
Tengah hari telah tiba, pertarungan akhir tepat didepan mata. Masih ada waktu sebelum pertandingan dimulai, namun orang-orang sudah membanjiri kursi penonton yang kini penuh sesak.
Ada begitu banyak orang yang menantikan pertarungan ini sehingga tidak berniat tertinggal sedetikpun pertandingannya.
"Sudah waktunya," gumam Rigel selagi membetulkan posisi topengnya agar tidak mudah lepas.
"Hey, hey, hey, hey, hey! Para penonton sekalian, selamat datang di arena pemakaman kota bawah tanah, Darkness! Nampaknya acara hari ini jauh lebih banyak penonton ketimbang sebelumnya dan panitia memutuskan bahwa ini adalah rekor jumlah penonton terbanyak yang pernah ada... Sebagai perwakilan, aku akan mengucapkan terima kasih sebesarnya dari tuan tanah atas partisipasi dan semangat kalian yang hadir di sini."
Semua bertepuk tangan, semua bersorak senang dan semua tidak sabar untuk panitia menyelesaikan pembukaan dan memulai pertandingan.
"Ya, ya, ya, ya, ya! Tanpa perlu membuang waktu lebih lama lagi, mari kita panggil tiga kandidat petarung!"
WHOAA!!!
"Tiga petarung yang tersisa adalah Pilar iblis Marionette, Gajah perang Gahdevi, dan sang penguasa kematian, Matsu beserta timnya!"
Para petarung memasuki arena, begitu juga Rigel dan rekannya. Entah sejak kapan kini dia memiliki panggilan penguasa kematian. Dia juga tidak pernah mendengar akan mendapatkan panggilan semacam itu. Meskipun terdengar keren, namun nama semacam itu sedikit memalukan.
Begitu tiba di arena, mereka saling mengamati satu sama lain. Marionette memang patut diwaspadai, namun Rigel tidak akan dengan bodohnya mengabaikan Gahdevi yang juga lawannya.
"Aku akan menjelaskan pertandingan kali ini..., dikarenakan ada tiga kandidat yang ada, mereka akan bertarung disatu arena, yang artinya setiap dari mereka memiliki dua musuh. Peringkat akan ditetapkan dari yang pertama kali tumbang akan mengambil peringkat tiga dan yang terakhir berdiri akan berada di peringkat pertama. Untuk hadiah yang didapat, dimulai dari peringkat tiga yaitu Dwarf salah satu hadiah utama dan sepuluh ribu koin emas, tempat kedua adalah God Sword dan limabelas ribu koin emas, terakhir di tempat pertama akan mendapatkan buku pengetahuan dan juga koin emas sejumlah duapuluh lima ribu!"
Mengabaikan sorak para penonton, Rigel terkejut bahwa hadiah akan dibagi rata oleh para pemenang. Dia berpikir peringkat pertama akan mendapatkan tiga hadiah utamanya, namun nyatanya tidak seperti itu. Mendapatkan Dwarf memanglah tujuan awal Rigel datang ketempat ini. Namun kini telah berubah karena dia tidak bisa mengabaikan buku pengetahuan yang konon memiliki catatan dunia ini.
Masih ada begitu banyak misteri yang belum terpecahkan sehingga dia sangat membutuhkan ensiklopedia itu untuk mengungkapkan misteri yang ada.
Meski begitu, Rigel tidak menyerah mendapatkan Dwarf. Fight To End adalah sebuah pertarungan dimana orang-orang bertarung dan diizinkan untuk membunuh lawannya. Singkat saja, jika Rigel membunuh Marionette dan Gahdevi, dia sudah dijamin akan mendapatkan seluruh hadiah utamanya.
Huh~, rencana untuk membuat aliansi sepertinya hampir tidak mungkin, ya..., aku harus merevisi sedikit. Rencana awal membentuk aliansi, namun sekarang adalah membunuh Gahdevi terlebih dahulu..., batin Rigel.
Sejak awal, membuat aliansi difinal sudah mustahil. Manusia adalah wadah dari keserakahan, mereka selalu menginginkan hal lebih meski sudah mencukupi dan tetap merasa ingin memiliki segalanya. Jika Gahdevi setuju membentuk aliansi namun di penghujung tetap akan terbunuh, maka tidak akan ada artinya membuat aliansi semacam itu. Akan jauh lebih baik bertarung habis-habisan tidak hanya untuk meraih hadiah, tetapi untuk tetap hidup.
