
"Yah, kalau begitu aku pergi dulu, ayo Takumi..." tukas Yuri, meraih tangan Takumi dan hendak mengajaknya pergi. Namun tidak ada tanda bahwa Takumi akan ikut dengannya.
"Kau pergilah duluan. Aku ingin membicarakan sesuatu yang lebih pribadi dengan Rigel."
Takumi menolak ajakannya dan memilih bersama Rigel untuk membahas sesuatu. Sesuatu yang lama dia ingin bahas lebih dalam, namun tidak ada kemajuan sama sekali karena sedikitnya waktu yang bisa diberikan Rigel.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan berkumpul dengan yang lainnya dan membantu para kesatria."
Begitu Yuri meninggalkan tempat, hening terjadi di tengah Rigel dan Takumi. Mereka menatap tempat jauh, tujuan akhir dari raid ini.
"Jadi, hal apa yang kau perlukan?" tanya Rigel, tanpa perlu menatap Takumi.
"Kau tahu bahwa aku telah mengalahkan Behemoth ketika memulai perjalanan untuk balas dendam. Ketika itu, aku mendapat sesuatu berupa mata unik yang sama sekali tidak kuketahui apa kegunaannya, karena itu..." dia mengambil sesuatu di dalam penyimpanannya dan melemparkannya kepada Rigel.
Rigel menangkapnya tanpa susah payah dan menemukan bola mata dengan kornea warna merah. Manusia pada umumnya memiliki kornea bundar, namun ini berbentuk guci. Sangat unik dan juga menyeramkan, terutama pada sesuatu yang di dalamnya.
Sebuah energi misterius tersegel di dalamnya. Rigel sendiri tidak tahu apa itu, namun dari yang dia perkirakan, benda ini barang sekali pakai.
"Kupikir benda ini akan berguna bagimu di suatu waktu. Meskipun aku sendiri menyarankan untuk tidak menggunakannya karena tidak tahu apa yang akan terjadi, namun, yeah, kupikir kau dapat melakukan sesuatu dengan ini..." tukasnya, tersenyum lembut dan sedikit bermasalah karena memberikan barang bermasalah.
"Apa kau yakin? Benda ini nampaknya memiliki kekuatan dahsyat di dalamnya, meskipun hanya satu kali pakai. Ini boleh jadi kartu truf yang bisa kau miliki."
Bahkan Rigel sendiri tidak akan menjadi sebaik itu memberikan sesuatu sekuat ini. Meskipun terdapat resiko yang mungkin tidak diketahui, Rigel tetap tidak akan menyerahkannya kepada orang lain. Namun, Takumi malah dengan ringan tangan memberikannya.
"Tentunya itu bagus, namun aku merasa tidak akan sanggup menggunakannya. Belum lagi, bisa saja senjata ilahi menolak keberadaannya, sama halnya ketika aku mencoba menggunakan pedang ataupun Rune Stone," Takumi menggaruk pelipisnya dengan sedikit malu dan tersenyum masam.
"Tidak kecil kemungkinannya bahwa senjata ilahi menolak mata itu, jadi sebaiknya dirimu yang tanpa senjata apapun yang menggunakannya."
Rigel adalah satu-satunya Pahlawan yang tidak memiliki resiko apapun dengan menggunakan senjata lain. Namun, dia tidak akan pernah bisa menyentuh senjata Pahlawan. Syaratnya begitu sederhana, sangat tidak merugikan apapun baginya.
"Lagipula, aku memiliki kartu truf yang belum sekalipun kutunjukan pada siapapun. Jadi kau tidak perlu merisaukannya..." tambahnya.
Rigel menggunakan index untuk mencari tahu nama benda di tangannya itu. Dirinya menemukan itu bertuliskan "Eye of Agamotto" namun disayangkan bahwa kemampuannya tidak diketahui.
"Baiklah, aku akan menerimanya."
Setelah puas terhadap apa yang ingin dia sampaikan dan berikan, Takumi bergegas membantu prajurit dan Pahlawan lain dalam menghadapi naga yang membuat kekacauan.
Rigel masih berada di tempatnya untuk melihat mata di tangannya. sesaat lalu pergi untuk membantai sekawan naga campuran yang dipimpin seekor murni tengah mendekatinya.
