
Butuh waktu cukup lama untuk Rigel mencapai tempat Tortoise berada karena jaraknya yang sangat jauh dari Ruberios. Tidak jauh di belakangnya, terdapat Ozaru yang dengan santainya berbaring di atas awan miliknya, dan juga seorang gadis yang mengepakkan kipasnya untuk terbang.
Dia adalah Pahlawan Kipas. Rigel belum pernah berbicara sedikitpun dengannya.Sepertinya dia berusaha mendekati Rigel dan ingin mengatakan sesuatu, namun dengan kecepatan Rigel sekarang, dia tidak dapat mengejarnya. Rigel akan dengan sengaja mengurangi kecepatannya agar gadis pahlawan itu mengejarnya. Lagipula, dia sepertinya mulai kelelahan.
Saat Rigel memperlambat kecepatannya, Pahlawan kipas mendekat dari belakang dan Ozaru juga mendekat dari sisi lainnya.
"Oi, tunggu aku..." ujar pahlawan Kipas.
Sungguh unik saat mengetahui bahwa sebuah kipas lipat merupakan senjata suci.
"Apa kau perlu sesuatu dariku?" tanya Rigel dengan tak acuh.
"Kalau tidak salah namamu, Rigel, kan? kau boleh memanggilku Petra," Ujar Petra, pahlawan kipas. "Apakah kau tahu lokasi pasti dari Tortoise itu?"
Petra, seorang perempuan berambut kuning kecoklatan dengan bola mata bundar berwarna hijau. Bahkan pakaian yang dia gunakan tampak sangat cocok dengannya.
Apakah dia berniat mengorek informasi dari Rigel? Yah, apapun niat sebenarnya, dia tidak akan mendapatkan apapun dari Rigel.
"Karena aku tidak mengetahuinya, untuk itulah aku terbang cukup tinggi agar mahkluk itu dapat dilihat lebih jelas." ujar Rigel dengan tak acuh.
Entah karena apa, bibir petra menjadi cemberut karena jawaban dingin Rigel. Jujur saja, Rigel tidak terlalu nyaman bersama dengannya. Saat awal Rigel bertemu dengan Petra di Ruberios, entah kenapa Petra melirik Rigel terus menerus. Rigel tidak dapat menebak apa maksudnya sehingga Rigel memilih untuk tidak dekat-dekat dengannya.
"Monyet putih, memangnya apa yang akan kita hadapi nanti? kalau tidak salah namanya torotos, kan?" Ujar Ozaru.
"Yeah, hampir mendekati. Lawan kita adalah seekor kura-kura. Setidaknya kau mengenal mahkluk bertempurung itu kan?" Tanya Rigel.
Dia bersyukur bahwa Ozaru ada di sini. Jadi, dia tidak perlu berduaan dengan gadis pahlawan bernama Petra itu.
"Kura-kura? lalu kenapa kita mencarinya di hutan seperti ini? mereka kan hidup di laut, apakah kau sebodoh ini, Monyet putih?" tanya Ozaru dengan sedikit meringis.
"Aku tarik rasa bersyukurku karena kamu ada di sini...Yah, lawan kita kali ini bukan seperti yang kau bayangkan. Mungkin ukurannya lebih besar dari kita." Lanjut Rigel.
"Jadi maksudmu dia adalah Kura-kura raksasa?" Tanya Ozaru.
Rigel hanya mengangguk diam untuk mengkonfirmasi jawaban Ozaru dan entah kenapa, Ozaru tertawa selagi duduk bersila dengan lengan yang di silangkan.
"Hahahaha, bahkan jika Kura-kura itu lebih besar darimu, dia tidak akan cukup besar untuk menyaingi tuan Ozaru yang agung, Hahahahaha..."
"Bahkan besar dan tinggimu tidak jauh beda denganku, Kera bodoh..." Gumam Rigel.
Rigel tidak tahu seberapa tinggi IQ kebodohan Ozaru. Yah, mungkin ada suatu makna tersendiri dari apa yang diucapkannya. Lagipula, dia masih menyimpan banyak kemampuannya termasuk awan Kinton miliknya itu. Rigel jadi teringat cerita tentang anak kecil yang mencari bola Naga. Mungkin kemampuan Ozaru serupa dengannya.
"Oii! Jangan acuhkan aku!" Ujar Petra dengan cemberut.
"Wanita merepotkan." Gumam Rigel.
"Aku mendengarnya, loh. Bisakah kau lakukan sesuatu? menghempaskan diriku dengan kipas selayaknya seekor burung, ini sangat menguras tenagaku. Aku tidak terbiasa melakukan ini..." keluh Petra.
