaru, namun Rigel yakin setidaknya dia telah membunuh White Tiger setidaknya satu kali, sama halnya dengan Rigel yang membunuh dengan Void.


Apa benar akan semudah ini? Awalnya kupikir dia memiliki sembilan nyawa, mungkinkah aku terlalu banyak berpikir??


Lantas Rigel kembali mengamati sekitar dan menemukan dinding yang terbuat dari ratusan macan tetap berdiri tegak. Mereka hidup, namun tidak bergerak sedikitpun, akan bodoh tidak mencurigainya.


Jika White Tiger benar-benar mati, lantas mengapa dia tidak menghilang dan juga pohon besar di sana, Rigel tidak ingat pernah melihatnya ketika terakhir kali menjelajah hutan ini. Selain itu, pasukan macannya terlihat melindungi sesuatu yang berharga. Namun tidak ada apapun selain pohon besar yang mencolok itu.


Rigel hendak menghampiri dinding macan itu, kendati mereka menyerangnya, maka Rigel tidak akan segan menghancurkan segala hal di depannya, tanpa terkecuali pohon yang dicurigainya.


Bahkan sebelum dia mendekatinya, hawa buruk meledak dan membuat semua kembali berwaspada. Seharusnya kejadian klise semacam ini yang ada dalam cerita manapun sudah diduga. Lantas sebuah kesalahan dipihaknya karena lengah dengan keadaan itu.


"Pahlawan Rigel!!"


Suara seorang gadis yang dia kenal memekik telinganya, begitu dirinya menoleh dia menemukan Natalia yang keluar dari gerbang Spatialnya. Bila dia berada di sini, maka tentunya ada sesuatu yang ingin disampaikan, barangkali pesan dari Ozaru. Kendati dia datang atas kemauannya sendiri, hal itu dibilang kecil kemungkinannya. Karena Natalia adalah orang yang tidak pernah melanggar perintah Rigel, bahkan dia tidak pernah berniat menghilangkan formalitas dalam cara bicaranya.


"Ada apa?? Katakan dengan singkat dan jelas!!"


Tidak baik membuang waktu disaat mencekam. Hawa membunuh keluar semakin besar, bumi bergetar karenanya. Begitu menyadarinya mereka telah terlambat, pasukan macan dan kabut yang berpencar berkumpul membentuk sesuatu. Pohon besar yang menjadi pusatnya perlahan layu, memperlihatkan seekor macan kecil yang terlihat seperti bayi, namun mengeluarkan tatapan membunuh.


"Pohon itu nampak menjadi kelemahan, tidak perduli seberapa keras berusaha membunuh tubuh, dia akan hidup kembali!!"


Nampaknya memang benar bahwa di situlah kunci dibalik keabadiannya. Mengapa dia tidak menyadarinya? Mengapa sangat terlambat baginya untuk memikirkannya?? Lantas hanya kebodohan yang dia rasakan. Apa namanya kalau bukan bodoh namanya jika dia bahkan tidak mencari tahu lebih jauh mengenainya??


"Apa ini sebuah gurauan? Mengapa kucing ini sulit dibunuh?!" Aland mengutuk kesal. Lagipula dia tidak banyak berguna, jadi untuk apa merasa marah semacam itu.


"Bila memang semudah itu, tidak pantas dia disebut malapetaka!!"


Yah, tidak ada gunanya berkeluh kesah, karena hanya membuang waktu dan tenaga. Yang terbaik untuk saat ini adalah memikirkan bagaimana cara menghadapinya.


White Tiger kecil itu perlahan terbang melayang di udara, disertai dengan kabut dan tubuh macan yang berkumpul disekitarnya hingga akhirnya bergabung membentuk macan raksasa. Ukurannya mengerikan, mungkin setara atau lebih besar dengan wujud sejati Ozaru.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Rigel?!" Nadia dengan panik bertanya selagi menyiapkan cakarnya.


"Ya gimana lagi, hanya menyerang satu-satunya cara untuk mengatasinya!!"


Mendengar jawaban Rigel yang singkat dan sangat jelas, tentunya dia terkejut dan tidak mempercayainya. Bahkan anak kecil tahu bahwa menyerang adalah cara terbaik, namun bukan itu yang menjadi kekhawatiran Nadia.


"Menyerang?? Tanpa rencana apapun?! Apa kau benar-benar yakin??"


Memang agak terlihat gegabah bila menyerang tanpa rencana, namun kali ini waktunya tidak tepat untuk membuatnya. Dengan ukuran sebesar itu, jangkauan serangannya akan jauh lebih luas ketimbang sebelumnya. Lantas tidak ada jalan selain menyerang habis-habisan.


"Yaa!! Apa kau berniat diam dan menunggu disembelih?? Kalau aku tidak, karena itu melawan habis-habisan adalah pilihan utama,"


Jika melihat keadaannya, nampaknya kecepatan White Tiger tidak akan menggila seperti sebelumnya, lantas tiada salah bagiku menurunkan Leo. Gahdevi, Odin dan Natalia tentunya telah berpengalaman, jadi tidak perlu dikhawatirkan..., batinnya.


