
POV AMATSUMI RIGEL.
Gelap, aku tidak dapat mendengar apapun. Aku juga tidak dapat merasakan apapun. Aku mencoba menggerakan tangan kananku, namun aku tidak dapat merasakannya. Aku mencoba pada anggota tubuh lainnya juga seperti kaki, mulut, badan dan yang lainnya.
Aku tetap tidak dapat merasakannya, bahkan suaraku tidak dapat keluar.
Aku merasa seperti sedang di selimuti oleh kegelapan abadi yang akan bertahan selamanya, apa ini?
Apakah aku sudah mati? Apakah aku bemar benar mati kali ini? Ahh~ jika begitu sanga disayangkan. Aku sudah susah payah untuk datang kesini dan hanya menemukan kematian.
Hmm? Ada sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh tubuhku. Aku tidak tahu benda apa ini, namun dari yang dapat kurasakan bentuknya seperti dua buah lingkaran yang lembut.
Lalu, tidak lama kemudian aku dapat mendengar sebuah suara erangan dari seorang gadis.
"Rigel."
Dia tampak menggumamkan namaku dan aku dapat melihat cahaya putih kecil yang perlahan membesar dan menyelimuti tubuhku.
Aku perlahan berhasil membuka mataku, nampaknya aku masih hidup. Layarku masih kabur dan buram sehingga butuh waktu beberapa menit untukku kembali melihat dengan jelas.
Saat ini, aku sedang berada di sebuah ruangan atau kamar lebih tepatnya. Kamarnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, dindingnya di hiasi dengan beberapa lukisan dan benda yang tampak seperti jam dinding.
Srsk!
Aku dapat merasakan sesuatu bergerak di dalam selimut yang ku kenakan, aku juga dapat merasakan benda bulat dan lembut yang kurasakan sebelumnya. Aku mencoba menyingkirkan benda itu yang kupikir pada awalnya hanyalah kantung air hangat atau semacamnya.
Boing.
Apa ini? Aku bingung dengan apa yang aku sentuh dengan tangan kananku.
"Hmm? Ini sangat halus dan sangat lembut."
Gumamku.
Aku terus memainkan benda ini sampai aku menoleh untuk melihat benda apa itu dan yang kutemukan adalah—
Wakil ketua, Anastasia yang wajahnya memerah.
Apa yang sedang dilakukannya di kamarku, dan juga dia telanjang bulat!
Saat di perhatikan lagi, bukan hanya dia yang tanpa busana. Aku juga tidak mengenakan apapun, bahkan celana dalamku tidak ada.
A-a-a-apak, kah mungkin a-a-ku!!
"Kyaaaa!!!!!"
Sebelum Anastasia sempat berteriak karena aku menyentuh dadanya, aku sudah mendahuluinya berteriak seperti seorang gadis perawan.
"Kenapa malah kau yang berteriak! Terlebih lagi seperti seorang gadis!"
Bentak Anastasia, wajahnya masih memerah.
"K-K-KAU! wakil ketua macam apa yang memperkosa pria saat tidak sadarkan diri!"
Rigel membentak balik.
"S-s-s-s-ssi-i-siapa yang mencoba mem-memperkosa seorang pria, dasar bodoh!"
Anastasia berteriak lebih keras lagi.
Wajahnya berubah menjadi merah padam karena hal ini. Lalu, aku mendengar langkah cepat datang dari balik pintu.
"Apa yang sedang terjadi disini!?"
Itu adalah Mirai yang menghampiri kami dengan tergesa gesa. Dia tampak cerah saat melihatku telah sadar namun kembali suram saat melihat aku dan Anastasia telanjang bulat.
"Maaf mengganggu."
Ucap Mirai sambil menutup kembali pintunya.
"Tunggu! Mirai!"
Anastasia berteriak.
***
Tidak butuh waktu lama untuk Anastasia mengenakan kembali pakaiannya. Wajahnya masih memerah dan dia terkadang melirikku dengan malu malu saat Mirai sedang menjelaskan situasi yang terjadi.
"Jadi begitulah, karena kutukan yang menempel di tubuhmu sangat kuat sehingga membuat para pendeta kewalahan menanganinya. Saat kutukanmu berhasil di hilangkan kau sekarat dan hampir berubah menjadi batu jiwa dan di saat itulah ketua serikat Region memberikan berkah sehingga Anastasia harus tidur bersamamu."
"Aku mengerti. Resurrection, ya? Berkah yang dapat mengembalikan seseorang kembali ke keadaan normalnya dengan tidur bersama seorang perawan."
Dari penjelasan yang diberikan Mirai, saat aku kembali ke ruang boss, tubuhku di penuhi dengan kutukan yang sangat kuat sampai sampai kutukan itu mempengaruhi orang di sekitarnya.
Saat seseorang berada di jangkauan efek kutukanku, orang itu akan menjadi sangat marah dengan hal sekecil apapun dan menyerang orang lain tanpa alasan yang jelas. Bahkan ada yang mencoba bunuh diri karena marah dengan dirinya sendiri.