"Aku akan memberitahu satu hal, jika hanya ada satu orang yang berdiri, maka semua hadiah menjadi milik orang itu," pembawa acara menambahkan.
"Bagus, bagus sekali, bukannya bagus, tentu bagus, barangkali bagus, bisa jadi bagus, karena itu mungkin bagus! Bertarung sampai mati adalah berkah dan dosa. Bertarung sama artinya mengeluarkan darah jika terluka dan luka akan mengeluarkan darah yang akan menodai tanah tercinta dengan darah kotor, sangat kotor, sungguh kotor karena itu kotor!"
Logatnya mengenai perulangan kata itu sangat mengganggu dan cukup mengesalkan. Tidak hanya Rigel, tetapi Gahdevi cukup terusik dan mengatakan :
"Berbicaralah yang jelas, orang gila!"
Mengecualikan Pahlawan dan rekan-rekan Rigel, tidak ada orang yang cukup bodoh untuk mengatakan perkataan kasar kepada Pilar iblis. Namun Gahdevi mengatakannya tanpa sedikitpun beban seakan-akan tidak takut terhadap kematian yang mungkin akan mendatanginya saat mengatakan itu.
"Hoh..., kau cukup berani untuk mengatakan langsung kepada orang gila itu bahwa dia gila," Rigel sedikit memuji.
Gahdevi hanya mendengus dan mengatakan, "Kau juga sama halnya denganku..., Lagipula aku telah terlalu sering berdiri di tepi jurang kematian hingga aku bosan dengannya."
Terdengar konyol, namun tidak ada kebohongan dalam kata-katanya. Rigel sendiri pernah merasakan kematian dan cukup sering mendekati kematian itu sendiri. Meski begitu, dia tetap memiliki rasa takut akan kematian karena itu hal normal yang dimiliki manusia karena mereka memiliki batasan waktu untuk hidup.
"Yaa, aku memang gila, kegilaan ini membuatku gila dan bermasalah. Ahh~ aku benar-benar gila dan berdosa sangat berdosa, berdosa sekali, cukup berdosa, hampir berdosa karena ini dosa! Gyagyagya!"
Dia sudah tidak tertolong dan berusaha memahami kata-katanya hanya akan membuat ketularan gila.
"Tanpa perlu berlama-lama lagi, kita akan memulai pertarungan terakhir ini dalam hitungan ketiga..., 3..., 2..., 1, mulai!"
Mendapatkan tanda itu, Rigel dan timnya melompat mundur untuk menjaga jarak lebih jauh dari dua lawannya. Marionette perlahan mengeluarkan empat boneka dengan senjata belati, sabit, pedang dan perisai.
Dua dari boneka menuju Leo dan Garfiel sementara satunya yang menggunakan sabit bergegas menuju Gahdevi.
"Leo, Garfiel! Kuserahkan dua boneka itu kepada kalian...!!" Perintah Rigel, "Bangkitlah...," bersamaan dengan itu, dia memanggil Naga dengan kemampuan Necromancer miliknya.
Seperti simulasi dalam kepalanya, Marionette mungkin akan langsung menyerang menggunakan boneka, meski jumlahnya tidak sesuai perkiraan. Benang Mana dari sihir peri dapat terlihat dengan jelas melalui boneka-bonekanya dan itu berasal dari jari Marionette.
Dia mulai menyipitkan mata untuk meluhat ada atau tidaknya benang sihir lain di punggung Marionette. Kemungkinan besar dia memperkecil pasokan energi agar tidak terlihat, namun harapannya dikecewakan dengan tidak adanya apa-apa.
Sial! Apakah itu benar-benar tubuh asli miliknya? Atau ada trik lain dibalik tubuh boneka itu?!..., batin Rigel.
Banyak kemungkinan bisa terpikirkan, namun tidak satupun diantaranya dapat dianggap tepat. Mencoba satu persatu hanya akan membuang-buang waktu, namun tidak ada pilihan lain selain melakukannya atau menunggu dan mengamati. Barangkali terdapat sesuatu yang belum dia lihat.
TING!
Adu pedang terjadi antara Leo dengan boneka pedang Marionette. Mereka tampak berimbang, meski hanya boneka yang di gerakan melalui Mana, boneka itu lebih dari mampu berdampingan dengan Leo.
Dia memutar tubuh dan mengayunkannya ke atas, menimbulkan gelombang udara yang berbentuk bilah melesat langsung menuju boneka pedang Marionette.
