
"Ahhh! Tolong!"
Kota bawah tanah, Darkness dilanda kekacauan akibat invasi boneka Marionette. Ratusan boneka berterbangan keseluruh kota dan membunuh manusia ataupun Demi-human tanpa pandang bulu. Manula, pria, wanita dan bahkan anak-anak dibunuh tanpa belas kasihan sedikitpun.
Semua orang berlarian dengan panik dan menuju jalan keluar dari kota, namun sayangnya sudah diblokir oleh para boneka. Beberapa mencoba untuk bersembunyi demi nyawa mereka sendiri, tanpa perlu memusingkan keselamatan orang lain.
Seorang bocah perempuan tengah berlari di tengah kekacauan demi mengambil bonekanya yang terjatuh. Dia hendak mengambilnya namun dua boneka Marionette telah di depannya dan menghancurkan bonekanya lalu mengayunkan bilah pedangnya menuju bocah itu.
"Mama!"
Saat hendak tertebas, sebuah batu sihir kemerahan melesat dan meledak tepat diantara boneka itu. Selagi pandangan boneka Marionette terhalang oleh asap hitam, seorang pria gendut pendek berlari dan membawa bocah perempuan dalam pelukannya menjauh dari kekacauan.
"Mama?"
"Sayangnya aku bukan mamamu. Namun aku akan membawamu ke tempat ibumu berada saat kita berhasil selamat dari para boneka jelek itu."
Pria itu adalah Moris, pedagang budak yang beruntung dapat bertemu langsung dengan Rigel. Pada awalnya dia memiliki kontra yang jelas terhadap Rigel karena dia tidak memihaknya dan justru tampak membela Odin. Namun kini Moris tersadar, bahwa Rigel tidak mencoba memihak siapapun, dia hanya ingin Moris membuka pandangan lebih luas terhadap dunia.
Hingga akhirnya dia mengetahui, bahwa perbudakan memang salah. Merampas kebahagiaan dan kebebasan orang lain juga salah, dia menyadari tentang seberapa busuk dirinya saat ini dan memutuskan untuk mendukung Rigel menghapus kebatilan dunia.
Moris berbelok kesebuah gang kecil untuk menghindari kejaran dan saat dia berpikir hampir lepas, sebuah sayatan pedang datang dan merobek punggungnya dengan dalam.
"Argh! Brengsek!"
Odin mengabaikan rasa sakit yang diterimanya dan terus berlari sampai boneka Marionette menikam bahu hingga pinggangnya dari atas. Moris terjatuh, namun tetap memeluk bocah perempuan itu untuk melindunginya.
"Paman, kau berdarah!" seru bocah perempuan itu.
"Tidak, apa! Setidaknya, aku akan menyelamatkan orang! Meskipun hanya satu nyawa saja!"
Moris mulai memuntahkan darah dari mulutnya. Rasa sakit menjalar bagai penyakit, dia hampir kehilangan kesadaran, namun bila itu terjadi bocah di pelukannya tidak akan selamat.
"HAARGH!"
Seorang pria paruh baya datang dari atap rumah dan memotong benang Mana di punggung para boneka dengan pedang besarnya. Wajahnya terlihat kasar, namun sorot mata dan ekspresinya menggambarkan pria lembut. Orang yang seharusnya membencinya, namun menyelamatkannya. Dialah Odin.
"Kau terlihat menyedihkan, pedagang budak," ujar Odin selagi menatap Moris dan bocah yang dia lindungi.
"Odin...," gumam Moris dengan lemah, "Tolong bawa anak ini pergi..., dari sini, Odin."
Odin hanya diam menatap sosok yang dibencinya. Dia tidak merasakan apapun di dalam dadanya. Hanya ada kebencian sunyi yang perlahan hampir padam.
"Mengapa pedagang budak tak manusiawi sepertimu memilih menyelamatkan seorang bocah yang bahkan tidak kau kenal dan ketahui asal usulnya?" tanya Odin selagi menggendong bocah yang dilindungi Moris.
"... Aku telah tersadar berkat tuan Rigel, bahwa perbudakan itu salah. Aku akhirnya mengerti, bahwa derajat makhluk hidup itu sama, tidak perduli apakah itu manusia atau semi-manusia. Aku tidak lagi memendam dendam akan kematian putraku, itu mungkin hukuman yang cukup untuknya. Dan untukku, aku akan menerima hukuman yang lebih besar dari kematian..., karena itu, setidaknya aku ingin menyelamatkan orang, meskipun hanya satu nyawa."