"Natalia, Odin, Gahdevi dan Leo!! Kalian harus turut andil dalam pertarungan terakhir kali ini!! Jangan menghambat, tiada seorangpun yang dapat melindungi nyawa kalian selain diri kalian sendiri!!"


"Ya!!"


Mendapati perintah secara spontan, Natalia membuka gerbang dan membiarkan Odin, Gahdevi dan Leo ikut bertarung. Entah bagaimana, Rigel merasa bahwa White Tiger saat ini jauh lebih lemah ketimbang sebelumnya yang sangat merepotkan.


Lagipula sekarang dia tahu titik lemahnya, ada pada tubuh kecilnya itu. Lantas mereka tahu bagian mana yang perlu dibereskan, sehingga tidak ada keperluan bersusah payah memenggal kepalanya. Ini sama halnya dengan permainan mencari benda di dalam tubuh besar seseorang, bedanya, taruhan permainan ini adalah nyawa.


"Kucing kecil yang berada di dalam tubuhnya adalah kuncinya!! Bunuh dan hancurkan bila kalian menemukannya!! Maju!!"


Rigel memimpin serangan, meski dengan hanya satu tangan saja, dia percaya diri dapat mengalahkan Naga sendirian. Mari lewatkan untuk saat ini, Rigel melompat dan mendaki naik ke tubuhnya selagi melacak keberadaan inti White Tiger.


Roaarrrrwwwrrr...


White Tiger hanya mengaum marah, seakan hanya itu yang dapat dilakukannya. Entah mengapa, dia terlihat seperti tidak dapat berbicara dalam wujudnya itu.


"Kali ini aku akan benar-benar menghabisimu..., Javelin Strike!!"


Dia membuka lebar taringnya, mengarahkan tatapan mengerikannya kepada Takumi dan mengirimkan sinar mematikan dari matanya kepada Takumi, seakan membalas serangan sebelumnya.


Meski serangannya cepat, namun Takumi tak kalah cepat. Dengan kemampuan akrobatiknya, dia dapat menghindari dengan melompat mundur beberapa langkah.


"Angin Murka!!"


Lantas Petra mengirimkan tornado yang disertai bilah tajam dari kipasnya dengan tujuan membutakan pengelihatan White Tiger selama beberapa detik. Odin memanfaatkan jeda waktu yang ada dan memberatkan gravitasi terbatas pada bagian depannya saja, lebih tepatnya kepala White Tiger.


Dia tentu berusaha melawan daya tarik gravitasi, namun dengan bantuan Natalia, Marcel telah berada di punggungnya dan memberikan goresan besar di sana.


Roaarrrrwwwrrr...


White Tiger mengaum, mengirimkan badai dan gelombang suara kuat yang cukup untuk menghancurkan tanah dan pepohonan sekitar. Mau tidak mau, Odin harus membatalkan gravitasi dan berpindah tempat untuk menghindari menerima kerusakan.


"Kalau begitu ini giliranku..., Super Punch!!"


Gahdevi melompat tepat di depan wajah White Tiger dan memukul tepat di dahinya. Kekuatan pukulan Gahdevi adalah yang paling tidak dapat diremehkan, mengingat wujud aslinya adalah seekor raksasa.


"Leo!! Ambil sisi kanan!!"


"Baik!!"


Leo dan Odin berlari dari dua sisi berbeda, mereka bertujuan untuk menghilangkan keseimbangan White Tiger. Dengan pedang yang sekelas dewa, entah itu Artifak atau bukan, senjata di tangan mereka tidak akan hancur dengan benda sekuat apapaun.


"Teknik dua : Tebasan!!"


Leo menebaskan pedangnya secara horizontal dan berhasil melukainya, namun kekuatannya tidak cukup kuat untuk menyentuh tulang White Tiger. Dilain sisi, Odin cukup kuat untuk memberikan kerusakan yang lebih besar sehingga rencananya berhasil.


Begitu selesai, mereka langsung melompat mundur dan membiarkan Pahlawan lain menyelesaikannya.


"Sial! Aku tidak dapat menemukan dimana intinya!!"


Nadia terus berlari sembari melukai tubuh White Tiger dengan cakarnya. Dia berusaha melacaknya dengan memperhatikan energi yang lebih besar atau dikit di dalam tubuh White Tiger, namun pencariannya nol hasil. Sama halnya dengan Rigel yang berkeliling tubuhnya namun tidak menemukan apapun.


Apa mungkin kami harus memenggal kepalanya, sama halnya Tortoise?? Tidak, itu tidak mungkin. Tenang, tetaplah tenang dan berpikir rasional, Rigel..., batinnya.


Daripada berlari tanpa tujuan jelas dan tidak membuahkan hasil, Rigel memilih berdiam diri di punggung White Tiger. Dia menarik nafas dalam dan memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi.


