
"Sial! Ini jauh lebih menyiksa dari yang kuharapkan!"
Dia merangkak dan bertumpu pada sebuah batu untuk membantunya membaringkan tubuh. Bukannya karena lelah, melainkan ke arah sakit yang bergejolak. Seakan-akan tubuhnya baru saja dihantam ratusan pedang.
"Nyatanya ini sebuah kegagalan..."
Alhasil dia menguras mental dan tenaga untuk hal yang tidak menghasilkan apapun. Hasilnya sebuah kegagalan, pertaruhan terakhirnya gagal atau juga tidak? mungkin setengahnya terbilang kegagalan.
Tangan kanannya terasa terbakar oleh kekuatan yang bergejolak, meskipun rune yang ada telah dihilangkan atau nonaktifkan. Rigel mengambil nafas panjang untuk mengatur ritme jantungnya dan menenangkan diri.
"Create!" dengan kelelahan pada suaranya, dia menciptakan perban putih dan melilit erat tangan kanannya. Bukan untuk meredam perasaan terbakar itu, melainkan menutupi bekas dari tempat rune itu muncul.
Menunggu beberapa menit sampai dirinya kembali ke keadaan normal, Rigel lekas pergi dari kuil yang berisikan danau emas. Namun yang menjadi perbedaan nyata, air keemasan yang keluar menjadi lebih sedikit, seakan hendak habis dan menghilang.
Rigel menggunakan teleportasi untuk pergi ke tempat yang ingin dia kunjungi. Memang tidak ada hal khusus yang memaksanya untuk pergi ke sana. Hanya keinginan pribadinya saja untuk pergi.
[***]
Pemandangan silih berganti, hutan hijau sejauh mata memandang. Partikel-partikel cahaya yang berwujud peri kecil mengelilinginya, beberapa bertengger di bahu, kepala dan beberapa berputar-putar di sekitarnya.
Hutan peri, sebuah tempat yang sangat sulit untuk dimasuki manusia, iblis dan bahkan monster lainnya. Hanya mereka yang memiliki izin dari Ratu hutan ini, Sylph saja yang dapat memasukinya.
Karena Rigel telah kenal lama dengannya, tidak lagi perlu khawatir akan dianggap sebagai penyusup atau semacamnya. Lagipula saat ini, dia masihlah seorang Raja bagi para peri ini.
"Aku pikir kamu pergi bersama rombongan Pahlawan lain. Berkat apa yang membawamu kembali??"
Seorang wanita dengan paras cantik muncul, sayap kupu-kupunya sangat menawan seperti halnya wajah. Keberadaannya tidak lagi bisa disangkal sebagai perwujudan dari segala kecantikan. Namun, entah mengapa Rigel tidak ada ketertarikan yang berlebihan terhadapnya. Memang dia mengakui Sylph cantik, namun tidak sampai memujanya bak Dewi.
"Tidak ada, hanya bosan saja. Lagipula perjalanan tidak akan memakan waktu sebentar. Tidak masalah bagiku berkelana ke beberapa tempat sebelum akhirnya memulai raid."
Rigel dengan santai bersandar di bawah pohon selagi menikmati angin berhembus dan para peri kecil memijat bahunya. Tidak terduga bahwa dengan tangan-tangan mereka yang kecil, pijatannya cukup terasa dan membuatnya semakin rileks. Meski sesuatu masih membakar hatinya.
"Begitu, ya...," tukas Sylph selagi memandang sesuatu yang jauh. "Tidak lama lagi waktunya akan tiba, ya."
Wajahnya nampak seperti orang yang telah mengambil keputusan super sulit dalam hidupnya. Keyakinan itu tidak akan pernah goyah— tidak akan.
"Apa kau yakin? Hal seperti itu akan benar-benar bisa terjadi?? Aku yakin kau setara atau lebih kuat dariku. Jika kita berdua dan Pahlawan lain bekerjasama, bukannya mustahil mengalahkan Acnologia dan penculik misterius itu. Bahkan jika dia nyatanya Lucifer, besar kemungkinan mengalahkannya bila bersama."
