The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Ketua Adventure Asosiasi, Evankhell



Lima hari berlalu dengan cepat dan ini akan menjadi malam terakhir Rigel menghabiskan malam dengan Sylph, namun mari bahas itu nanti.


Kemarahannya belum mereda, namun lebih baik daripada sebelumnya. Saat ini dia dapat menerima kesalahan, bentuk protes ataupun interupsi orang lain. Intinya, dirinya baik-baik saja, namun juga tidak baik-baik saja.


Boleh jadi lepas kendali kapanpun, namun boleh jadi tetap diam menahannya sampai dia mengamuk ketika Raid dimulai.


Mengamuk melampiaskan emosi yang membelenggu kepada mereka yang tidak bersalah, Naga yang sama sekali tidak berhubungan apapun. Namun mengancam kehidupan damai nan renang. Memilih menaruh pemikirannya di pojok kepala, Rigel fokus terhadap apa yang sedang dia lakukan.


Untuk menenangkan rasa penasaran dunia akibat kemunculan Acnologia yang memberikan pengumuman ke seluruh dunia, membuat kekacauan dan keingintahuan membludak diantara negara-negara. Para kandidat Kaisar melakukan apapun untuk menjelaskan pernyataan Acnologia dan memberikan ketenangan sementara bagi mereka.


Namun, terdapat sebuah organisasi khusus bukan milik negara manapun yang tidak dapat ditangani sembarangan. Bukannya mereka akan menentang, namun khawatir memperburuk hubungan dengan organisasi itu. Belum lagi, pemimpin mereka bukan orang plin-plan yang dungu, tetapi sosok yang dapat mengorek informasi dari lawan bicaranya yang bahkan tidak dapat ditangani para Kandidat.


"Kita sudah sampai, tuan Rigel. Sambutan hangat dari mereka Adventure Asosiasi..." Natalia membungkuk hormat, membuat tanda dengan tangan untuk mempersilahkan Rigel jalan lebih dahulu.


Dia menatap diam portal di depannya, membiarkan seluruh tubuhnya diselimuti cahaya kebiruan nan misterius dan pemandangan di depannya silih berganti.


Cahaya matahari yang menyilaukan nan hangat menerpa kulitnya. Sebuah rumah—Kastil besar nan indah terpampang jelas di depannya. Karpet merah menghiasi jalan yang dia tapak. Logo pedang menyilang dan sebuah perisai diletakkan di atas pintu yang terbuat dari besi.


Suasananya terlihat megah, dengan banyaknya petualang berlutut di tepi jalan yang akan dilalui Rigel, membuatnya terlihat norak dan berlebihan. Mengabaikan keberadaan petualang yang ada, dengan sikap apatis dia berjalan menyusuri karpet merah itu hingga menemukan dua sosok berlutut di ujung karpet.


"Saya telah menanti lama, hari di mana bertemu sosok keagungan seperti anda, wahai Pahlawan yang diberkati..., selamat datang di kota Adventure, perkenalkan, Nama saya Evankhell, dikenal sebagai pemimpin Adventure Asosiasi." tuturnya dengan lembut, kebahagiaan dan air mata besar jatuh.


Alasannya menangis membuat penasaran Rigel, namun dia tidak perduli-perduli amat tentang yang dipikirkannya.


"Pertama, aku akan menanyakan ini..., kau itu pria atau wanita??"


Entah bagaimana untuk menjelaskan sosok di depannya. Rigel bahkan tidak tahu apakah dia pria atau wanita.


Dia memiliki kulit coklat dengan badan besar yang kekar, namun memiliki paras cantik dengan mata sipit. Jika perlu dibandingkan, dia tidak kalah elok dengan Natalia ataupun Tirith. Paras dan bentuk tubuh saling berlawanan, antara pria atau wanita, pemuda atau pemudi, mungkin dia adalah campuran dari keduanya.


"Saya akan menjawab bahwa saya adalah pria. Banyak orang menjadi salah paham karena wajah saya yang menyerupai wanita," tukasnya, menyeka air mata di pipinya.


Dia sendiri berpikir bahwa orang di depannya ini wanita berotot dan sejenisnya. Namun setelah mendapat kebenarannya, dia sedikit menghela nafas lega.


Dia mengamati pria cantik di depannya tanpa terlewat satupun hal kecil, hingga menyadari bahwa orang itu kuat. Dia juga merasakan bahwa Rigel mengamati dirinya sebaik mungkin dan mengeluarkan senyuman kecil.


"Baiklah, karena kamu sendiri yang menyambutku, mari bicarakan tentang kejadian terkini. Suasana hatiku tidak baik, jangan membuatku kesal, ya..." tukasnya sedingin kutub utara.


