
Tidak butuh waktu lama untuk Rigel dan Cold sampai di guild. Di sekitar, ada banyak orang yang membicarakan tentang seseorang yang menyusup kedalam istana dan mencalonoan diri sebagai kandidat kaisar surgawi.
'Nampaknya mereka tidak memperlihatkan proyektor sihirnya saat aku menyusup, ya.'
Batin Rigel.
"Kita sudah sampai, Rigel. Apakah kau tidak ingin menggunakan topengmu?"
Tanya Cold.
"Tidak, lagipula aku tidak pernah berniat untuk menyembunyikan identitasku."
Rigel masuk ke dalam guild dan di sana, dia menemukan banyak petualang yang sedang duduk bersama party mereka. Ada beberapa diantara mereka sedang bermabukan di siang bolong ini dan ada juga orang orang yang mencari Quest yang di tempel di papan pengumuman.
"Ada lebih banyak orang dari yang kuperkirakan."
Ucap Rigel, terkejut.
"Yah, mungkin karena cuaca ini sangatlah cocok untuk berburu. Kemarilah, Quest di tempatkan berbeda beda tergantung ranking kesulitannya."
Cold menjelaskan.
Rigel sendiri tidak perlu bersusah payah mencerna apa yang Cold katakan. Rigel pernah memainkan game seperti ini di dunianya dulu.
Quest di bedakan melalui Ranking dari S, A-D.
Ranking nya tergantung pada seberapa sulit monster yang harus di kalahkan, contohnya adalah Quest untuk membunuh naga. Bahkan jika itu naga terlemah, Questnya sendiri masih akan memiliki Ranking S.
"Tempat yang ramai di sana menyediakan Quest ranking B sampai D. Lalu, tidak jauh di sama adalah khusus ranking A dan S."
Ucap Cold.
Rigel melihat ke tempat Cold menunjuk dan menghampirinya. Ada cukup banyak Quest ranking A dan ada juga beberapa ranking S. Selagi Rigel mencari Quest yang dia inginkan, seorang petugas guild menghampirinya.
"Anu, papan ini hanya berisi Quest yang sangat sulit untuk di lakukan, jika mau aku bisa mencarikan Quest yang kau inginkan. Apakah jangan jangan kau petualang baru?"
Tanya petugas guild.
Rigel menoleh untuk melihat wanita petugas guild yabg cantik itu. Rambutnya berwarna kuning dengan bola mata berwarna coklat. Dia menggunakan seragam khusus para petugas guild.
Petugas wanita itu tersipu saat Rigel melihat langsung ke matanya.
'A-aku belum pernah melihat petualang tampan ini...'
Batin gadis petugas.
"Apakah ada masalah, Rigel? Ah, petugas Inka! Lama tidak bertemu, kemana saja kau akhir akhir ini?."
Seru Cold.
Inka?
"Ahh, kalau tidak salah kau Cold, kan? Lama tidak bertemu. Aku mengambil cuti untuk beberapa waktu untuk merawat adikku."
Ucap Inka.
" Ahh, begitu ya. Oh iya, Rigel perkenalkan dia adalah pekerja di guild ini, Inka."
Cold memperkenalkan.
"Ahh, salam kenal. Panggil saja aku Rigel."
Ucap Rigel.
"K-kalau begitu panggil aku Inka, S-salam kenal."
Ucap Inka, wajahnya memerah senang.
Jangan bilang gadis ini menyukaiku pada pandangan pertama?
"Kau petugas guild ini, kan? Bisakah kau mencarikanku Quest dengan imbalan besar?"
Tanya Rigel.
"T-tapi Quest seperti itu biasanya memiliki tingkatan yang lebih tinggi. D-dengan perlengkapanmu saat ini, aku khawatir kau tidak dapat menyelesaikannya, lalu tangan kirimu itu..."
Ucap Inka, sedikit sedih.
"Tenang saja. Jangan menilai buku dari sampulnya, kau paham maksudku kan?"
Rigel mendekatkan wajahnya ke wajah Inka yang langsung memerah sesaat wajahnya dengan Rigel hanya berjarak beberapa centimeter.
"B-b-baiklah, k-kalau begitu ikuti aku."
Inka pergi menuju tempat receptionis guild dan membuka sebuah buku yang berisi banyak Quest.
"Akan kucari dulu. Berkat pahlawan tombak yang mengembara ke banyak tempat dan membunuh monster kuat, tidak banyak Quest penaklukan yang tersedia. Lalu, untuk Quest dengan tingkat kesulitan paling tinggi selalu di selesaikan oleh pahlawan busur."
Ucap Inka.
Rigel mulai merenung.
"Nah, Inka. Apakah pahlawan pedang tidak melakukan hal serupa seperti tombak dan busur?"
