
Setelah kembali menuju kapal, Rigel menyelesaikan sarapannya dan mengumpulkan semua orang untuk melakukan rapat mengenai strategi untuk menghadapi Hydra, karena lokasi tempat Hydra berada sudah tidak jauh lagi dan karena itulah rapat strategi mengenai tindakan apa saja yang harus di lakukan nanti sangatlah di perlukan.
Membutuhkan waktu lima menit untuk semua orang berkumpul di dalam ruangan yang sama. Takumi menjemput semua orang menggunakan skill teleportasi bawaan pahlawan.
"Semuanya sudah berkumpul, kan?"
Semua orang yang berada di dalam ruangan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Rigel. Total tujuh orang yang akan berpartisipasi dalam rapat ini, orang orang tersebut adalah Rigel, Takumi, Merial, Ray, Cold, Misa dan Nisa. Mengecualikan Rigel dan Takumi, masing masing dari mereka akan memimpin setidaknya satu orang satu kapal.
Merial orang yang akan memimpin jalannya diskusi.
"Kalau begitu, mari kita bahas strategi kita ke depannya. Menurut kapten kapal, kemungkinan besar kita akan mencapai wilayah perairan Yurazania sekaligus wilayah tempat Hydra berada pada Esok hari. Karena itulah kita perlu membahas strategi yang di perlukan termasuk strategi melarikan diri jika keadaannya di luar harapan."
Semua orang yang berada di ruangan memiliki waja yang serius, bahkan Takumi yang biasanya terlihat seperti orang bodoh mulai memperlihatkan ke seriusannya. Rigel merasa tegang karena esok adalah pertempurannya dengan monster yang sudah membawa bencana ke dunia ini selama hampir lebih dari empat ratus tahun lamanya. Namun, ada perasaan lain selain ke tegangan, Rigel merasa bersemangat karena akan bertarung.
Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi saat pertarungan, tidak ada yang bisa menjamin apakah semua orang yang berada di dalam ruangan ini masih bisa melihat terbitnya matahari, bisa saja hari esok adalah terakhir kalinya semua orang melihat cahaya matahari.
"Untuk sekarang, hal pertama yang akan kita bahas adalah tentang monster monster yang berada di bawah kendali Hydra. Sebisa mungkin, kita harus menghabisi monster monster itu agar tidak mengganggu pertarungan tuan Rigel dan tuan Takumi melawan Hydra."
Mendengar jika hanya Rigel dan Takumi yabg akan menghadapi Hydra, Cold berdiri dari kursinya dan menentang gagasan Merial.
"Tunggu Merial, maksudmu hanya Rigel dan Takumi saja yang akan menghadapi Hydra?! Bukankah itu terlalu gegabah? Setidaknya biarkan aku ikut bersama mereka, lebih banyak orang yang melawannya akan lebih tinggi presentasi kemenangan kita, kan?"
Cold menentang Merial yang secara tidak langsung membuat gagasan agar Rigel dan Takumi saja yang melawan Hydra. Disisi lain, Rigel dan Takumi tidak masalah dengan hal itu jika kita menginginkan korban sesedikit mungkin.
"Tenanglah Cold, aku sendiri tidak menentang gagasan tidak langsung Merial. Karena, di antara semua orang yang berada di sini, kemungkinan hanya aku dan Takumi saja yang memiliki presentasi kemenangan paling besar. Jika kau tetap ingin memaksakan diri untuk menghadapi Hydra, bagaimana dengan nasib orang orang di kapal yang seharusnya kau pimpin?"
Rigel bertanya dengan dingin kepada Cold yang membuat ekspresi pahit di wajahnya. Namun, Cold tetap menentang hal ini.
"Rigel benar, Cold. Lebih banyak orang yang bertarung hanya akan membebani kami. Aku ataupun Rigel tidak dapat menyerang Hydra dengan kekuatan penuh karena khawatir dengan orang yang berada di dekat kami. Belum lagi, kau adalah kandidat kaisar surgawi, kau tidak boleh mati dalam pertarungan ini jika tidak, semua yang kita lakukan hanya akan sia sia."
