
Rune kebiruandi tangan kanan Rigel muncul tanpa di panggil. Rasanya seakan membakar kulitnya dari luar dan dalam. Rigel mengerang kesakitan selagi terus memegang tangan kanannya dan memandangnya. Bila di perhatikan kembali, terbentuk lima garis Rune yang mengalirkan lima kekuatan berbeda dan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Kenapa tahap lima?!!! Aku tidak mencoba menggunakan Void, namun dia dengan sendirinya muncul dan mencapai tahap lima?? Apakah dia beresonasi dengan air kehidupan atau semacamnya??
Tidak dapat di mengerti. Mengapa Void bereaksi hanya dengan Rigel meminum air kehidupan? apa mungkin energi kehidupan yang Rigel minum hampir sama dengan inti jiwa yang dapat memperkuat Void? jika benar, maka jawaban dari reaksi ini adalah Void yang bertambah kuat, atau tubuh Rigel yang bertambah kuat.
"Rigel! Apa kau baik-baik saja?! Ada apa ini, seharusnya tidak akan ada hal buruk yang datang hanya dengan meminum Air kehidupan..." Tirith tampak bingung, begitu pula Altucray.
Sejauh ini, tidak ada kasus dimana air kehidupan dapat memberikan efek buruk seperti rasa sakit atau semacamnya. Bahkan Tirith dan Altucray pernah meminumnya, namun mereka tidak mendapatkan efek buruk. Justru mereka mendapat perlindungan suci Excalibur. Jika orang yang tidak memiliki darah Pendragon meminun air kehidupan, seharusnya itu akan menyembuhkan luka yang mereka terima.
"Tenang... Saja! Ini... Hanya peningkatan... Tak terduga!" Rigel berbicara selagi mengerang, menahan rasa sakitnya.
Kali ini tidak hanya tangan kanan, melainkan seluruh tubuhnya terasa terbakar di lautan lahar panas. Namun di balik itu Rigel merasakan perubahan terjadi pada tubuhnya secara perlahan dan tentunya hal itu mengarah ke sesuatu yang baik... Mungkin.
Perjuangan Rigel telah berakhir saat rasa sakit dan panas yang dia rasakan perlahan menghilang, bersamaan dengan Rune yang menghiasi tubuhnya. Rigel mulai terengah-engah dan keringat membanjiri tubuhnya. Dia belum merasakan hal semacam itu sebelumnya dan tidak berniat untuk merasakannya lagi.
"Apa... Apaan itu..." Rigel bergumam dan mulai mengatur nafasnya.
"Ada apa Rigel? kau tampak sangat kesakitan sebelumnya..."
Rigel memandang Tirith, di lihat dari reaksinya dan Altucray jelas bahwa ini yang pertama kalinya mereka melihatnya. Mereka tidak bisa di salahkan. Karena terlalu sembrono dan terburu-buru meminum air kehidupan, dia tidak menduga bahwa itu akan membuat rasa sakit tidak perlu karena Void yang ntah bertambah kuat atau sesuatu.
"Huhhh~, sepertinya bukan ide bagus bagiku meminum nya lagi. Meskipun rasa sakitnya tak tertahankan dan hampir membuatku gila, namun perubahan pada tubuhku dapat terasa jelas..." Lebih kuat dan penuh stamina dari sebelumnya.
Yah, itu tidak akan terbukti selain mencobanya sendiri. Tetapi bukan sekarang waktunya. Untuk sekarang menebar umpan adalah prioritas utamanya. Selain itu, Phoenix tetaplah tujuan yang harus dia raih secepatnya.
"Sudah cukup... Mari kita kembali, urusanku sudah selesai. Hei budak, siapkanlah sebuah tempat yang nyaman untuk konferensi kami tentang target selanjutnya setelah Tortoise." Rigel mengakses Index untuk menandakan tempat ini sebagai titik teleportasi dan dia juga meminta Ciel menuliskan kordinat tempat ini.
"Kenapa harus aku? kau memiliki negaramu sendiri, lakukanlah pertemuan itu di sana!" Altucray membentak Rigel.
"Oii, oii. Apa kau benar-benar setua itu, sampai-sampai melupakan bahwa Britannia juga negaraku?" Rigel tersenyum dengan mengejek dan membuat Altucray semakin marah.
"Tch! daripada itu, kapan kau akan melepaskan belenggu putriku?! jangan bilang bahwa itu hanya tipuanmu belaka!"