Tanya Rigel.
"Meskipun tidak seperti pahlawan Tombak dam Busur, pahlawan pedang lebih condong menerima Quest penaklukan dari para bangsawan meskipun itu sangat jarang terjadi. Sisanya, dia hanya berada di istana dan membantu raja, namun aku penasaran bagaimana dia menjadi yang terkuat dari pahlawan tombak dan busur?"
Ucap Inka.
'Takatsumi yang terkuat dari Yuri dan Takumi? Bagaimana bisa? Jika dia hanya menerima Quest bangsawan dan hanya mengeram di istana, itu berarti...'
Rigel merenung.
Rigel sudah mengetahui jawabannya. Alasannya sangatlah mudah, ini adalah sesuatu yang pernah di ceritakan oleh Tirith kepada Rigel tentang hal keji yang dilakukan kepada demi human.
'Takatsumi pasti menjadikan para setengah manusia sebaga point Exp!'
Rigel tidak bisa mengatakan itu dengan lantang karena khawatir akan ada banyak orang yang mengikuti jejak Takatsumi. Lalu, Guild yang awalnya ribut seketika menjadi tenang saat seorang bocah mendobrak pintu dengan keras.
Bocah itu membawa sekantung uang di tangannya dan sekujur tubuhnya di penuhi noda darah.
"S-siapa saja! Tolonglah orang orang di desaku, desaku di serang oleh pasukan goblin!"
Bocah itu menangis dan berlutut di tempat.
"Tenanglah nak! Jelaskan lebih rinci, ada berapa banyak jumlah goblin? Apakah hanya ada goblin saja?!"
Ucap petugas pria.
" S-seratus, tidak, mungkin lebih dari itu. D-d-sana a-ada juga Black Viper. Tolong selamatkan orang desa, tolonglah selamatkan orang tuaku."
Bocah itu berkata dengan lemah dan mulai menangis. Goblin menyerang desa memanglah hal biasa, namun untuk Black Viper menyerang desa dengan pasukan goblin adalah hal yang aneh.
Black Viper adalah monster ular hitam raksasa yang dapat mengeluarkan racun yang sangat mematikan.
"Black Viper dengan ratusan goblin? Seharusnya ini adalah misi ranking S."
Ucap petugas guild dengan ngeri.
"Biar aku saja yang mengambil Quest itu."2×
Rigel menoleh ke pada seorang gadis yang mengatakan hal yang sama dengan Rigel. Suara itu berasal dari lantai dua. Gadis dengan panah itu juga melihat ke arahnya.
"Yuri?!"
"Rigel?!"
Mereka berdua sama sama terkejut saat menatap satu sama lain. Yuri turun melalui tangga dan menghampiri Rigel. Dia masih tidak benar benar mempercayai jika orang yang berada di depannya adalah Rigel.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Untuk Quest itu, biar aku dan partyku yang mengambilnya."
Ucap Yuri.
"Jangan pelit begitu, aku akan ikut bersamamu. Lagipula aku ingin mencoba beberapa hal dan melihat seberapa kuat dirimu sekarang, Yuri."
Rigel mengejek.
"Kau cukup sombong untuk seseorang yang terlemah di antara kami, Rigel."
Yuri juga mengejek.
Yuri berjalan menuju bocah yang berlutut menangis di depan pintu. Yuri mengelus kepala bocah itu dengan lembut. Bocah itu menatap Yuri dengan kejutan di wajahnya.
"A-anda adalah, pahlawan? Nyonya pahlawan! Tolonglah selamatkan desa dan juga selamatkanlah ibuku!"
Bocah itu menangis.
"Tenang saja, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan orang tuamu."
Yuri menyeka air mata bocah yang menangis itu dan berangkat pergi menuju desa yang di serang Black Viper bersama anggota party miliknya.
"K-kau saling mengenal dengan pahlawan busur? Si-siapa kau sebenarnya?"
Tanya Inka dengan ragu.
Wajar saja baginya untuk tidak mengenali sosok Rigel dikarenakan penampilan Rigel berubah drastis. Meskipun Inka menyadari kemiripan tertentu, dia tidak akan pernah dapat menebak pahlawan yang telah mati.
Rigel membalikan badan dan melirik Inka sambil tersenyum.
"Pahlawan ke empat, Creator Hero. Amatsumi Rigel."
Rigel pergi mengikuti Yuri menuju desa bocah itu. Cold hanya tersenyum dan mengikuti Rigel dari belakang.
"T-tidak mungkin! B-bukankah kau di kabarkan telah mati?! Bagaimana mungkin kau masih hidup?!"
Inka terkejut.
"Itu karena... Aku datang untuk mengguncangkan dunia ini."