
Pagi hari tiba. Berselimut awan biru yang menandakan cerahnya hari. Warga baru Region. Para budak yang berhasil dibeli dan dibebaskan dengan riang semangat bekerja membangun rumah mereka sendiri. Senyuman tersebar, lantas membuat Region dipenuhi kehangatan. Hari-hari damai yang tidak akan bertahan selamanya.
Perjamuan semalam cukup meriah, membuat semuanya sibuk akan membersihkan sisa perjamuan. Terutama penampilan Hazama dan Nadia yang begitu memukau. Banyak orang mulai tertarik mempelajari music dan hiburan yang ada di dunia para Pahlawan. Berkat perjamuan itu banyak bangsawan dan tokoh penting penjuru negeri berlibur di Region. Dimana banyak hal baru yang tak pernah mereka jumpai.
Dengan keberadaan Rigel dan campur tangan Pahlawan lain secara rahasia. Region semakin berkembang, dengan budaya dan makanan yang berasal dari dunia lain. Lantas tidak ada yang tidak tertarik terhadap sesuatu yang baru.
"Selamat pagi. Bagaimana keadaanmu Rigel??"
Asoka menyambut Rigel yang datang menemuinya. Seperti biasa, keberadaannya tidak dapat diabaikan. Bahkan dari kejauhan dia dapat merasakan auranya yang dipenuhi kemegahan tertentu.
Lagipula dia adalah orang yang memimpin berbagai penaklukan terhadap malapetaka dan juga kejadian lainnya. Terutama ketika menangani invasi iblis yang menghancurkan banyak negeri.
"Ya. Setidaknya sedikit lebih baik dari kemarin."
Rasa sakitnya sedikit lebih baik dari kemarin. Meski begitu, bukan berarti dia telah baik-baik saja. Kekuatannya sendiri belum pulih, bahkan setengahnya belum. Untuk hal itu dia perlu memulihkan kekuatannya sedikit lebih lama lagi.
"Bagaimana keadaanmu sendiri?"
"Seperti biasa. Mengurus tumpukan kertas sialan ini."
Dapat terlihat bahwa tumpukan di sebelahnya sama sekali tidak berkurang. Justru terlihat semakin bertumpuk. Meski terakhir kali berkurang banyak berkat Tirith, namun hal itu tidak menjadi akhir.
Namun setidaknya Asoka terlihat lebih baik. Dia tidak tampak kelelahan dan lesu seperti sebelumnya. Lantas hal itu patut untuk disyukuri.
"Yah, dengan perjamuan semacam itu. Aku yakin ada banyak permintaan aneh seperti membangun cabang atau semacamnya."
Apapun itu, dia tidak tertarik terhadap sesuatu yang berhubungan dengan politik. Mari kesampingkan hal itu. Tujuan Rigel kemari untuk mendapatkan beberapa informasi terbaru. Terutama tentang hal yang dilakukan Pahlawan lain saat dia tidak melihat.
Asoka mulai memberikan laporannya, lantas dia tahu bahwa Rigel hanya menghabiskan waktunya saja. Dia menyebutkan berbagai tindakan para Pahlawan. Seperti menambahkan budaya, music dan berbagai jenis makanan lezat yang berasal dari dunia mereka. Tidak ada hal apapun yang dapat dianggap penting. Lantas tujuan Rigel selanjutnya adalah berjalan-jalan ke sekitar kota untuk melihat keadaan kota.
Dalam perjalanan hendak menuju kota, dia menemukan Takumi dan Yuri yang berjalan bersama. Melihat Rigel, mereka menghampirinya dan menyapanya.
"Yo, bagaimana keadaanmu??"
"Cukup baik. Apa yang kalian lakukan??"
"Hanya berjalan-jalan selagi memikirkan hal apa yang ingin kami lakukan."
Mereka terlalu senggang sampai tidak bisa memikirkan kegiatan yang ingin dilakukan. Bila mana mereka senggang seperti ini, lantas Rigel mengubah tujuannya. Dari awalnya berkeliling berubah menjadi sesuatu yang tak sepatutnya dia lakukan.
"Bila begitu, lebih baik kalian ikut menemaniku pergi ke suatu tempat."
Yuri dan Takumi saling memandang dengan bingung. Mereka tidak memiliki kegiatan lain, jadi tidak ada salahnya mengikuti Rigel. Tanpa perlu membuang waktu, mereka mengikuti Rigel berjalan memimpin dengan santai dan diikuti Takumi dan Yuri.
