
Kesadarannya yang terbang kembali ditarik kepada kenyataan. Dirinya membuka mata, nafas terengah-engah, tubuh memanas dan berkeringat karenanya. Dia mengingat jelas apa yang dia lalui sebelumnya, namun sangat disayangkan tidak dapat mendengar pesan terakhir yang disebutkan.
Rigel menatap sekitar, menemukan puluhan tatapan menatap baliknya. Tidak perlu lagi dipertanyakan, dua yang paling mencolok adalah Undine dan Sylph, sebagai dua tokoh peri yang berwujud manusia. Tentunya mungkin ada tokoh lain, namun dia hanya belum melihatnya.
Puluhan tatapan lainnya berasal dari para cahaya dan monster roh baik hati yang menunggu kembalinya dia dari dalam kristal yang menempel pada pohon roh.
Dia kembali menatap pohon itu. Cukup terkejut mengingat dia belum lama ini berbicara dengan sebuah pohon keramat yang berusia ribuan tahun lebih. Lantas, nampak seperti sebuah keajaiban yang tidak diduga.
"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana hasilnya?" tanya Sylph, mendekati Rigel dengan sedikit kekhawatiran dan kegelisahan.
Dilain sisi, Undine hanya menatap penuh arti dan tidak mengambil langkah sedikitpun, sama halnya peri dan monster roh lainnya. Mereka seakan menyadari, terdapat tempat dimana mereka tidak dapat campur tangan terhadap apapun.
"Yea..., entah bagaimana aku berhasil mendapatkan lambang aneh di dada dan juga..., aku bertemu sosok bocah yang mengakui diri sebagai pohon roh..." dia menjawab selagi mengatur ritme pernafasannya yang sangat berantakan.
Secara perlahan oksigen kembali memenuhi tubuhnya dan memulihkan keadaannya yang menderita sebelumnya. Mungkin ketika dia memasuki alam bawah sadar melalui kristal itu, tanpa sadar tubuhnya lupa bernafas. Tidak ada asupan oksigen yang seharusnya dikirimkan hidung menuju paru-paru akan membuatnya sulit bernafas dan merasa pusing.
"Meski keadaanmu nampak sedikit menderita, namun itu menjadi kabar baik bila tidak ada kontra apapun dari pohon roh. Dengan begini, hanya tersisa satu hal yang harus dilakukan selama tujuh malam, untuk membuatmu mendapat otoritas sebagai Raja peri."
Jika bukan karena gelar yang tidak dia inginkan ini, tidak perlu repot-repot melakukan sesuatu seperti ini. Terutama pernikahan. Usianya sendiri baru awal menginjak kepala dua, lantas dia sudah memiliki istri yang tidak berlebihan dijunjung sebagai 'tercantik di dunia'.
"Sejauh ini, selain aku. Hanya Undine, Priscilla dan engkau yang telah melihat sosok sejatinya yang jauh berada di atasku..." ujarnya dengan lembut dan kasih sayang.
Apa kau serius berpikir seperti itu? pikir Rigel. Dia tidak mendapati bagian apapun dari pohon roh yang nengungguli Sylph dalam segala hal. Memang, mungkin dari segi kekuatan, pohon roh berada di puncak.
Namun jika hal itu berkaitan langsung dengan sisi kewanitaan, perbandingan mereka sendiri bagai langit dan bumi.
"Terserahlah, aku tidak tertarik apapun tentangnya. Sekarang, adakah hal lain yang harus dilakukan??" jika ada, maka sebaiknya diselesaikan dengan cepat.
Sebagai tokoh terpenting dalam penaklukan yang akan datang, diperlukan kondisi super sempurna yang lama tak dia rasakan. Mengapa demikian? lantaran rantai masalah selalu datang dan menghantam berkali-kali, sampai entah berapa kali dia berpikir untuk lari.
Batinnya seakan dikoyak oleh tangan tak terlihat, tubuhnya sakit seakan ada jarum keluar dari organ tubuhnya. Dalam penaklukan yang akan datang, semua hal macam itu patut disingkirkan.