Boneka itu dengan lihai menghindari serangan Leo dan berputar dengan cepat. Leo harus berlari menjauh untuk menghindari bilah itu.
"Tekhnik satu : Sayatan!"
Leo berbalik dan melesat menuju boneka itu. Dia memotong bagian bawah tubuh boneka dengan rapih dan segera memotong udara di punggung boneka—lebih tepatnya memotong benang Mana di punggungnya.
"Sepertinya itu berhasil..., terima kasih, Sylph," Rigel bergumam dan tersenyum.
Disisi lain, Garfiel menghadapi boneka dengan belati yang bergerak sangat lincah. Meski begitu, boneka itu tidak cukup lincah untuk menyamai Garfiel. Boneka itu melompat dan mengayunkan kedua belatinya. Garfiel hanya tersenyum memperlihatkan taring miliknya dan mengulurkan kedua tangannya untuk menahan kedua belati itu. Garfiel memegang bilah belati yang seharusnya tajam, namun tangannya sama sekali tidak mengeluarkan darah.
"Belatimu terlalu tumpul untuk dapat melukai tubuhku..., sekarang, Leo!"
Mengapa mereka dapat melihat benang yang seharusnya tak terlihat? Itu berkat campur tangan seseorang diluar arena. Jika membahas teknik peri, maka meminta bantuan ratu peri adalah jawaban terbaik.
Rigel sebelumnya telah meminta Sylph membantu Garfiel dan Leo untuk dapat menggunakan benang Mana. Sylph diam-diam meminjamkan pengelihatannya kepada Garfiel dan Leo melalui roh ambient yang tersebar di arena. Rigel ingin mengucapkan terima kasih kepadanya, namun saat ini bukan waktu yang tepat.
Rigel melihat kearah lain dan menemukan Gahdevi berhasil mengalahkan boneka yang mrnghadangnya. Tanpa membuang waktu, dia melompat masuk ke tempat Rigel dan memukul udara. Rigel mundur sedikit dan membiarkan dirinya berlindung di bawah tubuh Naga yang telah dipanggil untuk menjadi perisai daging yang melindunginya.
"Heh, berlindung di bawah tubuh kadal itu, kau cukup cemerlang namun..., Super Punch!"
Gahdevi memukuk udara dan membuat tekanan udara yang sangat besar, sampai-sampai Naga tidak dapat berdiri tegak dan jatuh menibani Rigel. Sebelum dirinya tertimbun tubuh besar Naga, Rigel melompat pergi dan menghilangkan Naga itu.
"Tch! Benar-benar merepotkan memiliki dua musuh kuat..., aku harus segera menyingkirkannya."
Tidak perlu lagi baginya terlalu menahan diri. Bahkan jika identitasnya terungkap, setidaknya biarlah terungkap saat dia telah mendapat buku pengetahuan itu.
Rigel melesat maju selagi menembakan beberapa Asura Punch menuju Gahdevi, namun dia berhasil menangkisnya dengan tangannya.
Ketimbang gajah perang, dia lebih cocok dipanggil Gorila terkuat..., batin Rigel.
Rigel berlari dengan cepat dan melompat sekuat mungkin dan beradu pukulan langsung dengan Gahdevi.
Dia terkejut, awalnya dia berpikir bahwa pria bertopeng didepannya hanya handal menggunakan sihir, namun nyatanya kekuatan fisik murninya mengimbangi miliknya.
"Sepertinya kau menahan diri sejak awal ya...," ujar Gahdevi dengan senyuman bermasalah.
"Kau juga sepertinya memiliki hal lain dibalik lengan baju."
Gahdevi tidak bisa melihat ekspresi dibalik topeng itu, namun dia dapat membayangkan bahwa lawannya sedang tersenyum.
Mereka hendak melanjutkan pertukaran mereka, namun insting mereka sama-sama berdering kencang. Niat membunuh yang sangat besar muncul, menyerang mereka langsung.
Rigel dan Gahdevi secara bersamaan menjauh satu sama lain dan di tempat mereka berada sebelumnya, terdapat bilah pedang raksasa melesat lalu berputar menuju Gahdevi seakan memiliki kesadaran.
Rigel menoleh ke arah Marionette. Jika ada orang yang dapat melakukannya, maka dialah orangnya. Tubuh boneka Marionette bergetar dan tanah tempatnya berpijak memiliki retakan akibat aura kemarahan yang keluar darinya.
"Ahhhhhh..., Ahhhhhhh..., AHHHHHHH!"
