
Saat kapal kapal yang di pimpin Merial berlayar mendekati Territory yang kini sudah hancur, mereka melihat kabut uap berkumpul di sekitar sana, air lautan seakan mendidih karena sesuatu yang sangat panas menghantamnya. Cold berdoa untuk keselamatan Rigel.
Tidak ada seorangpun yang mengetahui siapa penyebab dari semua kerusakan ini. Entah ini ulah Hydra atau ulah Rigel, semua orang berharap bahwa orang terakhir yang melakukan ini. Merial menelan ludahnya, dia mulai berkeringat karena uap panas di sekitar dan tidak bisa membayangkan seberapa mengerikannya pertarungan ini. Merial bergumam—
"Beruntung untuk kami keluar sebelum pertarungan ini dimulai."
Entah apa yang terjadi jika saat itu Rigel tidak menyuruhnya atau Merial tidak mematuhi perintahnya. Kemungkinan, tidak akan ada satupun dari mereka yang bernafas lagi. Bahkan Takumi tidak yakin dia dapat bertahan.
Cold dengan panik dan khawatir mencari Rigel. Dia yakin jika Rigel masih hidup, meskipun dia tidak mempercayai jika pemandangan mengerikan ini dibuat olehnya. Uap panas berterbangan di udara, air laut yang seharusnya memiliki suhu dingin menjadi panas, bahkan ada beberapa gelembung keluar seakan air itu mendidih.
"Disana...!!! Aku merasakan adanya hawa kehadiran seseorang, meskipun terasa sangat kecil..."
Misa berteriak dan membuat semua orang memperhatikannya. Dia menunjuk sesuatu yang berada di kejauhan yang di tutupi kabut. Cold menyipitkan matanya untuk memastikan apakah ada sesuatu disana dan setelah lima menit mencari, dia menemukan sesuatu. Lebih tepatnya sebuah batu. Seharusnya memang tidak ada yang aneh jika menemukan batu atau semacamnya, namun yang anehnya batu ini berada di tengah laut. Batu itu jelas bukanlah batu apung, dan di sepanjang jalan ada lebuh banyak dari mereka.
"Kita tidak bisa lebih jauh dari ini... Batu batu itu akan menggores bagian bawah kapal."
Cold mengatakan itu dengan lantang agar setiap orang yang berada di kapal berhenti maju lebih jauh. Cold berfikir—
Kita tidak akan bisa menggunakan kapal, menaiki Megalodon juga bukan pilihan karena aura kemalasan Takumi. Mungkin aku bisa melewatinya dengan melompat menggunakan batu batu itu jika aku bertransformasi ke dalam wujud binatang.
Setelah menyelesaikan pikirannya, Cold berteriak ke arah Merial dan berkata...
"Merial... Aku akan pergi ke sana menggunakan transformasiku."
Tanpa perlu menunggu jawaban dari Merial, Cold melompat ke batu terdekat dan bertransformasi menjadi wujud manusia singa. Rambut coklatnya memanjang sampai ke punggungnya, taring dan cakar tajam serta bulu bulu halus mulai tumbuh. Rune lingkaran terbentuk di bahu Cold.
"Tunggu... Asoka, bawalah ini."
Cold menoleh ke Merial dan menangkap benda yang dilemparkan Merial kepadanya. Benda itu adalah sebuah pedang sihir yang digunakan Merial dan juga sebuah potion tingkat tinggi. Cold menatap ke arah Merial.
"Untuk berjaga jaga jika ada monster atau sesuatu yang lain disana... Cepatlah kembali."
Cold mengangguk kepada Merial yang tersenyum selagi memandang punggung Cold yang semakin menjauh.
Batu batu yang di pijak Cold terasa sangat panas, namun dia tetap mengabaikannya dan terus menuju ke tempat yang di beritahukan Misa. Setelah beberapa waktu terus melompat dari batu ke batu lain, Cold akhirnya menemukan batu, atau yang lebih tepatnya sebuah daratan kecil. Disana, dia menemukan aura menjijikan yang sangat besar, namun insting binatangnya tidak merespown jika ada bahaya yang mendekatinya. Meski begitu, Cold tidak bisa lengah, dia mengulurkan pedang sihir yang di berikan Merial kepadanya dan dengan sangat hati hati melangkah mendekati aura mengerikan itu.
...
...
Cold dengan sabar mendekatinya secara perlahan. Dia menahan nafasnya untuk menyembunyikan kehadirannya sampai dia menginjak sesuatu yang cair.
Emm?
Cairan itu berwarna merah kehitaman, cairan itu adalah darah. Lalu, kabut uap yang menutupi daerah sekitar mulai menghilang, sinar matahari menembus kabut uap itu dan memperlihatkan sosok yang sedang di tuju Cold.
Cold terkejut dengan apa yang ada di depannya dan perlahan lahan melangkah mundur. Dia ketakutan, namun takjub dengan apa yang ada di depannya dan di tempat tertinggi, seseorang yang sedang dia cari berada di atas sana.
"Rigel...!!!"
"Apa kau menemukannya Asoka...?!"
Tidak jauh di tempat yang berbeda dari tempat Cold datang, suara Merial terdengar. Cold tidak berusaha melihat Merial yang mendekat dengan kapal. Nampaknya, selagi Cold bergegas menuju Rigel, dia tidak diam dan menunggu. Merial mencari rute lain yang bisa di lewat kapal.
"Oh Dewa... Sungguh pemandangan yang luar biasa..."
