The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Babak Eliminasi



Pagi hari tiba dengan cepat, membawa udara kedamaian bagi Region dan keceriaan bagi warganya. Semalam, Rigel dan Asoka pergi berburu di hutan belakang Region, tempat yang belum di jamah.


Hanya ada monster lemah yang mereka temui, tentu ada yang kuat, namun tidak cukup untuk menggores kulit mereka. Hanya dengan sedikit berburu pada malam hari, Asoka tampak sedikit lebih baik, namun untuk saat ini dia masih butuh istirahat. Setidaknya sampai pedagang budak penjuru negri berbondong-bondong menjual budak ke Region.


Tirith, Natalia, Misa dan Merial ada di sana untuk membantu Asoka mengurus pekerjaan, sementara Ozaru berjalan-jalan ke berbagai tempat yang belum di tinggali, mungkin dia berniat menyingkirkan bahaya yang ada. Untuk Rigel, dia kembali ke Pasar Gelap, Darkness, memeriksa keadaan di sana yang tetap lancar.


Para budak yang dia bebaskan melakukan pekerjaan dengan baik, terutama Theresia yang telah sepenuhnya pulih melakukan kontribusi besar dalam rencana Rigel. Leo telah bertemu dengan Garfiel dan Theresia. Dia terharu dan saling bertukar cerita, tentunya tanpa membiarkan identitas sebenarnya dari orang bertopeng yang bersamanya. Hingga akhirnya 4 hari berlalu tanpa sadar dan hari pertempuran tiba.


"Hey, hey, hey, hey, hey! Hari yang di nanti telah tiba, Fight To End tercinta telah di depan mata!"


Pria dengan topeng yang menutupi setengah wajah dan kedua taring gajah di tepi nampak menjadi pembawa acara di babak eliminasi ini.


Sorak sorai penonton pecah, entah itu tepuk tangan atau teriakan, bercampur menjadi satu kesatuan. Semangat membara, tanpa kesabaran untuk menyaksikan pertarungan yang akan di laksanakan.


"Hey, hey, hey, hey! Seperti biasa, aku akan menjadi pembawa acara tercinta kalian! Aku akan menyebutkan bahwa acara kali ini spesial karena hadiah utama yang di sajikan langsung tuan tanah!"


Semangat penonton tidak berkurang sedikitpun, justru semakin memanas.


Hadiah utama yang di maksud adalah artifak kuno buku pengetahuan, pedang sihir buatan dewa, God Sword, dan juga budak Dwarf, yang terkenal akan kemampuan menempa yang begitu ahli. Rumor dan legenda tersebar luas, mengenai Dwarf adalah ras yang menjadi murid Hephaestus sang dewa penempa saat masa para dewa turun ke dunia.


"Hey, hey, hey! Tidak hanya itu saja, yang menjadikan ini berbeda dari yang lain, adanya Pilar Iblis yang telah membuat kontrak untuk tidak membunuh petarung! Sungguh kesempatan langka menyaksikan pertarungannya!"


"Whoaa!"


Umumnya, tidak ada seorangpun yang bisa kembali hidup setelah bertemu pilar iblis. Bahkan Pahlawan tiada pengecualian, mereka sendiri bisa kehilangan nyawa ketika berhadapan dengan Pilar Iblis.


Tidak ada yang tahu persis, segila apa kekuatan pilar iblis yang menjadi musuh manusia. Mereka telah menyaksikan melalui proyektor sihir, tentang seberapa gila kekuatan Pahlawan Creator, Amatsumi Rigel. Mengalahkan Hydra sendirian, menerbangkan Tortoise, lalu memimpin penaklukan Phoenix dengan cermat. Terutama pada bagian senjata dan barang aneh yang berasal darinya. Karena hal yang diluar akal sehat, orang-orang mulai semakin neremehkan para iblis, dengan menganggap bahwa mereka tidak ada apa-apanya di hadapan Rigel. Tentu hasilnya positif namun bisa berbalik kapanpun dan hal buruk yang lahir adalah ketergantungan pada Pahlawan.


"Tenang, tenang. Aku tahu kalian sudah tidak sabar menantikan pertarungan. Para petarung akan di beri waktu 30 menit untuk menghabisi peserta lain demi kursi, kalau begitu tidak perlu berlama lagi, kita mulai saja babak eliminasi!"


