
Di tempat lain, jauh dari medan perang, seekor naga menatap langit dalam keheningan. Dirinya memikirkan kata-kata seorang manusia sebelum dia hendak berangkat ke peperangan yang terjadi di tanah naga.
"Aku tahu manusia itu kuat, bahkan bisa saja membunuhku. Bukannya mustahil dirinya menghabisi naga lainnya sebelum kami datang."
Dia membayangkan sebuah kejadian saat mereka datang ke tanah naga, perang telah berakhir dengan kemenangan manusia. Para naga dan Acnologia bertumpuk dan berdiri seorang manusia yang menatap rendah segalanya.
Pemandangan mengerikan nan menyedihkan seperti itu tidak boleh dibiarkan terjadi, tidak akan pernah dibiarkan terjadi.
"Bagus Rigel, bagus! pada akhirnya kau berhasil memaksakan keberuntunganmu dengan mendesakku," matanya mulai bersinar kemerahan, sesuatu berbentuk persegi muncul pada kepalanya. "Wahai kawan-kawanku sekalian, waktunya telah tiba. Meskipun terlalu awal, mari kita hajar keparat itu sebelum dikalahkan manusia-manusia itu..."
"Mari kita tunjukkan, arti dari keberadaan naga yang sesungguhnya!!"
Roaarrrrwwwrrr...
Dia mengirimkan auman besar ke langit, membuat cahaya kemerahan terbentuk di langit. Semuanya memandang cahaya misterius itu, bahkan para naga yang tersebar menilai bahwa itu berasal dari Red.
"Waktunya telah tiba, ya... Roaarrrrwwwrrr..." seekor naga yang tinggal di pegunungan es mengirimkan cahaya biru yang sama dengan milik Red.
Tidak hanya dua, melainkan delapan cahaya yang berasal dari penjuru dunia muncul ke langit. Cahaya itu adalah petunjuk naga yang akan memberitahukan pada naga yang tersebar bahwa hari pembalasan telah tiba.
Hanya ada delapan naga yang bisa melakukan sesuatu seperti itu, jadi tidak lagi diragukan bahwa itu berasal dari rekan mereka. Sebagai Delapan Jendral Naga terakhir yang tersisa, mereka akhirnya melepaskan tirai untuk pembalasan dendam.
Diantara Delapan Jendral Naga, terdapat satu jendral yang tertinggi dan terkuat diantara mereka. Dirinya yang memilih mencari kekuatan di ujung dunia menyuarakan pidato singkat kepada rekan perjuangannya.
"Akhirnya dimulai..., wahai saudaraku sekalian! Dengan dilepasnya cahaya jendral, menunjukkan bahwa waktu pembalasan dendam telah tiba. Kita akan membantu manusia sebagai hubungan timbal balik untuk menghancurkan aib para naga! Bergerak! Mari menuju tanah kita, rumah kita SURGA KITA!!"
Kebanggaan mereka sebagai mahkluk terkuat, naga sedang dipertaruhkan. Mereka tidak ingin dibantu manusia untuk masalah mereka sendiri, namun tidak ada jalan lain. Sebagai alternatifnya, mereka akan menunjukkan seberapa kuat dan mengerikannya seekor naga.
[***]
Babak kedua, pasukan penuh Acnologia nyatanya baru saja dikerahkan. Acnologia sepertinya tidak begitu bodoh untuk langsung mengerahkan seluruh pasukannya. Buktinya, setelah seperempat pasukannya musnah, pasukan lainnya kini datang dengan kekuatan penuhnya.
Rigel berdecak kesal, terlalu meremehkan Acnologia. Namun tidak perlu ada yang dikhawatirkan, dia tentunya memiliki bala bantuan yang mungkin dapat di andalkan. Hanya butuh waktu saja untuk mereka datang dan terjun ke medan perang.
"Bagaimana, manusia? Jika engkau menyerah dan memilih menjadi budak, aku akan mengampuni nyawamu dan rekan-rekanmu..."
Siapapun akan tahu, bahkan bayi saja tahu bahwa menyerah bukanlah sebuah pilihan. Daripada memiliki masa depan yang teramat suram seperti itu, lebih baik mati dengan bangga di peperangan. Tidak perlu baginya memberikan jawaban atau apapun lagi kepadanya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Rigel?" tanya Asoka yang diam menunggu di belakangnya bersama yang lain.
Berkat bom nuklir sebelumnya pasukan naga yang ada lenyap dan memberikan semua orang nafas lega untuk sementara waktu. Namun berkat plot twist yang ada, pasukan naga kembali menyerbu. Bukan seperempat ataupun setengah, melainkan kekuatan penuh.
Rigel perlahan mengembalikan dinding Adamantite ke tanah dan mengekspos hasil ledakan kepada semua orang. Satu kata terpikir jelas dalam kepala mereka "Mengerikan."
"Bahkan dengan ledakan sekuat itu, masih ada beberapa yang selamat dan pasukan lainnya mulai menyerbu..." tukas Marcel, keringat tampak muncul di dahinya.
"Aku tidak yakin dapat mengatasi semuanya. Belum lagi, Acnologia yang menjadi target belum tersentuh sedikitpun..." Yuri menegaskan hal yang sudah diketahui semuanya.
Prajurit Kesatuan Tempur mulai menunjukkan jejak ketakutan akan pemandangan mengerikan yang mereka lihat. Jumlahnya berkali-kali lipat dari mereka sendiri. Mustahil bahwa mereka kembali hidup-hidup.
