
"Rigel, ada dua monster di belakangmu."
Takumi berteriak ke arah Rigel yang berada tidak jauh di depannya. Mendengar peringatan Takumi, Rigel berputar balik dan menembak kedua monster itu dengan senjata modern miliknya.
Disisi lain, Takumi terus melesat dan menebas monster monster yang terlihat seperti ikan terbang.
"Wahh, papan seluncur ini benar benar hebat! Dengan ini kita tidak perlu khawatir dengan pertarungan di laut."
Takumi nampak bersinar sinar saat membahas papan seluncur yang di siapkan oleh Merial.
"Tentu saja tuan Takumi. Ini adalah benda sihir yang bernama seluncur air, benda ini memungkinkan seseorang bergerak cepat di atas air jika menaikinya. Namun, karena membutuhkan keahlian khusus dan sangat sulit untuk menggunakannya, jadi tidak banyak orang yang menggunakannya. Aku sangat terkejut saat melihat tuan Takumi dan Tuan Rigel dapat menggunakannya tanpa masalah."
Saat ini, Takumi dan Rigel sedang mencoba papan seluncur yang biasanya di gunakan untuk olahraga pantai yang memanfaatkan ombak. Mereka hanya mengenakan sebuah celana renang yang di buat oleh Rigel dengan skill miliknya.
"Di duniaku dulu, aku sering melakukan ini karena sangat menyenangkan saat kau meluncut di ombak. Bagaimana denganmu, Rigel?"
"Aku tidak pernah pergi jauh seperti ke pantai. Namun aku pernah memainkan Skateboard saat masih di panti asuhan dulu. Jika di pikir pikir, aku cukup mahir bermain skateboard."
"Hmm? Skate apa? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, namun dunia kalian sebelumnya pasti menarik."
Merial menepuk kedua tangannya dan tersenyum. Papan seluncur air yang di gunakan Rigel dan Takumi sangatlah berguna dalam pertarungan air. Papan ini adalah sebuah benda sihir yang membuat seseorang dapat melaju dengan cepat meskipun di air.
Setelah beberapa jam mengendarai seluncur air dan membunuh beberapa monster ikan terbang dan paus pembunuh, Rigel dan Takumi kembali naik ke kapal.
"Huh, tadi itu sangat menyenangkan, aku bisa bernostalgia dengan duniaku dulu."
Takumi menyeka keringat di dahinya dan tersenyum dengan sangat puas. Rigel melirik Takumi dan ingin menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Nah, Takumi. Ada hal yang membuatku penasaran semenjak tadi, luka bakar apa yang ada di bahumu itu? Jika di lihat lihat, nampaknya itu sudah ada sejak lama."
Takumi mengerutkan matanya dengan tatapan sedih dan memalingkan wajahnya.
"Ah, ini ya... Anggap saja ini di sebabkan oleh neraka masa kecilku."
Takumi mengatakan itu dengan pelan dan tersenyum sedih. Rigel melihat Takumi yang moodnya berubah saat membahas luka di bahunya itu.
'Pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya di dunia sebelumnya. Hmm, sepertinya aku dan Takumi memiliki kehidupan yang tidak mudah. Selain itu, kami sama sama menggunakan topeng yang sama.'
"Yah, aku bahkan juga memiliki masa laluku sendiri. Tidak baik untuk membicarakan masa lalu yang tidak ada bagus bagusnya, karena hari sudah mulai gelap lebih baik kita makan sekarang."
Rigel menepuk punggung Takumi dengan kencang sehingga membuatnya hampir terjatuh.
"Itu sangat sakit jika kau memukulku dengan tangan kiri terminator milikmu!"
"Ahahaha, maaf maaf."
Rigel tertawa dengan senang dan berjalan menuju kabin untuk makan. Mereka tidak menyadari jika di belakang mereka ada seorang gadia yang memiliki pemikiran panas.
'Kyaaa! Tubuh pahlawan pahlawan itu sangat sexy! Aku hampir saja kehilangan diriku!'
Batin Merial.
Hari berlalu dengan cepat, setelah membersihkan diri dan makan malam, Rigel pergi ke dermaga kapal untuk menikmati angin laut.
