The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Berita kekalahan Hydra



Tigapuluh menit telah berlalu semenjak Merial memerintahkan kapal kapal untuk berlayar kembali menuju tujuan utama mereka, pulau Yurazania. Para awak kapal terus bekerja keras demi mencapai tujuan utama mereka. Pada awalnya, Rigel menginginkan pembebasan pulau Yurazania dan membuat Cold dengan identitas aslinya Asoka Van Yurazania menjadi seorang kaisar surgawi.


Kaisar surgawi adalah seseorang yang akan memimpin seluruh pasukan manusia saat perang besar Ragnarok. Seandainya para pahlawan sibuk berurusan dengan pilar iblis ataupun seraphim, disitulah kaisar surgawi akan turun tangan menggantikan pahlawan untuk memimpin pasukan. Saat kaisar surgawi telah dipilih, seluruh negara di benua ini harus memenuhi segala hal yang di butuhkan kaisar surgawi demi perang besar. Rigel menginginkan Cold yang harus menjadi kaisar surgawi karena dia tidak ingin gelar itu jatuh ke tangan orang yang salah.


Karena itulah Rigel membuat kekacauan di ruang tahta Britannia dan mengalihkan perhatian setiap orang agar Cold bisa menyusup ke tempat batu ramalan berada dan berpartisipasi dalam pemilihan kaisar surgawi. Untuk itu, Rigel membutuhkan sebuah tempat agar dia dapat membangun pasukannya dan mendapatkan banyak pencapaian agar nama Asoka Van Yurazania semakin di pandang tinggi oleh masyarakat ataupun kandidat lain. Langkah pertama yang di ambil Rigel dan yang lainnya adalah menaklukan monster malapetaka Hydra dan membebaskan pulau Yurazania yang telah di tinggalkan.


Dengan bantuan Takumi dan senjata Modern yang di buat Rigel, mengalahkan monster monster yang menghalangi perjalanan mereka. Lalu, hari ini tiba. Hari dimana monster yang menghantui dunia selama ratusan tahun di kalahkan oleh seorang pahlawan yang bangkit dari kematian. Creator Hero, Amatsumi Rigel. Kini, pulau Yurazania yang di tinggalkan telah terbebaskan dan saat ini, Merial, Asoka dan yang lainnya sudah menuju pulau Yurazania.


"Pulaunya... Pulaunya sudah terlihat...!!!"


Seorang awak kapal berteriak untuk memberitahukan kepada semua orang. Merial keluar dari kabin kapal dan melihat tempat yang di tunjuk prajurit. Pulau itu masih terlihat baik, hutannya masih hijau dan belum tercemar sama sekali. Bahkan dari lautan, terlihat sebuah kastil ataupun reruntuhan istana.


"Kerja bagus semuanya. Tembakan sinyal asap berwarna Hijau... Persiapkan senjata modern kalian dan tetaplah waspada. Kita akan segera berlabuh."


"Baik...!!!"


Para awak kapal bergerak serempak dan pergi ke gudang untuk mengambil senjata senjata yang sudah di siapkan Rigel. Tidak butuh waktu lama untuk seluruh awak kapal bersiap. Mereka akan tetap di atas kapal dan menunggu tanda dari Cold dan Merial yang turun terlebih dahulu. Alasan hanya Merial dan Cold yang turun sangatlah mudah. Mereka tidak ingin para prajurit asal menembak monster yang mereka lihat. Menurut Cold, masih ada kemungkinan jika kerabat atau penduduk Yurazania yang masih bertahan hidup di pulau.


"Merial, jika bisa aku ingin kau tidak menggunakan pedang sihirmu. Aku khawatir jika monster yang kita temui nanti adalah salah satu penduduk Yurazania."


"Tenang saja Asoka... Kau pikir untuk apa cambuk yang kubawa ini...?? Cambuk ini digunakan untuk keadaan seperti ini. Aku akan menangkap setiap monster yang menyerang atau melarikan diri dari kita tanpa perlu melukainya."


