The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Neraka 100tahun part 2



"Pelatihan pertama yang akan kita lakukan adalah pemanfaatan mana. Tetapi sebelum itu."


Azartooth mengulurkan tangannya ke Rigel. Tangannya bersinar hijau dann tidak lama tubuh Rigel juga disinari oleh cahaya itu.


"Cahaya apa ini? Apa yang baru saja kau lakukan padaku?" Tanya Rigel.


"Aku baru saja memurnikan cahaya gelap yang kau terima dari kotak Pandora. Selain memurnikan cahaya itu,


Aku juga meningkatkan indra perasamu sebanyak 3x lipat dari biasanya. Jadi, dengan indra perasamu yang kutingkatkan, rasa sakit yang kau terima akan meningkat dengan tajam.


Bahkan meski hanya luka lecet saja, rasa sakitnya akan seperti jarimu seakan di potong."


Ujian ini benar benar keras. Rasa sakit yang akan di terima Rigel bahkan meskipun itu berasal dari luka kecil, rasa sakitnya akan meningkat drastis seolah menerima luka itu sebanyak 3x berturut-turut.


Dalam ujian ini, Rigel harus benar benar menghindari dirinya untuk menerima banyak luka. Karena, jika dia terus menerima rasa sakit mental dan jiwanya mungkin akan terpengaruh.


Jika Rigel mengalami mental down dan jiwanya terpengaruh, hal yang paling buruknya dia menjadi gila.


Mungkin ini maksud Azartooth,bahwa dia tidak menjamin Rigel akan tetap menjadi dirinya sendiri.


Ahh, benar juga. Saat aku mengambil kesempatan terakhir dari kotak pandora, cahaya hitam dan jahat merasuku tubuhku.


Cahaya apa itu sebenarnya? Azartooth mengakui bahwa dia baru saja memurnikannya? Apakah cahaya itu memiliki pengaruh yang buruk?


Pikir Rigel. Kenangan saat dia dirasuki cahaya gelap itu masih membekas dikepalanya. Rigel mulai memeriksa tubuhnya akankah ada yang berubah selain mata dan tangan kirinya yang hancur.


'Emm? Tidak ada apapun yang berbeda dari tubuhku selain fakta bahwa aku tidak lagi memiliki tangan kiri dan mata kiriku.'


Setelah memeriksa sebentar tubuhnya, Rigel mulai memegang mata kirinya yang hancur karena melihat lubang hitam disebuah kertas.


Ada banyak sekali hal yang tidak diketahui Rigel. Ada lebih banyak lagi hal yang belum terungkap, terutama Fire Ball terakhir yang dikeluarkan oleh Naga itu.


'Percuma memikirkan apa yang tidak diketahui.'


Rigel kembali menatap Azartooth yang masih tersenyum lembut.


"Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan padamu. Cahaya apa yang masuk ke tubuhku saat aku mengambil isi ke-3 dari kotak pandora?"


Azartooth memegang dagunya dan memejamkan matanya seakan sedang berfikir. Lalu tidak lama kemudian, dia membukan matanya.


"Aku akan menjelaskannya dengan cara yang mudah dimengerti. Cahaya yang merasukimu sebelumnya adalah cahaya pelahap jiwa."


"Cahaya pelahap jiwa?"


Rigel bergumam. Azartooth mengangguk dan melanjutkan penjelasannya.


"Ya. Cahaya itu akan merasuki seseorang untuk melahap jiwa mereka dari dalam dan hanya menyisakan tubuhnya saja.


Biasanya, cahaya itu digunakan untuk membunuh seseorang secara menyakitkan, namun ada beberapa kasus tentang menggunakan sihir itu untuk perpindahan jiwa."


Wajah Rigel menegang saat mendengar tentang perpindahan jiwa.


Itu tandanya ada seseorang yang ingin memiliki tubuhku namun, siapa dia? Apakah ada syarat khusus untuk menggunakan cahaya itu?


Rigel terus berpikir siapa orang yang kemungkinan ingin memiliki tubuhnya, namun tidak kunjung menemukan jawaban.


Seakan mengerti apa yang dipikirkan Rigel, Azartooth kembali melanjutkan penjelasannya.


"Ada dua syarat wajib yang harus dilakukan untuk menanamkan cahaya pelahap jiwa serta perpindahan raga.


Syarat pertamanya adalah kau harus menggabungkan darah target dengan darahmu.


Dengan penggabungan darah itu akan memungkinkanmu berpindah raga setelah jiwa target terlahap habis.


Dan syarat yang kedua... Kau harus menanamkan lingkaran sihir sebagai perantara untuk memindahkan jiwa."


Azartooth menatap Rigel dan menunjuk ke arah mata kirinya yang telah hancur. Rigel merespown dengan menyentuh mata kirinya.


"Aku tidak tahu siapa yang menanamkannya, namun aku bisa melihat dengan jelas sebuah formula sihir berukuran kecil terukir di matamu itu."


Rigel tidak bisa untuk tidak terkejut bila dirinya sudah ditanami formula sihir sebagai syarat untuk perpindahan jiwa.


'Kapan? Siapa yang melakukannya? Jangan jangan?'


Rigel tahu kapan formula itu ditanam di mata kirinya. Itu terjadi tepat saat Rigel mengambil pilihan kedua dari pandora dan kehilangan mata kirinya.


"Sepertinya, formula ini ditanamkan saat aku mengambil pilihan kedua dari kotak Pandora, saat itu aku disuruh melihat kedalam lubang hitam disebuah kertas kecil.