"Perjalanan kami di hari pertama lancar tanpa hambatan sedikitpun."
Rigel menatap bulan dan bintang yang sinarnya terpantul di permukaan air. Ketika melihat bulan, Rigel pasti memikirkan sosok seorang gadis pirang yang sedang meminum secangkir teh dan terus menatap bintang.
'Aku bisa saja pergi ke tempat Tirith dengan teleportasi. Namun, akan jadi masalah besar jika sesuatu yang buruk terjadi di sini.'
Selagi Rigel terus memikirkan berbagai hal, sesuatu mulai muncul dari ke jauhan. Rigel menyipitkan matanya untuk melihat benda apa itu. Rigel terkejut dengan apa yang dia lihat.
Benar saja, jika Rigel tidak ada disini, semua orang pasti mati karena tidak mengetahui kehadiran mahkluk itu.
"Oyy, cepat bunyikan lonceng!!"
Rigel berteriak kepada orang yang mengemudi kapal. Pengemudi itu sempat bingung namun menuruti perintah Rigel.
Ting! Ting! Ting!
Semua orang yang berada di kapal mulai bersiap, Takumi dan Merial menghampiri Rigel. Cold, Ray, Misa dan Nisa bahkan menyadari keberadaan mahkluk itu dan mulai bersiaga.
"Semuanya! Cepatlah ke bawah dan siapkan meriam!"
"Apa yang terjadi sebenarnya, Rigel!"
"Ada Hiu super besar sedang menuju ke arah kapal kita!"
"Itu hanya seekor hiu, apa yang membuatnya jadi masalah?"
"Jika itu hanya hiu biasa, aku sudah pasti membunuhnya sendirian. Namun, hiu ini bukanlah hiu biasa, melainkan Hiu Megalodon!!"
Takumi terkejut dan berlari ke pinggir kapal untuk menyaksikannya langsung dengan mata kepalanya. Jauh di sana, sebuah sirip hiu raksasa sedang berenang ke arah kapal yang di naiki Rigel dan yang lainnya. Rigel tahu bahwa hiu ini bisa menelan kapal yang di naikinya dalam satu gigitan.
"Belok ke arah timur agar para penembak bisa menembak hiu itu!"
Disisi lain, Ray dan Nisa berbelok berlawanan dengan Cold dan Misa. Menyisakan kapal Rigel dan Takumi yang terus melaju ke arah Megalodon itu.
"Tembakan meriam!!"
Saat Cold berteriak, Meriam Cannon yang sudah di siapkan oleh Rigel sebelumnya di setiap kapal, di tembakkan ke arah Megalodon. Tidak hanya kapal Cold, namun Nisa, Misa dan Ray juga memerintahkan awak kapal mereka untuk menembakan meriam Cannon.
Dumb! Dumb! Dumb!
Meriam Cannon mengeluarkan suara yang sangat keras saat menembak. Merial dan beberapa awak kapal Rigel menutup telinganya karena suara berisik itu.
Peluru meriam melesat ke arah megalodon. Beberapa peluru tidak mengenai tubuhnya namun ada beberapa yang mengenainya.
"Apakah berhasil?!"
"Tidak, serangan itu belum cukup untuk membunuhnya!"
Meriam terus menembak ke arah megalodon yang terus melaju ke arah kapal meskipun gerakannya sedikit melambat.
"Sial! Takumi, nampaknya kita harus turun tangan. Kau gunakanlah papan seluncur itu, selagi kau bersiap aku akan membuat sibuk monster itu!"
Rigel bersiap untuk terbang dan memerintahkan Cold dan yang lainnya untuk menghentikan tembakan. Saat tembakan mulai berhenti, Rigel melesat ke arah megalodon. Saat mencapai tepat di atasnya, Rigel terkejut.
"Oi, Oi. Pantas saja peluru meriam tidak mempan karena kulit hiu ini sendiri merupakan armor!"
Di tubuh Megalodon, terdapat kulit kulit yang nampaknya adalah besi yang cukup keras. Ukurannya bahkan lebih besar jika di lihat lebih dekat.
