
Memberikan Like sebelum membaca tidak akan membuat Rugi...
____________________________________________
"Konfrensi meja bundar akan di mulai..."
Rigel ingat jika ada sebuah cerita serupa tentang konfrensi meja bundar. Meskipun serupa, namun tidak sama. Jika cerita yang berada di bumi menceritakan tentang pertemuan para Raja, di sini akan berkisah tentang pertemuan para pahlawan.
"Baiklah, pertama-tama, bagaimana kalau kita memulai perkenalan...??"
"Tunggu... Kenapa kau sok jadi pemimpin di sini...??" Ujar pahlawan Sabit.
Dia adalah seorang pria muda berambut hijau tua dengan kulit yang sedikit kecoklatan dan matanya yang terlihat sinis.
Dia sama sekali tidak menyembunyikan ketidak senangannya kepada Rigel. Mungkin itu memang sifatnya atau karena dia sangat percaya diri dengan kekuatannya, atau mungkin juga dia menjadi lebih sombong hanya karena gelar Pahlawan dan kekuatannya, yang manapun itu Rigel tidak perduli. Jika harus menebak, Rigel akan memilih yang terakhir.
"Aku tidak bermaksud untuk itu dan aku tidak pernah berfikir jika aku lebih kuat dari kalian... Bahkan aku tidak yakin bisa memenangkan pertarungan dengan siapapun yang ada di sini... Sebagai tuan rumah yang baik, aku harus melakukan hal ini..." Rigel merentangkan tangannya dan tersenyum.
Rigel tidak sedang mencoba membuat musuh, dia hanya memberikan sepotong daging kepada seekor singa dan ingin melihat bagaimana singa tersebut menanggapinya. Tatapan pahlawan yang hadir tertuju pada Rigel sepenuhnya.
"Kau menyebut dirimu tuan rumah yang baik, huh...?? Jangan membuatku tertawa, rambut uban. Kau bahkan tidak memberi kami secangkir teh dan kau menyebut dirimu tuan rumah yang baik...??"
Sangat jelas bahwa Pahlawan Sabit bukanlah orang yang cocok dengan Rigel. Akan mustahil dan menyusahkan untuk membawanya ke sisinya.
"Sudahlah, hentikan ocehan tak berarti ini dan cepatlah mulai diskusi kita..." Orang tak terduga, pahlawan perisai menyerukan keluhannya kepada pahlawan Sabit.
Pahlawan Perisai, dia adalah seorang pemuda berambut hitam dengan bola mata yang besar dan juga pendek.
Pahlawan Sabit menatap Pahlawan Perisai dengan sedikit kesal, namun dia setuju untuk tidak membuang-buang waktu hanya karena hal sepele. Melihat itu, Rigel mengangguk dan melanjutkan diskusi.
"Baiklah, kita mulai dari perkenalan... Aku adalah pahlawan Creator, namaku Amatsumi Rigel... Seperti yang kalian lihat di belakangku, aku telah mengalahkan monster itu dan mengulitinya hingga yang tersisa hanyalah kerangka tulangnya... Aku juga sudah memisahkan bagian untuk kalian jadi tenang saja... Selanjutnya."
Rigel mempersilahkan kepada orang yang duduk di dekatnya, Takumi untuk memperkenalkan diri dan berlanjut ke Takatsumi, Yuri lalu pahlawan lainnya. Karena terlalu merepotkan, berikut adalah ringkasan dari nama-nama pahlawan :
Pahlawan Creator, Amatsumi Rigel.
Pahlawan Tombak, Kamada Takumi.
Pahlawan Panah, Sakura Yuri.
Pahlawan Pedang, Haneda Takatsumi.
Pahlawan dari kekaisaran Timur :
Pahlawan Sabit, Marcel.
Pahlawan Kipas, Petra.
Pahlawan Cakar, Nadia.
Pahlawan Palu, Aland.
Pahlawan dari kekaisaran suci Ruberios :
Pahlawan Perisai, Hazama.
Pahlawan Pisau, Argo.
Pahlawan Cambuk, Nanami.
Rigel memiringkan kepalanya dengan bingung. Masih ada satu kursi kosong yang belum di tempati. Nampaknya pahlawan itu berasal dari Ruberios.
"Ada satu pahlawan yang tidak hadir dan itu berasal dari kekaisaran Ruberios..."
"Ahh~, yang kau maksud adalah Monyet itu..."Ujar pria berambut Coklat dengan mata yang menawan. Dia adalah Pahlawan Pisau.
Tidak dapat membedakan apakah kata-katanya barusan adalah penghinaan atau kenyataan, Rigel meminta penjelasan yang lebih jelas.
"Bisakah kau menjelaskan tentangnya lebih lanjut...??"
"Ya... Dia adalah seekor manusia monyet yang menjadi pahlawan Tongkak." Ujar pahlawan Pisau, menyilangkan tangannya dan tersenyum.
