The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Bentrokan besar



Di sebuah tempat yang jauh, tanah kegelapan di mana para iblis tinggal. Untuk beberapa alasan, Pilar iblis yang tersisa berkumpul atas titah tuan mereka, Lucifer.


Dengan rapih, mereka telah berlutut bahkan ketika Lucifer tidak berada di tempatnya. Tidak ada sosok selain mereka yang memiliki kedisiplinan semacam itu. Bagi mereka, berlutut ketika tuannya memanggil bahkan sebelum tuannya datang merupakan bentuk kesetiaan.


Sama halnya dengan Zenos yang selama seribu tahun menjaga pintu kamar tuannya saat dia tertidur. Hanya satu kali dia meninggalkan tempat itu, ketika langit bergemuruh akan kebangkitan seseorang.


"Pertama Behemoth, Dante dan wanita gila itu. Sebagai Pilar iblis, kehilangan tiga Pilar merupakan aib bagi Yang Mulia Lucifer. Jangan bertindak gegabah dan meremehkan para manusia itu. Terutamanya kau, Diablo..." tukas Zenos, melirik Diablo dengan tatapan tajamnya.


"Jangan khawatirkan itu. diriku tidak akan melanggar perintah Yang Mulia Lucifer kali ini. Diriku akan sabar menunggu, hingga hari akhir tiba."


Kebenciannya kepada manusia kini sudah tidak tertolong, terutama kepada Pahlawan bernama Rigel. Di pertarungan terakhir mereka, Diablo nyaris saja dibunuh bila tuannya tidak datang untuk menyelamatkannya saat itu.


Bahkan saat melepas Gerbang Dunia Bawah, dia diam-diam mengikuti Karaka dan menyaksikan pertarungan yang begitu hebat. Hingga pada akhirnya, dia memutuskan menyimpan kekuatannya sampai akhir tiba.


"Baguslah jika begitu. Seandainya kau tetap bersikeras membalaskan dendam, aku sendiri yang akan turun tangan terhadapmu."


"Regulus, kau pikir dirimu bisa mengalahkanku??" Diablo menatapnya dengan tajam.


Regulus hanya mengangkat bahunya seakan tidak perduli dengan perkataan Diablo.


Mengabaikan percakapan mereka, pintu tempat mereka berlutut terbuka dan memperlihatkan Lucifer dengan pakaian hitam legam. Dia menatap para Pilar iblis dalam diam dan mengangguk diakhir.


"Nampaknya semua telah berkumpul, ya. Bagus, bagus sekali. Karena semuanya sudah ada di sini, mari kita pergi ke tanah naga dan menyapa kawan lama, kita. Aku juga memiliki sesuatu yang spesial untuk ditunjukkan kepada mereka."


Dia menatap tangan kirinya yang seakan-akan hancur. Bibirnya melengkung senang, bangga bahwa dia berhasil mengendalikan kekuatannya. Tidak hanya itu, dia menemukan sesuatu yang mengejutkan dari kekuatan itu. Untuk alasan itu, dia yang awalnya ingin diam dan menyaksikan, kini datang dan merasakan langsung bentrokan besar.


"Kalau begitu, haruskah saya menyiapkan pasukan, Yang Mulia Lucifer?" tanya Zenos, tetap pada rasa hormatnya yang berlebih.


"Benar juga. Kumpulkan lah 400 Demon Duke untuk pergi bersama kita. Mungkin mereka akan sedikit berguna nantinya."


Jumlah segitu memang terbilang kecil, namun satu Demon Duke dapat setara dengan seratus pendekar manusia. Mereka juga bukanlah iblis rendahan, melainkan iblis bangsawan yang berkemampuan. Setelah Lucifer dan Pilarnya iblis, Demon Duke yang terkuat ketiga setelah mereka.


"Sesuai keinginan anda, Yang mulia..." Zenos undur diri dan memanggil seluruh Demon Duke yang dibutuhkan tuannya.


Dilain sisi, para Pilar iblis hanya diam dan menundukkan kepala tanpa bergeming sedikitpun. Mereka akan terus melakukannya sampai tuan mereka menunjukkan tanda-tanda untuk berangkat.


"Kukuku, jangan pikir kalian bisa bermain tanpa kehadiran diriku. Tunggulah aku, para keparat bajingan rendahan."


Sekali lagi dia menatap tangan kirinya dalam diam lalu mengepalkannya dengan kuat. Jika memang harus bertarung, maka tanpa ragu dia akan menggunakannya.