[***]
Dua jam semenjak memasuki hutan naga, keadaan mulai semakin sulit. Bukannya mengurang, justru ada semakin banyak naga yang berdatangan dan hampir tidak ada waktu bagi pasukan beristirahat.
Sebagai antisipasi untuk mengatasi kelelahan para kesatria, perintah Rigel diturunkan. Perintah itu berisikan mundur sesuai jadwal yang ditentukan dan bagi mereka yang masih sanggup akan menggantikan tim yang beristirahat. Begitu pula sebaliknya, bagi tim yang telah beristirahat, akan menggantikan mereka yang belum.
Dia juga menurunkan perintah lain untuk mengumpulkan prajurit dengan senapan api. Tentunya semua merasa bingung, namun Rigel dengan jelas telah mempertimbangkan peringatan Yuri sebelumnya dan meminta orang-orang untuk berkumpul begitu sinyal di tembakkan.
"Aku mengakui itu ide bagus, namun tidak terlalu efisien."
Mendapatkan kritik dari orang tidak terduga, Rigel mengeluarkan senyum geli selagi melihat orang-orang datang dan pergi.
"Hoh? Tidak kusangka akan ada hari dimana kau mengutarakan pendapatmu kepadaku," Rigel tidak berbalik sedikitpun, justru menatap ke tempat jauh. "Aku sendiri tahu bahwa rencana ini tidak bagus. Hal ini hanya penanggulangan sementara selagi aku memikirkan sesuatu yang bagus untuk dicoba."
Tidak terlalu efisien menyuruh prajurit maju dan mundur semacam itu, namun lebih baik daripada tidak beristirahat sama sekali.
"Jika kau memiliki pemikiran bagus, jangan ragu mengatakannya. Ini semua tidak hanya dunia, namun demi putrimu juga."
"Hah! Tidak ada bagus-bagusnya. Bahkan kau mengingkari janjimu untuk melepaskan putriku dari belenggunya."
Altucray jelas tidak menyukainya, bukan karena mempermalukannya. Melainkan karena putri semata wayangnya. Dia berpikir Rigel sengaja mencuri hatinya dan membuat belenggu yang telah mengikat darah Pendragon aktif. Alhasil, putrinya itu mencintai orang yang tidak ingin sia cintai. Begitulah yang dia pikirkan dan asal-usul kebenciannya.
"Siapa bilang? Aku tidak akan pernah melanggar janji yang kubuat. Sampai waktunya tiba, akan aku kabulkan janji itu. Sekarang bukanlah waktunya."
Janji tetaplah janji, tidak pernah sekalipun dia berniat melanggar janji yang dia buat. Bukannya mustahil untuk melepaskan belenggu yang mengikat Tirith, dia tentu memiliki caranya. Mengingat ada banyak skill berlimpah yang tidak pernah dia gunakan.
Alasannya belum bisa melakukannya sangatlah sederhana, dia belum menyiapkan hatinya untuk dilupakan.
"Sampai waktunya tiba..., lebih tepatnya kapan itu terjadi? Aku tidak akan menjadi semudah itu untuk percaya padamu..." tidak sedikitpun kebenciannya disembunyikan, semuanya dia lepaskan tanpa rasa takut.
"Ketika akhir mendekat, hanya itu yang bisa kukatakan kepadamu," Rigel memejamkan matanya dan memegang dada, letak hatinya berada. "Suatu ketika, aku akan menghilang dari dunia ini."
Altucray tidak dapat mendengar jelas kata-katanya di bagian terakhir, berkat angin yang bertiup. Suaranya tersapu oleh angin, senyuman terbentuk di bibir Rigel.
Dia tidak tahu mengapa pemikiran seperti itu muncul dalam kepalanya, dia juga tidak terlalu mempersoalkannya. Semakin dekat akhir yang dituju, semakin jauh pula dia dengan dirinya yang original.
Dalam diam, Altucray meninggalkan tempat tanpa kata-kata sedikitpun. Bahkan dia tidak memperdulikan sesuatu yang menjadi pijakannya. Rigel tetap diam di tempat, menatap tanah tempatnya berpijak yang bertumpuk dengan mayat naga campuran dan murni di puncaknya.
Dengan tangan kanannya yang diperban, dia mengepalkannya dengan erat selagi merasakan desis angin yang lembut nan dingin. Membawakan aroma darah masuk melalui hidung dan mencapai paru-paru.