"Saya tidak akan menjadi tidak sopan dihadapan anda yang diberkati. Silahkan penggal kepala saya bila anda merasa tidak nyaman akan kehadiran saya...," senyuman di bibirnya tidak menghilang, bahkan tidak ada jejak ketakutan yang dia perlihatkan.


Rigel tahu bahwa dia bukan orang biasa, mengingat memiliki kesediaan yang cukup baik. Menawarkan nyawanya sendiri layaknya barang tak berguna tanpa keraguan..., dia cukup mengerikan.


"Kalau begitu, mohon ikut saya menuju tempat yang sedikit lebih baik dari luar."


Dia menepuk tangannya dua kali, muncul dua petualang wanita yang terlihat canggung dan terkesima akan perjumpaan dengan Pahlawan.


"Ba-baiklah tuan Pahlawan, Nona Natalia. Silahkan ikuti kami..." memberikan hormat kepadanya, mereka mengantarkannya ke sebuah ruangan yang telah disediakan.


Menatap interior tempat ini, dia mengagumi seni dan selera yang dimiliki Evankhell cukup bagus. Dalamnya membawakan kehangatan samar, kenyamanan dan perdamaian dalam diri.


Menyadari bahwa Rigel menyukai interior kastilnya, Evankhell tersenyum lembut selagi menatap punggungnya dan mengagumi keagungannya. Air mata nyaris kembali jatuh, saking banyaknya rasa syukur yang dia miliki, saking ingin dirinya menangis sedu.


Rigel mengambil kursi yang disediakan, sementara Natalia seperti biasa lebih memilih berdiri di sisinya. Evankhell duduk di tempat yang berlawanan dengannya selagi dua petualang wanita yang mengantarkan berdiri di pojokan.


Sesuatu tentang mengapa hanya ada para petualang membuatnya tertarik, namun tujuannya kemari bukan untuk membahas hal itu.


"Silahkan nikmati keramahtamahan kami, Pahlawan yang agung. Bila ada sesuatu yang anda inginkan, mohon katakan saja pada saya, selama itu sesuatu yang berada dalam genggaman, maka akan saya wujudkan. Entah itu senjata, armor, bahkan jika itu wanita, dua orang petualang di sana boleh jadi bagus," dia menawarkan hal yang tidak diperlukan dan membuat kedua gadis itu merona.


Reaksinya hanya biasa saja, tidak sedikitpun terdapat perubahan dari caranya menatap, bertindak ataupun bernafas. Rigel benar-benar tidak tertarik dengan penawarannya, justru dia tahu niat Evankhell yang tersembunyi.


"Dirimu cukup lancang untuk mengujiku, yea..., apa yang kau dapatkan dari hal tolol semacam itu??"


Rigel mulai mengerti mengapa orang ini dapat mengungkapkan banyak hal dari lawan bicaranya. Mungkin pilihan tepat untuk tidak mengirimkan Asoka atau Pahlawan lain. Mungkin secara tidak langsung, Evankhell dapat mengungkapnya dengan hanya menyinggung sedikit persoalan.


"Maafkan saya, Pahlawan yang agung. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk melakukan hal-hal ini, demi mengetahui seperti apa lawan bicara saya...," tukasnya, membungkuk meminta maaf.


Natalia yang berada di belakangnya menatap Evankhell secara samar dan dirinya mulai berkeringat dingin akan sesuatu.


Kumohon, jangan bertindak berlebihan, Evankhell. Jika masih menyayangi nyawa dan organisasi milikmu, hentikan kelakuan konyol ini..., perangainya, namun tidak berniat mengatakan secara langsung.


"Lalu, hal apa yang engkau dapatkan dari ini??" Rigel merentangkan tangannya dan bersandar, menyilangkan kaki dan bertindak selayaknya mafia.


"Saya mendapati bahwa anda benar-benar dalam suasana hati yang buruk. Anda tidak mudah untuk dikelabui, bukan seorang pemabuk dan tidak bermain-main dengan wanita, melirik pun tidak. Lalu yang terpenting, anda bukan sosok yang dapat saya pahami dengan begitu mudahnya."


Ucapannya tidak menaruh dendam atau apapun, ucapannya sendiri seakan tak bertulang, seringan bulu. Berhasil mendapatkan informasi yang tidak Rigel ungkapkan, dia memang hebat.


"Biar aku tebak. Kamu sengaja menaruh makanan dan anggur tanpa aku minta dan melihat bagaimana aku bertindak. Jika mengambilnya, maka secara tidak langsung menunjukkan bahwa aku menyukai Alkohol."