Tidak hanya diriku, tetapi Pahlawan Rigel itu juga memiliki sesuatu di tangan kanannya. Entah mengapa, rasanya terdapat kejanggalan dari kekuatan miliknya..., perangainya.


"Aku akan menegaskan hal ini, jangan bertindak bodoh dan menghadapi siapapun tanpa perintah. Kita datang hanya untuk menyapa dan membawa kenangan seribu tahun lalu. Terutama untukmu, Diablo. Aku tidak membenci rasa balas dendam itu, namun bersabarlah sampai akhir tiba."


Terhadap perkataan tuan mereka, keperduliannya kepada mereka yang rendah membuat hati Pilar iblis terguncang bahagia.


"Yea! Nyawa ini ada untuk anda gunakan..." tukas mereka secara serempak.


"Bagus jika kalian mengerti."


Lucifer berjalan keluar, diikuti para Pilar iblisnya dan menemukan Zenos telah berlutut di depan gerbang. Tidak hanya Zenos, tetapi empat ratus Demon Duke berbaris rapih di luar istana, merindu untuk melayani tuan mereka sejak lama sekali.


Alasan Lucifer memerintahkan Zenos sangatlah sederhana, dia memiliki kinerja yang sangat cepat dan hampir tidak pernah gagal melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya.


"Yang Mulia Lucifer, semuanya telah siap. Anda bisa memerintah kami untuk pergi kapanpun anda mau."


Terhadap kesediaan mereka yang menjadi kaki tangan dan orang-orang bodoh yang cukup berguna untuknya, bibirnya melengkung lembut. Setelah seribu tahun lebih lamanya, para iblis merasakan kehormatan terbesar dalam hidup mereka.


"Ahh~, Yang Mulia Lucifer, tuanku, pembimbing jalanku, kehormatan yang anda berikan kepada kami yang rendah terlalu besar. Izinkan sekali lagi kami yang rendah mendedikasikan kehidupan untuk anda yang agung..." air mata besar jatuh dari mata Zenos yang menyeramkan.


Dia benar-benar terharu, bangga dan senang mendapatkan senyuman tuannya. Tidak hanya dirinya, Pilar iblis lain dan para Demon Duke merasa sangat terhormat karenanya.


"Silahkan saja, kalian para iblis lahir untukku gunakan."


Meskipun dirinya bukanlah iblis murni seperti yang lain, namun dirinya menjadi sosok yang paling di hormati. Dulunya dia adalah seorang malaikat yang ditendang dari surga karena kebanggaannya yang menjadi dosa.


Dia berkelana selama bertahun-tahun, hingga akhirnya bertemu Zenos, sebagai iblis pertama yang menjadi pengikutnya. Dalam pengembaraannya, dia bertahap menjadi iblis, jejak malaikat telah menghilang semenjak sayapnya menghitam.


Atas ketersediaan mereka melayani sosok yang tidak dilahirkan sebagai iblis, dia perlu memberikan sedikit penghormatan kepada mereka.


"Aku adalah yang terkuat, memiliki tujuan tertinggi dari mahkluk lain. Demi mencapai tujuanku, membawa keputusasaan kepada dunia dan langit, kalian iblis harus menjadi anak tangga yang menuntunku menuju impian itu."


"Impian itu akan aku gapai, akan kita gapai bersama, mari hancurkan segala yang menghalangi jalan kita!!"


"Yeaaa!!!" Sorakan membludak diantara Demon Duke yang menangis bahagia.


Api membakar jiwa dan semangat mereka, sayap kelelawar mereka menghiasi langit dengan di pimpinan oleh satu orang. Enam sayap hitam legam yang nampak seperti merpati hitam memimpin jalan mereka. Diikuti Pilar iblis yang akan dengan bangga memberikan nyawa mereka demi tuan mereka.


"Mereka tidak akan bisa bersenang-senang tanpa kehadiranku. Akan kutunjukan reuni mengharukan, bersama pria yang pergi ke neraka. Tujuan kita tanah para naga! Ikutilah diriku, wahai orang-orang sedikit berguna!!"


Terhadap proklamasi yang terdengar merendahkan, mereka sama sekali tidak tersinggung. Justru merasakan bangga akan sesuatu yang tidak akan dimengerti oleh siapapun selain iblis itu sendiri.


Dengan keberangkatan Lucifer, akankah medan perang yang dilalui Rigel pecah dan membawa umat manusia dalam kekacauan? Pada akhirnya, last game sebelum menuju akhir akan menimbulkan kerusakan besar bagi seluruh pihak.