"Sepertinya sudah tiba, sebagian kekuatan tempur para naga..."
Di hadapannya, langit terlihat menghitam akibat banyaknya naga campuran yang terbang di langit. Jumlahnya benar-benar tidak masuk akal, bagaimana bisa hutan ini menampung banyak dari mereka.
Tidak ada kekhawatiran sedikitpun berasal darinya, malah yang ada bibirnya melengkung akan kebahagiaan. Dengan suara lantang, Rigel meneriakkan...
"Nampaknya penonton mulai berdatangan, mari kita mulai saja pesta kembang apinya!!"
Di sekitarnya, empat peluncur misil dengan masing-masing sepuluh di dalamnya terbentuk tanpa banyak usaha. Dia menembakkan satu peluru pertama, membuat enam naga tertembak jatuh. Beberapa juga terkena dampak ledaknya, namun terus melanjutkan perjalanan mereka.
"Itu sinyal Rigel! Semuanya tembak!!" Asoka menurunkan titahnya dan prajurit yang sudah berkumpul menembaki naga- terdekat.
"Gila..., apakah hal seperti ini yang terjadi ketika negara-negara adidaya berperang menggunakan misil ataupun perang nuklir??" gumam Marcel, terkesima dengan misil yang menembak jatuh para naga.
"Entahlah, namun ini hebat dan mengerikan. Beruntunglah Rigel berada di pihak kita...," gumam Petra, sama halnya dengan Marcel yang terkesima.
Andaikan Rigel berada disisi berlawanan dengan mereka, tidak ada keraguan bahwa teror seperti ini akan terjadi. Belum lagi dengan adanya nuklir, membuat manusia dunia ini berada di tangannya.
Bom!
Tongkat raksasa membanting seekor naga yang lebih besar dari yang lain. Alhasil membuat mereka teringat bahwa sedang berada di medan tempur.
"Jangan bengong! Ada sangat banyak dari mereka yang bermunculan!!" seru Ozaru.
Marcel dan Petra saling mengangguk dan berpencar ke tempat lain.
Rigel yang diam-diam menyaksikan kembang api dengan santai menyadari bahwa peluru misil telah habis. Tentunya mengisi ulang bukan hal yang sulit, namun dia ingat harus menyimpan tenaga untuk membangun benteng tak tertembus demi kembang api terakhir.
"Mari kita mulai tahap keduanya..., Wall."
Dinding besar yang cukup panjang terbentuk dan membentengi tempatnya serta Kesatuan Tempur berada. Tidak perlu baginya bersusah payah memberikan tanda, semuanya tahu dengan betul maksud dari munculnya tembok Adamantite itu.
"BERLINDUNG!!" teriak Asoka, menancapkan pedangnya di tanah untuk menahan getarannya.
Leo mengikutinya, Kandidat Kaisar mengikutinya, Pahlawan juga sama halnya. Alhasil semuanya melakukan hal serupa.
Rigel yang tersenyum puas menjentikkan jari kanannya dan—
Tik!
Dia menteleportasikan sebuah benda dengan bentuk misil raksasa dan meledakannya.
BOOM!!
Ledakan super masif mengguncang tanah naga, menyapu habis tumbuhan, batu, bahkan naga sekalipun. Entah akan ada berapa banyak yang selamat, kemungkinan para naga murni selamat sentosa, karena mereka memiliki tubuh yang sangat keras.
"Dia benar-benar menggila!" tukas Hazama selagi berpegang Odin agar tidak ikut terguncang akibat gempanya.
"Yeah, terkadang kegilaan diperlukan untuk memenangkan perang. Sejujurnya aku benar-benar menyukai kegilaan yang dimiliki Pahlawan muda itu..." tukas Odin dengan senyuman lebar.
Mereka yang pernah melalui banyak sekali medan perang akan memahami bahwa kegilaan itu prospek penting dalam perang. Orang waras tidak akan pernah bisa bertahan dalam perang.
Mengapa? karena mereka akan terbayang, merasa bersalah akan nyawa yang mereka ambil. Semakin banyak yang mereka bunuh, semakin banyak juga penyesalan dan beban mental yang mereka miliki. Karena hal itulah mengapa ada banyak pejuang yang bunuh diri, bahkan setelah memenangkan perang.
Butuh beberapa waktu hingga getaran berhenti dan angin menyapu debu untuk mengekspos dampak yang diterima tempat ini. Hasilnya luar biasa, saking hebatnya hampir membuat terharu.
