The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Sayap untuk terbang



Rigel menuju sebuah tempat yang berada di pedalaman hutan. Takumi, Yuri dan Sylph mengikuti dibelakangnya. Lagipula Rigel tidak menyuruh untuk tidak ikut, jadi tidak ada salahnya bila mereka ikut.


"Memangnya kemana tujuan kita??" Takumi bertanya dengan penasaran.


"Ya, kau akan tahu saat waktunya tiba. Kita sudah dekat."


Butuh beberapa waktu untuk mendaki Gunung dengan berjalan kaki. Tempat tujuannya mulai terlihat. Sebuah gua besar yang dipenuhi energi sihir dalam jumlah besar.


"Energi sebesar ini..., berasal dari monster dan sesuatu yang lainnya," Yuri bergumam. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.


Takumi sendiri bersiap untuk keadaan terburuk, namun Rigel dan Sylph saja yang tetap santai. Entah benar atau tidak, Sylph seakan sudah tahu apa yang ada di sana.


Yah, lagipula dia adalah Ratu Peri. Sosok yang memantau alam. Tidak mengejutkan bila dia tahu tempat itu..., batin Rigel dan tersenyum masam karenanya.


"Hebat juga kau bisa mengetahuinya. Bahwa terdapat dua energi kuat tercampur disana," pujian Rigel tulus. Bahkan Takumi tidak dapat membedakannya. Dia hanya merasakan kumpulan energi besar tanpa pernah tahu apa itu.


"Tidak mungkin bila aku tidak dapat merasakan energi yang seakan hendak meledak kapanpun itu."


Kekhawatiran tampak jelas dalam raut wajahnya yang elok. Memang wajar untuk khawatir, mengingat dia tidak mengetahui apapun yang berada di sana.


Mungkin dia akan terkejut bila melihatnya nanti. Tidak hanya dari monster itu, namun sesuatu yang dijaga olehnya. Lantas Rigel berharap dia ataupun Takumi tidak melakukan serangan yang sia-sia. Apalagi memancing kemarahannya dan membuat segalanya menjadi rumit.


Begitu mereka mendekati gua yang nampak sunyi dan gelap, keringat dingin muncul pada dahi Yuri dan Takumi. Berbeda dengan Rigel dan Sylph yang benar-benar tidak memiliki jejak kekhawatiran apapun.


Rigel mengintip kedalam gua dan berteriak, "Woy, apa kau ada didalam? Atau mungkin sedang bab??"


Tidak ada jawaban atau tanda-tanda lainnya. Namun Rigel merasakan jelas bahwa dia ada didalam dan juga beberapa sosok kecil tidak terduga.


Dumb!


Langkah kaki besar terdengar, membuat tanah bergetar akan beratnya. Lantaran berat tubuhnya berton-ton lebih. Erangan besar nan mengerikan mulai terdengar, membuat Takumi dan Yuri bergidik ngeri karenanya. Mereka menenggak air liur, bersiap mengacungkan senjata untuk menyerang.


"Roaarrrrwwwrrr..."


"Gwarrrrwwww..."


Auman besar diikuti auman lucu dari para bocah bergema didalam gua. Auman Red memang menakutkan, bahkan cukup kuat untuk membuat burung beterbangan. Namun, untuk Riri dan para bocah lainnya hanya membuat yang lain merasa gemas saja.


Kengerian yang dialami Yuri dan Takumi menghilang begitu melihat keberadaan Riri dan anak kecil lainnya. Lantas mereka nampak kecewa akan sesuatu, mungkin terhadap reaksi yang tidak sesuai harapan.


"... Mereka tida terkejut sedikitpun...," Yuri bergumam dengan kecewa.


"Sudah kukatakan bukan? Mereka manusia mengerikan yang bahkan tidak akan terkejut dengan begitu mudahnya," Red menghela nafas lelah, namun jelas bahwa dia menikmatinya.


"Begitu, jadi kalian berniat mengejutkanku, dasar bocah nakal," Rigel mencibir dan tersenyum seakan menang.


"Kalian turunlah kemari." lanjutnya.


Riri dan yang lain turun dari punggung Red dengan sedikit sedih dan kecewa. Mungkin mereka berharap mendapati kejutan di wajah Rigel dan yang lain, namun nyatanya berbeda.


"Maafkan kami, kak Rigel. Kami hanya penasaran apakah kakak dapat terkejut atau tidak."