Dia tidak meragukan hal itu, sama sekali tidak. Tentunya ada beberapa bagian tidak lengkap, seperti bentuk kekuatan Lucifer yang sebenarnya. Terutama dengan tangan kiri Hades yang dia dapatkan dari neraka, membuatnya tidak bisa di tebak.
Namun, Rigel juga memiliki hal yang sama, kartu yang benar-benar tersembunyi. Hampir tidak pernah dia gunakan dalam pertempu, tahap empat dan tahap terakhir Void. Sampai sekarang dia masih tidak berniat menggunakannya, karena tidak tahu dengan jelas seperti apa kekuatan itu. Dan karena ketidaktahuannya itu, tahap akhir menjadi mengerikan.
"Meskipun itu tidaklah salah, aku memiliki firasat tidak mengenakan tentang ini. Bahkan jika ada kesempatan, aku yakin hal itu tidak akan mencapai lima puluh."
Dengan gabungan Sylph, Rigel dan Pahlawan lain, bila kemungkinan berhasil tidak mencapai lima puluh, sangat jelas bahwa lawan kali ini tidak mudah dihadapi. Dia mulai mengingat hal yang dikatakan Sylph sebelumnya.
'Pertarungan kali ini mungkin dapat membawaku kepada akhir, jadi peri membutuhkan Raja atau Ratu baru untuk memerintah mereka, sebagai antisipasi terburuk. Mohon menikahlah denganku lalu menjadi Raja bagi peri.'
Meskipun hanya langkah pencegahan, bila Sylph sendiri mengambil langkah-langkah sulit, maka tidak ada salahnya Rigel juga mengambil langkah sulit.
"Firasat hanyalah sebuah firasat. Yeah, tidak ada salahnya mengambil langkah antisipasi. Namun, mengejutkan bila kamu sendiri tidak yakin akan menang melawan Acnologia."
Entah hanya candala atau kebenaran, yang manapun itu Acnologia jelas bukan lawan mudah. Meski dia memiliki gambaran kasar tentang kekuatannya, dia tidak dapat menebak secara pasti seberapa jauh kekuatannya.
"Dengan adanya kamu dan Pahlawan lain, aku tidak perlu mengambil langkah ini bila hanya Acnologia yang dihadapi. Tetapi, terhadap penculik misterius itu, aku memiliki gambaran kasar tentang identitasnya."
Rigel juga memiliki gambaran terhadap orang yang berkemungkinan besar menjadi tersangka. Namun, dia tidak terlalu mengetahui detil yang terjadi pada masa kekacauan, jadi tidak dapat memastikannya secara pasti. Dia hanya bisa memikirkan kandidatnya saja, tapi tidak memiliki kepastian.
"Siapa orang yang kau pikirkan untuk menjadi penculik misterius itu??"
Sylph tetap menatap sesuatu di kejauhan, tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya selain sayap kupu-kupu indahnya yang terus mengepak.
"Meski diriku berkata seperti itu, kandidat yang kupikirkan sangatlah absurd. Mereka adalah sesuatu yang tidak mungkin ada di dunia ini. Selain umur yang seharusnya menjadi penghalang mutlak baginya, terdapat pantangan mutlak untuk tidak berada di dunia ini...," tukasnya memejamkan mata sama halnya yang dilakukan Rigel.
"Kau berkata "Mereka" berarti ada lebih dari satu orang yang engkau pikirkan berkemungkinan menjadi kandidat??"
Umur yang menjadi penghalang baginya untuk berada di dunia ini, maka jawabannya pasti mahkluk yang tidak memiliki umur panjang. Hanya ada manusia, Demi-human dan juga monster. Selain naga, tidak ada diantara ras ini yang dapat mencapai umur lebih dari seribu tahun. Bahkan seratus juga tidak akan.
