The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Satu Tujuan



Beberapa menit sebelum Rigel tiba di tempat kejadian, dia bersama Takumi dan Yuri berjalan tanpa arah yang jelas. Hanya mengandalkan instingnya saja, mereka tetap melangkah maju tanpa keraguan.


"Tetap saja, tempat ini terlihat mengerikan, ya. Tidak banyak yang bisa kita lihat selain kabut sejauh mata memandang."


Yuri mengamati sekelilingnya tanpa pernah mengendurkan penjagaannya. Bahkan saat ini dia tengah menarik anak panahnya, kalau saja terdapat monster atau White Tiger menyerang mereka.


Dia memang tidak perlu sekhawatir itu, namun bukan hal buruk untuk berwaspada terhadap kejadian buruk yang bisa datang kapanpun. Selain itu, dirinya juga mengkhawatirkan keselamatan Pahlawan lain, mengingat tempat ini adalah sarang tempatnya tinggal.


"Ya, dari yang kulihat, nampaknya tempat ini adalah Territory White Tiger. Mungkin aku bisa saja menghancurkannya, namun mengingat kalian berada di dalamnya, maka terlalu beresiko untuk melakukannya."


Bila ingin menghancurkan tempat ini, Rigel perlu menggunakan Territory yang jauh lebih kuat dari milik White Tiger. Tentunya World Of Void mungkin dapat menjadi solusi, namun dia tidak dapat melakukannya sembarangan. Dikarenakan Void akan menghapuskan apapun selain pengguna dan musuhnya. Bila ada hal lain selain dua hal itu, mereka akan secara otomatis terhapuskan dari dunia dan menuju kehampaan abadi.


Selain itu, entah untuk alasan apa, Rigel nampaknya tidak dapat menggunakan Territory di tempat ini. Bukan karena lebih kuat dari miliknya, tetapi tempat ini terasa berbeda dari Territory yang biasanya. Yah, entah bagaimana dia merasa tidak perduli terhadapnya. Lagipula kabut ini sendiri aneh, tidak bergerak sama sekali selayaknya dinding yang dapat ditembus.


"Aku berharap semuanya baik-baik saja."


Yang mereka bisa lakukan saat ini hanyalah berharap mengenai keselamatan yang lain. Merasa bahwa atmosfer perlahan berubah menjadi keheningan, Takumi berinisiatif untuk merubahnya ke arah lain demi mengurangi kecemasan Yuri.


"Yah, lebih dari itu, rasanya sudah sangat lama semenjak kita berjalan bersama seperti ini."


"Ya. Terakhir kali ini terjadi, mungkin ketika penaklukan Naga pertama kita yang hampir membuat kita benar-benar mati."


Banyak hal telah berubah dalam dua tahun lebih ini. Bagi mereka yang sekarang, menghadapi Naga tidak lagi membutuhkan banyak usaha, dikarenakan mereka bertambah kuat seiring dengan waktu.


"Ya, seandainya saja dia tidak berkhianat dan memilih menceritakan masalahnya, maka kita tetap akan bersama."


Yang dimaksud Yuri pastinya Takatsumi, bajingan keparat yang pada akhirnya berhasil dibunuh Rigel. Dia memang mengakuinya, jika saja Takatsumi mengambil jalan berbeda mereka mungkin dapat bersama. Yah, meski Rigel tidak pernah mengharapkan hal semacam itu terjadi.


Lagipula semua sudah berlalu jadi biarlah berlalu saja. Tidak perduli seberapa keras mereka berekspektasi, semua yang telah mati tidak akan pernah kembali.


"Ada banyak hal yang terjadi dalam tahun-tahun yang panjang ini, ya~."


Lantas mereka mendapatkan banyak sekali hal baru dalam tahun-tahun di dunia yang sama sekali tidak mereka kenal. Dimulai dari mempelajari baik-baik sistem dan hukum dunia, hingga akhirnya membunuh monster, menyelesaikan masalah dan diakhiri dengan perang Ragnarok yang entah datang atau tidak.


Dalam perjalanan menuju akhir mereka kehilangan rekan seperti Nanami dan Argo, meski Rigel tidak perduli kepada mereka. Dikarenakan ketidak bergunanya mereka. Yah, bila dia mengatakannya keras-keras, tidak akan mengejutkan bila dia mendapat tamparan di wajah.