Penaklukan selanjutnya tidak mudah, lawannya sendiri patut dipanggil bencana. Tidak hanya monster malapetaka Naga, namun dia diharuskan menghadapi seluruh rasnya yang berada di bawah kaki tangannya. Karena itu, kondisi keemasan akan jadi tujuan utama yang perlu dicapai para Pahlawan.
Entah bagaimana dia memiliki pemikiran akan tidur dengan nyenyak selama satu minggu yang ada. Sebagai syarat untuk membagi otoritas pemimpin hutan Roh, dia dan Sylph diwajibkan melakukan hubungan intim selama tujuh malam tanpa penundaan.
Dia sendiri masih tidak percaya akan syarat konyol itu, namun sangat tidak mungkin bagi Sylph untuk berbohong hanya untuk memberikan kepuasannya sendiri.
"Itu masalah nanti. Karena semua sudah selesai, aku akan pergi ke tempat lain untuk melakukan beberapa pengaturan. Tentu, aku akan kembali ke sini saat malam tiba..."
Rigel merapihkan dirinya, memulai persiapan untuk meninggalkan hutan peri dan mengurus beberapa hal yang terbilang cukup penting untuk dilakukan.
Sesaat hendak berteleportasi, tatapan yang begitu menyilaukan muncul dari para peri kecil dan monster roh yang seakan memohon untuknya menetap di tempat ini sedikit lebih lama.
Bagi mereka, mungkin ini menjadi kali pertamanya memiliki raja. Wajar bila mereka merasa sangat bersukacita dan ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan raja mereka.
Namun sungguh disayangkan. Raja mereka bukan sosok yang memiliki banyak waktu senggang. Dia seorang Pahlawan, manusia yang menanggung nyawa manusia lain di pundak. Tujuannya bertarung bukanlah untuk menyelamatkan dunia, namun membentuk suaka kepada mereka yang membangun hubungan dengannya.
Entah itu teman, kenalan, sahabat, kekasih, budak. Semuanya itu ditujukan untuk membangun tempat dimana tidak ada perbedaan ras, tempat dimana mereka merangkul tanpa perbedaan.
Namun untuk menuju Valhalla semacam itu, bayaran dan perjuangan yang harus dilaluinya buka lah sesuatu semudah membalikkan telapak tangan. Dimulai dari duri, paku, pecahan kaca hingga akhirnya sehelai rambut dibagi tujuh. Perjalanan yang harus dilalui semakin sulit seiring berputarnya roda takdir.
"Maaf, tapi tidak ada pesta untuk kali ini. Mungkin lain kali, aku akan membuatnya menjadi semeriah mungkin..." meninggalkan kata-katanya kepada para peri yang memohon, Rigel dengan sedikit bermasalah pergi ke suatu tempat dimana keperluannya berada.
"Jadi, Yang mulia Ratu. Hal apa yang membawa anda menjadikannya sebagai pasangan?" seling beberapa waktu setelah Rigel lenyap dari hutan roh, Undine akhirnya menanyakan hak yang sudah dia tahan sejak awal.
Sylph juga menyadarinya, namun tetap dia sampai akhir. Bibirnya tersenyum lembut, seakan tidak pernah lelah untuk tersenyum dalan hari-hari membosankan.
"Entah bagaimana, dirinya memiliki daya tarik misterius yang memikatku begitu pertama kali jumpa. Tentunya aku tidak asal melakukan tindakan ini semata-mata karena keegoisan. Mungkin kau sudah mengetahuinya, Undine. Saat dimana Raja terlahir adalah suatu masa ketika Ratu bisa lenyap kapanpun..." sebuah kata yang membuat orang khawatir, namun diucapkan dengan begitu mudahnya.
Undine sedikit bersedih, dia tahu apa yang dimaksud ratunya. Jika memang terdapat keadaan seperti itu, mengapa tidak menghindarinya saja? Jelas tidak bisa. Segala sesuatu yang sudah semestinya ditentukan tidak akan dapat dirubah, entah seberapa keras mencoba.
"Saya tidak bisa membertahu apapun lagi. Namun..., semoga tidak ada musibah atau malapetaka yang terjadi. Saya berharap anda mendapatkan sangat banyak kebahagiaan bersama pria itu..." Undine mengucapkannya dengan tulus diiringi nada kesedihan.