The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Kelahiran Region



Memberikan Like sebelum membaca tidak akan membuat Rugi...


____________________________________________


Setelah pergi menemui Tirith, Rigel kembali ke pulau Yurazania dan mengabarkan semua orang bahwa Walther beserta penghuni kediaman Ainsworth baik-baik saja. Merial menghela nafas lega setelah mengetahui ayahnya baik-baik saja.


"Bagaimana keadaan di sini...??"


Cold yang baru terlihat melangkah maju ke depan Rigel dan menjelaskan situasinya.


"Semua baik-baik saja, pembersihan monster telah selesai dan sekarang semua orang bisa pergi ke luar dengan aman. Lalu, untuk pembangunan bangunan yang hancur telah hampir selesai, bahkan Istana dengan cepat sudah di pulihkan. Yang tersisa mungkin hanya penobatan Raja."


"Begitu, kerja bagus..."


Rigel dengan malas menepuk bahu Cold dan berjalan pergi menjauhi semua orang. Matanya tidak lagi memancarkan cahaya, seakan sudah tidak ada keinginan untuk melihat hari esok hari.


"Rigel, apakah sesuatu terja—"


Cold di hentikan oleh Ray yang menepuk bahunya dan menandakan untuk membiarkan Rigel sendiri saat ini.


"Yang tuan Rigel butuhkan saat ini adalah waktu untuk menenangkan fikirannya..."


Cold tidak dapat membantu, dia hanya bisa menatap punggung Rigel yang semakin menjauh dengan sedih. Hanya Merial dan Ray yang mengetahui apa yang terjadi kepada Rigel.


"Jika saja aku bisa melakukan sesuatu..." Gumam Ray dengan sedih.


"Ya... bahkan dari mataku, tuan Rigel terlalu banyak berkorban dan berjuang..." Merial pun setuju dengan Ray.


Tidak hanya mereka, Orang-orang yang berada di sini menatap Rigel yang berjalan menuju ke dalam hutan dengan sedih. Bahkan tanpa perlu mengetahui apa yang terjadi, mereka bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Rigel. Di tengah kerumunan orang-orang, kepala gadis kecil keluar dari sana dan melihat Rigel.


"Emm..?? Bukankah itu kak Rigel...?? kenapa dia terlihat sedih...??" Gumam Riri dengan bingung.


Karena Riri masih sangat kecil dan polos, dia tidak dapat membaca suasana hati di sekitarnya. Riri mengendap-endap mengikuti Rigel yang pergi ke dalam hutan di tengah malam begini.


Setelah beberapa lama menyusuri hutan dan mendaki cukup jauh ke atas gunung, Rigel tiba di sebuah tebing dengan pemandangan lautan dan langit yang indah. Rigel duduk di batu yang berada di tepi tebing dan menatap langit luas yang indah. Bulan terlihat lebih besar dari sini dan sinarnya memantul di lautan sehingga menjadi pemandangan yang sayang untuk di lewatkan.


Rigel hanya diam menatap pemandangan indah yang ada di depannya. Dia sedang berusaha merapihkan kembali pikirannya yang kacau dan hatinya yang tak tenang. Rigel mengambil serpihan batu merah muda dari infertory miliknya dan menggenggamnya di tangan kanannya.


"Aku mencampakkanmu untuk dia dan kini dia mencampakkanku... Hahahaha, ini sungguh ironis, benar kan, Priscilla..."


Batu jiwa Priscilla berkedip beberapa kali seolah dia menyerukan keluhannya tentang mengapa Rigel tidak memilihnya. Misal, jika Rigel tidak mencintai Tirith pada saat itu, dia mungkin akan lebih memilih tinggal di Labyrint neraka bersama Priscilla dan yang lainnya. Nasi sudah menjadi bubur, Rigel tidak dapat merubah apapun meski dia menyesalinya sekarang.


Rigel hanya bisa tersenyum saat melihat inti jiwa Priscilla terus berkedip entah itu mengejek atau sedang menghibur Rigel.


"Huh, Huh, Huh... Akhirnya ketemu juga, kak Rigel..."


Tidak jauh di belakang Rigel, seorang gadis kecil yang terengah-engah keluar dari dalam hutan. Gadis itu adalah Riri, sepertinya dia mengikuti Rigel sampai kesini. Sungguh gadis kecil yang tangguh, dia bahkan tidak takut dengan serangan monster.


"Apa yang kau lakukan di sini, Riri??"


Rigel menatap Riri yang berjalan ke arahnya dengan sangat kelelahan dan duduk di samping Rigel.


"Aku— aku—"


"Aturlah nafasmu terlebih dahulu dan bicaralah."


Rigel tersenyum kepada Riri yang sangat kelelahan. Rigel menciptakan sebuah gelas dan mengisinya dengan air untuk Riri minum. Wajar saja dia kelelahan karena tempat ini cukup jauh dari tempat yang lainnya berada. Riri meminum air yang di berikan Rigel dengan cepat dan mulai berbicara.


