
Satu Minggu berlalu dengan cepat tanpa disadari. Kesatuan tempur telah disiapkan dan tengah berlatih di Kekaisaran Timur dengan bimbingan Rudeus. Semua menjadi sibuk terutama para eksekutif di Region yang harus memilah prajurit elite diantara banyak prajurit. Sampai saat ini, terdapat lebih dari lima puluh tentara elite.
Mengenai pengolahan tulang belulang White Tiger dan beberapa yang tersisa dari Hydra diserahkan kepada para Dwarf yang melakukan pekerjaan dalam kecepatan gila. Dalam satu Minggu ini, mereka sudah menyelesaikan rumah dan pemandian air panas. Bahkan Rigel sendiri cukup terpukau karenanya. Meski dia bisa menginjak-injak usaha mereka dengan mudah, namun dia tidak berniat melakukannya..., untuk saat ini.
Mengenai para Pahlawan, mereka tidak memiliki hal khusus untuk dilakukan selain mempersiapkan diri dan memulihkan tubuh mereka sepenuhnya. Diharapkan bahwa mereka dalam kondisi keemasan saat hari pertempuran tiba.
Tentunya semua orang merasakan debaran yang sama, merasa sedikit canggung dan menantikan pertarungan di depan mata mereka. Meski takut dengan lawan yang mengerikan, sejujurnya mereka menantikan hal itu.
Bagi Region, hal ini mungkin akan menjadi penaklukan terbesar kedua setelah penaklukan awal untuk membebaskan pulau dari Hydra. Namun bagi dunia, hal ini menjadi penaklukan pertama. Tentunya, informasi ini hanya dimiliki oleh orang-orang penting dari kaum bangsawan dan anggota kerajaan. Dikarenakan lawan mereka tidak mudah dan terdapat sosok misterius dibalik semuanya.
Demi menghadapi hari itu, Rigel bertapa disebuah tebing pegunungan yang menghadap langsung ke Region. Dia mengumpulkan Mana alam secara perlahan untuk memulihkan tubuh dan kekuatannya. Sebisa mungkin, dia ingin menggapai kondisi super primanya.
Perlahan kekuatan meresapi tubuhnya dan memulihkannya dengan lambat, sampai akhirnya dia merasakan sesuatu mulai berkumpul di belakangnya dan membuka mata.
"Sylph, ya..., apakah ada informasi terbaru atau semacamnya?"
Energi yang terkumpul itu tampak lembut, terkadang juga kasar dan hanya Ratu Peri sahaja yang memiliki fluktuasi semacam itu.
"Tidak, tujuanku kemari hanya untuk menemuimu dan membahas beberapa hal sebelum pertempuran tiba."
Rigel membiarkan udara dingin menyejukkan menerpa tubuhnya selagi menatap pemandangan Region yang damai. Dia tidak menatap Sylph yang berada di belakangnya, namun telinganya terfokus pada apa yang akan dia katakan.
"Yah, mari kita dengarkan," Rigel kembali memejamkan matanya untuk menenangkan batinnya.
"Mungkin ini menjadi kali kedua bagiku melanggar dekrit mengenai tidak membantu manusia. Karena lagi-lagi gadis yang aku anggap seperti putri kandungku sendiri terlibat dengan sesuatu tidak terduga..., seakan takdir sudah merancangnya sedemikian rupa."
Kali pertama dia campur tangan langsung dalam urusan manusia adalah penyegelan Tortoise seribu tahun lalu, dimana Priscilla bersikeras membantu hingga mengorbankan dirinya. Pada akhirnya, dia tetap kehilangan Priscilla.
Mengenai kasus penaklukan Tortoise pada masa ini, dia tidak langsung turun tangan dan hanya membantu menunjukkan jalan menuju keberhasilannya. Mungkin baginya hal itu tidak termasuk dalam melanggar dekrit yang Rigel tidak tahu seperti apa itu.
"Ya, takdir sungguh misterius. Sesuatu yang selalu mengejutkan seringkali terjadi, seakan segala hal penting terjadi dibalik layar tanpa sepengetahuan siapapun. Terutama pada bajingan bertudung yang entah siapa dan datang dari mana..."
Penculik Priscilla itu sendiri membuatnya benar-benar penasaran terhadap identitas aslinya. Dia memiliki tiga tersangka utama, yang pertama adalah Lucifer. Lalu untuk dua lainnya adalah sosok yang tidak seharusnya ada di dunia ini.