"Baguslah kalau begitu... Ayo kita masuk."


Cold dan Merial tersenyum satu sama lain dan berjalan menuju ke dalam hutan secara bersamaan. Hutan itu di penuhi rumput dan cabang pohon dimana mana. Tidak ada bekas jalan setapak di manapun. Nampak sangat jelas jika hutan ini tidak pernah di kunjungi selama bertahun tahun. Cold tampak sedih namun dia tetap berharap jika ada orang di pulau ini. Merial melihat hal itu dan berusaha menghbur Cold.


"Tenang saja, Asoka... Kita masih belum terlalu jauh dari pantai jadi, mari kita pergi ke istana Yurazania. Mungkin saja ada orang yang masih hidup di sana."


Merial menepuk lembut bahu Cold. Dia hanya tersenyum dan mengangguk setuju dengan Merial. Mereka mulai masuk dan berjalan lebih jauh lagi ke dalam hutan.


Srek srek.


Merial dan Cold mendengar suara samar dari semak semak. Mereka mulai waspada dan tidak memberikan celah sedikitpun. Cold berteriak...


"Siapa disana?!"


...


Tidak ada balasan apapun. Merial mulai menyiapkan cambuknya untuk menangkap apa yang ada disana. Namun sebelum melakukannya, sesuatu mulai keluar dari dalam semak semak. Itu adalah seekor kelinci.


"Huh~ ternyata hanya seekor kelinci kecil."


Merial nernafas lega sementara Cold entah kenapa sedikit kecewa dan melemaskan bahunya dengan lesu. Lalu, sosok hitam melompat dari pepohonan dam berusaha merobek tubuh Cold dengan cakar cakarnya.


"Menghindar...!!!"


Merial berteriak kepada Cold. Dia berhasil menghindarinya berkat peringatan Merial. Mahkluk itu berwujud seperti seekor Serigala hitam dengan sebuah luka besar di dadanya. Dia tampak mengenakan celana manusia. Cold mengumpulkan mana di tangannya dan menggunakan seni bela diri yang dia ingat selagi kecil. Dia mengayunkan tinjunya ke bahu mahkluk itu dengan kencang. Namun, gerakannya dengan mudah di tangani oleh serigala itu dan kini Cold sudah di kunci dan tidak dapat bergerak.


Gerakan ini tidaklah asing bagi Cold. Dia merasa sangat bernostalgia saat di kunci seperti ini lalu dia mulai menyerukan sesuatu...


"Komandan Fang...?? Apakah kau komanfan Fang?!"


"Dari mana kau mengetahui itu penyusup...?"


"Ini aku, Komandan...!! Aku Asoka, satu satunya muridmu..."


"A-asoka...? Tidak mungkin... Kau masih hidup...??"


Serigala yang nampaknya bernama Fang, melepaskan Cold dan perlahan melangkah mundur karena terkejut dan tidak percaya. Untuk meyakinkannya, Cold bertransfomasi ke bentuk manusia singanya untuk mengkonfirmasi bahwa dia benar benar Asoka. Wujud seekor singa adalah perwujudan dari para leluhur Beastman yang bernama Ashland. Dia adalah seekor singa perkasa yang mendirikan tempat untuk para Beastman dan berbagai ras lainnya untuk hidup bersama. Hanya anggota keluarga kerajaan saja yang dapat bertransfomasi menjadi wujud singa.


"Kau benar benar pangerang Asoka..."


Komandan Fang kembali ke dalam wujud manusianya dan memeluk Cold sambil menangis bahagia. Meskipun wujud serigalanya terlihat kasar, namun di wujud manusianya dia terlihat seperti pria yang sangat lembut dan ramah. Cold memeluk balik dan berkata "Emm, aku pulang kerumah" lalu menangis.