Takumi mengatakan hal itu dengan lembut kepada Cold. Lalu, Takumi melanjutkan—
"Selain itu, kami masih memiliki kartu truf di lengan baju kami, yakan, Rigel?"
Takumi bertanya kepada Rigel. Rigel hanya tersenyum sebagai jawaban. Melihat itu, Cold mulai melunakan wajahnya dan kembali duduk.
"Seperti yang di katakan tuan Rigel sebelumnya, kita tidak bisa membiarkan orang orang di masing masing kapal tanpa seorang pemimpin. Kita tumbuh dan di besarkan bersama, jadi aku sangat tahu senerapa kuat kau, Asoka. Meskipun kau menggunakan transformasi dari orang yang mewarisi darah Beastman, kau tetap tidak akan bisa bersanding dengan pahlawan saat ini."
Cold dengan berat menggumamkan "Aku mengerti." Merial mengangguk dan tersenyum kepada Cold.
"Tunggu, sebelumnya kau bilang transformasi? Apa maksudnya itu?"
Rigel bertanya kepada Merial dan Cold yang sebelumnya membicarakan tentang Transformasi.
"Ahh, sepertinya aku lupa memberitahukan hal ini kepadamu, Rigel. Clanku, Yurazania adalah salah satu Clan yang mewarisi darah spesial yaitu Beastman. Dengan darah Beastman di tubuh kami, clan ku dapat bertransformasi mengambil wujud dari monster ataupun hewan."
Dari cerita, darah Beastman merupakan darah modifikasi yang di buat oleh dewa Hephaestus sehingga banyak orang yang menyebutkan jika darah Beastman merupakan salah satu artefak kuno.
Di bumi juga ada yang menceritakan tentang manusia yang akan berubah menjadi serigala saat bulan purnama tiba. Manusia itu di sebut dengan manusia serigala, Rigel tidak lagi terkejut jika di dunia ini memiliki hal yang serupa.
"Hmm, ini sedikit mirip dengan Anime yang tokoh utamanya dapat berubah menjadi monster rubah ekor sembilan. Kalau begitu, bentuk apa yang kau ambil saat bertransformasi?"
Takumi mensangkut pautkan hal ini dengan salah satu anime yang Rigel juga tahu namun tidak di ketahui oleh orang dari dunia ini.
"Aku tidak mengerti maksudmu dengan Anime yang kau sebut. Tetapi untuk transformasi, aku mengambil bentuk seekor singa."
Pembicaraan jadi melenceng jauh dari topik utama. Merial mulai berdehem selayaknya membersihkan tenggorokannya.
"Ehem, mari kita kembali ke topik utama. Setiap kapal akan di pimpin oleh satu orang, untuk kapal yang di tempati tuan Rigel dan tuan Takumi, aku yang akan mengambil alih komandonya tidak apa kan?"
Rigel dan Takumi mengangguk setuju karena mereka tahu jika mereka tidak bisa bertarung sambil memerintah awak kapal.
"Tugas pertama kita adalah menghabisi monster monster yang berada di bawah kendali Hydra secepat mungkin dan setelahnya, kita akan membantu para pahlawan untuk mengalahkan Hydra. Kita akan menyebut monster yang di kendalikan Hydra dengan sebutan monster kecil."
Ray memegang dagunya seolah sedang berfikir dan dia mulai mengemukakan pendapatnya.
"Aku menyetujui hal ini, nona Merial. Sederhananya, kita tidak boleh membiarkan para pahlawan membuang waktu dan tenaganya untuk menghadapi monster selain Hydra, kan?"
Merial mengangguk dan tersenyum dengan kesimpulan yang di buat Ray dalam waktu singkat. Mengikuti Ray, Misa dan Nisa juga mulai mengemukakan pendapat.
"Karena lokasi pertempuran kita berada di air, kemungkinan besar monster kecil yang akan kita hadapi adalah monster yang dapat bertarung di air dan udara. Seperti Flyfish ataupun kelelawar Vampire."
Nisa mulai menebak nebak monster kecil apa saja yang akan mereka hadapi.