"Aku sendiri memiliki satu kandidat yang tidak pernah ingin jadi kenyataan. Jika itu Lucifer, dia tidak akan menggunakan taktik pengecut seperti menyembunyikan identitas, karena kebanggaannya yang besar. Karena hal itulah, pertarungan kali ini menjadi bencana sehingga aku harus mengambil beberapa keputusan sulit."
Rigel tentunya tertarik terhadap kandidat yang dimaksud Sylph, namun dia tidak berniat menanyakannya. Lagipula tidak berguna mencoba menerka-nerka sesuatu tanpa informasi berguna. Dia hanya perlu membunuhnya saja dan mengungkapkan identitasnya. Meski begitu, kemungkinan kandidat yang terpikirkan oleh mereka adalah orang yang sama.
"Keputusan sulit..., maksudmu melanggar dekrit atau sesuatu semacam itu?" dia mencoba mengkonfirmasi.
Sylph tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan sesuatu seperti itu. Tetapi hal yang lebih dan menentukan nasib para peri di masa depan."
Perkiraannya melenceng dan nampaknya Sylph sendiri sudah siap akan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Nampak jelas, bahwa situasi yang akan segera mereka hadapi mungkin berada di luar kemampuannya.
"Karena hal itu, aku memiliki sebuah permintaan kepadamu, Pahlawan Rigel. Hal ini perlu dilakukan demi menghindari situasi terburuk yang dapat terjadi."
Pembicaraan menjadi semakin serius dan Rigel membuka matanya karena menyadari atmosfer pembicaraan berubah drastis.
"Situasi terburuk yang berhubungan dengan masa depan peri..., tidak sekalipun aku membayangkan akan ada situasi semacam itu. Meski kau belum pernah menunjukkan kekuatanmu, aku meyakini bahwa kau berdiri sejajar dengan Lucifer."
Kekuatan Sylph tidak perlu diragukan lagi. Jika dia serius bertarung, Rigel sendiri tidak yakin dapat mengalahkannya dengan mudah. Namun kini dia meramalkan bahwa ada situasi terburuk sampai dia sendiri tidak dapat mengatasinya.
"Kamu menilaiku terlalu tinggi, Pahlawan Rigel. Bagiku ini hanya sebagai antisipasi saja, bilamana kejadian yang tidak diinginkan benar-benar terjadi."
"Begitu, lalu hal apa yang kau perlukan dariku??"
Sylph tidak langsung menjawab dan hanya menunjukkan senyuman lembut yang membuat wajah eloknya semakin memukau.
"Misal saja terjadi sesuatu padaku, putriku atau bahkan kami berdua, kuingin kau..."
Hembusan angin kencang mengaburkan suaranya, namun dapat terdengar jelas oleh Rigel. Sylph menceritakan sesuatu yang tidak terduga berkali-kali hingga entah berapa banyak dia terkejut mendengarnya.
Bukannya merasa takut atau semacamnya. Sylph sama sekali tidak mengalami perubahan emosi yang signifikan. Senyumannya tidak berubah sedikitpun, namun terpapar jelas kesedihannya dari balik wajah eloknya.
"Kau..., apa kau bersungguh-sungguh tentang itu? Lalu mengapa menyerahkan hal penting itu padaku??"
"Aku telah mengamatimu cukup lama dan kau satu-satunya Pahlawan manusia yang kupercayai. Meski aku tahu bahwa kau mencoba memanfaatkan putriku yang menjadi kelemahanku untuk menghadapi kasus ini, namun kamu tidak pernah meminta otoritasku sebagai Ratu Peri..., sebagai ganti dari menyelamatkan Priscilla dari segel Tortoise."
Bukannya tidak pernah memikirkannya, dia hanya tidak mau repot-repot mengurus para peri yamg mengganggu. Namun nampaknya dari hal itu dia mendapat kepercayaan dari Sylph.
"Meski begitu, bagaimana bisa aku membuat seseorang menjadi penerus?"
Senyuman Sylph tidak berubah sedikitpun, namun kali ini wajahnya sedikit merona karena sesuatu, "Mari kita pergi ke hutan peri, karena akan lebih baik menjelaskannya di sana. Kuharap kau mau menjalankan apa yang aku ingin kau jalankan."
Karena dia tidak memiliki apapun yang mendesak untuk dilakukan, tidak ada salahnya untuk mengikuti Sylph. Rigel tidak menggunakan teleportasi untuk menuju hutan peri, melainkan pergi menggunakan teleportasi milik Sylph, dikarenakan lokasinya tidak ada dalam titik teleportasi Rigel.
Dalam sekejap pemandangan di depan matanya berubah menjadi hamparan danau luas yang dihiasi rangkaian bunga cantik. Terdapat sebuah podium cantik yang dihiasi bunga putih dan hijau, seakan dirancang khusus untuk acara penting seperti pernikahan.