Aku dapat memikirkan tiga hal. Hal pertama, inti itu terus berpindah di sekitar tubuhnya sehingga sulit ditentukan lokasi pastinya. Hal kedua, benda itu berada jauh di dalam tubuhnya, sehingga energinya terlalu samar untuk dirasakan dari luar. Lalu yang ketiga, pilihan terburuknya adalah inti itu kabur entah kemana demi keselamatannya.


Bila itu yang terakhir, maka Rigel atau Pahlawan lain tidak akan bisa mengalahkannya sekarang, dikarenakan tidak ada antisipasi terhadap situasi seperti itu. Mari kita hindari pemikiran itu, lagipula itu hanyalah kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.


Untuk membuktikannya, setidaknya Rigel harus mencoba dua hal lainnya untuk memastikan ada atau tidaknya inti itu di dalam tubuh White Tiger. Jika begitu...,


"Tidak ada pilihan lain," gumamnya selagi mengaktifkan rune di tangan kanannya dan menarik nafas dengan dalam. "Void Tahap Tiga : Kelahiran Para Dewa!!"


Lantas sinar biru muda menyinari tubuhnya, bak mengalahkan bulan yang menyinari malam. Matanya berkilau, sementara tangannya mengumpulkan kemilau energi dengan jumlah besar dan terfokus untuk menghancurkan punggung White Tiger.


Bila dia meledakan energi itu, ada kemungkinan orang di dekatnya juga akan terkena dampak, namun dia berharap itu akan berdampak minim. Lagipula, mereka menyadari bahwa Rigel berniat menggunakan serangan berbahaya yang membuat Pahlawan lain melangkah mundur menuju Natalia, barangkali mereka perlu berpindah tempat untuk menghindari kehancuran.


Jika saja intinya tidak hancur dengan serangan ini, maka Rigel hanya bisa pasrah dan menyerahkannya kepada yang lain. Kekuatannya benar-benar hampir habis, dia mungkin akan tertidur selama beberapa hari setelah pertarungan ini.


"Kuharap dengan ini berakhir..., Explode."


Duar!!


Ledakan besar terjadi, namun anehnya ledakan itu hanya berlangsung singkat dan sangat destruktif. Kawah besar nan dalam tercipta, menyisakan potongan tubuh besar di dasar dan seorang pria yang menatap tidak percaya di sana. Pria itu adalah Rigel.


"Gila..., dia benar-benar gila. Bila membuat lautan dianggap mustahil, mungkin hal itu tidak berlaku baginya," gumam Aland dengan kekaguman tertentu.


Tidak ada seorangpun yang berniat menanggapinya, dikarenakan mereka terkejut dan kagum terhadap apa yang dilihat. Kawah besar dan monster yang dapat bertahan dari serangan hebat itu.


"Kucing itu masih hidup..., apa dia benar-benar abadi?!" Marcel berdecak kesal.


Rigel sendiri yang berada di dekat tubuh White Tiger tidak percaya. Dia telah menggunakan kekuatan pada tahap tiga, namun hal itu tidak membuat intinya hancur, seakan dia hanya mampu menembus kulitnya saja. Namun, setidaknya dia dapat melihat dengan jelas inti yang berbentuk rahim macan kecil itu.


Rigel memiliki niat untuk datang dan menghancurkannya dengan kekuatan terakhir yang dia miliki, namun White Tiger tidak tinggal diam dan mulai mengacau di dasar, sehingga Rigel perlu menggunakan kekuatannya untuk naik ke permukaan.


"Keparat, aku tidak dapat menghancurkan intinya itu sialan!!" hanya sumpah serapah saja yang dapat dilontarkannya. Seketika keputus'asaan menghampiri, datanglah sang pembawa cahaya harapan.


"Wahai engkau yang menodai tanah surga ini dengan darah dan dosa...,"


"Ohh?? Sudah siap ya...," ujar Takumi, melirik tempat jauh dimana Yuri berada.


Sejak awal dia telah menjauh sampai lokasi yang tidak akan terkena dampak serangan, demi menyiapkan kartu truf terkuatnya. Yuri menarik anak panahnya dan mengarahkannya ke langit selagi memejamkan matanya. Energi berkumpul disekitarnya, sangat jelas bahwa serangan besar akan digunakannya.


Rigel merasakan sesuatu dari kejauhan, bukan dari depan ataupun belakang, melainkan langit. Rigel menyadari bahwa Takumi juga menatap ke langit, begitu mengikuti garis pandangnya, hanya ada keterkejutan dan kagum terhadapnya. Di langit—lebih tepatnya bulan terbentuk busur dan anak panahnya yang seakan siap ditembakkan


"Kujatuhkan engkau dengan memberikan kematian sebagai ganti atas penyucian diri..., Arcanum!!"


Yuri melepaskan anak panahnya dan anak panah yang berada di bulan terlepas, menghantam langsung inti White Tiger berada. Lantas untuk pertama kalinya, panah bulan, penghakiman dari dewi busur diturunkan ke dunia.