The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Mengambil alih Britannia!



Tentara dari Region telah turun ke medan tempur. Ozaru menyuruh pahlawan untuk menjauh dari Tortoise jika tidak ingin terkena dampak dari serangan yang akan terjadi.


"Bukankah dia bilang tidak akan ikut campur, apa dia berubah pikiran atau semacamnya??" Tanya Argo dengan bingung.


"Entahlah, mungkin saja dia tahu bahwa kita tidak dapat mengalahkan Tortoise dan turun tangan setelah kita menyadari fakta bahwa Tortoise lebih sulit di kalahkan." Ujar Marcel dengan sedikit kesal.


Tidak ada yang tahu apa yang di pikirkan Rigel. Untuk saat ini para pahlawan hanya perlu mengikuti Ozaru dan pasukan Region untuk menjauh dari Tortoise. Di sisi lain, tentara yang di kendalikan oleh parasit berhasil di tangani oleh Misa dan para tentara dari Region dengan cara membuat mereka tidak sadarkan diri. Hazama, Petra dan Raja lainnya terkejut dengan bala bantuan tak terduga dari Region.


"Kenapa kalian ada di sini?" Gumam Hazama, "Bukankah kalian memiliki rencana sendiri untuk mengalahkan Tortoise?" Lanjutnya.


"Awalnya memang begitu, namun karena suatu hal Tuan Rigel berubah pikiran dan mengubah rencananya." Ujar Nisa yang memegang sesuatu dan berjalan mendekat ke Raja Altucray.


"Yang Mulia Altucray, Tuan Rigel ingin berbicara dengan anda secara pribadi." Ujar Nisa, dia mengulurkan benda yang di bawanya kepada Raja Altucray.


Raja Altucray mengambil benda itu dengan bingung karena belum pernah melihatnya selama hidupnya.


"Apa ini?" Tanya Altucray.


"Itu adalah alat khusus yang dapat menteleportasikan anda ke kordinat yang sudah di tentukan... Alirkan lah sedikit Mana anda maka benda itu akan bekerja." Ujar Nisa.


Raja Altucray awalnya sedikit ragu, namun dia memutuskan untuk mencobanya dan mengalirkan Mana ke benda di tangannya itu. Seberkas cahaya muncul dan menutupi Raja Altucray dan dalam sekejap dia menghilang, berpindah ke tempat Rigel dan Tirith berada.


"Hebat... itu benar-benar dapat menteleportasikan orang... Aku jadi penasaran hal apa saja yang telah di ciptakan Pahlawan." Ujar Alexei dengan sedikit kekaguman.


Nisa memandangnya dan tersenyum kepada Raja Alexei dan berkata, "Tenang saja, Yang Mulia, kita akan menyaksikan keajaiban Tuan Rigel sebentar lagi."


Di lain sisi, Raja Altucray tiba di sebuah tempat yang atap dan lantainya terbuat dari besi. Di depannya, terdapat Rigel yang sedang duduk dengan Tirith yang berada di pangkuannya.


"T-tirith? apa yang kau lakukan di situ?!" Tanya Altucray.


Tirith hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan ayahnya karena syarat yang di ajukan Rigel.


"Daripada itu, sebaiknya kau menyadari dimana kau berada sekarang." Ujar Rigel dengan senyuman mengejek.


Altucray mengikuti apa yang di katakan Rigel dan melihat tempat dia berada. Dia terkejut dan kesatuan karenanya.


"Kau! Creator bajingan!" Altucray mengutuk.


Saat ini dia sedang berada di sebuah kurungan yang digunakan untuk memenjarakan budak. Rigel menyimpan baik-baik pemandangan itu di dalam kepalanya.


"Kenapa, mau marah? itu tempat yang cocok untukmu, tahu?" Rigel mengejek, "Mari simpan itu untuk nanti, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Lanjut Rigel.


Meski kesal karena di perlakukan dengan lancang oleh Rigel, mau tidak mau dia harus tetap mendengarkan apa yang ingin Rigel bicarakan dengannya.


"Aku hanya memiliki satu permintaan padamu, serahkan kerajaannya padaku dan jadilah budakku." Ujar Rigel dengan penuh kesenangan di wajahnya.


Tidak hanya Altucray, Tirith juga tampil sangat terkejut dengan apa yang baru saja di katakan nya. Tidak mungkin ayahnya mau memenuhi permintaan konyol seperti itu.


"Jangan bodoh! mana mungkin aku mau menuruti permintaan tolol seperti itu!" Teriak Altucray.


Dia menggenggam jeruji besi namun tanpa diketahuinya jeruji besi itu sudah di aliri listrik sehingga dia tersetrum olehnya. Rigel tertawa senang saat melihat Altucray tersetrum oleh listrik di jeruji.