"Huh~, Terima kasih untuk airnya kak Rigel."


"Jadi, apa yang membuatmu mengikutiku sampai ke sini...??"


"Ah benar juga... Aku mengikutimu untuk berterima kasih... Aku tidak pernah mendapatkan waktu untuk berterima kasih kepadamu karena kau selalu tampak sibuk..."


Rigel mengangkat alisnya karena terkejut. Riri mengikutinya sampai sejauh ini hanya untuk mengucapkan Terima kasih. Seharusnya dia bisa menunggu esok hari. Setelah mengat7r batasnya, Riri berdiri dan membungkuk hormat kepada Rigel.


"Terima kasih karena telah mengalahkan monster jahat sehingga aku dan anak-anak lainnya dapat melihat dunia luar, Kak Rigel... ibuku berkata jika aku harus membungkuk seperti ini jika ingin berterima kasih padamu..."


Riri membusungkan dadanya dengan bangga dan hal itu sedikit menghibur Rigel yang sedang kacau.


"Kau anak pintar Riri..."


Rigel mengelus kepala dan telinga hewan Riri dan itu nampaknya membuat Riri senang. Riri menatap wajah Rigel, dia menyadari jika wajahnya tidak sama seperti biasanya.


"Kak Rigel, kenapa kau terlihat sedih...??"


Meski masih tidak bisa membaca suasana, namun Riri setidaknya masih bisa membaca ekspresi wajah. Rigel tidak bisa berbohong kepada anak kecil seperti Riri.


"Ketahuan ya..."


Rigel hanya mengatakan sebatas itu dan tidak berniat memberitahu Riri apa yang membuatnya sedih. Riri hanya diam dan duduk dengan tenang di samping Rigel.


"Ibuku berkata tidak baik mencampuri urusan orang lain, tetapi dia juga bilang kalau aku tidak boleh membiarkan seseorang yang sedang sedih sendirian dan aku harus menghiburnya..."


"Bahkan hanya dengan mengatakan itu, kau sudah sedikit menghiburku, Riri..."


Rigel tersenyum kepada Riri dan kembali menatap pemandangan indah yang ada di depannya. Lalu, Riri perlahan bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di depan Rigel.


"Yosh, Yosh... Semuanya akan baik-baik saja kok..."


"Apa yang sedang kau lakukan, Riri...??" Tanya Rigel dengan bingung.


"Ayah dan ibuku selalu mengusap kepalaku seperti ini di saat aku merasakan sedih dan itu membuatku tidak merasakan sedih lagi."


Hal yang di lakukan Riri kepada Rigel adalah mengusap kepala Rigel seperti anak kecil. Jika orang lain melihat, mungkin Riri akan terlihat seperti gadis yang tidak sopan, namun bagi Rigel, ini adalah bentuk keperdulian dari gadis kecil kepadanya.


"Aku tidak tahu dan tidak ingin mengetahui apa yang membuat kak Rigel sedih, namun kak Rigel adalah pahlawan yang kuat seperti dalam dongeng...!! jadi kak Rigel pasti tidak akan menyerah pada apapun...!! kak Rigel bahkan bisa mengalahkan monster yang sangaaaaattt besar itu yang bahkan paman Fang tidak bisa mengalahkannya... Lalu, lalu..."


Riri terus menceritakan seluruh kisahnya tentang kekagumannya terhadap apa yang di lakukan Rigel semenjak datang ke sini. Rigel tetap diam dan mendengarkan cerita Riri sambil tersenyum senang sampai akhirnya Riri kelelahan dan tertidur di batu besar yang berada di dekatnya.


Rigel menutupi tubuh Riri dengan selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Rigel memegang wajahnya dengan tangan kanannya dan...


"Hahahaha, tidak kusangka jika aku akan di hibur oleh gadis kecil sepertinya... ini sangat memalukan, benar kan Priscilla...??"


Inti jiwa Priscilla berkedip seolah setuju dengan hal yang baru saja di katakan Rigel.


"Ahhh~ ini mungkin akan jadi ke dua kalinya aku bangkit kembali ya... Pertama Rigel yang lemah, lalu Rigel yang naif dan bodoh, lalu sekarang akan menjadi Rigel yang seperti apa...?? Hahahaha, memikirkannya saja membuatku berdebar."


Semua beban yang berada di pundak Rigel telah menghilang semua. Lupakan hal yang telah berlalu, saat ini, dia memiliki tanggung jawab untuk membangkitkan kembali negara Yurazania. Melihat Riri yang tertidur lelap, Rigel telah membulatkan tekadnya bahwa dia akan membangun sebuah tempat yang nyaman dan aman untuk di tinggali.


"Persetan sudah dengan gadis itu, Ragnarok atau apapun itu... aku hanya akan membangun tempat yang indah untuk hidup bersama teman-temanku..."


***


"T-tuan pahlawan, maaf jika anak kami merepotkanmu, kami berjanji akan mendidiknya dengan benar...!!!"


