
Sudah 15 menit semenjak Rigel berjalan seorang diri menuju tempat berkumpulnya energi sihir dalam jumlah besar.
"Tidak kusangka lebih banyak bangkai kapal daripada yang kubayangkan..."
Bangkai kapal di sekitar tampak sudah sangat lama berada di sini, beberapa diantaranya bisa di tebak sebagai kapal perang dari suatu dinasti di masa lalu dan beberapanya lagi, kemungkinan besar adalah kapal pedagang. Mungkin di sana dia akan menemukan beberapa harta dan juga barang sihir dari kapal perang. Karena Rigel akan membantu Cold membangun kembali negaranya untuk membentuk pasukan, Rigel jelas membutuhkan uang dalam jumlah besar dan dia berniat merampas seluruh harta dari bangkai kapal itu.
"Meh, mereka pasti tidak menyukainya jika aku merampas harta dari bangkai kapal itu..."
Meskipun dia tidak menemukan hal bagus dari bangkai kapal ini, Rigel sudah memiliki sebuah cara pasti untuknya menghasilkan uang. Mungkin dengan cara ini akan membuat jiwa Hydra yang berada di neraka sangat marah kepada Rigel. Yah, lagipula Rigel sudah pernah mampir ke neraka jadi dia tidak berniat untuk kembali ke sana.
"Lalu, selain uang, mereka masih membutuhkan pakaian, makanan dan tempat tinggal. Untuk pakaian aku bisa membuatnya untuk mereka, namun untuk makanan dan tempat tinggal... Yah, akan kutangani nanti saja..."
Rigel memilih untuk memikirkan hal itu untuk lain waktu. Saat ini, yang paling penting adalah pedang Hydra yang berada tidak jauh lagi darinya. Meskipun Rigel bisa menciptakan ratusan senjata, namun dia belum bisa menciptakan senjata yang sangat kuat... Dia membutuhkan pedang yang cukup kuat, mungkin yang bisa setara dengan senjata ilahi para pahlawan dan pedang Hydra adalah pilihan yang cukup bagus. Rigel berharap banyak kepada pedang ini, dia tidak berniat menyerahkannya kepada Takatsumi untuk hal ini.
Rigel berasumsi, jika Takatsumi dan Raja Altucray bekerja sama, dia yakin jika Takatsumi pasti sudah menyerap apa yang tersisa dari pedang leluhur sekaligus pendiri kerajaan Britannia, pedang milik Raja Arthur, Excalibur. Dari yang Rigel ingat, pedang itu di jadikan sumber energi untuk pelindung yang terus menerus melindungi kerajaan Britannia selama beberapa generasi. Jadi, bukannya mustahil jika Takatsumi memiliki pedang Excalibur.
"Emm...?? Apakah itu kau, Rigel...??"
Dalam perjalanannya, Rigel bertemu dengan seorang Pria yang dia kenal.
"Ya, ini aku Ray... Karena bau tempat ini sangat busuk jadi aku menggunakan barang dari duniaku ini untuk menghindari bau busuj itu..."
Pria itu adalah Ray, dia nampaknya berkemah di tempat busuk yang berada di dalam tubuh Hydra ini. Ray mengenakan sebuah kain putih untuk menutupi hidung dan mulutnya agar tidak menghirup bau busuk di sekitar.
"Ahh, jadi begitu... Aku hampir tidak mengenalimu... Lalu, apa yang membuatmu kemari...?? Apakah kau ingin melihat Pedang Hydra yang tertancap di sana...??"
Tebakan Ray tepat sasaran, Rigel mengangguk sebagai jawaban dan Ray mengantarkan Rigel ke tempat pedang itu berada. Tidak lama setelah mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di tempat dimana pedang Hydra berada.
"Ini tempatnya..."
Rigel terkejut dengan apa yang ada di depannya. Sekali lagi, Rigel hampir lupa jika dia berada di dalam tubuh Hydra. Disana, di tengah-tengah air berwarna hijau, terdapat sebuah pedang yang tertancap di daging yang bertumpuk, asap berwarna hijau juga berterbangan di sekitar. Rigel hendak terbang dan pergi kesana, namun dia di hentikan oleh Ray.
"Tunggu, Rigel... Terlalu berbahaya untuk pergi ke sana..."