Tidak perlu baginya memarahi atau menceramahi. Mereka sendiri sadar akan kesalahan dari perbuatan mereka. Itu sendiri sudah cukup baginya, lantaran mereka masih kanak-kanak. Mereka akan menghabiskan masanya untuk bermain sebelum menjadi remaja.


"Bukannya aku marah atau apapun. Hanya jika orang itu bukan aku, mereka pasti akan terkena serangan jantung."


Misalkan saja budak raja yang mereka coba kejutkan, mungkin dia terkena serangan jantung atau mengompol. Tunggu, mungkin itu ide bagus untuk dicoba. Lantaran membuatnya malu lebih menyenangkan ketimbang menyiksanya. Mari simpan pemikiran itu dalam sudut kepalanya.


Rigel kembali menatap anak-anak itu. Entah mengapa mereka tampak mengabaikan Rigel, justru terpukau kepada kecantikan yang ada dibelakangnya.


"Cantiknya...," Riri bergumam takjub, matanya berkilau dan hampir lupa untuk berkedip.


Tidak lain dan tidak bukan, kecantikan yang dimaksud berasal dari Sylph. Bahkan Rigel memiliki reaksi sama sepertinya pada saat pertama kali berjumpa. Namun entah mengapa dia tidak tertarik untuk mencintainya.


"Ahaha..., Terima kasih, nona kecil. Aku yakin kau akan jauh lebih cantik saat dewasa nanti," dengan aura keibuannya, Sylph mengelus lembut kepala Riri.


Terdapat cinta dan kesedihan dalam sorot matanya. Mungkin dia teringat kepada Priscilla, gadis yang dia rawat sedari balita. Gadis yang dia cintai dan kasihi selayaknya putri kandungnya sendiri.


Hari-hari itu menjadi kenangan tak tergantikan dari tahun-tahun yang dia lalui. Namun, hal itu berakhir dalam sekejap karena Priscilla mengorbankan jiwa dan tubuh demi menyegel Tortoise. Bersilang seribu tahun setelahnya, Tortoise bangkit namun Pahlawan masa ini berhasil membunuhnya. Bahkan menyelamatkan Priscilla dan menghidupkannya.


Kebahagiaannya saat itu jelas tak dapat dilukiskan. Hari-hari yang menyenangkan akan mewarnai hidupnya lagi, namun kejadian tak terduga lagi-lagi terjadi. Priscilla pergi dari hutan roh, hingga akhirnya diculik sosok misterius. Demi menyelamatkannya, pada akhirnya dia rela mengulurkan tangan secara langsung kepada manusia demi menyelamatkannya.


"Ada hal yang ingin kami bahas, jadi bisakah kalian meninggalkan tempat ini dan bermain ditempat lain? Aku akan membiarkan anak-anakku menemani kalian."


Enam cahaya muncul, layaknya kunang-kunang yang bersinar. Riri dan yang lainnya jelas sangat terpesona, untuk pertama kali dalam hidup mereka menjumpai peri.


"Wah, cantiknya!"


Cahaya-cahaya itu beterbangan layaknya kupu-kupu, menuntun anak-anak pergi menjauh dan menuju kota.


Meski tidak lagi ada pengganggu, mereka masih hening dan tidak membicarakan apapun. Mungkin menunggu sampai keadaan benar-benar hening dan anak-anak tidak lagi dapat dirasakan keberadaannya. Seling beberapa menit, akhirnya dia bicara.


"Jadi, berkat apa yang membawamu kemari? Hingga ratu peri dan rekan Pahlawanmu datang menemui ku," Red sedikit mencurigai dan berusaha menerka niat Rigel sebenarnya.


Dia mungkin berpikir, pada akhirnya Rigel berusaha membunuhnya, dikarenakan ketidak mampuannya membunuh Acnologia. Namun, Red sedikit memahami sedikit kurangnya manusia bernama Amatsumi Rigel.


Lantas, satu hal lain yang dapat terpikirkan. Tujuannya pasti berhubungan dengan Acnologia, malapetaka terakhir yang tersisa.


Baru-baru ini dia telah mendengarnya dari Riri dan bocah lain, bahwa Rigel berhasil membunuh White Tiger. Tentunya hal itu menjadi kejutan nyata bagi Red. Tidak salah dia mencoba bertaruh kepada manusia, lantas hasilnya mungkin diluar perkiraan.