Kabut uap telah hilang sepenuhnya, semua orang termasuk para prajurit hanya fokus pada satu hal, satu pemandangan yang tidak akan pernah bisa dibayangkan siapapun. Disana, Rigel berdiri di atas tubuh Hydra yang melilit. Rigel berdiri dengan menginjak kepala Hydra menggunakan kaki kanannya. Tubuh Hydra mengeluarkan asap seolah terpanggang sesuatu, disisi lain, tubuh Rigel berlumuran darah. Merial mulai meneteskan air mata dan mengucapkan syukur di dalam hatinya.
Syukurlah... Syukurlah... Setelah lebih dari empat ratus tahun lamanya, akhinya... Akhinya manusia berhasil mengakhiri teror monster malapetaka, Hydra...!!!
Bahkan Cold yang menyaksikannya mulai menangis. Rigel menempati janjinya untuk membalaskan kematian orang tuanya.
"Hari ini... Detik ini juga... Sejarah akan mencatat ini sebagai langkah awal untuk manusia membebaskan diri dari monster malapetaka... Mulai saat ini, Dunia menjadi saksi bisu!!! kelahiran dari Messiah yang telah mengalahkan monster paling berbahaya Hydra...Kemenangan untuk umat Manusia...!!!"
Merial mengaum sekeras kerasnya agar di dengar oleh semua pejuang di kapal. Satu persatu setiap orang yang menyaksikan itu menangis haru dan sangat bahagia karena berhasil melewsti pertarungan ini, beberapa dari mereka mulai saling merangkul dan memeluk. Semua orang melemparkan topi dan Helm ke udara dan secara serempak berteriak "Hidup Creator Hero...!!!"
Merial tersenyum saat melihat para komandan di kapal lain serta semua pejuang menangis bahagia. Merial dengan cepat mengusap air matanya dan memandang ke arah Rigel yang masih tidak bergerak. Ada sesuatu yang aneh menurutnya. Bahkan Cold menyadari itu dan melompat ke tempat Rigel.
"Rigel...?"
Cold memanggil Rigel dengan khawatir, namun tidak ada balasan. Merasa khawatir, Cold menundukan badannya untuk melihat wajah Rigel. Cold terkejut saat menyadari bahwa Rigel tidak sadarkan diri dengan posisi berdiri seperti itu. Matanya berwarna putih seutuhnya dan mulutnya terbuka. Yang tersisa dari Rigel hanyalah celana yang dia gunakan. Nampaknya baju bajunya sudah terbakar atau sesuatu. Tangan kiri palsunya juga memiliki retakan dimana mana. Itu menadakan bahwa Rigel sudah bertarung habis habisan.
Cold dengan cepat meminumkan potion tingkat tinggi yang di berikan Merial kepadanya. Tidak lama setelah itu, Cold membawa Rigel yang tidak sadarkan diri ke tempat Misa berada untuk mendapatkan penyembuhan lebih lanjut.
"Apakah Tuan Rigel pingsan sambil berdiri...?"
Merial tampanya menyadari hal itu saat melihat Cold membopong Rigel. Merial memerintahkan para pasukan untuk tetap mengawasi daerah sekitar dan melompat ke kapal Misa untuk melihat kondisi Rigel.
"Misa cepatlah sembuhkan tubuh Rigel."
Cold sudah sampai di kapal Misa dan membaringkan tubuh Rigel. Misa masih menangis namun dia dengan cepat berusaha memulihkan Rigel. Tidak lama kemudian, Merial sampai di sana.
"Bagaimana keadaan Tuan Rigel?!"
"Buruk... Aku sudah menyembuhkan sebagian besar luka luarnya dan berkat potion tingkat tinggi yang di berikan Cold, kerusakan di bagian dalamnya perlahan terobati. Namun, akan butuh waktu dan perawatan lebih lanjut untuk memulihkannya sepenuhnya."
Semua orang merasa khawatir dengan keadaan saat ini. Tidak ada hal yang bisa dilakukan oleh Merial, dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan Rigel.
"Lakukanlah apapun untuk menyembuhkan semua luka lukanya...!!!"
Merial menaikan suaranya. Ini bukanlah perintah, melainkan sebuah permohonan dari Merial. Misa mengetahui itu, dia menghentikan tangisannya dan memfokuskan dirinya untuk menyembuhkan setiap luka di tubuh Rigel yang bisa dia sembuhkan.
"Nona Merial, bisakah kau memberikan Mana milikmu yang tersisa kepada Tuan Rigel? Dia tidak hanya terluka, dia juga kehabisan banyak mana sehingga memperhambat penyembuhan tubuhnya."
"Baiklah."
Merial tanpa ragu mulai memberikan Mana dalam jumlah besar ke tubuh Rigel.
Misa dengan teliti mencari bagian bagian yang terluka tanpa melewatkan satupun. Cold berpikir sejenak dan memberikan sebuah saran.
"Yurazania...!!! Seharusnya tidak jauh lagi kita sampai pulau... Hanya butuh sekitar setengah jam dari sini untuk sampai ke sana."
Merial mengangguk dan memerintahkan seluruh kapal untuk mencari jalan lain dan menuju pulau tempat Yurazania berada. Semua prajurit dengan cakap langsung bertindak sebelum Merial menyerukan perintahnya. Melihat itu, Merial tersenyum dan kembali ke kapal utama untuk memimpin seluruh kapal dalam perjalanan menuju pulau Yurazania.