"Aku tetap saja penasaran, apa kau benar-benar mendaki jurang selama satu tahun, Rigel?? Apakah ada sesuatu yang kau temukan disana sehingga mendapatkan kekuatan mengerikan itu??" ujar Takumi.


Tentunya bagi mereka yang mengenal Rigel dan tahu bagaimana dia mati akan bertanya-tanya tentang hal itu. Dia seharusnya telah kehilangan banyak darah dan tekanan akibat terjatuh dari jurang sudah cukup untuk membunuhnya. Namun kenyataannya, dalam waktu satu tahun ke depan dia muncul dengan spektakuler dan tidak lama setelahnya, dia membunuh Hydra. Membangun Negara dan membentuk tentara terkuat.


Dalam waktu satu tahun itu, Rigel pergi berlatih bersama Azartooth, menjelajahi neraka selama seratus tahun dan mendapatkan kekuatan Void diakhir perjalanannya. Tentunya dia tidak dilarang memberitahunya, namun atas inisiatifnya sendiri dia tidak ingin memberitahu apapun.


"Yah, aku tidak akan memaksamu menceritakannya, namun kuharap kau memberitahukannya padaku saat pertarungan akhir selesai."


"Terima kasih pengertian mu. Sekarang, mari fokus terhadap yang ada di depan kita."


Akhir yang di maksud Takumi kemungkinan besar Ragnarok. Entah apakah akan ada yang menghilang atau tidak, namun setidaknya Rigel berharap diantara Pahlawan, Takumi dan Yuri bertahan sampai akhir. Tentunya akan bagus bila semua bertahan sampai akhir, namun dia tidak akan memiliki harapan naif seperti itu. Pastinya akan ada kematian, mengingat mereka memiliki dua musuh dengan kekuatan gila.


"Emh?? Apa kalian melihat sesuatu di sana??"


Yuri menunjuk ke langit jauh dengan pengelihatan super tajamnya. Takumi menyipitkan matanya, namun tidak dapat melihat sesuatu yang dilihatnya, begitu pula Rigel. Mau tidak mau, dia harus menggunakan kemampuan mata kirinya untuk melihat ke jarak yang jauh.


Begitu melihatnya, dia terkejut akan yang dia lihat, "Itu..., tongkat Ozaru!!"


Hanya ada satu senjata di dunia ini yang dapat berubah menjadi sepanjang itu sampai mencapai langit. Tidak perlu bersusah payah mengkonfirmasi, hanya Ozaru yang memiliki senjata itu.


"Lantas tidak perlu kita membuang waktu lebih lama, ayo pergi!!"


Takumi berlari memimpin sementara Yuri menjaga garis belakang dengan hati-hati. Selagi menghampirinya Rigel dapat merasakan energi alam dalam jumlah yang benar-benar gila berkumpul di langit. Seandainya itu meledak di daratan, maka kekuatannya mungkin dua kali lebih kuat dari Nuklir.


"Bersiaplah!! Ledakan akan terjadi!!"


Mendengar peringatan Rigel, mereka berhenti berlari dan berpegang pada benda terdekat yang bisa mereka raih. Tidak lama setelahnya, gelombang angin kuat turun selayaknya meteor, menghempaskan segala sesuatu didekatnya.


Mereka berpegang kuat, lepas saja mereka terhempas dan terbawa oleh angin hasil ledakan kuat itu. Padahal ledakannya di langit, namun dampaknya sampai ke daratan utama. Jelas kekuatannya tidak dapat diremehkan, kemungkinan besar bila serangan itu berasal dari Ozaru yang melawan White Tiger. Dapat dipastikan bahwa White Tiger dilenyapkan dengan satu serangan itu. Namun, bila sebaliknya..., tidak, lebih baik tidak memikirkan hal semacam itu.


Tidak butuh waktu lama sampai gelombang ledakan berhenti dan mereka berlari menuju lokasi kejadian. Begitu mereka mendekati, sekilas Rigel melihat Natalia membopong Ozaru yang terkapar lemah di tanah dan membawanya pergi menggunakan gerbang Spatial.


Satu dari satu juta kemungkinan, tidak terduga Ozaru dikalahkan sampai seburuk itu. Lagi-lagi penilaiannya terhadap White Tiger berubah drastis, dikarenakan kekuatannya tidak hanya kuat, tapi menyusahkan dilain sisi.