"Ya, akan kulakukan..." Rigel memandang Tirith yang bermasalah dan Altucray yang terlihat terkejut, "Di saat aku menemukan cara untuk menghapus ingatannya... Sampai jumpa saat Konfrensi nanti..." Meninggalkan tawa mengejek dan senyuman jahatnya, Rigel ber teleportasi kembali menuju Region. Meninggalkan Tirith dan Altucray berdua saja.
"Bajingan itu! Mampus sana!" Altucray berteriak dan melontarkan sumpah serapah nya kepada Rigel yang telah lenyap dari hadapannya.
Rigel kembali ke Region untuk saat ini sebelum memulai pertemuannya dengan Pahlawan lain. Sesampainya di Region, dia di sambut oleh Asoka yang duduk di tahta dan Ray, Ozaru, Merial dan Misa.
Ray pertama bicara, "Rigel, aku telah menghubungi Pahlawan lain melalui radio dan menyuruh mereka untuk berkumpul di Britannia untuk melakukan pertemuan. Lalu, aku sudah memberitahu Leo bahwa kau ingin menemuinya dan saat ini dia tengah berlatih pedang bersama Fang."
Rigel memberikan masing-masing satu Radio kecil untuk mereka. Kalau-kalau Rigel memerlukan bantuan mereka. Dalam serangan invasi iblis, hanya Britannia saja yang tidak mengalami banyak kerusakan, berkat pelindung yang melindungi ibukota kerajaan. Karena negara lain termasuk Region tengah sibuk memulihkan kerajaannya sehingga Britannia menjadi pilihan terbaik.
"Aku juga telah mengirimkan beberapa prajurit untuk menyiapkan apa yang kau minta, Rigel." Berlanjut kepada Asoka yang mengirimkan laporan kepada Rigel.
"Kerja bagus, kalian memang benar-benar dapat di andalkan. Untuk saat ini, aku akan menemui Leo terlebih dahulu." Rigel berjalan menuju ruang pelatihan.
"Aku ikut denganmu." Ozaru menyusul Rigel dan bersama-sama menuju ruang pelatihan.
Setibanya di sana mereka melihat Fang yang sedang latih tarung menggunakan pedang kayu bersama Leo. Di lihat dari keringat yang mereka miliki, nampak sudah cukup lama mereka bertarung dan terlihat jelas jika Fang kewalahan.
"Mari kita sudahi saja, Leo. Aku sudah tua, tidak memiliki banyak stamina sepertimu."
"Satu kali lagi saja, paman Fang, aku mohon!" Leo menundukan kepalanya kepada Fang yang sudah terengah-engah.
"Oii, oii, jangan terlalu memaksakan Fang, Leo. Dia sudah berumur, lebih baik kamu sparing pedang denganku." Rigel meregangkan tubuhnya dan memasuki arena bertarung. Leo tampak terkejut dan berseri-seri karena akan sparing pedang dengan Rigel.
Ozaru duduk dengan tenang dan ingin menyaksikan pertarungan Rigel dengan Leo. Fang memberi hormat kepada Rigel dan Ozaru lalu mengambil kursi duduk di dekat Ozaru.
"Akan aku tunjukan kemampuanku yang sekarang! Jangan salahkan aku jika kau terluka, Ayah!" Leo mengejek selagi mengacungkan pedang kayunya.
Rigel tidak mengambil pedang kayu dan melemparkannya ke tepi arena. Leo tidak mengerti dan berpikir bahwa Rigel akan bertarung menggunakan tangan kosong.
"Buanglah mainan itu, Leo," Rigel menciptakan dua buah pedang dengan ukuran dan kualitas yang sama dan melemparkan salah satunya kepada Leo, "Gunakanlah itu mulai saat ini."
Leo mengambil pedang sungguhan itu dengan bingung. Dia tidak menyangka bahwa akan tiba saat dia bertarung dengan pedang sungguhan.
Rigel baru memperhatikan, bahwa Leo sudah tumbuh menjadi bocah berumur dua belas atau tiga belas ke atas. Mungkin karena dia seorang Demi-human, yang berkembang tergantung seberapa banyak level yang mereka dapatkan. Jika begitu, perkiraan bahwa mungkin Leo telah mencapai level 50 ke atas.
"Apakah kita benar-benar akan latih tanding dengan pedang sungguhan, Ayah?" Kekhawatiran jelas terukir di wajah Leo.