Namun jika dia tidak mengambilnya, maka menunjukkan bahwa dia tidak memiliki ketertarikan kepada alkohol.


Tidak sulit menghindari sesuatu semacam ini. Cukuplah dengan menjaga gerak-gerik dan perkataannya, barangkali itu sesuatu untuk menjebak.


"Sebaiknya kau hentikan hal itu sebelum memancing singa keluar dari sarang. Kau seharusnya tahu tujuanku kemari, jadi tanyakanlah hal yang ingin kau tanyakan."


Langsung pada poin pentingnya, itu yang sedang coba dia tekankan kepada Evankhell. Evankhell juga memahami maksudnya dan menyadari bahwa akan buruk jika dia melanjutkan kebiasaannya.


"Mengenai kasus raid malapetaka, seringkali kami tertinggi informasi bahwa Pahlawan telah bergerak tanpa sepengetahuan kami. Sehingga tidak ada tempat bagi kami ikut berpartisipasi selain Tortoise. Namun kali ini, berkat kemunculan Acnologia yang membeberkan informasi raid Pahlawan, kami dapat mengetahui tindakan kalian. Pertanyaan saya, mengapa anda tidak mengumumkan pemberitahuan mengenai raid sama sekali? Mengapa tidak sekalipun kami mendapat permintaan untuk melakukan raid bersama para Pahlawan??"


Nadanya terdengar dingin, namun tidak ada niat permusuhan darinya. Rigel hanya merasakan bahwa Evankhell nampak kecewa, mungkin karena tidak sekalipun berpartisipasi dalam raid malapetaka.


"Anggaplah begini, seratus petualang milikmu, melawan aku yang hanya seorang diri, pikirmu siapa yang akan menang? apa mereka memiliki kesempatan menang??"


Pertanyaannya terdengar konyol, namun dari pertanyaan ini penjelasan akan lebih mudah didapatkan ketimbang menjelaskannya. Dia hanya tidak ingin repot-repot saja. Tentunya, jawaban yang ada tidak lagi diragukan.


"Tentunya anda yang akan memang. Tidak ada sedikitpun kesempatan bagi mereka. Bahkan jika anda terluka parah, tidak ada kesempatan sama sekali."


Bahkan jika dia memiliki luka parah yang tidak bisa bergerak bebas, dia masih dapat membunuh seratus orang tanpa bergerak dari tempat.


"Namun bagaimana bila ada seratus orang sepertimu ataupun Natalia yang kuhadapi saat terluka parah? Tentunya akan ada kesempatan besar mengalahkanku. Sama halnya dengan raid. Membawa sekumpulan orang tidak berguna tidak akan mengubah apapun, selain membuat mereka menuju kematian. Namun lain cerita bila itu orang-orang elite yang seperti kalian."


"Alasanku tidak mengajakmu dan semacamnya, karena aku baru mengetahui keberadaan Adventure Asosiasi. Aku tahu bahwa mereka memiliki pusat pemerintahan, namun aku tidak pernah tahu keberadaannya dan tidak pernah perduli."


Dia baru mengetahui keberadaan Adventure Asosiasi, lagipula dia tidak mencaritahu atau sejenisnya. Selain itu Rigel tidak pernah mengurus masalah yang tidak berhubungan dengannya sedikitpun.


"Begitu, nampaknya memang kesalahan dipihak saya karena tidak mencoba menghubungi anda semenjak awal. Saya dapat mengerti alasan anda hanya diam saja mengenai raid yang anda sekalian para Pahlawan. Namun dalam kasus ini, bisakah kami berpartisipasi?? Saya berjanji hanya akan membawa mereka yang elite dan berada di atas petualang lain saja."


Tidak buruk untuk menambahkan jumlah kekuatan tempur yang ada. Belum lagi, sosok seperti ketua Asosiasi yang menawarkan langsung bantuannya beserta petualang elite di seluruh negeri.


Selama mereka bukan orang idiot yang bertindak gegabah demi reputasi belaka dan menjadi publik figure, maka sebaiknya kirim kembali mereka ke neraka.


"Selama mereka orang kompeten dan tidak bersikap tolol demi kekayaan dan popularitas belaka, maka akan kubiarkan. Jika tidak ada yang diperlukan lagi, aku akan pergi ke tempat lain. Bila memang ada, kuserahkan Natalia yang mengurusnya."


"Tentunya ada begitu banyak pertanyaan yang tertera dalam kepala saya. Namun, sepertinya harus dicukupkan dengan ini saja."