"Meskipun aku tidak yakin apakah ini akan berhasil, aku akan lemparkan beberapa bomb agar dia terguncang sedikit."
Rigel mengulurkan tangan kiri mekanik nya dan menciptakan puluhan bomb secara instant. Puluhan bomb jatuh tepat di sekitar kepala megalodon dan meledak secara bersamaan hingga menciptakan ledakan besar.
Duar! Duar!
Kabut putih terbentuk karena ledakan itu. Megalodon mulai mengeluarkan suara tajam yang memekakan telinga.
Kieekk!
Saat asap mulai menghilang, sesuatu keluar dari dalam lautan dengan cepat dan berusaha untuk melahap Rigel. Rigel terkejut karena ini adalah pertama kalinya dia melihat hiu sebesar ini. Seluruh tubuhnya keluar dari air dan memperlihatkan tubuh super besarnya.
"Akan kuberikan kau sesuatu untuk di makan."
Selagi Rigel terbang menjauh dari mulut megalodon, Rigel mengulurkan tangannya dan membuat banyak bomb ke arah mulut megalodon yang terbuka lebar. Saat mulut megalodon tertutup dan tubuhnya mulai kembali ke air, bomb meledak langsung di dalam mulutnya.
Kieekk!!
Rigel berhasil menghancurkan mulutnya dari dalam, namun itu tidak cukup untuk menghentikan mahkluk itu. Lalu, sebuah tombak melesat dengan cepat ke arah Megalodon yang hampir masuk ke dalam air.
Nampaknya tombak itu berasal dari Takumi yang menggunakan Javelin Strike miliknya. Takumi mengendarai papan seluncur air dan menghampiri ke lokasi pertarungan.
"Rigel, pancinglah dia keluar seperti tadi. Akan ku habisi dia dengan satu serangan!"
Takumi berteriak ke arah Rigel. Rigel tidak tahu serangan seperti apa yang akan di gunakan Takumi, namun dia hanya mengangguk dan harus percaya kepadanya. Rigel mengumpulkan mana di tangan kirinya dan menyelam ke dalam air.
Saat Rigel sudah berada tepat di bawah perutnya, Rigel mengulurkan tangannya dan menggunakan skill.
"Mana Hand : Asura punch!"
Sebuah tinju mana berwarna ke emasan muncul dan meninju perut Megalodon sampai menghempaskannya keluar ke permukaan air.
Kieeekk!!
Saat Megalodon keluar dari permukaan dan menjerit kesakitan, disisi lain, Rigel dapat merasakan sebuah mana dengan jumlah besar terkumpul di tombak Takumi.
Saat mana yang di kumpulkannya sudah cukup, Takumi membuka matanya dan menggunakan skillnya. Takumi mengangkat tombaknya ke arah langit, dunia seolah berjalan lambat saat Takumi menggumamkan skillnya.
"Tombak penghakiman."
Tombak Takumi bersinar ke emasan dan sebuah tombak raksasa jatuh dari langit, menuju tepat ke arah Megalodon.
Cruch!
Tombak raksasa itu membelah tubuh besar Megalodon menjadi dua bagian. Rigel bahkan terkejut dengan serangan hebat yang di gunakan Takumi.
"J-jadi ini adalah kekuatan dari para pahlawan."
Gumam Merial.
Semua orang tercengang karena tombak raksasa yang kini sudah menghilang dan tidak lama kemudian mereka mulai bersorak gembira. Rigel mulai menggunakan tekanan angin untuk melayang di atas air dan menghampiri Takumi.
"Gila, itu benar benar satu serangan."
"Benarkan? Meskipun ini serangan yang sangat kuat, namun aku membutuhkan beberapa kondisi khusus agar bisa menggunakannya. Yah, aku tidak akan membahas kondisi yang di perlukan saat ini. Ayo, kita periksa apakah ada sesuatu yang hebat dari Megalodon itu."
Takumi menunjuk ke arah tubuh Megalodon yang terbelah dua. Rigel juga setuju dengannya karena barang kali ada drop item yang sangat bagus dari Megalodon.