The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Sosok misterius



Setelah di hentikan Tirith atas permainan jahatnya, Rigel memilih untuk bermeditasi beberapa waktu untuk memulihkan staminanya sehingga mampu membuatnya berjalan.


Duduk bersila di atas kasur dan memejamkan matanya. Rigel secara perlahan menarik nafas dan menghembuskannya melalui mulutnya selagi mengumpulkan beberapa Mana. Dia terus melakukannya selama lima belas menit dan memilih untuk berhenti dan berkeliling. Tirith memilih untuk mengikutinya begitu juga Ozaru, meskipun Rigel bisa berjalan seorang diri, namun dia tidak bisa membiarkannya berkeliaran sendiri.


Taman kerajan Region, nampaknya kekacauannya berdampak sangat besar. Saat ini dia dapat melihat beberapa pekerja tengah membangun ulang bagian yang hancur. Di mulai dari dinding, aksesoris taman dan beberapa pilar.


"... Karena kelalaianku karena tidak memikirkan kemungkinan semacam ini." Rigel bergumam dengan kesal selagi menatap kerusakan yang ada. Ozaru melirik ke arahnya.


"Tidak, kau tidaklah salah. Tidak ada yang patut di salahkan atas kekacauan ini. Bahkan siapapun tidak akan ada yang menduga jika dia berani nekat menyusup ke sini."


Jika menyangkut tentang orang yang merasa paling bersalah, maka Ozaru lah orangnya. Dia sangat kesal dengan fakta bahwa keterlambatannya bangun menyebabkan semua ini terjadi. Jika saja dia terbangun lebih awal, mungkin hal semacam ini dapat di hindari.


"Sepertinya kau jauh lebih bijaksana sekarang. Yah, lebih baik kita menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran dan bangkit kembali dari kubang lumpur ini." Rigel berhenti sejenak, "Berapa banyak korban jiwa?"


"Jika menghitung Nisa, totalnya mungkin kurang lebih 500 jiwa. Kebanyakan korban hanyalah para pejuang, beruntung bahwa seluruh warga telah diungsikan."


Rigel menggertakan giginya dengan kesal. Korban jiwa dalam pertempuran memang hal wajar jadi Rigel tidak bisa melakukan apapun tentang itu. Setidaknya, 500 orang hanyalah jumlah kecil jadi Rigel dapat dengan mudah tidak memperdulikannya.


Tirith menatap Rigel dengan kekhawatiran di wajahnya, "Apa kau baik-baik saja, Rigel?"


"Ya, kalau begitu mari kita pergi keluar. Aku ingin melihat seberapa buruk kerusakannya."


Tanpa perlu membuang waktu, Rigel, Ozaru, dan Tirith pergi keluar untuk melihat kerusakan yang ada. Jalanan dan rumah-rumah hancur, serta tembok besi yang mengelilingi Region juga hancur. Kerusakannya jauh lebih buruk dari yang Rigel perkirakan. Warga nampaknya telah kembali dari pengungsian dan sedang memulihkan kembali bangunan yang hancur. Mereka memberikan senyuman hormat kepada Rigel dan Ozaru. Sampai anak-anak kecil yang membersihkan jalan menyapanya.


"Selamat pagi, Kak Rigel! apa kamu sudah baik-baik saja? aku mendengar dari Leo kalau kak Rigel tidak sadar dalam waktu lama."


Gadis kecil yang riang, siapa lagi jika bukan Riri dan teman-temannya. Rigel juga menyaksikan bahwa Leo tengah membantu warga lain membereskan kekacauan.


"Ya, terima kasih telah mengkhawatirkan. Bagaimana dengan kalian? apa yang sedang kalian lakukan?"


Riri dan yang lain tampak sangat senang ketika di tanya dan mereka membusungkan dada dengan bangga, "Kami membantu membersihkan batu kecil yang berada di jalan. Karena ini lebih aman untuk kami kerjakan. Pujilah kami, karena telah berusaha keras, kak Rigel!" suara-suara lainnya menyusul, meminta Rigel memuji mereka.