Rigel telah kembali ke tempat semua orang berada dengan Riri yang tertidur pulas di pundak Rigel. Setibanya di sana, Rigel di sambut dengan orang tua Riri yang nampaknya sangat takut jika anak mereka membuat kesalahan kepada seorang pahlawan. Rigel dengan ramah menyerahkan Riri kepada ayahnya untuk di bawa ke rumahnya.


"Tenang saja, Riri adalah anak baik yang selalu menuruti kata-kata ayah dan ibunya. Jadi tolong jangan terlalu keras kepadanya..."Ujar Rigel, tersenyum kepada orang tua Riri.


Melihat Rigel yang tidak merasa kesal atau apapun, orang tua Riri tertegun dan memberi hormat selagi tersenyum ramah lalu pergi ke rumah mereka. Seperti yang di katakan Cold, bangunan yang hancur hampir di pulihkan, meskipun itu hanya di satu kota. Rigel meminta mereka untuk memperbaiki daerah ibukota dan bagian dalam istana saja, untuk tempat lainnya masih cukup parah. Setidaknya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk seluruh wilayah Yurazania pulih total, namun tergantung pada seberapa banyak orang yang akan membantu.


Rigel pergi ke tempat Cold dan yang lainnya berada setelah dia menyerahkan Riri kepada orang tuanya. Disana, nampaknya semua orang sedang berkumpul, termasuk Fang dan beberapa perwakilan dari sisa-sisa kerajaan Yurazania.


"Rigel... apakah, kau sudah baik-baik saja...??"Tanya Cold, dengan khawatir.


"Ya, tidak ada masalah... aku Baik-baik saja..." Jawab Rigel, tersenyum ramah kepada semua orang yang ada.


Ray, Merial, Cold, Misa dan Nisa menghela nafas lega dan membalas senyuman Rigel.


"Mari kita bahas mengenai penobatan Raja... Cold, karena aku memintamu berpartisipasi dalam pemilihan kaisar surgawi, maka kau yang akan jadi Raja di negri ini... Pimpinlah mereka dengan baik."


Melihat Rigel yang tampak tegas di bandingkan biasanya, tidak hanya Cold. Tetapi semua orang yang berada di tempat merasa tegang dengan kharisma yang tidak biasanya Rigel miliki. Cold menegakan badannya dan berkata dengan tegas...


"Ya!!"


Rigel mengangguk dan dengan cepat memberikan instruksi kepada yang lainnya.


"Merial, Ray, aku ingin kalian menyebarkan kabar bahwa tidak lama lagi Yurazania akan bangkit kembali menjadi kerajaan. Dengan koneksi dagang keluarga Ainsworth ini pasti bukanlah hal yang sulit. Lalu, aku ingin penobatan Cold di tampilkan ke penjuru negara."


"Baik... keinginanmu adalah perintah untukku..." 2x. Ujar Merial dan Ray secara bersamaan.


"Lalu untuk Misa, Nisa dan Fang beserta perwakilan lainnya, aku ingin kalian menangkap setiap orang yang bertingkah mencurigakan secara diam-diam..."


"Baik...!!"


"Maaf menyela, Tuan pahlawan... Bisakah aku mengatakan sesuatu??" Tanya Fang.


"Silahkan..."Jawab Rigel.


"Kupikir akan lebih baik jika kita mengganti nama kerajaan ini dan membuatnya menjadi sebuah kerajaan baru. Era Yurazania telah lama berakhir dan Era baru akan di mulai dibawah kekuasaan tuan muda Asoka yang di bantu dengan tuan Pahlawan Creator. Aku yakin tuan muda Asoka juga berfikir sama sepertiku...'Ujar Fang, kembali menunduk dan tersenyum kepada Cold dan Rigel dengan lembut.


Cold pun tersenyum kepada Fang dan setuju dengan gagasannya.


"Seperti yang di katakan komandan Fang, kerajaan Yurazania telah berakhir di bawah pemerintahan ayahku dan aku ingin membangun kerajaan baru agar aku bisa menyombongkan diriku saat di surga nanti..."


"Yah, kalau begitu baiklah... lalu, nama seperti apa yang kau akan berikan...??" Tanya Rigel.


Cold menatap Rigel dan tersenyum lalu berkata :


"Aku ingin jika kau yang memberikan nama kepada kerajaan ini."


"Ehh...?? apakah kau yakin...??"


Cold mengangguk tanpa keberatan, tidak hanya Cold. Tetapi semua orang yang ada juga setuju bahwa Rigel lah orang yang harus memberikan nama baru untuk kerajaan ini. Rigel tersenyum dan merasakan sedikit nostalgia di dalamnya.


"Kalau begitu aku punya satu nama yang mungkin cukup bagus..."


Sebuah tempat di mana semua orang dapat tertawa dan saling merangkul tanpa memperdulikan perbedaan Ras, gender atau kekurangan. sebuah tempat dimana semua orang yang berkumpul adalah keluarga.


"Bagaimana kalau... ****Region****..."