"Jika itu hanya Flyfish dan kelelawar Vampire, kurasa tidak menjadi masalah. Berkat senjata unik yang di buat tuan Rigel, menghadapi mereka tidak jadi masalah menurutku. Namun, yang ku khawatirkan adalah monster class tinggi seperti Megalodon dan Naga. Aku tidak yakin senjata senjata itu mempan terhadapnya."
Misa memandang Rigel untuk mengkonfirmasi kecurigaannya.
"Ya, seperti yang di katakan Misa. Senjata modern itu memang kuat, namun bukan berarti mereka yang terkuat. Peluru peluru itu tidak akan bisa menembus kulit tebal Naga ataupun Megalodon."
Semua orang nampaknya sedikit sedih dan kecewa karena senjata yang mereka anggap kuat tidak akan berarti di hadapan tebalnya kulit Naga dan Megalodon.
"Bahkan dengan pedang sihirku ini, aku mungkin hanya bisa mengatasi dua atau tiga ekor naga."
Bahkan Merial terlihat putus asa.
"Tidak perlu kecewa seperti itu, seperti kata Takumi sebelumnya. Kami masih menyimpan banyak kartu truf di lengan baju, aku yakin entah bagaimana nanti ini akan berhasil. Namun, yang menjadi masalah adalah pertarungannya di air, dengan kemampuanku tidak ada masalah bertarung di manapun. Namun, lain cerita untuk Takumi, kau tidak akan bisa mengeluarkan seluruh kekuatanmu jika mengendarai seluncur air kan."
'Aku bisa saja menggunakan kekuatanku untuk membekukan laut sekitar untuk pijakan bertarung kami. Namun, itu akan sangat melelahkan, bahkan untukku.'
Meski enggan mengakuinya, Takumi mengangguk dengan pernyataan yang di buat Rigel. Namun, Merial tersenyum seolah sudah menunggu hal ini.
"Untuk hal itu, tenang saja. Aku mengikuti ekspedisi tuan pahlawan bukan tanpa persiapan yang matang. Sebelumnya, aku sudah meminta sesuatu kepada Alchemist terhebat yang kukenal untuk membuatkanku sesuatu."
"Bola kristal ini adalah sebuah item sihir yang bernama Iceland. Seperti namanya, Magic item ini dapat mengubah air menjadi sebuah pulau es. Jangkauannya juga cukup luas namun yang jadi masalahnya waktu penggunaannya terbatas. Batas waktunya hanya sekitar tigapuluh menit, aku bisa saja menggunakan sihirku untuk memperpanjang penggunaannya namun itu hanya sekitar lima menit."
Meski sebentar, dengan kehadiran magic item Iceland akan menambahkan peluang kemenangan untuk Rigel dan Takumi.
"Jadi, semuanya akan bergantung pada seberapa cepat kami bisa mengalahkan Hydra."
Takumi mulai berfikir dan memejamkan matanya sementara Rigel hanya diam semenjak tadi.
'Dengan adanya Iceland, mungkin aku bisa membangkitkan satu juta pasukanku itu? Selain itu, aku masih memiliki lima monster kuat yang berada di bawah kendaliku. Tetapi tetap saja, aku masih memiliki beberapa ke khawatiran untuk menggunakan kekuatan yang sangat nge Cheat ini.'
Batin Rigel.
Selagi Rigel dalam dilema, sebuah ide muncul di dalam kepalanya.
"Nah, Merial. Apakah Iceland itu bisa menyerap energi sihir dari batu sihir?"
Mata Merial terbuka lebar karena terkejut dengan pertanyaan Rigel. Lalu, wajah Merial mulai semakin cerah.
"Itu bisa saja di lakukan, kau sangat pintar tuan pahlawan! Jika kita menggunakan manatite kelas atas mungkin bisa memperpanjang sekitar lima belas menit. Namun, aku hanya memiliki satu manatite kelas."
Rigel mulai mencari sesuatu yang menjadi bangkai di dalam infertorynya.
'Seingatku, saat aku bermain kotak pandora dengan Diablo, aku mendapatkan sebuah bola kristal yang di penuhi energi sihir, Ahh ini dia!'
Rigel akhirnya menemukan bola kristal yang dia cari di dalam infertory.
"Bagaimana dengan benda ini? Apakah bisa di gunakan?"
