
"Waahhhh!"
"Tolong! Tolong!"
Kekacauan telah di mulai. Desa-desa sekitar mulai di serang oleh pasukan iblis yang keluar melalui gerbang dunia bawah. Rumah terbakar, banyak orang mati dan anak-anak hanya bisa menangis ketakutan selagi menunggu ajalnya mendekat. Rigel yang telah kembali ke Region menyaksikan pemandangan keji itu melalui Drone yang dia kirimkan ke berbagai tempat.
Rigel menggertakan giginya, "Siaga satu! aku ingin semuanya kembali dalam mode tempur! Pertempuran belum benar-benar berakhir!" Rigel memberikan perintah terhadap prajurit melalui speaker yang telah di pasang di seluruh wilayah Region.
"Asoka, aku serahkan kendali pasukan padamu. Kirimkan pasukan ke berbagai tempat untuk mengatasi iblis keparat itu!"
Beruntung Rigel bahwa dia mendapatkan informasi ini lebih dahulu karena sedang bersama Sylph. Rigel kembali ke Britannia dan mengabari semua Pahlawan untuk kembali ke negara masing-masing karena iblis akan segera menginvasi. Rigel telah membawa kembali Asoka dan yang lainnya ke Region.
Setengah prajurit Region sudah berada di luar Region dan siap menerima perintah kapanpun sementara sisanya lagi berada di Kerajaan. Yah, Rigel mungkin akan mengirimkan mereka ke luar pulau karena pertahanan Region merupakan salah satu terkuat.
"Cih! Lucifer sialan... Kau membuat kekacauan tepat saat kekacauan berakhir." Rigel mengutuk.
Ragnarok belum tiba, namun Lucifer seakan ingin mempercepat perang dengan mengirimkan pasukan dari neraka ketimbang pasukannya sendiri.
"Ayah! aku datang untuk membantumu!" Leo yang tiba menggunakan Lift teleport berlari dan menghampiri Rigel.
Meski caranya memanggil masih mengganggu, namun kehadirannya di sini sedikit meringankan pekerjaan.
"Leo, aktifkan pertahanan tingkat satu dan senjata tembak otomatis serta minta warga mengungsi ke Tartaros."
"Baik!"
Leo menggunakan kaca mata khusus untuk mengakses Ciel dan mulai mengoperasikan sistem pertahanan Region. Untuk Rigel, dia sedang menyiapkan Rudal untuk di luncurkan ke berbagai tempat yang tidak dapat di jangkau Pahlawan dan prajurit.
Butuh sedikit waktu mempersiapkannya. Rigel langsung meluncurkan Rudal ke pasukan iblis dari dunia bawah. Mereka langsung mati dalam satu ledakan rudal yang datang Ntah dari mana. Melihat itu, Lucifer dan Karaka menyipitkan mata.
"Benda aneh apa itu? aku belum pernah melihat sihir seperti itu sebelumnya..." Karaka bergumam selagi berusaha memahami sesuatu yang dia lihat sebelumnya.
"Meski terdengar aneh, nampaknya yang barusan itu bukanlah sihir. Tetapi sesuatu yang di buat Pahlawan masa kini." Lucifer menjawab kecurigaan Karaka.
"Bukan sihir? maksudmu itu hanyalah senjata? Mustahil... Bagaimana bisa dia membuat sesuatu semacam ini..." Karaka bergumam takjub terhadap Pahlawan yang membuatnya.
"Hmhm, benar saja... Di era ini, bahkan ada satu orang Pahlawan yang sangat menarik perhatianku..." Saat Lucifer mengatakan itu, senyum di bibir Karaka menghilang dan dia melirik Lucifer dengan sedikit penasaran.
"... Apakah mungkin..."
"Ya," Tanpa ragu, Lucifer menjawabnya, "Mungkin dialah yang akan menjadi perwakilan Manusia di perang mendatang. Dia pria yang selalu memiliki kejutan di lengannya dan juga sosok yang mendapatkan nyanyian para dewa." Senyum di bibir Lucifer juga menghilang saat membahas nyanyian para dewa.
"God Requiem, ya..." Karaka bergumam, "Mendengar ini darimu dan ketertarikanmu padanya, aku jadi ingin bertarung dengan orang itu, hahaha."
"Hahaha, kau tidak berubah seperti dulu... Yah, tidak perlu terburu-buru, aku yakin dia akan kemari cepat atau lambat untuk menutup gerbang ini. Bagaimana kalau kau menjadi Last bos dan menunggunya di sini?" Lucifer memberikan saran.
Karaka mengambil langkah maju dan meninggalkan Lucifer di belakangnya, "Hehehe, kau seharusnya sangat mengenalku, Lucifer... Kau pastinya tahu apa yang akan aku lakukan ketimbang menunggu kedatangannya di sini, kan..." Karaka tersenyum jahat.