"Mereka hanya bonus. Keberadaan Sylph sendiri persis seperti inteligen terbaikku, hanya untuk situasi ini."


Mengingat dia seorang peri, hampir tidak ada kesempatan mendapatkan dukungan penuh darinya. Hanya pada situasi yang berhubungan dengan Priscilla saja, ratu satu ini memberikan segalanya untuk keberhasilan.


Meski dia bisa meminta Sylph membayarkan hutangbudi yang dimilikinya, namun sekarang bukan waktu yang tepat menggunakannya. Entah itu untuk kartu truf atau defensif terkuatnya, semua akan ditentukan saat waktunya tiba. Rigel berharap bahwa pilihan terakhir tidak akan dia pilih.


"Aku hanya ingin berbagi informasi yang kau nantikan. Selamat..., tidak lama lagi kontrak diantara kita akan segera terpenuhi. Saat persiapan yang panjang selesai, aku akan segera menaklukkan Acnologia, monster malapetaka terakhir."


Suasana menjadi semakin berat, lantaran kata-kata Rigel tak dapat diakhiri sebagai candaan belaka. Meski Takumi dan Yuri sudah menduganya, mereka tetap terkejut karenanya. Terutama pada kontrak yang dimaksudkan Rigel. Mereka tentu penasaran, namun sekarang bukan waktu yang tepat.


"Kau menatap langit terlalu tinggi, sampai lupa kedalaman lautan. Apa kau benar-benar memiliki kekuatan tempur yang memadai hingga sangat percaya diri? Mengandalkan rekan Pahlawanmu saja tidak berguna. Bahkan keberadaan Ratu peri tidak merubah banyak hal—"


Sebelum Red memaparkan fakta yang sangat jelas diketahui Rigel, dia memotong perkataan nya,


"Karena itu..., keberadaan dirimu dapat merubah situasi tanpa harapan. Aku memang menatap langit terlalu tinggi, namun tak pernah sekalipun berpikir dapat mencapainya tanpa sayap."


Red menyipitkan matanya dan hanya fokus terhadap Rigel, sampai keberadaan luar biasa dari Ratu peri dan Pahlawan seperti Yuri dan Takumi dapat diabaikannya.


"Jadi, kau ingin aku menjadi sayapmu untuk menggapai langit itu? Sayangnya ada batas dimana aku akan terbakar matahari dalam perjalanan."


Red memang kuat, namun tidak perduli sekuat apa dia. Dirinya tidak akan mampu mengatasi ratusan hingga bahkan ribuan spesies sejenisnya. Bahkan untuk membunuh dara tidak murni sekalipun, ada jumlah yang tidak dapat dia atasi.


Stamina dan energinya juga terbatas. Sama halnya dengan manusia yang akan lelah bila terus menggunakan tenaga. Naga juga seekor mahkluk hidup. Poin penting itu tidak akan terbantahkan, bila mahkluk hidup memiliki batasan yang sama.


"Biar aku luruskan..., aku tidak memintamu menjadi sayapku. Cukuplah menjadi salah satu sayap yang membantuku menaklukkan matahari dan menggapai langit. Sebagai burung yang ingin terbang jauh, akan kubuat sayap ku sendiri."


Cukupkan pada sayap yang menghalangi matahari agar dirinya tidak terbakar dalam perjalanan. Bahkan Red langsung memahami dengan mudah maknanya. Tidak perlu sayap kuat untuk terbang tinggi, cukuplah dengan sayap-sayap lemah yang membantu sayap lainnya untuk terbang.


"Mereka tidak akan mempercayaiku yang manusia. Lantas mereka mungkin mempercayai sesama mereka. Karena itu, keberadaanmu dan teman-temanmu yang terpencar dapat membalikkan situasi."


Rigel ingat bahwa Red dan beberapa rekan Naganya berhasil melarikan diri dari cengkraman Acnologia. Demi menuntut hari pembalasan, mereka berpisah menuju belahan dunia lain demi mencari kekuatan yang dapat membalaskan dendam rekan-rekannya yang gugur.


"Aku memahami maksudmu, barangkali itu berhasil namun juga tidak. Dari sudut pandang lain, kami yang melarikan diri dapat terbilang mencoreng harga diri ras kami. Tidak dapat dipungkiri bahwa mungkin mereka membenci kami, namun tidak ada salahnya mencoba... Baiklah, Rigel. Kau menang dan mendapat sayap tambahan!"