Meskipun dia menjelaskannya dengan mudah dan singkat, tetap saja Rigel tidak memahami apa yang dia coba sampaikan... Pahlawan Tongkak, hanya itu yang dapat Rigel pahami tetapi, Manusia monyet?? Apa-apaan itu.
"Ahh~, jadi rumor tentang pahlawan Tongkak itu benar, ya..."
Orang tak terduga yang berbicara adalah Merial. Rigel bisa bertanya kepadanya tentang pahlawan tongkak ini.
"Kau mengetahuinya...??" Tanya Rigel.
"Ya... Aku mendapatkan rumor ini dari seorang pedagang... Dia berkata jika ada pahlawan aneh yang di panggil kekaisaran suci Ruberios. Pahlawan itu bukanlah seorang manusia seutuhnya, dia memiliki banyak bulu halus di sekitar wajahnya dan memiliki ekor Kera. Karena kekaisaran Ruberios adalah kekaisaran suci yang menganggap mahkluk lain selain manusia adalah monster sehingga pahlawan itu di kucilkan dan tidak mendapat sambutan yang baik di sana..."
"Jadi begitu ya..."
Mungkin Rigel bisa mencoba untuk menarik manusia kera itu ke pihaknya untuk membantunya dalam pemilihan kaisar surgawi nanti. Selain itu, Rigel tahu rasanya di kucilkan orang-orang, meskipun dia tidak sampai depresi atau semacamnya.
Lalu, pembicaraan terus berlanjut, di mulai dari membahas kemampuan dari senjata masing-masing, cara peningkatan kekuatan. Para pahlawan lain juga menanyakan tentang kemampuan Rigel yang bahkan tidak memiliki senjata ilahi. Rigel hanya menjelaskan tentang kemanpuannya dengan sabar, karena Yuri telah melihat senjata apinya, Rigel menegaskan bahwa dia hanya bisa menciptakan benda sebatas itu. Rigel tidak berniat memberitahu apa saja yang bisa dia lakukan dengan kemampuannya, dia juga tidak memberitahukan apapun mengenai skilk sampingan dan Void miliknya. Lagipula, pahlawan yang lainnya juga sama sepertinya, mereka hanya mengungkapkan sesuatu yang sudah di ketahui semua pahlawan dan yang tidak merugikan mereka.
Percakapan kemudia beralih ke pertarungan Rigel dan Hydra, setelah para pahlawan telah mengetahui detail pertarungannya, Rigel meminta Merial untuk membagikan sebongkah daging Hydra untuk di serap para pahlawan selain Rigel.
"Huh, jika aku tahu bahwa Hydra hanyalah monster lemah seperti itu, sudah sejak dulu kukalahkan mahkluk itu." Ujar pahlawan Sabit, Marcel.
Rekan pahlawan yang berasal dari kerajaan yang sama mengangguk dengan pernyataan Marcel.
"Yah, apa boleh buat... Lagipula masih ada monster malapetaka yang lain, jika Hydra dapat di kalahkan oleh pahlawan terlemah, maka kita tidak mungkin kalah..." Ujar pahlawan kipas, Petra.
"Yaa... Bagaimana kalau selanjutnya kita membasmi macan putih atau Phoenix...??" Ujar pahlawan Palu, Aland.
Rigel, Ray dan Merial sedikit terusik karena Marcel dan rekan pahlawan lain meremehkan Hydra. Rigel tidak menyebutkan nama Takumi karena itu keinginan Takumi sendiri agar Rigel lebih di pandang orang dan menghapus label pahlawan terlemah. Namun justru sebaliknya, hal itu malah kembali menusuk Rigel bagaikan pedang bermata dua. Rigel tidak menanggapi Marcel dan yang lainnya karena dari sifat Marcel, pasti akan berujung pada perkelahian. Empat lawan satu, bahkan Rigel sendiri tidak yakin menang dan juga, dia tidak ingin mengungkap kartu trufnya.
Di sisi lain, pahlawan Cakar, Nadia, hanya diam dan tidak bergabung dalam percakapan pahlawan yang di panggil bersamanya. Dia hanya fokus memasukan daging Hydra ke dalam kristal yang ada di senjatanya. Ada hal yang membuat Rigel tertarik padanya, bukan sesama jenis tentunya. Rigel tertarik dengan namanya, nama itu pada umumnya banyak di temukan di indonesia. Rigel ingin bertanya dari mana asalnya namun dia kembali mengurungkan niatnya.
Matahari mulai terbenam, para pahlawan dari kekaisaran Timur dan kekaisaran suci Ruberios kembali tepat setelah selesai menyerap bagian Hydra. Hanya tersisa satu kapal yang di tunggangi Takatsumi, Yuri dan Takumi.
Rigel tidak akan pernah lupa apa yang telah dilakukan Takatsumi kepadanya saat itu, bahkan sampai saat ini, Rigel hampir tidak dapat menahan dirinya untuk tidak menghajar Takatsumi.