Lucifer sedikit merengus dan tersenyum, "Membunuh orang terdekatnya, membuatnya marah dan sangat membencimu untuk meningkatkan adrenalin... Aku sangat tahu itu..."
"Hahaha, benar kan... Sejak awal aku bukan tipe orang yang suka menunggu, kalau begitu sampai jumpa..." Karaka dengan cepat melompat ke udara. Begitu juga dua iblis yang berada di belakangnya sebelumnya.
Lompatan nya sangat jauh, hampir seperti dia bisa terbang jika dia mau. Lucifer hanya menatap kepergian Karaka dan langsung berbalik ke para Pilar iblis yang menunggunya.
"Sekarang, sebaiknya kalian berpencar dan berjaga-jaga selagi aku masuk ke sana. Lakukanlah sesuka kalian... Ada sesuatu yang perlu aku lakukan di dalam sana." Lucifer melewati para pilar iblis dan memasuki gerbang dunia bawah seorang diri.
"Di mengerti, My Lord..." Pilar iblis menunduk secara serempak.
Lucifer langsung menghilang ke dalam gerbang dunia bawah yang gelap gulita itu. Para pilar iblis terus menatap tempat tuan mereka pergi.
"Baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Leviathan bergumam bosan.
"Seperti kata tuan Lucifer, kita dapat melakukan apapun sesuka hati asalkan tetap berjaga-jaga mencegah orang datang selagi tuan Lucifer berada di dalam sana." Zenos memberi arahan.
"Yah, kalau begitu aku akan pergi ke negara bernama Kekaisaran Timur, sampai jumpa..." Tanpa perlu membuang waktu, pilar iblis, Aldebaran terbang menuju Kekaisaran timur. Di ikuti pilar lainnya yang berpencar ke segala arah dan menyisakan empat pilar iblis terkuat.
"Jaa, kalau begitu aku juga pergi." Diablo membentangkan sayapnya.
"Tunggu Diablo. Jangan bilang jika kau berniat membalas dendam pada Pahlawan itu? Tubuhmu baru saja pulih berkat tuan Lucifer, jangan bertindak gegabah. Selain itu, iblis bernama Karaka itu memiliki kekuatan yang setara dengan kita, atau mungkin lebih kuat. Kau jangan coba-coba melakukan hal bodoh." Dante menatap tajam Diablo dan memberikannya sebuah peringatan keras.
"Memangnya siapa kau berani memerintah ku? Tuan Lucifer sendiri berkata bahwa kita bebas melakukan apapun. Jangan ikut campur urusanku." Diablo membalasnya dengan tajam dan tanpa perlu membuang waktu melesat terbang ke angkasa. Meninggalkan pilar iblis yang tersisa.
"Huh.... Keras kepala sekali. Zenon, sebaiknya kau mengawasi Diablo dan bantu dia jika keadaannya hampir mati." Dante memberi arahan kepada Zenon yang hanya menatap dalam diam.
"Aku tidak masalah. Namun, siapa yang akan berjaga di sini?" Zenon bertanya.
"Aku yang akan menjaga gerbang, tidak perlu khawatir." Dante bahkan tidak merasa takut atau ragu. Dia sangat percaya diri dengan kekuatannya.
Mendengar itu, Zenos tidak lagi mempermasalahkan nya karena dia sangat tahu seperti apa kekuatan Dante. Zenos langsung pergi menuju arah tempat Diablo pergi dan menyisakan Leviathan dan Dante.
"Yahh, sebaiknya aku melakukan apa ya... Mungkin aku akan pergi ke negara yang menjadi pusat agama manusia ya... Kalau begitu, sisanya kuserahkan padamu, Dante." Leviathan langsung pergi ke sisi lain dan menyisakan Dante dalam kesendirian.
"Baiklah, aku akan tetap di sini... Aku penasaran dengan apa yang di lakukan tuan Lucifer di neraka." Dante menatap gerbang dunia bawah dengan penasaran namun tidak berani masuk ke sana karena khawatir para Pahlawan menyegel gerbangnya.
Kembali ke Region. Saat ini Rigel tengah sibuk mengatasi para iblis dari jarak yang jauh. Langit bergetar karena ledakan Rudal yang betebaran di langit. Rigel telah meminta masing-masing kandidat kaisar untuk mengungsikan warga yang tersisa atau membuat mereka tetap di dalam rumah. Beruntung bahwa warga yang mengungsi di Region masih tetap berada di sana.
"Pertahanan telah di aktifkan dan senapan tembak otomatis sudah aku aktifkan, Ayah!" Leo berseru bangga.