Rigek bertanya kepada Merial sambil menjulurkan bola kristal itu kepadanya.
"Bukankah itu benda yang kau dapatkan saat bermain pandora game dengan keparat Diablo?"
"Kau benar."
Takumi sepertinya mengingat bola kristal ini. Dia benar, ini adalah keberuntungan yang di dapatkan Rigel saat bermain permainan kematian dengan Diablo.
Merial mengambil bola Kristal itu dan memejamkan matanya lalu mengalirkan sihirnya ke dalam bola kristal.
"E-energi sihirnya sangat besar! Ini mungkin bisa saja di gunakan. Namun, entah kenapa aku juga merasakan ada sesuatu yang aneh dengan bola ini. Yah, ini akan baik baik saja untuk di gunakan."
"Dengan ini masalahnya sudah selesai. Sekarang, tinggal strategi lain termasuk strategi melarikan diri."
Selanjutnya, diskusi terus berlanjut sebagai bentuk persiapan melawan Hydra yang tidak akan lama lagi. Semuanya sudah di persiapkan dengan sangat matang. Terutamanya Merial yang sangat berkontribusi di bidang strategis. Diskusi terus berlanjut dan tanpa di sadari, hari mulai gelap.
Semua orang sudah meninggalkan ruangan rapat dan beristirahat untuk esok hari. Rigel masih berkeliling kapal karena bosan, lalu, dari kejauhan Rigel melihat seorang pria sedang menatap sesuatu yang jauh di sana.
Rigel melompat ke kapal tempat orang itu berada dan menyapanya.
"Apa kau tidak bisa tidur, Cold?"
"Kau sendiri bagaimana, Rigel? Bukankah kau harus melakukan persiapan untuk esok?"
"Itu tidak perlu untukku karena aku sudah siap kapanpun. Bahkan, saat ini aku sedang mengumpulkan mana alam ke dalam tubuhku."
Berkat Manipulation mana yang di ajarkan Azartooth, Rigel bahkan bisa menyerap mana sambil tidur. Menyelam sambil minum air, mungkin itu ungkapan yang cocok untuknya.
"Kau sudah sangat berbeda dari dirimu setahun yang lalu."
Cold mengejek dan tersenyum kepada Rigel. Rigel hanya diam dan menatap sesuatu yang tidak akan lama dia hadapi, tempat Hydra berada.
"Besok adalah waktunya."
Ucap Cold.
"Ya. Jangan sampai mati, Cold."
Ucap Rigel.
Cold tidak membalas perkataan Rigel. Ada keheningan singkat di antara Rigel dan Cold.
Lalu, Cold berbalik dan menghadap Rigel, dia memasang wajah serius. Rigel juga berbalik untuk saling berhadapan dengannya.
"Rige— Ah tidak. Tuan pahlawan, Amatsumi Rigel. Atas namaku Asoka Van Yurazania, aku ingin meminta tolong padamu. Kumohon, kumohon balaskanlah kematian orang tuaku, bunuhlah monster yang sudah menghantui dunia ini selama ratusan tahun."
Cold— Asoka menundukan kepalanya kepada Rigel. Dia memohon dengan sangat, agar Rigel membalaskan kematian orang tuanya. Air mata perlahan mengalir jatuh dari mata Cold. Rigel tertegun karenanya.
'Meskipun aku membenci formalitas di dunia ini, bukan berarti aku tidak mengetahui beberapa di antaranya.'
Batin Rigel.
"Angkatlah kepalamu, Asoka Van Yurazania."
Cold perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Rigel yang matanya bersinar karena sinar bulan.
"Atas nama dan gelarku, Creator Hero. Aku, Amatsumi Rigel akan membalaskan dendammu, bukan sebagai seorang bangsawan. Melainkan, sebagai seorang teman."
Rigel tersenyum kepada Cold yang matanya terbuka lebar. Rigel mengulurkan tangan kanannya kepada Cold untuk berjabat tangan. Cold memahami maksud Rigel dan menegakan tubuhnya lalu menerima jabat tangan Rigel.
"Aku, akan selamanya mengingat ini, Creator Hero Amatsumi Rigel."
"Ya. Mari kita taklukan mahkluk sialan ini."