Meski kekacauan terjadi, nampaknya tidak ada keluh kesah di antara warga dan anak-anak. Ini merupakan hal yang patut di syukuri. Rigel tersenyum, "Ya, kerja bagus kalian semua. Lain kali akan kuberikan kalian sesuatu yang enak dimakan."


"Yey!" sorak sorai gembira anak-anak kecil itu membuat beban di pundak Rigel sedikit berkurang. Leo berlari menghampiri Rigel, "Ayaaah! kamu telah sadar!" Air mata dan hingus membanjiri wajahnya. Leo melompat dan hendak memeluk Rigel, namun Rigel menghindarinya, membuat Leo jatuh mencium tanah.


"A-aku lupa t-tentang ini. R-rigel, kau telah mempunyai seorang anak y-ya. B-bolehkah ak-aku tahu si-siapa yang kau nikahi??" Tirith terlihat aneh, mungkin karena Leo yang memanggilnya ayah.


Rigel menggaruk kepalanya dengan bermasalah, "Dia bukan anakku. Dia hanyalah bocah idiot yang berada dalam pengawasan ku, dan ntah sejak kapan dia memanggilku ayah."


Mendengar jawaban Rigel, Tirith menghela nafas lega, di saat itu, Leo perlahan bangkit.


"Uhh, sakit... Ayah, pujilah aku karena telah menjaga negara ini dengan aman selagi kau tidur!" Dengan cepat, Leo ikut membusungkan dadanya. Mau bagaimana lagi, dia tetaplah seorang anak-anak sama seperti Riri dan yang lain.


"Baiklah!"


Rigel pergi ke tempat lain untuk melihat bagaimana keadaan gerbang Region yang telah di tembus dan hancur oleh Karaka dengan mudahnya. Sesampainya di sana kerusakannya sangat buruk. Dinding besinya hancur dengan jangkauan yang sangat luas, akan perlu waktu lama bagi warga dan yang lainnya memulihkan dindingnya. Belum lagi, karena ke hancurkan bagian pada dinding itu juga mempengaruhi sistem serangan otomatis, sehingga para monster yang tersisa di Region dapat masuk dan menyerang kapan saja.


Mau ataupun tidak, Rigel harus turun tangan terhadap ini, karena hanya dia yang dapat memperbaiki semuanya dalam sangat cepat. Rigel mengulurkan tangan kanannya dan mengumpulkan sihir, sampai tangan lain meraih tangan kanannya. Rasa sakit mulai menusuk dirinya saat aliran Mana di dalamnya bergerak.


"Apa yang kau lakukan Tirith?" Rigel menatap Tirith yang meraih tangannya dengan bingung.


Tatapannya tajam, dan itu menembus ke dalam diri Rigel, "Kau tidak perlu memaksakan dirimu, Rigel. Tubuhmu masih dalam keadaan buruk... Bahkan aku tahu luka yang kau terima dari pertarungan dengan Tortoise masih menumpuk, kan?"


Rigel tidak pernah menceritakannya, bahkan kepada Pahlawan lain. Namun Tirith dapat mengetahuinya dengan hanya melihatnya, benar-benar pengamatan yang sangat jeli.


Ada terlalu banyak dan begitu banyak hal yang harus dia tangani. Bahkan saat ini menggantikan Argo yang telah gugur harus menjadi prioritas utama dan secepatnya harus di lakukan. Rigel juga harus mengatasi sisa kekacauan ini dan membuat persiapan untuk menaklukkan Phoenix. Jauh di lubuk hatinya, Rigel menginginkan untuk beristirahat dan memulihkan tubuhnya dari rasa sakit. Namun keadaan dan waktu tidak akan menunggu lebih lama lagi.


"Tidak ada salahnya untuk sesekali beristirahat dari segala macam kegiatan. Percayalah pada rekan-rekan yang berdiri di sisimu, serahkan sisanya kepada kami. Istirahatlah tubuh dan batinmu. Kau pikir mungkin tidak masalah untuk tidak melakukannya, namun cepat atau lambat pastinya kau akan menghancurkan dirimu sendiri." Sekali lagi Tirith menyerukan Kata-kata untuk membujuk Rigel.