Dia sendiri sangat menyadari, bila tetap mengajukan pertanyaan maka dia hanya akan membiarkan Natalia yang mengambil alih.


Bagi Evankhell, Rigel sama halnya dengan Natalia yang sulit untuk mengorek informasi dari tindakannya. Alasannya karena Natalia sangat menjunjung formalitas dan begitu lihai perihal pembicaraan yang dapat menjebak. Mengingat dia seorang politikus dari keluarga Ainsworth, bangsawan besar di Britannia yang terkenal ke penjuru negeri.


"Kalau begitu, aku pamit. Kuserahkan yang di sini kepadamu, Natalia."


Tanpa menginterupsi, Natalia mengangguk dan memberikan bungkuk hormat sebelum akhirnya Rigel menghilang dari pandangan mereka, lenyap seutuhnya.


Malam dengan cepat tiba, matahari silih berganti dan bulan mengambil tugasnya untuk menyinari langit.


Dia hanya memandang bulan dalam diam, sesuatu terus membakar hatinya. Dengan memandang bulan, ketenangan sesaat dia dapat, selagi menunggu gadis itu menyelesaikan persiapannya.


Entah kapan terakhir kali dia memikirkan ini, namun semenjak datang ke dunia baru..., kepribadiannya benar-benar berbeda dengan dia yang sebelumnya. Jika ini dirinya yang dulu, jangankan membunuh, melihat darah sudah membuat kepala pusing. Namun sekarang justru tidak ada perasaan atau apapun yang dirasa.


Bahkan ketika dia membunuh manusia, tidak ada penyesalan ataupun kegelisahan. Sikapnya hanya apatis dan benar-benar menganggap membunuh orang bukan sesuatu yang penting.


"Orang-orang akan mati, ketika mereka merindukan penciptanya...," gumamnya secara tidak sadar. Dia sendiri tidak tahu mengapa hal itu terlintas di benaknya, namun, yeah, biarlah.


"Kata-kata bagus, mungkin hal itu memang terjadi ketika seseorang merindukan orang yang menciptakannya," saut seorang gadis yang berjalan menghampirinya dengan kaki telanjangnya.


Tanpa perlu bersusah payah mencari siapa yang bicara, dialah Sylph yang bicara. Rigel menatapnya, menemukan Sylph telah mengganti penampilannya dengan pakaian minim bahan berwarna ungu cerah. Pakaiannya nampak terlalu terbuka, mengekspos bagian bahu putih seputih salju.


Terpapar oleh sinar bulan, rambutnya terombang-ambing angin yang bertiup. Kian dilihat, kian cantik dirinya. Dia nampak menantikan sesuatu seperti ucapan dari pria di depannya. Namun—


"Begitu, kah?"


—tidak ada pujian apapun terucap dari mulutnya sebagai lawan jenis. Keterkejutan pun tidak, hanya wajah datar yang nampak membosankan. Dia tentu sedikit kecewa, namun tidak dapat berbuat apa-apa.


"Yea..., belakangan ini aku mengingat orang yang melahirkan para roh, menciptakan pohon roh dan juga diriku sebagai peri berwujud pertama. Mungkinkah aku merindukannya??" dia mulai cekikikan akan sesuatu.


Orang yang menciptakannya—Dewa yang menciptakannya. Mungkin hal itu yang dimaksud Sylph. Terdengar konyol, namun Rigel tidak meragukan eksistensi itu, mengingat dia pernah menjumpai secara langsung.


"Jangan melantur, para peri kecil itu akan bersedih ketika mendengarnya," tegurnya selagi melirik ke hutan dalam. "Jadi, haruskah mulai sekarang? Sebagai malam terakhir kita melakukannya."


Dengan lembut mengangguk dan berjalan di belakang Rigel tanpa bersuara menuju pondok kecil. Rigel hendak melepaskan pakaiannya dan mempersilahkan Sylph berbaring, namun tidak terduga Sylph jatuh ke dalam pelukannya dan mendorongnya duduk di kasur.


"Apa yang kau lakukan??" tanyanya tidak mengerti akan tindakan absurd yang dilakukan Sylph.


Tanpa mengeluarkan suara yang berarti, Sylph mendorong maju wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan. Dia lekas duduk di pangkuan Rigel dengan pakaiannya yang minim dan terlihat kurang bahan.


"..., izinkan aku..., yang memulainya dan melakukannya... Cukupkan dirimu berbaring dan merasakannya." tukasnya, menatap langsung mata Rigel dengan malu dan mendorongnya berbaring di kasur. Memulai malam terakhir yang perlu mereka lakukan.