"Kalau begitu untuk apa kau mengikuti kami jika tahu bahwa kau tidak terbiasa?" Ujar Rigel selagi menggaruk kepalanya. "Ozaru, bisakah kau memberinya tumpangan?"
"Apa kau gila? tentu saja tidak bisa. Dia akan terjatuh jika mencoba naik awan Kinton, karena awan ini hanya ingin di naiki olehku." Ujar Ozaru seolah itu hal yang wajar.
"Mana aku tahu karena kau tidak pernah memberitahu!" Bentak Rigel.
Bukankah lebih baik jika dia menyerah di sini dan menandakan titik teleport di sekitar sini? dengan begitu dia bisa beristirahat sebentar dan kembali lagi ke sini. Entah untuk alasan apa, sepertinya dia tetap bertekad untuk menuju tempat Tortoise. Akan merepotkan jika dia kehabisan tenaga saat sampai di sana. Bisa saja, ada cukup banyak monster yang kabur karena Tortoise.
"Tsk, dasar menyusahkan!" Rigel mengutuk dengan sedikit kesal selagi menghampiri Petra.
Petra memandang Rigel yang menghampirinya dengan bingung. Rigel meraih punggung Petra dan membopong Petra layaknya seorang Putri. Wajah Petra merah padam, saat dia mencium aroma dan kehangatan tubuh Rigel.
"Wawawawa...aroma tubuhnya sangat menggoda... Bahkan aku langsung tahu, dia memiliki otot-otot yang bagus..." Batin Petra.
"Akan menyusahkan jika kau tidak bisa bertarung setibanya di sana. Berpegangan lah karena aku tidak akan sadar jika kau jatuh dalam perjalanan." Ujar Rigel.
"Ba-baik..." ujar Petra yang menatap wajah dan bibir Rigel.
Bagi Petra, Rigel mungkin terlihat dingin, namun dia cukup baik kepada seorang gadis. Wajah Rigel terlihat seperti berandalan yang akan membunuhmu jika berbicara dengannya.
"Namun entah kenapa, aku merasa ada hal yang terjadi padanya hingga membuatnya menjadi seperti yang sekarang i—." Batin Petra, namun terpotong karena dia terkejut saat Rigel kembali melesat.
Tidak ada beban lagi di belakang. Jadi, Rigel melesat dengan kecepatan yang sama seperti awal. Ozaru masih bisa mengikutinya dan dia tidak terlihat kelelahan jadi tidak masalah untuk bertahan di kecepatan ini.
Namun yang mengejutkannya, bom itu masuk tanpa masalah dan membakar halaman kerajaan. Saat Rigel mencoba melemparkan sihir air, justru pelindung itu aktif dan memblokirnya.
Jadi, pelindung itu hanya aktif saat benda yang memiliki energi sihir berusaha memasukinya, sementara jika benda itu tidak memiliki sihir maka tidak masalah. Bahkan jika Rigel mengirim Rudal ke negara ini, pelindung sihir tidak akan aktif.
"Yah, karena aku tidak dapat memberikan sihir air, jadi akan aku biarkan taman itu terbakar. Lagipula para prajurit akan menyadarinya... Mungkin." Ujar Rigel.
Dengan begitu, Rigel terus menuju Tortoise dan dengan tidak bertanggung jawabnya, membiarkan taman kerajaan Britannia terbakar karena ke usilannya.
Satu jam berlalu semenjak Rigel membiarkan taman Britannia terbakar. Rigel belum menemukan di mana Tortoise berada, namun dia dapat merasakan udara dan mana alam bergetar. Rigel dapat merasakan mana alam, meskipun dia bukan seorang peri.
"hmm?"
"Monyet putih, sepertinya ada banyak sekali monster yang berlari ke sini..." Ujar Ozaru.
"Ya, aku tahu itu..." Balas Rigel.
Rigel dan Ozaru berhenti selagi menurunkan ketinggiannya untuk melihat secara pasti jumlah pasukan Monster yang mendekat. Rupanya benar, pasukan Monster yang jumlahnya sangat banyak sedang mendekat. Dimulai dari Orc, Goblin, Wolf, Chimera Ant, Lizardman dan beberapa monster yang belum Rigel temui.
"Mau di lihat bagaimanapun, ini cukup aneh... Kenapa mereka tidak menyerang satu sama lain? seperti...seperti ada sesuatu yang mengendalikan mereka." Gumam Rigel.
Setiap Monster itu memiliki mata berwarna merah membunuh. Lagipula, terlalu mencurigakan saat melihat para Monster bergerak bersama. Sudah jelas, pasti mereka sedang di kendalikan.