Tidak bisa bernafas, keringat dingin, ketakutan menguasai, otaknya meminta untuk bergerak, namun tubuhnya tidak mau mematuhi perintahnya. Leo tidak dapat berkutik dengan tekanan Rigel, namun dia harus mengatasinya. Tangannya yang gemetaran perlahan berhenti gemetar dan mencengkram kuat-kuat pedangnya.
"Hoho?" Rigel terkejut bahwa Leo berhasil mengatasi tekanan yang di berikan Rigel. Untuk mengatasinya, Leo memilih menggigit bibirnya, karena rasa sakit dapat membuatnya lolos dari tekanan mengerikan itu. Rigel tersenyum, "Keluarkan lah semua kekuatanmu seakan ingin membunuhku."
"Hehe, jangan salahkan aku jika kamu terluka!" Dengan cepat Leo mengambil langkah dan melompat, mengayunkan pedangnya di atas kepala Rigel.
Rigel menahannya dengan pedangnya dan membuat Leo terhenti di udara, "Cukup bagus, Leo." Rigel sedikit memuji, namun serangan Leo tidak berhenti sampai di situ. Dia bermanuver ke belakang Rigel dan berputar, mencoba melukainya.
Rigel meraih kaki Leo dan melemparnya kembali ke tempatnya berada sebelumnya, "Trik yang bagus, namun sangat mudah di baca dan gerakanmu sangat lambat."
Leo beranjak bangun dan memasang kembali kuda-kudanya. Sekarang, giliran Rigel untuk menyerang. Rigel dengan cepat memotong jarak dan mengayunkan nya ke sisi kiri Leo. Tidak berniat menahan, Leo memilih untuk mengambil jarak dari jangkauan serangan Rigel, dia berputar dan berlari ke sisi lain Rigel dan menikam kan pedangnya ke pinggang Rigel, namun lagi-lagi berhasil di gagalkan. Rigel menggunakan punggung pedangnya untuk membelokan arah serangan Leo.
"Apa hanya segini kemampuanmu, Leo?" Rigel kembali mengejek, namun Leo tidak terpancing ejekan Rigel untuk melakukan serangan blak-blakan.
Leo kembali menjaga jarak dan memusatkan Mana miliknya di pedang dan kakinya, "Hoho? tidak kusangka jika kau sudah bisa menggunakan Mana..." Rigel kagum. Selama ini, Rigel belum mengajari Leo cara menggunakan Mana dan menggabungkannya dengan teknik berpedang.
Namun kekurangan Leo terlihat jelas dari waktu dia mengumpulkan Mana yang terlalu lama. Rigel sengaja diam dan menunggu sesuatu yang akan di lakukan Leo.
"Burst step!" Leo melangkah dengan sangat cepat dan sudah berada di depan Rigel, "Seribu tebasan kilat!" Rigel terkejut bahwa Leo dapat menggunakan jurus yang pernah dia perlihatkan setidaknya sekali.
Rigel mencoba mengambil jarak namun sudah terlambat.
*Sring....................
*Clang................
Leo telah berada jauh di belakang Rigel. Dalam sepersekian detik, pedang di tangan Rigel patah menjadi dua bagian. Leo memusatkan serangannya pada pedang di tangan Rigel dan berhasil mematahkannya. Ozaru bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum, "Sepertinya pertandingannya telah berakhir..."
Rigel juga terkejut karena Leo mematahkan pedangnya, tidak hanya itu. Leo berhasil menggores sedikit wajah Rigel, itu membuktikan bahwa kemampuannya telah meningkat drastis, namun itu tidak cukup mendekati untuk membuatnya layak menjadi kandidat.
Leo berbalik menghadap Rigel dengan senyuman berani, "Sudah kukatakan, jangan salahkan aku jika terluka..." Tidak terduga bahwa Rigel akan mendengar provokasi macam itu dari Leo, dan itu cukup menghibur.
"Aku akui kau sudah banyak berkembang, Leo... Aku penasaran dari mana kamu mempelajari seribu tebasan kilat itu?"
Fang tidak mungkin mengajarinya, karena sejauh yang Rigel perhatikan dia tidak bertarung menggunakan pedang. Tetapi menggunakan cakar-cakar tajam miliknya, karena dia dapat berubah menjadi serigala.
"Aku mempelajarinya saat melihat gerakan yang Ayah tunjukan dan aku mencoba menirunya, lalu ntah bagaimana aku berhasil melakukannya."