"Kalau begitu, kami pergi dulu, Rigel." Ujar Takumi. Menaiki kapal dan melambai kepada Rigel.
"Aku akan mengunjungimu lain kali, Rigel~..." Ujar Yuri. Mengikuti Takumi di belakangnya.
Mereka berdua naik ke kapal dan menyisakan Takatsumi yang masih berhadap-hadapan dengan Rigel. Setelah Yuri dan Takumi pergi, Takatsumi yang semenjak awal diam akhirnya mulai berbicara.
"Meskipun terlambat, nampaknya kau sehat-sehat saja ya, Rigel..."
Wajah Takatsumi yang awalnya terlihat lembut dan tampan berubah menjadi wajah dan senyuman yang terlihat jahat.
"Bersyukurlah karena aku masih berbaik hati memberimu bagian tubuh Hydra, brengsek..."
Ray menatap Takatsumi dengan kesal, sementara Merial tidak mengerti apa yang terjadi antara Rigel dan Takatsumi.
"Aku berterima kasih untuk itu... Lagipula aku adalah seorang pahlawan jadi aku berhak mendapatkannya... Sebagai gantinya, akan aku beritahu padamu satu hal..."
Takatsumi berjalan mendekati Rigel. Alasan dia tidak khawatir akan terbunuh oleh Rigel sangatlah mudah. Mau bagaimanapun, dia tetaplah seorang pahlawan, kehadirannya di butuhkan saat perang besar terjadi. Selain itu, jika pahlawan lain tahu bahwa Rigel membunuh pahlawan lain, mereka pasti tidak akan tinggal diam karenanya. Takatsumi memegang bahu Rigel dan membisikan sesuatu kepadanya...
"Akan kuberitahu kau, jika pertunanganku dengan Tirith akan tetap di laksanakan meskipun masih cukup lama."
Meski dia mendekati Rigel namun dia tidak berniat untuk membisikannya kepada Rigel. Justru Takatsumi mengatakannya dengan nadanya yang biasa sehingga Ray dan Merial mendengarnya. Rigel awalnya terkejut dan marah kepada Takatsumi, namun dengan cepat kembali tenang.
"Kau hanya menggertak, tidak mungkin Tirith mau melanjutkan pertunangannya denganmu karena dia masih sangat mencintaiku..."
"Hehehe, sudah kuduga kau akan berkata begitu, Rigel... Kau masih begitu naif Rigel. Kau pikir hanya dengan tidak membeberkan skenarioku dan raja yang ingin membunuhmu aku tidak akan berani bertindak apapun...?? Kau benar-benar bodoh Rigel."
"Apa?! Skenario untuk membunuh tuan Rigel...??" Gumam Merial dengan wajah terkejut.
"Hooh, jadi kau tidak memberitahunya, ya... Kalau tidak salah kau adalah gadis bangsawan Ainsworth, ya..."
Takatsumi tersenyum geli seakan ada sesuatu yang membuatnya tertawa. Rigel nampak mengetahui apa maksud dari tertawa geli Takatsumi. Mengepalkan tunjunya, Rigel hendak menarik kerah baju Takatsumi, namun dia berhasil menghindarinya dengan melompat mundur.
"Dasar brengsek... Apa yang kau lakukan pada Tirith dan Walther...?!"
Mendengar itu, Merial mulai berkeringat dingin karena khawatir dengan ayah dan keluarganya. Ray bahkan sangat marah ketika melihat Takatsumi membongkar kedok busuknya namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Takatsumi hanya berbalik dan berjalan kembali ke kapal selagi menjawab pertanyaan Rigel.
"Entahlah~... Kenapa kau tidak menemuinya dan memeriksanya dengan mata kepalamu sendiri..."
Takatsumi naik ke kapal dan segera, kapal itu pergi menjauh dari daratan tempat pertemuan.
"Bajingan ini, suatu saat aku akan membunuhmu Takatsumi..."
"A-ayahku... K-keluargaku, apakah mereka baik-baik saja...??"
Melihat Merial yang masih syok, Rigel menggertakan giginya.
"Ray, Merial, kembalilah ke tempat semua orang dan katakan pada mereka jika aku akan kembali ke Britannia... Jangan lengah, tetaplah waspada. Kita tidak tahu apa yang sudah di persiapkan Takatsumi..."
"Apa yang akan kau lakukan Rigel...??" Tanya Ray.
"Aku akan kembali ke kediaman Ainsworth untuk memastikan keselamatan keluarga Merial dan menemui Tirith setelahnya."
'Tidakku sangka kau akan sejauh ini, Takatsumi. Pada awalnya aku berfikir jika kau tidak akan melakukan apapun demi menutupi kebusukanmu itu...!!! Sial... Ini karena aku terlalu naif...!!!'
Dengan itu, Rigel berteleportasi ke kediaman Bangsawan Ainsworth.
____________________________________________