Rigel melongok danau di depannya dan menemukan bahwa airnya sangatlah jernih, hingga dia dapat melihat ke dasarnya.
"Aku tidak pernah tahu bahwa ada tempat semacam ini. Sepertinya hutan peri jauh lebih luas dari bayanganku," gumamnya. Sesekali, mungkin Rigel akan bermain dan menjelajahi hutan peri.
Rigel diam dan menyimak penjelasan Sylph. Mau tidak mau dia memang harus melakukannya untuk memahami hal hang harus dilakukan.
"Agar kamu memiliki otoritas untuk menentukannya, maka kamu harus mendapatkan gelar sebagai Raja Peri, Rigel."
Rigel terbelalak ketika mendengarnya. Lantas satu hal yang tidak pernah dia pikir ada, Raja Peri. Selama ini dia belum mendengar sesuatu tentang itu. Mestinya memang mencurigakan, bila ada ratu pastinya ada Raja. Namun, Rigel selalu beranggapan bahwa Ratu adalah satu-satunya pemimpin, yaitu Sylph.
"Aku..., Raja Peri? Tunggu, tunggu! Bukankah aneh? aku adalah seorang manusia, bagaimana mungkin memerintah peri atau semacamnya??"
"Kamu tidak perlu memerintah, cukup awasi saja hutan ini dalam waktu sementara. Jika saja sesuatu yang buruk terjadi, dengan adanya Raja Peri, maka hutan akan memiliki pemimpin yang akan menobatkan Ratu selanjutnya. Setelah itu, kau tidak akan berkualifikasi sebagai Raja lagi."
Meski dia menjelaskannya sehalus sutra, terdapat beberapa bagian yang masih tidak Rigel pahami. Sepengetahuannya, Ratu bagi peri adalah pemimpin mutlak yang suci. Lantas begitu, untuk apa gelar Raja Peri dibutuhkan?
"Jika Peri tidak lagi memiliki Ratu atau Raja, mereka akan mulai hilang arah. Bahkan yang terburuknya, pohon roh sendiri akan mengamuk demi mencari Ratu baru."
Jika hal itu terjadi, maka akan ada lebih banyak masalah yang menjadi. Daripada membiarkannya menjadi seperti itu, Sylph membuat pilihan tepat dengan menyiapkan seseorang yang setidaknya memegang otoritasnya. Dan, orang yang akan mendapat otoritas itu adalah Amatsumi Rigel.
Dia sendiri tidak percaya akan hal itu. Tidak perduli bagaimana dilihat, seharusnya ada orang lain yang lebih pantas darinya. Namun karena Sylph hanya mempercayainya saja, jadi dia dengan sukarela menerimanya.
"Baiklah jika begitu. Merepotkan bila pohon besar itu mengamuk. Lalu, bagaimana caraku untuk menjadi Raja?"
Rigel bertanya dan menatap Sylph yang tersenyum lembut seperti biasa, namun kali ini pipinya merona karena sesuatu. Rigel sendiri tidak terlalu terusik dengannya, justru hal itu sesuatu yang enak dilihat. Tidak akan ada seorangpun pria yang merasa risih atau terganggu dengan senyuman gadis secantik dia.
Terutama Sylph, seorang Ratu Peri yang terkenal akan kecantikan tiada tara, seakan dirinya sendiri arti dari kecantikan itu. Lantas tidak mengejutkan. bila seluruh laki-laki di dunia tertarik dan terpesona kepadanya.
Rigel tetap diam dan menunggu Sylph menjawab. Sylph sendiri hanya memejamkan mata, meletakan tangan di dadanya dan terlihat menarik nafas dalam seakan mempersiapkan sesuatu. Rigel terus diam menunggu, namun tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Apa ada masalah? jika ada katakan saja, tidak perlu merasa takut atau sungkan terhadapku."
Sylph kembali tersadar begitu Rigel kembali menegaskan pertanyaannya. Dia terlihat sedikit linglung namun hanya berlangsung sesaat.
"Maaf, aku hanya sedikit melamun dan mempersiapkan diri, karena ini pertama kalinya bagiku," ujarnya dengan terdengar lelah. Sesuatu tentang pertama kali yang dimaksud Sylph membuat Rigel tertarik.
"Untuk membagi otoritas terhadap hutan peri menjadi dua, maka sang pemegang otoritas utama harus menikahi seseorang yang hendak dijadikan pemegang otoritas kedua. Jadi karena hal itulah...,"
Sylph menghilangkan sayap di punggungnya dan berjalan mendekati Rigel dengan kaki telanjangnya yang mulus. Dia berjalan mendekati Rigel yang tetap diam dan berdiri tepat dihadapannya.