Rigel berdiri di atas tembok dan menatap riang pemandangan di depannya. Mengecualikan gunung dan hutan tempat Acnologia tinggal, dimana terdapat pelindung super kuat yang memblokir ledakannya.
Bagian lainnya hancur total, bersama naga campuran yang merepotkan. Mayatnya tidak lagi dapat dikenali bentuknya, bahkan pepohonan berubah menjadi abu. Hangus dan terbakar total.
Tanahnya menjadi tercemar, seharusnya membutuhkan waktu lama untuknya kembali di tumbuhi tanaman hijau. Namun ini dunia dengan sihir, tidak akan butuh waktu lama untuk tempat ini kembali hijau. Bahkan Sylph dapat membuat hijau kembali hutannya dalam satu malam.
"Dengan begini hanya tersisa yang murni, beberapa campuran dan Last Bos, pencuri tolol dan naga goblok yang menyaksikan rasnya jatuh dalam kepunahan."
Dirinya benar-benar merasakan kepuasan misterius dari kehancuran total yang berada tepat di depannya. Hatinya tergelitik geli karenanya, naga yang tersisa menatap penuh kebencian.
Namun yang paling menjengkelkan bagi Rigel adalah ledakan nuklir tidak memberikan banyak luka kepada mereka yang murni. Bahkan sikeparat Acnologia sama sekali tidak terluka, berkat pelindung yang melindunginya dan gunung tempatnya berada.
Terhadap tatapan kebencian yang tertuju padanya, dia merentangkan tangan dan tersenyum malu, tidak seperti dirinya saja.
"Jangan menatapku seperti itu dong, memalukan tahu. Lagipula yang sebelumnya itu hanya pembukaan, acara awalnya baru saja dimulai, kayaknya deh."
Dia memasukkan sedikit Mana pda suaranya sehingga akan menjadi seperti speaker yang bergema.
Seperti harapannya, yang dia terima tatapan kebencian yang semakin dalam namun dia benar-benar tidak perduli akan hal itu. Selama naga itu tidak menghianatinya, kebencian mereka dapat teratasi.
"Jika saja kalian mau patuh mengikutiku tanpa perlawanan, aku tidak akan melakukan hal buruk kepada kalian. Jadi menyingkir dan biarkan kami membunuh naga goblokk di sana itu."
Dirinya menunjuk tempat Acnologia dan penculik itu berada. Namun yang paling mengejutkan adalah terdapat balasan dari pihak sana.
"Hahahaha!! Jangan pikir kamu sudah menang hanya dengan membunuh lalat-lalat tidak berguna itu!!"
Tidak salah lagi, suara yang sama dengan siaran di langit sebelumnya. Suara naga malapetaka, Acnologia.
**Kalian hanyalah mahkluk terendah dari kasta kehidupan, lebih hina dari babi. Hanya daging kalian saja yang berkualitas, jangan menjadi percaya diri, tolol!"
"Pertarungan bahkan belum dimulai, jangan meninggi. Sebagai balasan pertunjukan jelekmu sebelumnya, akan kutunjukan perbedaan besar diantara kita..., Pertarungan baru saja akan dimulai**."
Bersamaan dengan kata-katanya itu, sesuatu yang sangat banyak kembali muncul di langit jauh. Tidak normal bila Rigel tidak terkejut dengan pemandangan itu.
Jauh di belakang gunung Acnologia, pasukan naga lain terbang mendekat dengan jumlah yang terbilang banyak. Bahkan naga murni juga mulai berdatangan, sungguh tidak dapat dipercaya bahwa pasukan yang berada di sini sebelumya bukan kekuatan penuh.
"Keparat itu sepertinya sudah menduga bila aku memiliki sesuatu yang dapat memusnahkan seluruh pasukannya."
Untuk alasan itu, mungkin dia tidak mengerahkan seluruh pasukannya, setengah pun tidak. Menggunakan nuklir lagi tidak akan ada pengaruh apapun. Serangan yang sama tidak akan berhasil dua kali.
Entah bagaimana, Acnologia atau penculik misterius itu akan melenyapkannya atau memindahkannya ke tempat lain. Terlalu beresiko untuk melakukannya.
"Tch! Sepertinya tidak ada cara selain menunggu, ya..."