Mengikutinya, Ozaru mengambil langkah dan menepuk pelan bahu Rigel, "Betina ini benar, Rigel. Membuatmu dalam kondisi prima merupakan hal penting. Setelah kau pulih, maka kau bebas melakukan apapun yang harus di lakukan. Lagipula ini musim semi, para betina akan terburu-buru untuk kawin. Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian berdua." Senyuman jahil tumbuh di bibir Ozaru.


"Kau... Meski tambah pintar dan bijaksana, namun logat bicaramu tidak berubah ya..." Rigel menatap Ozaru dengan aneh, "Yah, baiklah. Aku akan beristirahat untuk saat ini dan memulihkan tubuhku. Akan kuserahkan sisanya kepada Asoka dan kau, Ozaru." Rigel berbalik dan berjalan menuju kerajaan. Meskipun ada beberapa kejadian yang cukup mengesalkan, namun hari berjalan dengan damai.


Angin musim semi berhembus dengan damai. Para Pahlawan akan di biarkan menghirup udara segar di hari-hari damai ini, sebelum bencana besar mendekati mereka. Yah, setidaknya beristirahat sebentar tidak akan menggigit. Rigel menatap langit yang cerah dan membayangkan kejadian macam apa yang akan terjadi kedepannya.


***


Di sebuah tempat yang teramat jauh, hutan tempat tinggal para Naga berdarah murni. Jauh di kedalaman hutan tersebut, terdapat daerah yang di sebut tanah terlupakan. Seseorang dengan jubah keemasan yang menutupi seluruh tubuhnya perlahan turun dari udara dan menapakan kakinya di tanah kemerahan, tanah terlupakan. Dia menghadap ke sebuah Gua besar yang di penuhi kegelapan, sehingga tidak mungkin untuk melihat ke dalamnya. Semakin dia berjalan mendekati Gua, semakin dia merasakan hembusan hangat dari dalam Gua tersebut.


Dia berdiri tepat di depan Gua itu, dan sesaat kemudian, sepasang mata besar berwarna kuning terlihat dari dalam Gua. Sebuah suara serak dan besar muncul dari dalam Gua.


"Kau... Siapa?"


Mendengar itu, pria itu menyadari bahwa ia terbangun. Bukannya menjawab pertanyaan yang di ajukan padanya, dia justru mengatakan hal lain, "Hydra dan Tortoise telah di kalahkan. Selanjutnya pasti Phoenix, Macan putih, dan kita tahu siapa yang akan menjadi target akhir para Pahlawan itu. Mungkin juga bukan hanya Pahlawan itu, tetapi para iblis di bawah kaki Lucifer juga akan bergerak..."


Sepasang mata kuning di dalam Gua itu perlahan menyipitkan matanya dengan curiga, sampai akhirnya dia menyadari sesuatu, "Kau... Suara itu, bagaimana bisa kau berada di sini?"


"Tidak penting... Yang jelas, apa kau yakin hanya akan diam dan menunggu dirimu dikalahkan?" nadanya sedikit memprovokasi. Namun bukan kemarahan, melainkan tawa kecil terdengar dari dalam Gua.


"Hahahaha... Sungguh sebuah lelucon tidak lucu yang lama tidak kudengar..." Taring-taring raksasa muncul dari dalam gua dan berhenti tepat di depan orang dengan jubah emas misterius itu. Udara hangat berhembus dari dalam taring-taringnya, "Jangan meremehkanku... Bahkan jika iblis dan Pahlawan-pahlawan lemah bergabung melawanku, mereka tidak ada apa-apanya bagiku." Jejak kemarahan terdengar jelas dalam suaranya. Meski begitu, sosok berjubah misterius itu tidak gentar kepadanya.


"Kalau begitu, bagus... Setidaknya aku akan memberikanmu hadiah kecil sebelum kembali ke tempatku..." Sosok berjubah itu mengulurkan tangannya dan sebuah bola energi keemasan muncul dan terbang menuju kedalam Gua itu.


Wajahnya tertutupi tudung sehingga tidak memungkinkan untuk melihat wajahnya, namun senyuman lebar di bibirnya dapat terlihat dengan jelas. Sosok misterius akan menarik benang kekacauan dari balik layar sebelum hari akhir tiba.