Namun untungnya, terdapat keberadaan tak terbantahkan, para Pahlawan di pihak mereka. Keyakinan bahwa entah bagaimana pasti akan ada jalan kemenangan bila Pahlawan bersama mereka.
"Jumlahnya memang mengerikan, namun seharusnya kita sudah menduga akan ada lebih dari 500 naga. Yeah, sejauh ini situasi masih terkendali..." tukas Rigel, dengan santai menekuk kepalanya seakan lelah.
"Terkendali? Apanya yang terkendali?! Darimanapun kau melihat, ini situasi tanpa harapan. Tentunya kita bisa mengalahkan jumlah sebanyak itu, namun mengandalkan kekuatan individu tidak berguna. Tidak diragukan lagi kita akan kelelahan sebelum mencapai Acnologia..." tukas Petra yang terlihat takut dan ngeri tentang sesuatu di depannya.
Ketakutannya dapat dimaklumi, mengingat dia hanyalah gadis lemah bila tanpa gelar Pahlawan dan senjatanya itu.
Lantas Rigel membalasnya dengan senyuman yang seakan mengatakan 'Ketahuan, ya.'
"Yeah, mempertimbangkan waktunya, sekarang mungkin keadaan yang tepat. Kekuatan individu memang berpengaruh dalam perang, namun tetap akan kalah bila dihadapkan dengan jumlah banyak. Tetapi..."
Cahaya gelap, kekuatan kegelapan, Domain of Death mengelilingi Rigel. Semua yang melihat mulai bergidik ngeri dengan pancaran aura yang dikeluarkan oleh Rigel.
Hingga akhirnya, mereka semua ingat dengan satu kekuatan Rigel yang super mengerikan. Bahkan tanpa keberadaan mereka ataupun Region, dia tidak akan pernah kalah dalam hal jumlah, meskipun hanya sendirian.
Perlahan, bayangan hitam, tulang belulang monster merangkak naik dari tanah, tempat Rigel berpijak dan menghadap. Dia merentangkan tangan, menuturkan serangkaian pertanyaan selagi tersenyum lebar akan kemunculan sosok-sosok yang berlutut di hadapannya. Dia dengan sengaja memasukkan Mana dalam suaranya, membiarkan Acnologia dan penculik itu mendengarnya.
"Jika kekuatan individu dan kekuatan jumlah digabungkan, apa yang akan terjadi?"
Alhasil pasukan terkuat akan lahir dan menggoncang dunia dengan hentakkan kaki yang penuh kebanggaan dan percaya diri.
"Jika terdapat pasukan yang tidak lagi takut akan kematian, tentara abadi yang sulit dibunuh muncul, apa yang akan terjadi?"
Alhasil semua kehidupan akan takut dan gentar dengan kehadirannya. Mereka akan bertepuk lutut bila di hadapkan dengannya.
"Jika dunia ini diselimuti kegelapan dan teror, apa yang akan terjadi?"
Kekacauan akan terlahir, rasa takut akan menghiasi dunia dan cahaya matahari tidak akan lagi pernah menunjukkan sinarnya.
"Jika kematian tidak lagi ditakuti bagi mereka yang telah mati, apa yang akan terjadi?"
Keabadian akan terlahir dan sosok mengerikan akan tercipta. Tidak takut akan kematian adalah senjata terhebat yang bisa dimiliki seseorang.
"Jika neraka bersatu dengan dunia, apa yang akan terjadi?..."
Kematian dan keputusasaan akan menteror bgi mereka yang hidup dan takut akan dosa-dosa mereka sendiri. Penghukuman bagi mereka yang kotor maupun bersih akan terjadi.
Merentangkan tangannya dengan penuh kegilaan, seluruh pasukan monster lemah seperti goblin hingga naga berbalik dan menghadap kepada pasukan yang harus diundang ke neraka.
"Aku tidaklah sendiri! Acnologia, NERAKA BERSAMAKU!! Pasukan keabadian terlahir, datang mengundang kalian ke neraka!!"
Akan kemegahannya, akan kengeriannya, akan kata-katanya yang bergema, langit mulai dihiasi oleh naga. Bukan mereka yang mati, melainkan mereka yang hidup. Pasukan naga yang dipimpin oleh Red dan rekannya memenuhi langit.
Tidak cukup sampai di situ, daratan yang hancur dan dipenuhi tentang keabadian, perlahan ditumbuhi tanaman hijau. Cahaya kecil—para peri mulai bermunculan, berbaris bersama tentara keabadian.
Atas perintah Ratu mereka, Sylph..., mereka datang dengan satu tujuan mutlak—
"—mari rebut calon Ratu kita selanjutnya!!" teriakkan Sylph menggema dan membakar hati peri dalam semangat dan amarah.
Diikuti kejadian yang menuju klimaksnya, Acnologia yang menjadi tidak sabaran berdiri menghadap pasukan Rigel, berdiri di depan seluruh pasukan miliknya.
Rigel melompat masuk, diikuti Sylph, Red dan delapan rekannya serta para Pahlawan. Mengambil langkah di depan semuanya, dia meletakkan tangan kanan di tempat jantungnya memompa.
"Saksikanlah kekuatan kami yang menentang Dewa dan segala kehendaknya!!"
Pasukan yang menentang langit, Dewa dan segala kehendaknya terlahir pada detik ini. Kelak, pasukan itu akan dikenal dengan Pasukan Penentang Dewa!
Note :
Kondisi saya kurang baik dan butuh banyak istirahat. Sehingga kata yang disajikan lebih sedikit dari biasanya, mohon dimaafkan.