"Bagus, tetap awasi keadaan sekitar Region dalam radius satu Kilometer."
"Dimengerti."
Apa tujuan Lucifer melakukan hal ini? jika ingin menambah pasukan saja, dia tidak akan menyerahkannya sekarang karena itu hanya bunuh diri. Lalu, mungkinkah untuk mengurangi kekuatan manusia dengan menebar kekacauan? Atau ada sesuatu yang lain?
Rigel terus mencari jawaban, namun tidak kunjung menemukannya. Pasti ada sesuatu dari tempat para iblis ini berada. Telah di putuskan, saat para iblis itu berhenti melakukan serangan, Rigel akan pergi ke tempat mereka berasal. Gerbang dunia bawah.
"Sialan! kapan ini akan berakhir." Rigel mengutuk dengan kesal.
Jika keadaan tetap seperti ini, cepat atau lambat peluru Misil Rigel akan habis meskipun dia sudah menciptakan sangat banyak. Selain itu, Rigel merasakan firasat buruk yang belum pernah dia rasakan.
Sebuah sinyal radio masuk dan Rigel menerimanya tanpa ragu karena hanya Pahlawan dan kandidat Kaisara surgawi serta petinggi Region saja yang dapat berkomunikasi radio. Sinyal ini berasal dari Kekaisaran timur, Marcel orang yang menghubunginya.
"Ada apa?!" Rigel bertanya dengan tergesa-gesa.
"Ini buruk! keadaan di sini semakin kacau dengan banyaknya iblis menyerang Kekaisaran! Dan juga, pilar iblis Aldebaran muncul di sini! Bisakah kau mengirim beberapa pasukan militermu ke sini??"
Rigel hendak memberi jawaban atas permintaan Marcel, namun sinyal radio lain masuk, "Tunggu sebentar, nampaknya yang lain juga kesulitan. Bertahanlah sebisa mungkin!"
"Kau pikir aku ini siapa? sial, ku andalkan kau." Marcel mematikan komunikasinya dan kembali ke pertarungan.
Berkat pertarungan melawan Tortoise, Rigel telah menjadi dekat dan bisa saling bekerjasama dengan Pahlawan lainnya, meski ada beberapa pengecualian.
Sinyal lain yang masuk berasal dari Ruberios dan Hazama adalah orang yang menghubungi Rigel.
"Ada apa?!" Rigel bertanya dengan terburu-buru.
"Kabar buruk, setengah wilayah Ruberios hampir di hancurkan! Awalnya kami berhasil menahan tentara iblis itu namun setelah kedatangannya keadaan mulai berbalik!" Hazama berkata selagi terengah-engah.
Dari suaranya, Rigel dapat mendengar jelas bahwa pertempuran berlangsung sengit di sana. Ruberios jauh lebih buruk karena hampir sebagian wilayahnya hancur karena seseorang.
"Siapa yang kau maksud??" Rigel bertanya.
"Salah satu pilar iblis, Leviathan! Saat ini Argo sedang menghadapinya... Aku harus turut andil membantu Argo, namun Alexei tidak akan dapat mengatasi pasukannya sendirian. Berikanlah bantuan pada kami! cepatlah!" Tanpa perlu waktu lama lagi, Hazama langsung mematikan sinyal radio dan bertarung melawan Leviathan.
Benar-benar tidak masuk akal! kenapa mereka bergerak di waktu yang bersamaan?! apakah ini rencana Lucifer atau mereka bergerak sendiri?!
Ruberios akan menjadi tempat yang Rigel prioritaskan karena mereka hanya memiliki dua Pahlawan untuk bertarung. Rigel memikirkan siapa yang akan dia utus untuk membantu Hazama dan Argo. Dia berniat mengutus Merial, namun dia belum begitu memahami cambuk Ilahi dan masih membutuhkan penyesuaian.
Benar, bagaimana dengan Britannia?
Rigel langsung mengaktifkan dan berusaha menghubungkan sinyal radionya kepada budaknya, Altucray. Setelah melakukan panggilan, dengan cepat Altucray menghubungkannya.
"Budak, bagaimana keadaan di sana? Jika negara baruku itu hancur akan ku hukum kau menjilat kotoran babi!"
"bacot! Keadaan di sini cukup terkendali. Dengan adanya Tuan Takumi dan Takatsumi di garis depan, para pasukan iblis tidak mencapai kota!" Altucray berkata dengan geram.
"Bagaimana dengan Pilar iblis, apa salah satu dari mereka muncul?"
"Tidak... Sejauh ini tidak ada kabar tentang kemunculan Pilar iblis."