[***]
"Asura Punch!!"
Tinju cahaya melesat dan menghantam kepala Goblin terdekat. Empat lainnya melompat masuk, lantas dia mendapat kepungan dari empat arah. Namun bukan perkara sulit, dia menciptakan empat besi yang tumbuh dari tanah. Besi yang mirip duri itu menusuk tepat ke uluk hati para Goblin.
Melihat temannya mati dalam sekejap, Goblin lain mulai marah namun tidak bertindak gegabah. Mereka tidak terlalu bodoh untuk tidak mengetahui perbedaan diantara kekuatan mereka. Mundur menjadi pilihan mereka, namun dengan adanya Yuri dan Takumi, tidak ada satu dari mereka yang dapat lolos. Yuri menembakkan beberapa panah yang cukup menghabisi sisanya.
"Jadi... Hal yang kau minta adalah ini? menemanimu berburu??" Takumi bergumam lirih dan sedikit kecewa.
"Kau seharusnya lebih mengistirahatkan tubuhmu. Jika Tirith tahu, mungkin tidak akan selesai cepat," bahkan Yuri memiliki reaksi berbeda dari Takumi. Mereka benar-benar terlihat serasi.
Rigel meregangkan leher dan punggungnya seakan lelah. Dia berjalan mendekati mereka dengan perasaan puas yang sulit dipahami.
"Lagipula tidak ada kegiatan lain yang dapat kulakukan. Mau bagaimana lagi, kan??"
Meskipun dia dapat meneliti batu ramalan dan teka-teki yang ditinggalkan Pahlawan pada segel Tortoise. Namun pada akhirnya tidak akan ada jawaban apapun yang dapat ditemukan. Informasi yang dimiliki sangat minim. Sehingga penelitian lebih lanjut akan membuang waktu dan usaha. Melenceng sedikit saja, jawaban yang dapat ditemukan akan berbeda.
Lalu, mengenai penculik misterius yang membawa Priscilla, entah bagaimana Rigel tahu bahwa dia hanya dapat menemuinya di Tanah Naga Yang Terlupakan, rumah bagi Acnologia. Jika begitu, maka dia tidak memiliki pilihan lain selain masuk ke tanah Naga.
Belum pernah sekalipun dia menapakkan kakinya disana, begitu pula dengan yang lain. Tidak ada kebutuhan apapun yang membuat mereka pergi ke sana. Bahkan Lift teleportasi tidak dapat digunakan, karena kordinat yang sulit ditentukan. Jadi, perjalanan kali ini akan memakan waktu lama dan dibutuhkan banyak sumber daya. Entah itu makanan atau manusia.
"Selain itu, target selanjutnya telah ditetapkan. Sebisa mungkin, aku tidak ingin menambah musuh lebih banyak sebelum hari akhir tiba."
"Tersisa Naga, ya," Takumi bergumam lirih dan menatap langit biru.
"Aku nyaris tidak percaya. Jika kita sudah benar-benar sejauh ini, ya. Perjalanan panjang namun nyatanya singkat," Yuri bergumam dan menyilangkan tangan di belakang punggung.
Mereka seperti seekor burung kecil yang terlahir di dunia luar cangkang. Mempelajari dunia dan mengepakkan sayap untuk terbang. Barangkali terjatuh namun bangkit kembali. Sering mendekati kematian akibat predator yang hendak memangsanya, namun hingga akhirnya mereka dapat mencapai langit. Menari dan bermandikan awan, dengan angin segar sebagai pemandu.
"Ya. Kita harus meraih langit yang lebih tinggi dan memperkuat sayap kita. Demi mengimbangi arus angin yang semakin kuat dan menipis. Mendekati akhir."
Roda takdir terus berputar, namun tidak kunjung mendekati akhirnya. Hanya saja, jalan yang dilaluinya semakin berat dan sulit seakan benar-benar akan berakhir.
Lantas untuk menghadapi jalan terjal di depan, mereka perlu memperkuat diri untuk beradaptasi dengan keadaan yang terlampau sulit dari yang telah dilalui.
"Ragnarok, ya... Sungguh aneh. Kita yang bukan berasal dari dunia ini, justru bertarung tanpa ampun untuk melindunginya. Seringkali mendekati kematian, namun tidak mendapat imbalan yang dibilang layak," Takumi cekikikan dan menelan mentah-mentah kenyataan.