"Whoaa!"


Teriakan kembali pecah, begitu para petarung memasuki arena satu persatu, tanpa terkecuali Rigel dengan dua orang berupa Leo dan Garfiel yang menggunakan nama Tiger.


"Ah, ya, ya, ya ya... Sebagai catatan, Pilar Iblis tidak akan ikut bertanding di babak eliminasi jadi harap sabar menanti di Fight To End nanti!"


Para petarung telah berkumpul, banyak diantara mereka berada di satu tempat aliansi mereka. Aliansi yang ada bervariasi dimulai dari 5 tim hingga mungkin yang terbesar 15 tim. Tentunya bukan jumlah sedikit, mengingat satu kelompok berjumlah 5 orang. Meski begitu, ada cukup banyak orang yang tidak membentuk aliansi, Rigel salah satunya. Ada juga petarung solo, seperti Odin dan Alexander.


"Ya, ya, ya, ya! Peraturan di babak ini hanya satu, dilarang membunuh karena pembunuhan hanya di perbolehkan di acara utama, baiklah tanpa banyak bacot lagi, petarung bersiap, " Dia memberi jeda sesaat, menunggu para petarung bersiap dan menentukan target," Pertarungan.... DIMULAI!"


Para petarung menyerang satu sama lain dan menjatuhkan setiap tim yang terlihat lemah.


"Wah, wah... Memang riuh sekali ya, kita lakukan seperti rencana. Maru kita jatuhkan orang dari aliansi besar satu persatu."


"Yaa! Dengan bantuan Matsu, kita tidak perlu mengkhawatirkan punggung kita. Mari kita lakukan, Garfiel, perlihatkan apa yang kau miliki."


"Heh, jangan sampai menghambatku, Leo."


Mereka saling tersenyum, menerjang ke kelompok yang mendekati mereka. Rencana mereka adalah membiarkan Rigel bertarung di belakang mereka sebagai pendukung. Sementara Leo dan Garfiel menerjang langsung dari depan.


Tentunya, dengan kekuatan dan Skillnya yang berlimpah, Rigel dapat bertarung di garis manapun, termasuk belakang. Mungkin satu-satunya kelemahan yang dimiliki adalah tidak memiliki kelemahan. Yah, tentunya bukan berarti dirinya tak terkalahkan. Tidak perduli seberapa kuat dirinya, dia tetaplah manusia biasa yang hanya sedikit spesial.


"Ingat, tetaplah bertarung di sekitarku, jangan terlalu jauh dariku atau kau tanpa sadar masuk ke sarang singa."


"Ya!" x2.


Leo mengambil sisi kiri, sementara Garfiel sisi lainnya dan Rigel berjaga di belakang tengah mereka. Di tempat itu, dia dapat mengawasi pergerakan Leo dan Garfiel tanpa terlewat satupun.


Tiga orang menghampiri Leo, dua pengguna pedang dan satu penyihir di belakang. Kombinasinya memang bagus, namun Leo tentunya dapat mengatasi tanpa kesulitan.


"Heh! Sepertinya mereka anak baru, mari kita tunjukkan seberapa keras arena ini!"


"Tempat ini bukan untuk bocah ingusan. Sebaiknya kau pulang dan menangis pada mama!"


Meski mendapat provokasi tidak menyenangkan, Leo sama sekali tidak terjebak kedalamnya. Perlu baginya untuk tetap menjaga ketenangan dan berkepala dingin. Persis seperti yang di ajarkan Rigel padanya.


Dua pengguna pedang itu melangkah maju, mengepung Leo dari dua sisi dan menyerang secsra bersamaan. Leo dengan cakap melangkah mundur, memutar pedang dan menggunakan gagang pedang untuk melumpuhkan pria di sisi kanan.


Pria itu memuntahkan isi perut karena tikaman gagang pedang di perut, sementara pria satunya mengirimkan tiga serangan cepat, namun sayangnya Leo menghindari dengan satu gerakan yang sangat mulus.


Dia dengan cepat melesat ke punggung dan menghantamkan gagang pedang ke lehernya, membuatnya tidak sadar. Dia hendak menyerang satu pengguna pedang tersisa, namun bola api datang ke arahnya. Dia hampir tidak bisa bereaksi, namun dengan keberadaan Rigel yang mengaktifkan Perisai sihir ke arah laju bola api, Leo terselamatkan.