Odin tidak dapat berkata apa-apa. Bahkan jika Moris menyesali perbuatannya, itu tidak akan mengubah fakta bahwa dia telah mengambil banyak kebebasan Demi-human.
"Satu lagi, Odin..., tolong sampaikan pesan terakhirku kepada tuan Rigel..., buatlah dunia ini jauh lebih baik lagi."
Meninggalkan kata-kata itu, tubuh Moris semakin melemah karena kehilangan banyak darah. Odin tidak melakukan apa-apa, hanya menyaksikan Moris yang akan mati.
"... Misal kau tidak menjadi pedagang budak dan memiliki pekerjaan yang lebih baik, aku yakin kita dapat berteman baik," Odin membelakangi Moris yang bersandar pada dinding.
"Ya..., dikehidupan selanjutnya..., kita akan menjadi teman..."
Odin melangkah pergi, membiarkan Moris mati dalam kesepian.
Dilain sisi, Leo dan Garfiel tengah sibuk memberikan arahan kepada orang-orang di dalam arena untuk pergi keluar agar tidak terkena dampak pertarungan.
"Bagus, bagus sekali, bukannya bagus, tentu bagus, barangkali bagus, bisa jadi bagus, karena itu mungkin bagus... Kalian berpikir dapat mengalahkanku? Kalian hanyalah monyet rendahan yang bahkan tidak pantas menjilat air mani tuan Lucifer yang agung! Kalian hanyalah babi yang pantas berendam di kubangan lumpur! ANAK-ANAKKU HABISI PARA BABI LANCANG INI!"
Para boneka datang menyerang Rigel, pembawa acara dan Gahdevi.
"Oi gorila dan pembawa acara, tetaplah di dekatku dan serang orang gila itu bila ada kesempatan!"
"Panggil saja aku Ganesha," ujar pembawa acara—Ganesha.
Rigel mengumpulkan Mana dalam jumlah banyak dan membentuk Hand of Midas untuk menyapu boneka Marionette dalam satu gerakan.
"Sekarang!"
Ganesha dan Gahdevi menyerang bersamaan dari dua sisi yang berbeda selagi Rigel mengatasi para boneka Marionette.
Tidak perlu menahan diri, saat ini identitas tidak lagi penting. Yang terpenting adalah menyingkirkan Marionette secepatnya.
"AHHH, kampret, sialan, keparat, brengsek, tahi, babi terbang! Padahal kalian hanya seekor babi, tapi berani menentangku. Padahal kalian hanya seekor babi, tapi berani melawanku. Padahal kalian hanya seekor babi, tapi berani membuatku marah, berani membuatku murka, berani membuatku benci, berani membuatku kesal...!!"
Marionette mulai mengutuk. Dia menarik rambutnya dan menatap langit dengan mata bonekanya yang berputar tidak menentu. Gahdevi dan Ganesha yang hendak menyerang terhenti, karena merasakan perasaan tidak enak berasal dari Marionette.
"Tidak termaafkan, tidak bisa dimaafkan, tentunya tidak termaafkan, bukannya termaafkan, namun tidak akan dimaafkan, karena itu tidak termaafkan!! Baiklah jika itu hal yang kalian para babi inginkan, maka AKAN KUKABULKAN!"
Rigel terkesima dengan punggung boneka raksasa yang perlahan berdiri tegak. Tidak hanya dia, tetapi Gahdevi dan Ganesha juga sama terkesimanya dengan Rigel.
Sebuah boneka raksasa atau mungkin lebih tepat disebut dengan golem raksasa dengan bilah pedang raksasa yang menjadi tangannya. Tubuhnya terlihat terbuat dari beton, sangat jelas dari warna ungu kehitamannya, besi itu adalah logam terkuat, Adamantite.
Ukurannya sangat besar dan tinggi hingga Rigel perlu mendangak untuk melihat kepala boneka itu dan Marionette yang berada di punggungnya. Beruntungnya ketinggian golem itu tidak mencapai langit-langit. Bila iya, maka tidak terelakan lagi ada banyak korban jiwa.
"Oh, bung..., yang benar saja. Benda sebesar ini, dimana dia menyimpannya?" ujar Gahdevi menatap boneka golem dengan heran.
"Jika itu dari infentory, bukannya mustahil dia meletakannya. Namun mau bagaimanapun, ukurannya terlalu besar."
"Mungkin saja dia menggunakan sihir pengecil barang hingga golem itu cukup untuk dimasukan ke infentory," ujar Ganesha.