Takumi tetap menatap langit, hingga akhirnya senyuman muncul, "Karena aku menyukainya. Aku mendapat segala hal yang selalu kudambakan. Teman, sahabat, kepercayaan dan bahkan aku mengenal arti dari mencintai seseorang."
Yuri mulai merona, seakan ucapan terakhir ditujukan untuknya. Memang tidaklah salah, lantas hubungan mereka hampir sedekat nadi. Sementara, orang yang perlahan diabaikan menatap jengkel. Sudut matanya berkedut dan dia mulai menarik rambutnya.
"Meski pagi ini dingin, kalian sudah panas saja. Aku meminta kalian untuk menemani, bukan melepaskan birahi sialan," Rigel berjalan dan hendak meninggalkan pasangan itu.
"Ahh, seharusnya aku mengajak Odin atau Gahdevi saja," gumamnya dengan lelah.
Menyadari hal itu, Yuri dan Takumi dengan malu berlari dan mengejar Rigel. Mereka benar-benar hampir melupakan keberadaan Rigel! lantas rasanya cukup menjengkelkan diabaikan.
"Maaf, maaf. Aku sedikit terbawa suasana tadi," Takumi merangkul Rigel dengan sedikit candaan.
"Tidak perduli. Lagipula manusia tidak akan dapat hidup tanpa memiliki nafsu."
Bila mana seseorang tidak memiliki nafsu ataupun ambisi, maka kehidupan akan terasa hampa. Sehingga membiarkan kematian mendatangi pun seakan bukan masalah besar.
"Yah, lagipula kau dan Tirith tidak ada bedanya dengan kami. Ketika bersama, kalian nampak melupakan sekitar seakan dunia hanya milik berdua saja," Yuri mendekat dari sisi lain dan sedikit menyenggol Rigel sebagai godaan.
Dia tidak dapat berkomentar tentang hal itu. Lantaran dirinya secara tidak sadar melakukan apa yang ingin dia lakukan bila bersama Tirith. Bukan karena cinta berlebih atau jenisnya, hanya karena nafsu. Itu saja.
"Hm??"
Cahaya kecil berterbangan di depan mereka dengan gerakan aneh. Yuri dan Takumi menjadi berwaspada saat melihat kehadiran aneh itu. Barangkali hal itu adalah serangan musuh atau hal berbahaya lain. Namun, hanya Rigel yang mengenal jelas apa dan siapa cahaya itu.
"Sylph, ya?"
Cahaya hijau kecil itu mulai memancarkan sinar dan mengumpulkan cahaya lain. Perlahan cahaya membentuk gadis yang teramat elok dengan sayap kupu-kupu dan gaun hijaunya. Memperlihatkan wujud jelas sosok dari pemimpin dunia roh, sang Ratu Peri.
"Maaf mendadak muncul dan mengejutkan kalian. Aku datang untuk memberikan beberapa informasi penting untuk Pahlawan Rigel."
Sosoknya menenangkan dan lembut seperti biasa. Namun senyumnya yang biasa tidak lagi dapat terlihat. Meski dia roh, wajahnya memiliki jejak stres, marah dan kekhawatiran.
Tidak perlu dipertanyakan lagi. Hal itu disebabkan oleh Priscilla yang diculik sosok misterius. Dengan keberadaan Priscilla itu sendiri, lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dia menjadi kelemahan besar Sylph.
"Aku mengerti. Jadi, haruskah kami pergi??" tanya Takumi. Barangkali Rigel dan Sylph tidak ingin pembicaraan mereka didengar oleh orang lain.
"Tidak. Cepat atau lambat kalian akan mendengarnya, jadi tidak apa."
Rigel memiliki keyakinan kuat bahwa informasi yang dimaksud Sylph berkaitan dengan tujuan selanjutnya. Lagipula mana mungkin dia sampai terlihat berusaha sekeras itu, hanya untuk menolong manusia. Lain halnya bila ada sesuatu yang berharga ingin dia selamatkan.
Kelemahannya benar-benar terekspos jelas. Sampai Rigel sendiri memanfaatkanya untuk mendapat bantuan pribadi dari Sylph demi menangani Acnologia.
"Hal apa yang sudah kau dapatkan??" lanjutnya.