"Perhatikanlah sekitar, musuhmu tidak hanya yang ada di depanmu saja."


"Ya!"


Rigel mengangguk, mengakui bahwa Leo telah sangat berkembang semenjak dia meninggalkannya di Britannia untuk di latih Altucray dan Tirith. Tentunya bukan sebuah kebetulan belaka, jelas Leo memiliki bakat alami sebagai pengguna pedang. Terutama pada bagian meniru serangan dan gerakan seseorang hanya dengan sekali pandang, membuatnya lebih spesial.


Di lihat dari keadaannya, Leo tampaknya bisa mengatasi dua orang tersisa. Rigel beralih kepada Garfiel dan terpukau dengan yang dilihatnya. Dalam jalannya, Garfiel telah menjatuhkan delapan orang dalam sekejap. Dia tidak menggunakan senjata apapun, hanya menggunakan tinjunya untuk menjatuhkan lawan. Rigel ingat bahwa Garfiel demi-human yang memiliki kemiripan dengan White Tiger, tentunya dia memiliki cakar atau semacam transformasi tubuh.


"Yah, sepertinya tidak ada waktu bagiku untuk diam dan mengamati."


Di hadapan Rigel, terdapat satu tim yang mengepungnya dari segala arah. Dia tentunya bisa memanggil Leo atau Garfiel untuk mengatasinya, namun itu hanya berlaku jika dia ingin bersembunyi dan dianggap penyihir pendukung saja. Namun sayangnya tidak begitu.


"Hehe, apa kau tidak berniat memanggil rekanmu, Nii-chan?" Seorang vanguard mulai memprovokasi, di ikuti temannya yang lain.


"Mungkin saking takutnya, dia tidak dapat berteriak."


"Hahaha, sebaiknya kita akhiri dia secepatnya sebelum si Tiger dan bocah itu menyadarinya."


"Untuk apa aku takut terhadap babi kampung seperti kalian? Aku sendiri sudah cukup menghabisi kalian."


"Heh, kau hanya menggertak!"


Rigel mengulurkan tangan kanannya, tanah tempat berpijaknya mulai menghitam di sertai asap hitam selagi berkata, "Mari kita lihat apa benar itu hanya gertakan belaka, Bangkitlah..."


Delapan prajurit kematian Minatour merangkak naik dari dalam tanah— neraka dan membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri.


" Ne-necromancer?!!" Moris yang menyaksikan dari tribun tidak dapat menahan keterkejutannya. Tentu dia mengetahui identitas Matsu yang aslinya adalah Rigel, Pahlawan Creator. Dia tahu eksistensi kekuatan Rigel di luar akal sehat, namun siapapun tidak akan menduga bahwa Pahlawan mengendalikan mayat.


Tidak hanya Moris, melainkan seluruh penonton tampak sangat terkejut, sama halnya dengan petarung. Leo dan Garfiel bergidik ngeri akan kemampuan itu, namun mereka kembali melanjutkan pertarungan.


"Ja-jangan bercanda... Hanya Licht yang bisa mengendalikan mayat... Jangan-jangan—!"


"Tentunya aku adalah manusia, di lihat saja sudah jelas. Sekarang, mari kita lihat seberapa hebat kalian... Pasukanku, hajar orang-orang bodoh ini, namun jangan sampai membunuhnya."


Prajurit Minatour mengangguk dan menghampiri musuh yang ada dalam visi pandangnya. Tim yang mengepung Rigel sebelumnya melangkah mundur dengan takut. Orang-orang yang hendak menargetkan Rigel mengurungkan niatnya setelah mengetahui bahwa Rigel dapat mengendalikan mayat.


Satu persatu dari mereka di tumbangkan, Minatour menggunakan kampaknya untuk menumbangkan orang-orang itu hingga akhirnya mereka beralih ke aliansi besar yang masih terlihat utuh.


Leo dan Garfiel juga telah menyelesaikan bagian mereka dan bersiap menyerang bersama Minatour, Alexander dan Odin nampak mengetahui niatnya dan ikut membantu menaklukkan kelompok besar itu.