Jika begitu, maka hanya sihir pengecil jawaban yang masuk akal. Mustahil Marionette menyimpan boneka sebesar itu di arena tanpa meninggalkan sedikitpun jejak. Dilihat daru kepribadiannya yang mudah marah dan tidak sabaran, hal semacam itu tentunya mustahil.
"Bodo amat tentang bagaimana dia menyimpannya. Yang terpenting, bagaimana cara kita mengalahkan sibesar ini??"
Gahdevi benar, tidak ada gunanya memikirkan itu. Sekarang prioritas mereka adalah mengalahkan boneka golem dan membunuh Marionette untuk menyelesaikan kekacauan segera.
"Sebelum itu, kalian seharusnya sudah menyadari dan melihat bagaimana caranya menggerakan para bonekanya kan? Dia menggunakan teknik peri untuk memasok mana alam yang terlihat seperti benang dan menggunakannya untuk mengendalikan boneka-bonekanya."
Mendengar itu, Gahdevi dan Ganesha sama-sama mengangguk setuju. Mereka telah mengetahui trik kecil di balik boneka Marionette saat dia melawan Alexander. Tidak ada kekuatan tanpa kelemahan, kata-kata itu jelas sangatlah mutlak.
"Dari yang terlihat, entah bagaimana sibesar ini tidak memiliki tanda-tanda adanya benang Mana, namun sangat jelas dia dikendalikan oleh Mana. Jadi, pastinya Marionette mengalirkannya langsung dan itu menjadi alasan kenapa dia berdiri di bahunya. Maka, satu-satunya cara untuknya mengalirkan Mana kepada sibesar ini adalah dengan kontak langsung."
Mereka sama-sama memandang Marionette dan mencari jejak dimana dia mengalirkan Mana miliknya kepada boneka golem raksasa itu.
"Begitu, jadi ada pada kaki sigila itu, ya," ujar Gahdevi.
Rigel mengangguk setuju. Hanya kaki Marionette saja yang melakukan kontak langsung dengan golem itu dan Rigel menyadari adanya jejak Mana di telapak kakinya.
"Ya. Rencananya sangat jelas, kita harus memisahkannya dengan sibesar itu dan mengalahkannya secara terpisah," ujar Rigel, mematahkan jari-jarinya dan lehernya.
"Aku dan Gahdevi mungkin dapat mengatasi Marionette dan membuatnya pergi, namun si besar itu akan sulit ditangani."
"Yah, kalau begitu aku yang akan menangani golem itu," Rigel mengambil langkah menuju golem dengan santai.
"Apa kau yakin?"
Nampaknya Ganesha ragu akan kemampuan tempur Rigel, karena dia belum merasakan langsung pukulannya. Berbeda dengan Gahdevi yang mungkin telah menerka seberapa jauh kekuatan Rigel.
"Tenang saja..., kau akan tahu setelah melihatnya. Mari mulai!"
Rigel berlari menerjang langsung boneka golem dan disambut dengan kaki golem yang berusaha menginjaknya. Rigel dengan gesit berlari zig zag menghindari setiap serangan yang bisa dikeluarkan boneka golem itu.
"Mana Hand : Asura Punch!"
Rigel melemparkan empat tinju emas menuju kaki boneka golem, namun bahkan serangannya tak cukup untuk membuat sedikitpun penyokan.
Sepertinya memang tidak semudah itu ya, batin Rigel.
Rigel mengganti cara menyerang dengan memukul langsung kaki boneka golem yang teramat keras itu.
BANG!
Tubuh golem itu sedikit bergetar dan sedikit penyokan akibat pukulan kuat Rigel. Gahdevi dan Ganesha tidak bisa untuk tidak terkejut. Bahkan Leo dan Garfiel memperhatikan karena dentuman keras yang bergema.
"Apa dia benar-benar manusia? Dapat membuat bekas pukulan pada Adamantite itu sudah gila," gumam Ganesha.
Garfiel dan Leo begitu terkesima dan benar-benar ingin mempelajari kekuatan gila semacam itu. Namun mereka mengurungkan niat, begitu melihar gerakan Rigel selanjutnya.
"Baik, cukup baik, kurang baik, sangat baik karena itu lumayan baik..., sebagai babi kau cukup berkemampuan. Bagaimana bila kau mati dan menjadi boneka setia tuan Lucifer yang agung."
"Terima kasih atas tawarannya, namun aku tidak ingin menjadi mainan Lucifer yang tolol dan menjijikan!"