"Ya. Melalui anak-anak tercintaku. Aku berhasil memantau tanah suci para Naga yang sama sekali tak tersentuh dari luar. Dengan adanya anak-anakku, aku bertukar pengelihatan dan menemukan pemandangan mengerikan di dalamnya."
Anak-anak yang dimaksud Sylph mungkin mengacu kepada para peri kecil yang terlihat seperti butiran cahaya. Dia memang sangat mencintai ras sejenisnya, lagipula dia adalah ratu mereka yang sangat dicintai.
"Mengerikan..., mungkin itu juga tidak dapat menggambarkannya secara pasti. Aku melihat ada sangat banyak Naga yang tinggal. Namun entah mengapa jumlah tidak murni lebih mendominasi ketimbang murni. Naga murni nampaknya putus asa, seakan tidak lagi memiliki tujuan hidup. Kekuatan mereka sendiri tidak dapat diremehkan. Bahkan aku sendiri akan membutuhkan usaha melenyapkan satu dari mereka."
"Namun, keanehannya justru terletak kepada tidak murni. Kekuatan mereka sendiri hampir setara dengan yang murni. Bahkan beberapa lebih kuat. Sangat jelas bahwa mereka mendapatkan lebih banyak darah murni dan mencampurkannya dengan darah lain sehingga menghasilkan pribadi kuat."
Informasinya selalu saja berguna. Hal itulah yang membuat Sylph menjadi bantuan terbesar bagi Rigel.
Dari informasi yang dia sampaikan, dapat diduga bahwa Naga darah murni tidak remeh seperti campuran. Mereka memiliki pengalaman dan kekuatan tempur yang sangat nyata. Sama halnya dengan Red yang dapat membumi hanguskan sebuah negara dengan mudah.
Namun, darah campuran yang setara atau lebih kuat dari yang murni cukup menghawatirkan. Bila darah Naga mereka mengalir hingga menghancurkan yang kotor, tidak salah lagi mereka akan menjadi awal dari kebangkitan para Naga. Belum lagi, Acnologia yang merupakan Naga malapetaka menjadi pemimpin mereka. Tidak dapat dipungkiri bila mereka balik badan dan menghadap manusia.
"Berapa banyak..., jumlah yang dapat kau perkirakan dari melihatnya??"
"Aku tidak dapat melihat lebih jauh karena berbahaya bagi anak-anakku. Jadi, jumlah pastinya tidak diketahui. Namun aku memastikan bahwa setidaknya ada lebih dari seribu Naga, termasuk campuran. Bahkan mungkin ada 10x lebih banyak."
"Bahkan bisa mencapai angka sepuluh ribu, ya...," Rigel bergumam lirih selagi menghitung kekuatan tempur yang dia miliki.
Untuk saat ini, hanya terdapat sebelas Pahlawan. Rigel belum melakukan ritual pemanggilan untuk mencari pengganti posisi pedang yang kosong. Lagipula sang kandidat itu sendiri belum cocok mengemban tugasnya. Bila dia menghitung orang lain, akan menjadi tiga belas bila menghitung Merial dan Walther bila mana dia ingin ikut andil.
Tirith boleh menjadi pertimbangan yang baik. Lagipula dia telah melihat langsung beberapa keahliannya dan itu patut diacungi jempol.
Jika ditotal, bahkan jumlahnya tidak akan mencapai lima puluh. Bahkan terlampau jauh dari jumlah itu. Membawa prajurit sama halnya dengan membawa babi tidak berguna. Mereka hanya akan mati dan memberikan beban mental kepada petarung garda depan.
Prajurit hidup tidak dibutuhkan, namun yang mati jelas diperlukan..., batinnya.
Lantas prajurit kematian menjadi solusi utama untuk mengimbangi— bahkan melampaui jumlah yang terlampau jauh. Jika memang harus, Rigel sendiri akan memanggil Hydra sebagai prajurit terkuatnya.
"Terima kasih atas informasi berguna itu. Jika begitu, tidak ada lagi waktu untuk menganggur. Selagi memulihkan diri hingga kondisi puncak, aku akan menyiapkan segala persiapannya," tanpa perlu banyak bicara, Rigel berjalan menjauh dan melambaikan tangannya.
"Kemana kau pergi Rigel??" tanya Takumi karena khawatir bila Rigel melakukan hal berbahaya.
Rigel berhenti berjalan dan menoleh kepadanya, "Menyiapkan bantuan yang bisa jadi pembalik keadaan."