"Sebagai mangsa, kalian tidak akan bisa melarikan diri dari predator!!"


Lantas ucapan White Tiger yang dalam wujud serupa dengan transformasi Garfiel membuat Rigel sedikit marah. Bukan karena dia mengalahkan Ozaru, namun itu karena dia nampak tidak memiliki luka apapun dari pertarungannya.


Baginya, White Tiger adalah hewan buruan yang harus dia buru. Alhasil Rigel akan menjadi predator ganas berdarah dingin yang memangsa apapun di hadapannya yang bukan sekutu.


Yuri dan Takumi mengambil sikap ofensif seketika White Tiger berbalik dan tidak menunjukkan celah sedikitpun. Dari tongkat besar dan tinggi yang berdiri tegak tidak jauh dari tempat mereka berada, jelas bahwa Ozaru nampak gagal melawannya. Bila dia yang memiliki ketangkasan luar biasa saja gagal, maka kemungkinan yang lain berhasil sangatlah sedikit.


"Mari kita mulai babak ketiganya!!"


Tanpa perlu baginya membuang waktu lebih lama, Rigel melontarkan Asura Punch dalam jumlah banyak. Yuri juga menembakan beberapa panah cahaya, sementara Takumi menunggu celah untuk menyerangnya.


White Tiger dengan lihai menghindarinya dan melesat menuju Rigel, namun dihadang Takumi di pertengahan.


"Mengganggu saja, manusia!!"


"Maka matilah bila tidak ingin mendapat gangguan!!"


Takumi memutar tombak secara vertikal dan mengirimkan Javelin Strike untuk mengusir White Tiger. Memanfaatkan jeda waktu yang ada, Rigel melompat masuk dan menendang kepalanya dengan dengkul, membuat White Tiger terhuyung mundur karena benturan keras.


Serangan semacam itu tidak akan pernah bisa membunuhnya. Mereka perlu serangan yang lebih destruktif lagi atau menemukan trik kecil dibalik keabadiannya.


Pada waktu itu, meski hanya seklias Rigel dapat mendengar suara detak jantung berasal dari dalam kabut. Awalnya dia berpikir itu bukanlah sesuatu yang penting namun bila dipikirkan lagi, hal itu menjadi sebuah kejanggalan. Belum lagi, saat dia seharusnya telah membunuh White Tiger di dalam World Of Void, namun nyatanya keparat itu masih hidup sampai saat ini.


Mungkin dia terlihat abadi, namun Void adalah salah satu anomali yang dapat menghancurkan keabadian. Jadi, sangat aneh bila White Tiger tidak mati karenanya. Dari hal itu pulalah Rigel mendapat kesimpulan bahwa White Tiger membelah diri atau membagi jiwanya menjadi beberapa bagian.


"Dua tikus melarikan diri dariku sebuah penghinaan, kayaknya. Namun kali ini tidak akan kubiarkan hal yang sama terjadi dua kali??"


Cakarnya mengeluarkan kilatan, sedetik kemudian sosoknya menghilang dan memotong udara dengan kecepatan cahaya. Menyadari sesuatu yang buruk akan mendekat, bersamaan dengan menghilangnya White Tiger dari garis pandang, Rigel menciptakan dinding Mana disekitar Takumi, Yuri dan dirinya sebagai pusat.


Benar saja, dinding Mana terkoyak dan terus terkoyak akibat benda tajam seperti cakar yang merobeknya. Kendati dia telat bereaksi bahkan hanya sedetik, kematian tidak terelakan. Dinding yang perlahan hancur, perlahan juga dipulihkan oleh Rigel. Lagipula dia tidak mengeluarkan apapun selain konsentrasi mengumpulkan Mana dan membentuk ulang dinding Mana. Hal itu menjadi salah satu kebanggaan Rigel dsri mempelajari Manipulasi Mana dan memiliki Skill Creator.


"Phoenix Wings!!"


Yuri yang diam-diam menyiapkan serangan, akhirnya menembakkan panah api yang entah bagaimana memiliki sayap dan berputar-putar, seakan mengikuti pergerakan White Tiger. Begitu dia berhenti bergerak, lantas panah itu meledak begitu menyentuhnya.


"Begitu, nampaknya bukan hayalan belaka bila manusia seperti kalian membunuh ayam goreng itu. Lantas menjadi fakta bila ular jelek dan besar pemalas itu telah tiada, kayaknya. Hanya tersisa aku dan kadal itu saja, ya."