"Oii, oii! Apa mereka berniat mengalahkan kita?"


"Ya... Sangat jelas bahwa mereka berniat mengalahkan kelompok besar untuk mengambil posisi aman."


"Jangan gentar! Jumlah kita jauh lebih banyak dari mereka!"


Memang bahwa jumlah mereka jauh lebih banyak dari orang yang ingin menghancurkan mereka, namun tentunya kerja sama mereka jauh lebih buruk karena tidak mengenal satu sama lain, selain tim mereka sendiri. Rigel juga menyadari bahwa diantara mereka ada beberaoa penyihir berkemampuan yang mungkin memiliki elemen suci.


Tentunya elemen suci adalah kelemahan utama pasukan undead. Tentunya jika para Minatour menghilang masih ada banyak penggantinya.


"Yah, sepertinya aku harus menekan mereka sedikit lagi... Bagaimana dengan ini..."


Rigel memanggil satu undead lagi, kali ini bukan monster rendah seperti Minatour, tetapi monster terkuat selain malapetaka.


"Ya Dewa... Yang benar saja..." Petarung yang memperhatikan sosok yang merangkak naik di belakang Rigel mulai gemetar, menjatuhkan senjata seakan mengakui kekalahan.


Monster yang telah di kenal dengan baik oleh semua orang, Naga. Naga hitam yang terbentuk dengan bayangan dan daging busuk namun tidak berbau. Formasi aliansi yang hendak di taklukan mulai runtuh karena rasa takut akan makhluk panggilan Naga milik Rigel.


"Kukira keras, nyatanya kertas." Rigel mengejek pemimpin aliansi yang mengeluarkan cairan kuning dari celananya.


Leo dan Garfiel tidak melewatkan kesempatan itu dan menjatuhkan mereka yang telah kacau satu persatu tanpa ampun, hingga waktu yang di berikan pembawa acara habis dan eliminasi berakhir dengan jumlah tim yang pas dengan kursi yang tersisa.


"Hei hei, hei, hei, hei! Sungguh pertunjukan yang luar biasa, terutama pendatang baru bernama Matsu yang seorang Necromancer! Sekarang, mari kita lihat siapa yang akan melawan siapa di pertandingan yang akan datang."


Proyeksi sihir di tampilkan, menunjukan lima zona pertandingan berbeda yaitu A sampai dengan E dengan masing-masing 10 tim di setiap zona. Jika di lihat kembali, nampaknya akan ada arena berbeda atau jadwal berbeda untuk masing-masing zona.


Tim telah di bagi dan tim Rigel berada di zona E dan dia mencari nama Pilar Iblis Marionette yang nyatanya berada di zona A.


Pertarungan ini sudah di tentukan. Kita tidak akan bertemu dalam waktu dekat rupanya. Batin Rigel.


Mereka hanya akan bertemu di final nanti dan tentunya tidak dalam waktu dekat. Setidaknya ada waktu sampai rencana yang telah di siapkannya selesai. Karena tentunya pertarungan yang akan terjadi tidak mungkin tidak meninggalkan dampak yang besar. Kekhawatiran terbesar adalah runtuhnya tanah dan mengubur semua yang ada hidup-hidup.


Tentunya bertarung di bawah tanah seperti ini jauh lebih berisiko, karena itu diperlukan penanggulangan dan antisipasi terhadapnya.


"Lawan pertama kita nanti adalah Odin... Aku belum pernah bertarung langsung dengannya, namun dia jelas-jelas sangat kuat karena pernah memenangkan Fight To End sendirian."


"Bagaimana caranya bertarung?"


Garfiel menoleh, "Bermacam-macam... Aku pernah melihatnya menggunakan pedang, namun seni bela dirinya tidak bisa di remehkan. Nampaknya dia masih menyimpan banyak kartu di lengannya. Lalu satu lagi, dia lebih brutal ketimbang tampilan luar yang terlihat kalem."


Semakin jauh mendengar tentangnya, semakin tertarik Rigel untuk melawannya. Entah keberuntungan atau bukan, namun dengan begini Rigel dapat membalaskan dendam Moris terhadap putranya yang mati di tangan Odin.


"Jika begitu, lebih baik kita menyiapkan strategi pertarungan untuk menghadapinya."