Mendengar itu, Rigel tanpa perlu berkata lagi mematikan panggilannya. Jika memang benar Lucifer mengatur strategi untuk melemahkan kekuatan manusia, seharusnya dia juga menyiapkan pilar iblis di Britannia. Untuk Region sendiri, dikarenakan peluru Misil berasal dari lautan Region, tidak ada satupun iblis yang dapat mendekat. Bahkan jika ada, seharusnya itu sudah terdeteksi. Pilihan terbaik saat ini adalah mengirimkan pasukan Fang ke Kekaisaran Timur dan Takumi ke Ruberios. Rigel harus menyimpan sebanyak mungkin SDM dan orang-orang yang dapat bertarung dengan baik.
"Leo, beritahukan Asoka bahwa kirimkan pasukan Fang menggunakan teleportasi jarak jauh yang kubuat untuk pergi ke Kekaisaran Timur!" Rigel langsung beralih ke Radio yang berada di telinganya. Panggilannya langsung terhubung, "Takumi, aku ingin kau pergi ke Ruberios untuk membantu Argo dan Hazama mengatasi pilar iblis. Aku juga akan mengirimkan satu peleton militer ke sana."
"Baiklah." Takumi tanpa ragu menjalankan perintah Rigel dan memberitahu yang lain bahwa dia akan ke Ruberios.
"Sial! aku harap ini segera berakhir..."
Hal apa yang akan kau dapatkan dari melakukan kekacauan besar ini, Lucifer... Kupikir kau akan cukup diam dan menunggu Ragnarok tiba. Aku meremehkanmu.
Rigel menarik nafas dalam-dalam. Ini kedua kalinya dia menjadi tidak tenang sehingga tidak dapat berfikir dengan Logis. Untuk saat ini dia harus tetap dengan dan dengan bijak menilai situasi.
Di sisi lain, tiga iblis sedang berdiri dan memandang lautan, tempat Region berada. Karaka mengangkat tangannya untuk memfokuskan pandangan nya.
"Jika benar yang di katakan Lucifer bahwa benda terbang aneh itu di buat oleh Pahlawan dengan God Requiem, maka dia pasti ada di tempat asal benda terbang ini." Karaka memandang peluru-peluru Misil yang terbang di udara.
"Kau, cobalah hantam salah satu benda itu Aku ingin tahu apa yang akan terjadi jika kita menabraknya." Karaka menunjuk salah satu anak buahnya untuk menyerang Misil.
Anak buahnya tanpa ragu mengikuti instruksinya dan melompat tinggi lalu meninju peluru Misil dengan tangan kanannya.
*Bom!
Misil itu langsung meledak dan menghancurkan iblis itu menjadi berkeping-keping. Karaka menatap dengan terkejut sekaligus takjub. Dia tidak pernah melihat hal semacam itu sebelumnya.
"Hahahaha, memang luar biasa. Pahlawan ini benar-benar membawa sebuah keajaiban nyata. Bahkan meski belum melihat wajahnya, aku sudah sangat tertarik dengan Pahlawan yang satu ini. Kalau begitu, mari kita langsung saja menuju ke tempatnya." Karaka menundukan badannya seperti orang yang ingin lari Marathon.
Karaka mengambil langkah pertamanya yang membuat retakan besar di tanah. Dia seperti sebuah peluru yang melesat cepat dan berlari di atas air bagaikan ninja. Satu bawahannua yang tersisa mengikutinya dengan terbang rendah untuk menghindari peluru Misil yang berada di udara.
Leo yang memperhatikan keadaan melalui radar terkejut karena mendeteksi sesuatu, "Ayah! ada seseorang yang mendekat ke Region dengan sangat cepat! Sepertinya dia melalui jalur lautan!"
Mendengar itu, Rigel dengan acuh menyiapkan senapan mesin dan mengirimkan beberapa Misil ke arah penyusup itu. Dia berpikir bahwa ada kemungkinan penyusup itu adalah Pilar iblis. Ratusan peluru senapan mesin dan Misil tidak membuat Karaka goyah dan terus menerobos maju. Dia sama sekali tidak menderita luka apapun dari serangan yang di tuju ke arahnya. Untuk pengikutnya, dia mengaktifkan sihir pertahanan untuk menghindarinya.
"Penyusup itu masih terus mendekat, Ayah! dia menghancurkan beberapa peluncur Misil dan akan sampai di tepi pantai dalam sepuluh detik!"
Rigel mendecakan lidahnya dengan kesal, "Minta Asoka mengirimkan pasukan ke tempat itu segera! dan konfirmasi siapa penyusup itu!"
Karaka melompat ke sana-sini dan menghancurkan beberapa peluncur Misil hingga akhirnya dia mendarat di tepi pantai Region.
Karaka bergumam, "Ketemu~ saatnya kita bermain!"