Rigel berlari di kaki boneka golem dan memukulinya dalam perjalanan. Mendapat penghinaan Rigel terhadap Lucifer, Marionette mulau bergetar marah karena terpancing provokasinya.
"Heh, sepertinya dia benar tidak sabaran dan begitu lemah terhadap provokasi yang berhubungan dengan Lucifer," gumam Rigel.
"Haha, dia benar-benar gila... Namun aku tidak membencinya!"
Gahdevi melompat maju dengan senyuman dan mengikuti Rigel mendaki boneka golem itu dan menghantamkan tinju manusia supernya yang membuat getaran pada golem semakin keras.
Ganesha tidak mau tertinggal dan mengumpulkan Mana dikedua tangannya selagi menunggu waktu untuknya beraksi.
Rigel dan Gahdevi secara bersamaan menyerang boneka golem dan memberikan cukup banyak penyokan, sementara Marionette mulau menggila dan mengerahkan boneka-bonekanya yang lain untuk menyerang Rigel dan Gahdevi.
"Super Punch!"
Gahdevi menyingkirkan boneka kecil yang menerjang dan berniat mengganggu sementara Rigel terus mendaki menuju Marionette berada.
Delapan boneka dengan sabit dan tangan golem menyerang Rigel di saat yang bersamaan. Hampir tidak ada jalan keluar baginya untuk melarikan diri dari runtutan serangan itu. Namun, bukan berarti dirinya mengalami kebuntuan, justru ini saat yang bagus untuk mencobanya.
Senyuman tumbuh di bibirnya, "Purgatory : Pembersihan dosa!"
Api kebiruan mengelilingi Rigel dan melindunginya dari segala serangan. Boneka dengan sabit yang terjun langsung ke dalam api Purgatory langsung lenyap tak bersisa.
Tangan Adamantite yang hendak mengenai Rigel mulai meleleh dan menjadi besi cair. Melihat hal itu, Marionette terbelalak dan mulai mengucapkan sumpah serapah.
"Keparat, sialan, anjing, brengsek, tolol, gila, babi terbang!! Apa-apaan itu? Padahal hanya seekor babi, tapi cukup berkemampuan, padahal hanya seekor babi, tapi berani melawan, padahal hanya seekor babi!"
Selagi Marionette sibuk dengan perkataannya sendiri, dia tidak menyadari bahwa Rigel telah berada tepat di depannya dan melemparkan Asura Punch yang cukup kuat menghempaskan Marionette ke udara.
Mendapati kesempatan itu, Ganesha melompat dan memberikan ratusan pukulan dalam sekejap yang membuat tangan dan kaki Marionette tercerai berai.
Boneka golem perlahan roboh karena pasokan energinya berhenti, Rigel melompat dan tepat berada di atas Marionette dengan api biru di tangan kanannya.
"Tamatlah riwayatmu!"
"Tidak! Ampuni aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!"
"Sesali itu di neraka!"
Rigel hendak mengulurkan tangan kanan dan menghanguskan Marionette, namun dalam jeda sepersekian detik, Marionette tersenyum.
"Heh, tapi boong!"
JDER!
Ledakan besar meledak dengan jarak yang cukup dekat dengan Rigel. Ledakan itu terlihat seperti laser yang bahkan menembus langit-langit tanah.
"HAHAHAHA! Jangan pikir aku akan menyerah kepada babi yang hanya sedikit berkemampuan sepertimu, Hahahah!"
Marionette tertawa senang seakan merayakan kemenangan. Ganesha, Gahdevi, Leo dan Garfiel terbelalak karena terkejut. Bukan karena laser super kuat Marionette, tetapi terhadap sosok yang muncul tiba-tiba di belakang Marionette.
"Jangan meleng, tolol!"
Marionette menoleh ke belakang, menemukan sosok pria berambut putih dengan mata yang berbeda dan tangan kiri yang unik. Yang menarik perhatian Marionette bukanlah tentang dia yang selamat dari ledakan sebelumnya, tetapi tentang wajahnya yang mirip dengan orang tertentu.
"Wajah itu..., ALUDRA KEPARAT! AKAN KUBUNUH KAU!"
Rigel tidak tahu menahu siapa sosok bernama Aludra dan bagaimana bisa Marionette mengeluarkan aura kebencian yang begitu besar terhadapnya. Namun tanpa memperdulikan apapun, Rigel melemparkan Purgatory dan melenyapkan tubuh Marionette tanpa sisa.