Dan disaat itulah, aku kehilangan mata kiriku ini. Ji-jika begitu, ca-cahayanya!—"


Rigel panik mengetahui syarat untuk perpindahan jiwa telah terpenuhi. Dia menatap Azartooth yang ada tepat didepannya.


"Tenang saja. Aku sudah memurnikan cahaya pelahap jiwa serta formula sihir yang tertanam dibalik kelopak matamu yang hancur itu.


Seharusnya perpindahan jiwa sudah tidak bisa dilakukan lagi."


Azartooth tersenyum lembut yang membuat Rigel kembali tenang. Dia melanjutkan-


Meskipun ada beberapa hal yang masih ingin diketahui Rigel, namun dia mengikuti Azartooth dan fokus pada pelatihan 100 tahunnya.


Tik!


Azartooth menjentikan jarinya, seluruh ruangan mulai berubah dari tempat yang dipenuhi tebing dan rerumputan, menjadi tempat yang dipenuhi bebatuan coklat.


Tempat itu memiliki bebatuan besar dengan berbagai macam ukuran dimulai dari yang kecil hingga yang terbesar.


Tidak ada apapun selain bebatuan dan tanah merah sepanjang mata memandang seolah Rigel sedang berada di dunia batu.


Rigel sudah tidak terkejut melihat kejadian yang tidak masuk akal ini karena, eksistensi dewa itu sendiri lebih tidak masuk akal.


"Apakah disini latihan pertamaku?"


Rigel bertanya.


Azartooth mengangguk sebagai jawaban dan dia mendekati sebuah batu besar yang berukuran sekitar 3 meter.


"Hal pertama yang harus kau pelajari adalah ini."


Azartooth menaruh telapak tangannya ke batu besar itu dan memejamkan mata. Ada keheningan sementara di antara Rigel dan Azartooth. Lalu—


Bam!


Sebuah ledakan bergema keras dan puing puing dari bebatuan yang hancur berhamburan.


Yang membuat Rigel terkejut bukanlah ledakannya, namun batu yang meledak itu merupakan batu yang disentuh Azartooth.


'Bagaimana Bisa?' pikir Rigel.


"Mengejutkan bukan?"


Azartooth tersenyum melihat wajah Rigel yang dipenuhi kebingungan lalu dia berjalan kembali mendekati Rigel.


"Hal pertama yang akan kau pelajari adalah pemanfaatan mana. Kau harus menguasai ke-5 teknik dari pemanfaatan mana."


Azartooth mengangkat kelima jarinya.


"Yang pertama adalah menyerap. Kau harus menyerap mana yang ada di sekitarmu entah itu berasal dari atmosfer ataupun benda alam lainnya.


Karena kau seorang pahlawan sedikit berbeda, kalau tidak salah kalian menyebutnya dengan SP, kan?"


Rigel melihat index yang masih menyesuaikan diri. Dibawah bar darah berwarna hijau, ada bar berwarna kuning yang merupakan SP.


Rigel mengangguk sebagai jawaban. Matanya kembali tertuju pada Azartooth. Azartooth pun mengangguk kembali.


"Karena mana milikmu sedikit berbeda disitulah keberadaan tehnik ke 2 yaitu menguraikan.


Kau harus bisa menguraikannya menjadi Soul Potion dan hal yang lainnya."


Rigel terus diam mendengarkan penjelasan Azartooth sambil memahami informasi yang dia terima.


"Untuk yang ke-3, itu sangat mudah. Kau harus mengeluarkan mana milikmu. Yah, aku yakin kau bisa melakukannya secara alami."


"Untuk yang ke-4 dan 5 itu seperti yang kulakukan tadi, memadatkan dan meledakan.


Untuk meledakan bebatuan seperti itu,


Kau diharuskan menyerap mana dari batu itu dan memadatkannya secara perlahan lalu setelah mana itu cukup padat, kau harus meledakannya.


Akan lebih mudah memahaminya dengan praktek dari pada teori, lebih baik kita langsung mulai saja dari menyerap mana."


Azartooth mengarahkan Rigel kesebuah batu yang seukuran dengan tinggi Rigel dan menyuruhnya bermeditasi di atas batu itu.


"Bukalah baju yang kau kenakan untuk mempermudahkanmu merasakan mana disekitarmu saat bermeditasi."


Rigel menuruti perkataan Azartooth dan melepaskan baju dan perisai dada hancur yang masih dia kenakan.


Saat melepaskan pakaiannya, Rigel teringat bahwa dia memiliki luka di dadanya dan saat Rigel melihat dadanya......


'Lukanya... Ti-tidak ada?'


Rigel masih ingat dengan jelas rasa saat pedang raja menusuh menembus dadanya. Namun, luka itu menghilang seperti tidak pernah ada.


Rigel melirik Azartooth yang masih memperhatikannya. Menyadari tatapan Rigel, Azartooth melambaikan tangannya.


"Untuk luka yang berada di dadamu, aku telah menyembuhkannya tapi maafkan saja diputuskan dengan kekuatanku yang melemah,


Aku tidak bisa meregenarisikan mata kiri dan lengan kirimu seperti sediakala jadi kau harus tabah cebok dengan tangan kanan."


Mengabaikan lelucon buruk Azartooth, Rigel duduk di atas batu itu dan bermeditasi. Dia mengosongkan pikirannya dan menenangkan hatinya.


Mata Azartooth terbuka lebar karena terkejut dan dia tersenyum sambil memujinya di dalam pikirannya.


'Kau belajar dengan cepat... Putraku.'