Yang artinya dia setuju memberikan bantuannya kepada Rigel. Tentunya hal itu menjadi kelegaan tertentu, sehingga senyuman terukir di bibirnya. Namun—


"—tetapi, kau ingat bahwa isi kontrak tidak mengharuskan ku turun tangan membantu. Tidak ada kewajiban bagiku benar-benar memberikan tangan. Tergantung bagaimana keadaannya, aku dan rekanku akan menarik kembali uluran tangan."


Singkatnya, Red hanya akan mengawasi saja. Bilamana pihak Rigel mengalami kekalahan dan berada dalam situasi terpuruk, Red tidak akan turun tangan untuk membantu. Sesuai yang tertera pada kontrak, dia akan menghancurkan Region sebagai ganti gagal mengalahkan Acnologia.


Jadi dia memang tidak sebodoh itu ya..., batin Rigel dengan sedikit kecewa.


Dia tentu berharap akan mendapatkan bantuan Red sedari awal, namun nyatanya Naga murni memang bukan monster berkepala kosong. Awalnya dia berniat menggunakan Red sebagai kartu terakhir bila mana menghadapi situasi yang sangat krisis. Namun kini hal itu tidak lagi berguna. Karena Red tidak akan turun tangan langsung sampai pihaknya memiliki keunggulan mutlak.


Meski disayangkan, setidaknya hal itu lebih dari cukup membantu. Lantas, hal yang harus dikerjakan selanjutnya adalah membentuk persatuan militer khusus untuk menangani Naga.


"Yah, tidak apa selama kau benar membantu. Meski tidak ada jaminannya, aku yakin kau bukan tipe orang yang mengatakan kata-kata manis, kan??"


"Naga tidak seperti manusia, selalu menyuguhkan janji manis namun nyatanya pahit. Kami tidak akan pernah mengucapkan janji manis yang tidak terpenuhi. Intinya, janji akan selalu ditepati."


Sama halnya dengan iblis yang tida mengingkari janji mereka. Nampaknya hal itu berlaku diantara para Naga.


"Kalau begitu baguslah," ujar Rigel tersenyum puas. Namun itu hilang sesaat merasakan tatapan tajam yang penuh keingintahuan menusuk dari punggungnya.


"Ada apa dengan kalian berdua? tatapan itu membuatku merinding."


"Aku tidak pernah menduga bahwa kau memiliki kontrak dengan Naga, belum lagi berdarah murni! Sejak kapan itu terjadi?!" Takumi meraih Rigel dan bertanya dengan penasaran.


Sifatnya yang seperti ini benar-benar merepotkan. Jelas bahwa dia menunggu waktu tepat untuk mengatakannya sedari tadi.


"Bukan urusanmu. Lagipula aku hanya memberinya tempat tinggal dan aku mendapat informasi yang dibutuhkan. Sebatas itu saja kontrak kami," membeberkan isi sebenarnya akan merepotkan, jadi lebih baik menyimpannya tetap didalam bayang.


Rigel beralih kepada sosok lainnya—Yuri yang tengah menatap sesuatu didalam gua. Sepertinya dia benar-benar penasaran terhadap sesuatu yang berada didalamnya.


"Meski kehadiran Naga murni mengejutkan, namun itu tidak menjelaskan energi besar di sana. Energi itu bukan miliknya. Jadi, apa itu??"


"Batu ramalan," jawab Rigel dengan acuh.


"Ehh?!! Bukankah di dalam kerajaan Region sudah ada satu? mengapa ada satu lagi di sini?!"


"Rekan Pahlawanmu yang satu ini benar-benar gila, nona busur. Dia memindahkannya entah darimana ke sarangku dan membuatku sulit tidur dengan nyaman. Karena khawatir benda itu meledak," Red menjawab Yuri. Mungkin karena tidak tahu namanya, dia memanggilnya dengan nona busur.


"Ehh?! Memindahkannya?! Bagaimana bisa!!" kali ini tidak hanya Yuri, melainkan Takumi sama hebohnya.


Sylph disisi lain hanya tersenyum masam terhadap kelakuan dua sejoli itu. Dia sendiri tidak terkejut akan faktanya, mungkin dia tahu cara memindahkannya sehingga tidak terkejut.


Hari terus berlalu, hingga tanpa disadari matahari mencapai puncak ketinggiannya. Rigel dan yang lain memutuskan kembali, sementara Sylph pergi menuju pohon roh untuk menuntaskan hal lain.