"Yea, dua hal yang tidak dapat terjamin. Namun akan kukatakan. Dua sosok itu adalah...,"
Mata yang terpejam terbuka, begitu angin menerpa tubuhnya dengan lembut. Rigel juga memikirkan kemungkinan dua nama itu, namun mereka adalah dua kandidat yang benar-benar tidak dapat terpikirkan ada di zaman ini.
"Memang benar bahwa mereka adalah yang tidak terduga. Namun, tidak perduli siapa itu, aku pasti akan menghancurkannya."
Mereka yang mengganggu kedamaiannya, mengusik kebahagiaannya, merenggut yang dikasihinya, mencekam kehidupannya, tidak akan dibiarkan lolos. Kebaikan hatinya cukup dengan membiarkannya hidup dengan tenggat waktu, sama halnya dengan Takatsumi. Tidak perlu lagi berbelas kasih kepada musuhnya.
"Sepertinya benar begitu," Sylph cekikikan kecil dan sedikit merasa lega akan perkataan Rigel. Meski begitu, akhirnya tidak akan berubah, itu yang dia yakini.
Rigel sendiri menyadari, bahwa ketetapan hati Sylph seakan tidak goyah. Dia tidak tahu apa yang tengah di siapkan Sylph tanpa sepengetahuannya, namun tidak baik baginya menggoyahkan ketetapannya.
Rigel beranjak bangkit dan membersihkan kotoran yang menempel pada tubuhnya. Peri yang berada di sekitarnya mulai menjauh selagi melambaikan tangan, seakan mengatakan sampai jumpa lagi.
"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, namun sepertinya kamu sudah sepenuhnya siap, ya??"
Dia memang tidak tahu, namun sepertinya itu rencana yang sangat penting hingga dia tidak menjelaskannya kepada Rigel.
"Yea. Seperti kata-katamu tempo hari," tukasnya dengan senyuman lembut yang tak kunjung berubah. "Kematian akan datang kepada mereka yang merindukan penciptanya."
Tatapannya sedikit melembut, bibirnya sedikit berkedud, namun sebaik mungkin dia memendam perasaan yang dirasakannya kini. Sylph menyadarinya, sedikit senang akan kesediaannya dan mendekatinya.
Sylph sedikit mengangguk, namun wajahnya tidak mengatakan demikian. Dirinya mengulurkan tangannya, mendekati Rigel.
"Suatu saat, bila akhir datang kepadaku karena merindukan pencipta, kuharap kau bersedih untukku, marah untukku, namun jangan mendendam terlalu dalam untukku."
Rigel memahami niatnya, lantas dia menyentuh lembut pipi Sylph yang semakin dekat dengan wajahnya. Meskipun hanya tujuh malam bersama, rasa kekeluargaan sedikit melekat kepadanya. Bukan berarti Sylph sosok yang berdiri sejajar dengan Tirith dan Priscilla di hatinya, namun biarlah.
Anggaplah ini hadiah perpisahan dariku..., batinnya.
Mendekatkan wajah satu sama lainnya, membiarkan berbagai rasa manis dan kehangatan hanya sebatas pada bibir mereka saja.
Meskipun hatimu bukanlah milikku, dirimu mau menghiburku ini. Dan bila aku mati nanti, kumohon..., kumohon dengan sangat, menangislah untukku, wahai Rajaku, Rigel...,
Kesedihan dan patah hati yang tak dapat dia suarakan kepada dunia terpendam dalam lubuk hatinya. Meski tidak pernah dan tidak akan berhasil meraih hatinya, setidaknya dia telah menempatkan ingatan tentang dirinya di suatu tempat dalam kepalanya.
Dia tahu tidak sepantasnya dirinya bertindak seperti ini. Namun bila harus mempertimbangkannya lagi, hal ini menjadi jalan penebusan dosa yang telah lama dia lakukan dan hanya dirinya dan Undine tahu.
Dosa yang menyebabkan masa kekacauan semakin tak terkendali, patut dirinya sendiri yang menebusnya dengan cara mengorbankan segala miliknya, termasuk nyawanya. Sama dengan Rigel, Sylph telah meletakkan pertaruhan terakhirnya dengan satu tindakan dan dua orang terkasihnya.