Merial yang menyaksikan itu tersenyum lembut dan tidak berniat mengganggu reuni berharga milik mereka. Namun, tetap saja mereka tidak bisa membuang buang waktu karena keadaan Rigel dan Takumi cukup buruk sehingga harus mendapatkan perawatan yang lebih baik.


"Komandan Fang, apa ada orang lain selain kau masih hidup? Jika ada, bisakah kau membawa kami ke sana? Para pahlawan sedang kritis saat ini dan membutuhkan pengobatan cepat."


Cold juga mengerti bahwa dia tidak punya waktu untuk di sia siakan. Jadi dia secara terang terangan bertanya kepada komandan Fang.


"P-pahlawan...?!"


Komandan Fang tampak sangat terguncang saat mendengar kata pahlawan. Namun, dia setuju dan mengangguk. Lalu, Merial berkata...


"Kalau begitu, mari kita jemput yang lainnya."


Cold dan komandan Fang mengangguk dan pergi ke tempat semua orang berada. Tidak membuang buang waktu, mereka membawa Rigel yang masih tidak sadarkan diri dan Takumi yang mengikuti jauh di belakang karena kekuatan kemalasannya.


***


Di Britannia, di sebuah ruangan tahta terdapat seorang pria tua yang merupakan raja dari kerajaan Britannia, raja Altucray sedang duduk di tahtanya. Bahkan, putri Tirith juga ada disana, dia hanya ingin mendengarkan kabar tentang Rigel dan tidak perduli dengan apa yang di perdebatkan para bangsawan.


Disisi lain, Takatsumi dan Yuri sedang tidak berada di istana. Entah karena apa, semenjak kemunculan Rigel di ruangan tahta, dia tampak agak aneh. Mungkin karena pertunangannya di batalkan atau hal lainnya. Untuk Yuri, dia masih secara aktif membunuh monster monster kuat dan menaikan level. Untuk Takumi, saat ini keberadaannya tidak di ketahui namub Takatsumi berasumsi jika Takumi pergi bersama Rigel.


Lalu, seorang penyihir yang menggunakan tudung menerobos masuk dengan tergesa gesa dan berteriak.


"Yang Mulia ... Yang Mulia...!!!"


Dia berlutut di depan Raja Altucray dan menenangkan nafasnya lalu berbicara.


"Ada apa...? Bicaralah yang jelas..."


"Baik Yang Mulia... Baru saja, batu Ramalan bersinar lagi dan menuliskan sebuah pesan bahwa monster malapetaka Hydra telah dikalahkan oleh Fraksi dari kandidat baru yang bernama Asoka Van Yurazania..."


"Apa...?! Mereka berhasil mengalahkan monster malapetaka itu dalam waktu dekat...?! Kupikir awalnya akan butuh waktu lebih lama untuk persiapan mereka."


Disisi lain, Tirith nampak sangat bahagia saat mengetahui bahwa Rigel dan yang lainnya berhasil mengalahkan monster itu. Tirith menyadari jika Rigel yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Dia jauh lebih kuat saat ini. Meski begitu, selamat atau tidaknya Rigel masih tidak di ketahui Tirith.


Aku harap kau baik baik saja Rigel... Jangan sampai mengingkari janjimu untuk tetap hidup...


"Baiklah, kerja bagus... Kirimkanlah intel untuk menyelidiki sisa sisa dari pertarungannya. Lalu, tolong beritahu hal ini kepada pahlawan pedang dan pahlawan busur. Mereka harus kesana untuk menyerap sedikit bagian tubuh Hydra..."


"Baik...!!!"


Berita tentang kekalahan monster malapetaka telah tersebar dengan cepat melalui batu ramalan dan para pedagang yang mendapatkan informasi dari para bangsawan. Dalam dua minggu kedepan, untuk pertama kalinya ke dua belas pahlawan akan bertemu untuk menyerap tubuh Hydra agar meningkatkan kekuatan mereka.