"Meski langsung melompat jauh, kamu harus mengikat janji suci denganku. Menodai tubuhku semaumu dengan bercinta bersamaku."
Lantas Rigel begitu terkejut dan memasang wajah bingung seakan berfikir bahwa Sylph tengah bercanda. Namun mengingat ekspresinya dan kepribadian yang dia miliki, mustahil dia bercanda pada keadaan seperti ini. Kini dia mengerti maksud Sylph tentang ini pengalaman pertama atau semacamnya.
"Apa kau bersungguh-sungguh? Kau tidak sedang bercanda kan? hal semacam itu...," meski tahu itu sungguhan, dia tetap bertanya.
"..., memang melakukan, namun ya. Dekrit yang ada menuliskan bahwa untuk membagi otoritas, diperlukan izin kualifikasi dari pohon roh, mengikat janji suci dan melakukan sesuatu yang dilakukan pengantin selama tujuh malam. Kamu telah memiliki kualifikasi dari pohon roh, hanya tersisa dua lainnya."
Bukankah itu terdengar bodoh? Orang aneh macam apa yang membuatnya?? batin Rigel.
"... Maksudmu kita harus menikah dan melakukannya selama tujuh kali setiap malamnya?"
"Y-yah, meski memalukan dan sangat aneh. Namun hal seperti itu yang tertulis dalam dekrit."
Benar-benar syarat tidak masuk akal dan aneh. Rigel sungguh penasaran siapa orang yang membuat dekrit semacam itu hingga sedemikian rupa.
Bukannya Rigel tidak mau melakukannya dengan Sylph atau tidak menyukainya. Dia hanya sulit menerima sesuatu seperti itu yang tidak akan terpikirkan oleh banyak orang. Hal ini juga menjadi pertama kalinya Rigel melihat Sylph nampak bermasalah dan merona karena malu.
"Huhh, benar-benar menyusahkan saja. Aku sendiri tidak mengalami kerugian apapun, namun apa kau yakin jika itu harus aku?"
Bercocok tanam tidak membuatnya rugi, meski begitu Rigel tidak berniat menebar benih sembarangan. Namun lain halnya dengan Sylph.
"Kamu memang jahat, Pahlawan Rigel. Jangan buat aku mengatakannya..., meskipun tidak ada sesuatu yang spesial atau semacamnya, setidaknya lebih baik kulakukan denganmu ketimbang yang lainnya."
Nampaknya dia memberi persetujuan terhadap hal yang tidak mudah untuk dilakukan dan diserahkan pada gadis-gadis. Rigel hanya menggaruk kepalanya dengan lelah dan menyetujuinya.
"Yah, baiklah bila begitu. Kapan itu akan terjadi??"
Sylph tersenyum lega, mungkin bersyukur bahwa tidak menerima penolakan pertamanya. Selama hidupnya dia tidak pernah melakukan sesuatu semacam ini, jadi hal ini menjadi pertama kali baginya.
"Kapanpun, bahkan saat ini bisa kita lakukan. Hanya saja, apakah ada orang tertentu yang ingin kau undang?"
"Tidak..., hanya akan ada kekacauan bila yang lain mengetahuinya. Jika begitu tak masalah memulainya sekarang. Namun, apakah persiapannya tidak memakan waktu lama?"
Sylph hanya tersenyum dan menepuk tangannya satu kali. Para peri kecil berkumpul dan membawa rangkaian bunga dan meletakkannya di kepala Rigel dan Sylph. Seluruh penghuni hutan berupa hewan roh dan peri kecil lain berkumpul untuk menyaksikan pernikahan Ratu mereka.
Rigel sendiri terkejut, melihat mereka sudah membanjiri tempat, namun yang paling mengejutkan adalah sebuah akar pohon raksasa yang bergerak-gerak muncul dari langit. Melihat dari arahnya, sangat jelas bahwa itu berasal dari Pohon roh yang berniat menghadiri pernikahan mendadak.
Karena hal ini akan menjadi rahasianya dengan Sylph, sebisa mungkin dia tidak berniat mengungkapkannya kepada yang lain. Bila mana Tirith tahu, mungkin dia akan menerima luka dan dirinya mendapat julukan sampah.
'Yah, setelah semua berakhir mungkin kami akan bercerai dan aku mendapat gelar duda diusia muda,' batinnya. Karena itu hal ini patut dirahasiakan.