Tidak hanya Rigel, tetapi Fang dan Ozaru yang menghampiri mereka terkejut mendengarnya. Artinya, Leo berkemungkinan dapat menirukan jurus seseorang yang dia lihat. Ketimbang menirukan, mungkin lebih cocok mempelajarinya dalam sekali pandang. Jika benar begitu, maka Leo berkemungkinan menjadi pendekar pedang yang sangat kuat, mungkin setara dengan Asoka atau Raja negara lain seperti Altucray.
"Yah, itu belum tentu... Leo, aku akan memperlihatkan salah satu gerakan ku. Cobalah untuk menirukannya."
Rigel mengambil jarak dari yang lain, dia menciptakan pedang baru dan sebuah besi di ujung arena yang berguna sebagai target dari serangannya. Rigel memutar sedikit pedangnya dan mengalirkan Mana secukupnya ke pedang itu. Mengambil bentuk Kuda-kuda menunduk sedikit kebawah, mengubah pegangan senjatanya dan mengambil dua langkah ke depan. Rigel melemparkan pedangnya sekuat tenaga menuju target besi itu. Aliran listrik muncul dari gagang pedang yang Rigel pedang dan hembusan angin kencang muncul saat dia melemparkan pedangnya dengan kuat.
Pedang itu melaju dengan sangat cepat dan berhasil menembus besi yang menjadi target. Tidak lama kemudian, besi tempat pedang itu menancap hancur berkeping-keping karena kekuatan yang di keluarkan pedang itu. Leo dan Fang menatap dengan kagum, mereka belum pernah melihat ada orang yang melemparkan pedangnya seperti itu. Tentu saja, karena hanya Rigel orang yang akan berani melakukan itu karena dia dapat menciptakan banyak senjata semaunya.
"Hebat! itu sangat hebat Ayah!" Leo berseri-seri dan terkagum dengan jurus yang sebelumnya Rigel keluarkan.
Rigel tersenyum dan menatap Leo, "Cobalah kau lakukan seperti yang aku lakukan, gunakan pedang di tanganmu itu. Jika berhasil, akan kuberikan kau sebuah hadiah yang ku jamin kualitasnya."
"Baiklah!"
Rigel menciptakan besi target lain untuk Leo kenai. Rigel dan yang lain menjaga jarak dari Leo yang sudah berkonsentrasi mengumpulkan Mana di genggaman pedangnya.
Leo menarik nafas panjang dan mulai mengambil dua langkah panjang. Dia mengubah pegangan pedangnya dan sekuat tenaga melemparkannya.
*Woosh............
Angin berhembus kencang saat pedang terlempar di tangan Leo terlempar dan menuju target besi yang Rigel ciptakan. Pedang itu menancap cukup dalam, meski sedikit melenceng dari titik utamanya. Berbeda, jika Rigel dapat menghancurkannya sampai menjadi kepingan kecil, Leo hanya dapat membuat beberapa retakan pada besi target itu. Namun, dengan begini sudah jelas bahwa Leo benar-benar memiliki bakat mempelajari banyak jurus dalam waktu cepat.
"Hahaha, benar-benar seorang jenius alami..." Ozaru sedikit tertawa dan kagum kepada Leo. Memang cocok Leo mendapat julukan semacam itu. Mungkin saja, Leo dapat mempelajari beberapa gerakan berpedang dari pertarungan nyata yang harus dia alami. Selain itu, jika dia dapat mempelajari hal lain selain pedang akan jadi hal luar biasa.
"Aku setuju, Genius alami memang sebutan yang cocok. Jika di pikir-pikir, kau dapat mengakses Ciel hanya dengan satu kali penjelasanku saja. Kau memiliki bakat Leo, jika kau terus mengembangkan bakatmu sampai cukup kuat bersanding denganku, aku tidak keberatan membiarkanmu memanggilku Ayah." Rigel memberikan senyuman senang kepada Leo dan dia mengambil sesuatu dari inventory miliknya, "Ini, sebagai hadiah, aku akan memberikanmu pedang Kusanagi ini. Ketimbang diriku, aku yakin pedang ini akan jauh lebih berguna jika kau yang menggunakannya."
Leo perlahan mengambil pedang dengan bilah Katana itu Dia merasa sangat kagum dengan pedang yang memiliki kekuatan hebat di dalamnya. Kusanagi mengeluarkan kilatan cahaya singkat seakan telah menemukan tuan yang dia cari.
"Aku akan menjaganya baik-baik! dan aku akan terus menjadi semakin kuat, Terima kasih Ayah!" Leo melompat dan memeluk Rigel dengan sedikit air mata. Rigel akan membiarkannya untuk kali ini saja. Untuk selanjutnya pertemuan para Pahlawan akan di mulai.