Dari ucapannya sendiri sangat jelas bahwa dia tidak memiliki hubungan baik dengan malapetaka lain. Rigel penasaran dengan yang dimaksud besar pemalas, namun tidak salah lagi julukan itu merujuk pada Tortoise. Mengingat dia bergerak lambat dan selalu membawa rumahnya kemanapun dia pergi.


"Lalu?? Apakah kau ingin membalaskan dendam mereka??" ejek Takumi, selagi mengumpulkan kekuatannya.


"Heh! Mereka mati atas kelemahan dan kebodohan milik mereka sendiri. Lagipula siapa mereka?? Pengikutku saja bukan, jadi tidak ada alasan bagiku dendam akan kematian mereka."


Fakta bahwa mereka cukup bodoh untuk membenci satu sama lain dan tidak membentuk aliansi dapat disyukuri. Karena umat manusia tidak akan bisa bertahan bila dihadapkan oleh serangan malapetaka yang membentuk aliansi.


Yah, dia tidak berhak mengomentari itu. Lagipula ada bagian lain dari diri Rigel yang berpikir dia bisa melakukan apapun yang dia mau dan menaklukkan dunia ini karena dialah yang terkuat. Namun, jika Rigel memilih jalan semacam itu, dia khawatir akan membangkitkan death flag yang tidak diperlukan dalam prosesnya.


"Namun tetap saja mengejutkan, bila kalian bisa bertahan dan membunuh tiga monster dengan gelar sama sepertiku, malapetaka, kayaknya...,"


White Tiger mulai mengoceh terus menerus seakan tidak memperdulikan Rigel dan yang lain. Rigel tidak memiliki niat diam dan mendengarkan, karena itu waktu ini menjadi waktu yang cocok untuk membuat rencana mendesak.


"Takumi," Rigel mulai berbisik, "Jangan coba-coba menggunakan kutukan pemalas sembarangan. Gunakanlah ketika mendapat aba-aba dariku atau ketika keadaan berada pada kebuntuan. Bila saja situasi kebuntuan terjadi, gunakan kekuatan itu untuk lari sejauh mungkin."


Melarikan diri dari pertarungan bukanlah pengecut namanya. Selama mereka dapat kembali hidup-hidup, maka itu cukup disebut dengan sebuah kemenangan.


"Lalu Yuri, ketika aku menyiapkan serangan terkuat, kau juga kerahkan lah seluruh kekuatanmu untuk satu serangan penghabisan. Sama halnya dengan Takumi, aku akan memberikan instruksi khusus nanti kepadamu."


Mereka berdua sama-sama mengangguk terhadap perencanaan singkat Rigel. Mereka sama sekali tidak mempersalahkan apakah itu lari dari medan tempur atau bukan, selama tidak mengorbankan apapun maka tidak jadi masalah. Lantas yang dapat dipikirkan mereka adalah, tidak masalah melarikan diri dari pertempuran, namun tidak ada kata kabur dalam peperangan.


"...,Maka kalian benar-benar tidak diizinkan menghirup nafas lebih lama lagi. Sebelum menjadi penghalang lebih lanjut, sebaiknya kulenyapkan saja kalian di tempat ini, kayaknya."


Entah apa yang sejak awal dia ocehkan, Rigel tidak memperdulikannya sama sekali. Bahkan jika White Tiger mengajukan proposal bahwa dirinya akan menjadi budak Rigel, dia tetap tidak memperdulikannya. Karena tujuannya saat ini hanya satu, membunuh White Tiger.


"Kalau begitu kau tidak perlu banyak cakap lagi. Langsung saja kita saling membunuh."


"Sebagai manusia kau banyak omong dan terlalu percaya diri. Sikap itu termasuk dalam Sins of Pride, lantas akan kuajarkan arti neraka kepadamu."


Hah! rasanya sungguh menggelikan bila membicarakan neraka kepada sosok yang belum pernah mencoba seperti apa neraka itu sendiri.


"Aku memang tidak tahu seberapa luasnya langit, namun aku tahu seberapa dalam lautan, lebih dari apapun."


Yang artinya, Rigel sangat memahami seperti apa itu neraka dan rasanya jatuh ke dalam jurang terdalam keputus'asaan.