Rigel mengalihkan perhatiannya kepada seseorang yang diam sedari tadi, Petra. Gadis yang berasa dalam pelukannya.
"Kenapa kau diam saja, oi?" ujar Rigel, dia langsung terkejut saat melihat keadaan Petra.
"Dia tertidur? gadis ini benar-benar tertidur sela perjalanan? kurang ajar juga kau... Ozaru, sebaiknya apa yang kita lakukan erhadao gadis sialan ini." Tanya Rigel dengan kesal.
"Hmm... Mungkin melempar Monyet itu ke Monster di sana untuk menjadi umpan?" Jawab Ozaru.
"Hehe, jarang sekali kau mengusulkan hal bagus seperti itu, Ozaru..." Ujar Rigel. "Lempar aja lah anjing." Ujar Rigel selagi melempar Petra dengan wajah tak berdosa.
Petra yang merasakan firasat tidak menyenangkan, bangun dari tidurnya dan menyadari bahwa dirinya sedang terjun bebas menuju kawanan Monster.
"Wahh!!! dasar pria bajingan, kau berniat membunuhku, Huh?!!!!!" protes Petra selagi menggunakan kipasnya sebagai sayap.
Petra menghampiri Rigel dan Ozaru selagi tampak menangis karena hampir di jadikan makanan Monster oleh Rigel.
"Lupakanlah itu, sekarang lihatlah ke sana..." Ujar Rigel selagi menunjuk ke jauhan.
Petra dengan enggan mengikuti arah yang di tunjuk Rigel. Tidak terlihat apapun di sana, kabut yang sangat tebal menutupinya. Namun, Petra dapat melihat sesuatu berada di balik kabut itu.
"Apa kau bercanda... Bukankah ada terlalu banyak Monster untuk di tangani?" Ujar Petra dengan sedikit gemetar.
Rigel juga mengerutkan alisnya. Tidak hanya di darat, tapi bahkan di udara juga di penuhi banyak monster. Terutamanya Naga berdarah campuran, hampir seluruh pasukan Monster udara adalah Naga. Untuk Rigel dan pahlawan lainnya, menghadapi satu ekor Naga bukanlah masalah besar. Namun ini berjumlah ratusan, atau bahkan ribuan dan di tambah dengan Monster di darat. Ini benar-benar pertarungan yang sangat sulit. Sepertinya, hal ini juga yang berusaha Priscilla peringatkan.
"Petra, tandai tempat ini sebagai titik Teleport dan bawa para pahlawan lain ke mari." Ujar Rigel selagi membuat pijakan dari besi.
Tidak hanya sebuah pijakan belaka, Rigel menciptakan ini untuk membarikade tempat ini. Meski dia tidak yakin ini akan berhasil, namun setidaknya ini akan memperlambat mereka.
Petra dengan cepat pergi ke Ruberios dan membawa para pahlawan ke mari sampai akhirnya semua pahlawan telah berkumpul. Mereka tidak mengatakan apapun, bahkan Marcel yang tampak seperti orang sombong terkejut dengan pemandangan di depannya.
"Jika saja kita tidak mendapat berita mengenai ini, Britannia beserta rakyatnya pasti akan lenyap..." Gumam Hazama.
Dari dalam kabut yang berada jauh dari lokasi pahlawan, namun dapat terlihat jelas oleh mereka. Sebuah bayangan besar terlihat dari dalam kabut, bayangan besar itu berupa gunung yang mungkin lebih besar dari gunung Fuji Jepang.
"Oi Monyet putih, bukankah lawan kita Kura-kura? tapi ini adalah sebuah gunung!" Ozaru adalah orang pertama yang menyerukan keluhan.
"Dia tidak salah, Monyet bodoh... Kura-kura itu, membawa sebuah gunung di tempurungnya." Ujar Marcel.
Kura-kura ini membawa pasukan udara berupa Naga, dan berbagai spesies monster darat. Sesuatu mulai muncul dari dalam kabut, dan itu membuat semua pahlawan berkeringat dingin.
*Guuoooaaa........
Itu adalah kepala raksasa Tortoise. Dia mengaum kepada Rigel dan pahlawan lainnya.
"... Sepertinya, membunuh Monster ini merupakan suatu keharusan." Ujar Rigel.
Dengan ukurannya itu, dan pasukan Monster yang di bawanya. Bahkan Rigel sendiri akan sangat kesulitan mengalahkannya. Jika pahlawan tidak dapat mengalahkan Tortoise, umat manusia akan punah sebelum perang di mulai!