"Jika kau menolak, apakah kau tidak khawatir dengan apa yang terjadi pada putrimu?" Ujar Rigel, menciptakan pisau dan mengarahkannya ke leher Tirith, "Putri tercintamu mungkin akan mati di tanganku, atau menjadi alat pemuas nafsuku." Lanjut Rigel dengan senyuman seperti iblis.


"Kau tidak akan berani melakukan itu, lagipula kau mencintai putri—" Altucray terhenti.


Rigel tanpa ragu menarik rambut Tirith dan memotongnya. Rambut Tirith yang awalnya mencapai pinggang kini tersisa sepunggungnya. Tirith bahkan sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Rigel. Ini jelas bukan sebuah rekayasa.


"Mana yang lebih penting bagimu, Putri tercintamu atau negara dan harga dirimu?" Tanya Rigel dengan dingin.


Altucray menggertakan giginya. Dia tidak dapat memutuskan mana yang terbaik. Putrinya memang penting karena dia berjanji pada istrinya akan menjaga putrinya. Namun kerajaan juga penting baginya.


"Cepatlah... atau perlu aku melakukan hal itu kepada putrimu tepat di depanmu." Ujar Rigel, menaruh tangannya di perut Tirith dan perlahan menggeser nya ke bagian atas


"Emh!" Tirith sedikit mendesah saat Rigel mengulurkan tangannya ke atas. Dia tidak menolak, dia justru tampak sedikit menikmati.


"Bajingan! hentikan kelakuanmu itu!" Teriak Altucray kepada Rigel.


"Cepatlah putuskan. Apa kerajaanmu lebih penting dari Putri tercintamu?" Ujar Rigel.


"Ayah..." Gumam Tirith.


Altucray menundukan kepalanya dan mengepalkan jarinya dengan sangat kuat sampai mengeluarkan darah. Rigel justru sangat menikmatinya dan menyadari bahwa nampaknya Altucray telah membuat keputusannya.


"Kuh! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Bajingan! lepaskan putriku segera..." Ujar Altucray menatap Rigel dengan penuh kebencian.


Rigel menaruh Tirith di kursinya dan berjalan menghampiri Altucray.


"Keputusan yang bagus, babi tua... Aku sampai terharu bahwa kau rela memberikan negaramu untuk putrimu, sungguh kasih sayang seorang ayah memang hebat. Meski aku tidak tahu bagaimana rasanya di cintai oleh ayahku." Ujar Rigel selagi menghampiri Altucray.


Mereka saling berhadap-hadapan. Rigel menjentikan jarinya dan kurungan yang mengurung Altucray terangkat. Saat dia terbebas, Altucray mengayunkan tinjunya ke Rigel dengan sangat kuat. Gerakannya sangat lambat bagi Rigel sehingga tidak sulit menghindarinya. Rigel meraih tangan Altucray dan mencengkramnya dengan sangat kuat dan hampir mematahkan tangannya.


"Apapun yang coba kau lakukan percuma saja. Hanya aku yang dapat keluar dan masuk kesini dengan bebas." Ujar Rigel, melepaskan cengkraman tangannya.


"Aku lebih baik mati ketimbang menjadi budakmu!" Bentak Altucray.


Rigel justru tersenyum karenannya dan mengatakan, "Bahkan jika kau ingin mati, aku tidak akan membuatnya menjadi mudah." Lanjut Rigel.


Sesuatu merangkak naik dari kaki Altucray. Sesuatu itu adalah Prajurit tengkorak milik Rigel. Altucray dan Tirith mulai berkeringat dingin saat aura kematian bocor darinya.


"K-kau, b-bukankah kau seorang pahlawan? kenapa kau memiliki kekuatan kegelapan seperti ini?" Tanya Altucray.


"Itu tidak penting... Sekarang, karena kau menerima menjadi budakku, akan aku pasangkan segel budak padamu." Rigel dengan cepat menghampiri Altucray dan mencekiknya untuk memasangkan segel budak.


"Ugh!" Altucray merengek Sakit.


"Dengan begini, urusanku hanya tersisa pada Tortoise. Mari kita mulai pertarungan perdana Region!" Rigel tersenyum lebar.


Rigel telah mendapatkan negara Britannia di tangannya dan dia akan menggunakan Altucray sebagai bonekanya dan mengatur Britannia dari balik bayang-bayang. Pertarungan sesungguhnya baru akan di mulai...


***


You Know? kalau novel ini sudah memiliki audio book? tolong bantu kak Makoto dengan memberikan like terhadap audiobook nya ya.