"Apanya yang berbahaya...?? Kau tidak perlu khawatir jika aku terkena kutukan pedang itu... Aku memiliki sesuatu yang dapat menghilangkan kutukan..."
"Tidak, bukan itu masalahnya..."
Rigel memiringkan kepalanya, dia tidak mengerti apa yang sedang Ray coba beritahukan kepadanya. Ray memandang sekitar dan tidak jauh disana, dia mengambil sepotong kayu yang berasal dari bangkai kapal. Ray melemparkannya sepotong kayu itu ke cairan hijau yang mengelilingi tempat pedang itu tertancap. Secara mengejutkan, cairan hijau itu secara perlahan melelehkan kayu yang di lemparkan Ray. Rigel terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat. Rigel mengerti apa yang coba di sampaikan Ray sebelumnya.
"Jadi begitu... Enzim protease, ya...??"
Ray nampaknya tidak memahaminya. Rigel hanya mengangguk dan mulai menjelaskan.
"Ya... Singkatnya Enzim Protease adalah Enzim pencernaan yang memecah protein dalam makanan... Ada beberapa jenis dari mereka, namun aku tidak terlalu mengingatnya... Hanya sebatas itu saja yang kuketahui..."
"Begitu, ya... Kalau begitu, cairan inilah yang mencerna seluruh hal yang di telan Hydra...??"
"Kurasa tidak, kemungkinan cairan ini sedikit berbeda."
"Berbeda...?? Apa maksudmu...??"
"Jika cairan ini benar-benar Enzim Protease, seharusnya dia sudah melumatkan bangkai-bangkai kapal di sana itu. Namun, dia tidak melakukannya... Jadi, aku berpikir jika cairan ini ada untuk mencegah seseorang mengambil pedang dari pada melumatkan sesuatu yang di telan Hydra..."
Ray mengangguk mengerti dengan penjelasan Rigel. Jika itu benar benar Enzim pencerna, sangatlah aneh jika Enzim itu tidak melelehkan bangkai kapal jadi, Rigel memiliki alasan yang sangat logis mengenainya.
Untuk kabut yang beterbangan di udara Rigel tidak terlalu mengetahuinya, namun kemungkinan besar itu adalah Racun. Rigel sudah mengenakan masker yang membuatnya menghindari untuk menghirup racun, jadi tidak perlu di khawatirkan.
"Yah, kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya... Aku akan pergi ke sana dan mengambil pedang itu..."
Tanpa perlu mendengar balasan Ray, Rigel langsung terbang dengan sangat cepat menuju letak pedang itu berada. Sebelum mencabutnya, Rigel memeriksa terlebih dahulu akankah ada perangkap atau kutukan pada pedang itu...
"Hmm... Pedang ini memang mengandung sedikit kutukan, namun mungkin saja itu tidak akan berpengaruh kepadaku..."
Pedang itu memiliki ukiran unik di dekat gagangnya dan bilahnya yang lebih mirip dengan katana jepang daripada pedang. Kekuatan yang di keluarkan pedang itu cukup besar, bahkan Rigel dapat merasakannya.
Siing...!!!
Rigel perlahan menarik pedang Hydra dari tempatnya. Pedang yang awalnya berwarna hitam sepenuhnya mulai bersinar terang dan menyilaukan. Ray, Rigel dan seluruh prajurit yang berada di sana sampai harus menutup matanya karena cahaya dari pedang itu.
"A-apa yang terjadi...??"
Merial melihat langsung ke arah sumber cahaya itu berasal. Asalnya dari tempat pedang Hydra berada, Merial berpikir kemungkinan itu adalah Rigel yang mencabut pedangnya.
"Woah... Ini hebat, aku dapat merasakan kekuatan pedang ini menyatu dengan kekuatanku... Hmm, nama pedang ini sama seperti yang kuduga, Kusanagi..."
Dengan ini akhirnya Rigel dapat memiliki sebuah senjata yang cukup kuat untuk dia gunakan dalam pertarungan. Meskipun dia memiliki berbagai macam Skill hebat seperti kekuasaan laut dan Necromancer, namun Rigel tetap menginginkan sebuah senjata.
"Aku akan menyimpan pedang ini..."