Perhatian semua orang beralih kepada Marionette yang berteriak dengan gila dan mulai menarik-narik rambutnya.
"AHHHHHHH! KAMPRET, TAHI, ANJING, BABI, MONYET, TOLOL, IDIOT, BANGTSAT, KEPARAT, SIALAN, BABI TERBANG! BERANI-BERANINYA KALIAN MENGHABISI ANAKKU TERCINTA DAN MENGABAIKANKU BEGITU SAJA, KALIAN MONYET RENDAHAN NAN MENJIJIKAN KEPARAT!"
Marionette mengucapkan berbagai sumpah serapah yang bisa dia pikirkan. Gahdevi yang telah menghancurkan bilah pedang raksasa juga terkesima melihat Marionette begitu marah.
Leo dan Garfiel mendekati Rigel dan mengambil posisi defensif karena Marionette mengeluarkan sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Bagus, bagus sekali, bukannya bagus, tentu bagus, barangkali bagus, bisa jadi bagus, karena itu mungkin bagus..., kalian monyet rendahan nan menjijikan telah berhasil membuatku marah... AHH kampret, anjing babi terbang. Buruk, cukup buruk, sangat buruk, tentu buruk, karena itu buruk. Aku sudah tidak tahan lagi, sebaiknya kubunuh saja semua orang yang ada disini."
Perkataan mengerikan seperti itu sudah cukup membuat semua orang bergidik ngeri. Namun tidak ada satupun dari mereka berniat pergi. Mereka masih memiliki kepercayaan kuat bahwa Marionette tidak akan membunuh siapapun karena telah membuat kontrak dengan tuan tanah.
Namun bagi Rigel, hal seperti itu hanyalah kiasan belaka.
"ANAK-ANAKKU YANG TERSAYANG, KELUARLAH!"
Marionette merentangkan kedua tangannya dan lebih dari seratus boneka muncul dan berdiri di sekitarnya. Setiap boneka memiliki senjata seperti sabit panjang dikedua lengan mereka. Pembawa acara juga terkejut dan menjadi orang pertama yang bereaksi.
"Tunggu, Pilar iblis Marionette. Bukankah kau telah membuat kontrak untuk tidak membunuh siapapun??"
Dengan mata bonekanya, dia melirik pembawa acara itu dan dengan acuh mengatakan : "... Apa kau pikir kontrak tetap akan berlaku jika salah satunya mati, monyet kampung?"
Pembawa acara benar-benar terguncang akan kata-kata acuh Marionette. Jelas bahwa kontrak itu tidak ada artinya bila tuan tanah itu sendiri tidak lagi bernafas.
"Kau... Apa kau membunuh tuan tanah... Ayahku dan mengendalikannya bagai boneka?" gumam pembawa acara.
"Lantas kenapa? Aku bahkan tidak sudi mengendalikan babi gendut menjijikan sepertinya. Aku langsung melemparkannya ke kubangan lumpur setelah selesai mengendalikannya."
Pembawa acara berlutut lemah, tubuhnya mulai bergetar dan dia memukul lantai sekuat tenaga dan membuatnya hancur.
"JANGAN BERCANDA!!"
Pembawa acara itu berlari dan hendak menghajar langsung Marionette, namun Rigel menghentikannya dipertengahan karena dia hanya akan terbunuh bila maju serampangan.
"Jangan gegabah dan bertindak bersamaan. Mari kita bunuh orang gila itu bersama-sama."
Pembawa acara itu kembali tersadar dan mengangguk. Rigel menoleh ke arah Gahdevi.
"Hey, gorila! Sepertinya pertarungan kita akan dihentikan karena orang gila ini mengamuk. Mari bereskan dia bersama-sama! Leo, Garfiel, kalian segera ungsikan semua penonton dan lihat bagaimana keadaan diluar lalu cari Odin!"
"Tapi bagaimana denganmu?" tanya Garfiel dengan bermasalah.
"Aku tidak akan mudah terbunuh, lagipula ada gorila dan pembawa acara ini bersamaku. Kami tentunya akan sulit untuk bertarung selagi melindungi orang-orang jadi bergabunglah bersama Odin setelah selesai mengungsikan semua orang!"
Garfiel awalnya sedikit ragu, namun mengingat identitas asli pria bernama Matsu, akhirnya Garfiel dengan patuh pergi mengungsikan orang-orang bersama Leo.
"Sekarang, mari kita habisi orang gila yang mengamuk ini!"