Namun hal itu berhasil di cegah berkat Mirai dan tuan Braund yang langsung mengambil tindakan agar para prajurit tidak mendekati tubuhku, sehingga hanya sedikit orang yang menggila karena amarah.
Aku di bawa kesini setelah Mirai meminta bantuan dari pasukan utama dan karena itulah ketua serikat Region turun tangan setelah mendengar penjelasan Mirai tentang aku yang mengalahkan Arch Licht seorang diri.
Ketua serikat menggunakan Resurrection dengan bantuan Anastasia yang harus tidur bersamaku. Resurrection adalah kekuatan suci yang dapat membangunkan kembali orang yang hampir mencapai tanah kematian.
Resurrection memiliki beberapa persyaratan contohnya adalah tidur dengan seorang gadis yang memiliki afinitas elemen cahaya dan juga perawan.
Gunan Rigel.
Aku melirik ke Anastasia yang bersembunyi di belakang punggung Mirai. Dia menatapku dengan wajah merah dan mulai mengoceh.
"Ke-kenapa kau melihatku?! Aku perawan bukan karena tidak ada pria untuk di kencani, tapi ini karena keinginanku sendiri!"
Bentak Anastasia.
Aku mengabaikan Anastasia yang terlihat ingin menangis dan menatap Mirai yang menyeringai licik.
"Meskipun begitu, itu tidak menutupi alasan untuk melepaskan pakaian dalamku. Apa yang terjadi dengannya?"
Tanyaku.
Mirai tersentak dan menghindari tatapanku.
"Yahh, anuu~"
Anastasia yang memperhatikan bahwa ada yang aneh dengan Mirai mulai menatapnya dengan curiga.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Mirai?"
Ucap Anastasia dengan dingin.
Mirai menjadi kecil karena tekanan yang diberikan oleh Anastasia kepadanya, dan akhirnya dia mulai mengakui segalanya.
"Yah, kau tahu sebenarnya aku hanya perlu melepaskan baju Rigel saja namun ketua menyarankan untuk menelanjangi Rigel untuk sedikit menggodamu dan memberikanmu pengalaman bersama seorang pria."
Semakin Mirai bicara, suaranya semakin mengecil. Aku melihat mereka seperti seorang kakak yang sedang memarahi adiknya.
"K-k-kurang ajar! Kau tahu apa yang kulalui semalaman saat tidur dengan belalai besar yang berada di selangkangannya!"
Anastasia memerah dan menangis sambil memarahi Mirai.
Jadi dia sudah melihat Anakku tersayang?
"Huh, aku akan melupakan hal ini karena fakta bahwa aku masih perjaka sudah cukup bagiku."
Aku akan sangat marah jika seseorang mengambil keperjakaanku saat aku tidak sadar!
"Hee? Bukankah kau seharusnya kecewa karena Anastasia tidak berusaha bermain denganmu?"
Mirai menyeringai cabul.
"Mirai!"
Bentak Anastasia sambil memukul kepala Mirai.
"Haa? Tentu saja aku hanya akan memberikan keperjakaanku kepada gadis tercintaku!"
Aku berteriak.
"Hoo? Jadi kau memiliki seseorang yang kau cintai, siapa itu?"
Ucap Mirai yang kini memiliki benjolan di kepalanya.
"Tentu saja... "
Suaraku terhenti.
"Siapa, ya? Aku-aku tidak bisa mengingatnya."
Ucap Rigel sambil memegang kepalanya.
Anastasia dan Mirai menatapku dengan cemas dan prihatin. Mereka tentu sudah mengetahui fakta bahwa aku tidak memiliki ingatan apapun mengenai kehidupanku sebelumnya.
Meskipun ingatanku telah hilang, namun hatiku menjerit bahwa aku mencintai seorang wanita!
Hanya saja aku tidak dapat mengingatnya! Ayolah! Cobalah ingat, mana mungkin ada orang bodoh yang melupakan orang yang dicintainya!
Aku frustasi karena tidak dapat mengingatnya meskipun sudah berusaha keras mencari di dalam kepalaku. Anastasia perlahan maju menghampiriku.
"Mungkin itu hanya perasaanmu atau semacamnya, Rigel. Lebih baik kau beristirahat lagi dan menjernihkan kepalamu."
Ucao Anastasia dengan lembut.
"Lalu, apa yang akan kalian berdua lakukan?"
Tanyaku dengan cemas.
"Aku akan menghajar—ah tidak. Aku akan menemui Ketua."
Anastasia tersenyum seperti seorang psikopat.
Aku mengabaikannya dan hanya mengangguk untuj membiarkan mereka pergi. Aku tidak ingin mengetahui nasib apa yang menanti ketua serikat Region.
Mengesampingkan apa yang akan dilakukan Anastasia, aku masih mencoba mengingat ngingat kembali siapa gadis yang kucintai. Ada kerinduan yang sangat dalam saat aku mencoba mengingat tentangnya.
Hatiku terasa sangat sakit saat mengetahui bahwa aku tidak dapat mengingatnya sama sekali. Karena rasa frustasi yang menumpuk di dalam kepalaku, aku memutuskan untuk menyegarkan diri dengan berjalan jalan keluar kamar.