Sylph perlahan menjauhkan wajahnya, lalu dirinya dari Rigel untuk menjaga jarak darinya dan mengingat baik-baik setiap bentuk yang dimiliki pria itu. Dimulai dari ujung rambutnya yang putih hingga ujung kaki, bahkan aroma tubuhnya yang terasa seperti lemon.
"Ini adalah perpisahan, aku akan pergi ke tempat yang hanya diriku seorang tahu. Sampai harinya tiba, ini adalah perpisahan...," tubuhnya mulai disinari cahaya, tanda bahwa dia akan undur diri. "Mungkin jika itu terjadi, mari bertemu di surga sana."
Meninggalkan kata-kata itu, Sylph menghilang dan pergi ke tempat dimana dia akan mempersiapkan rencananya untuk medan perang nanti. Setiap dari mereka memiliki rencananya masing-masing, tiada yang berhak mencampuri satu sama lainnya.
Kesempatan terakhir untuk bertemu adalah medan perang, kesempatan untuk bertemu setelah perang hanya ada pada surga. Hal itulah yang berusaha disampaikan Sylph. Tanpa perlu memperdalam ucapannya, Rigel tahu dengan sangat niatnya.
"Mustahil, kita akan bertemu. Tidak ada tempat, niat atau tujuan bagiku ke surga sana. Atas segala dosa yang telah kulakukan, neraka menjadi tujuan akhir...," gumamnya selagi mengucapkan perpisahan di lubuk hatinya.
Tidak ada air mata yang keluar—sedikitpun tidak. Kesedihan tentunya ada, hanya saja Rigel kurang ekspresif dalam menanggapi perasaan semacam itu sekarang.
"Yeah, kita sudahi saja ini. Mari lihat perkembangan lainnya."
Meski tidak terlalu lama waktu berlalu semenjak dia meninggalkannya, namun dia belum mendapatkan apapun darinya semenjak saat itu. Tujuannya kali ini adalah, gua yang berada di gunung Region, tempat Red berada.
[***]
"Hei, paman Red! Apa kamu tahu mengapa semua orang menjadi sangat sibuk? Aku melihat sangat banyak orang-orang Region berkumpul dan pergi ke lautan sebrang. Aku mendengar dari kak Theresia bahwa mereka akan melakukan hal hebat untuk melindungi dunia. Apakah itu benar??"
Red menatap lembut gadis kecil bernama Riri. Tatapannya seperti seorang ayah yang melihat putrinya dengan semangat menceritakan kisahnya. Namun bedanya, dia seekor naga, sementara gadis kecil itu hanya demi-human.
Terhadap rasa keingintahuan si kecil di depannya, Red dengan lembut memberitahu bagian yang tidak berbahaya bagi mereka.
"Yea, itu semua demi kalian dan masa depan kalian. Mereka bahkan berani menantang Dewa agar kalian dapat hidup senang sepanjang hidup yang kalian miliki."
"Heeh~."
Mereka nampak menikmati penjelasannya yang terdengar heroik dan menarik. Namun, suasana penuh kehangatan itu hancur dengan kemunculan seorang pria.
Rambut putih yang nampak halus dan membosankan, matanya yang berbeda-beda dan wajahnya itu membuatnya tidak bisa di abaikan. Apalagi sorot matanya yang seakan-akan dapat menggigitnya kapanpun.
"Ah! Itu Kak Rigel!!" seru seorang bocah, hingga Riri dan yang lainnya menyadari lalu berlari ke arahnya.
"Lama tidak bersua! Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Riri dengan polosnya.
Rigel dengan lembut menepuk kepalanya tanpa bersusah payah menghentikan langkahnya.
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya. Bisakah kalian pergi untuk sementara waktu? Aku tidak mengizinkan kalian untuk menguping."
"Baiklah! Kalau begitu sampai jumpa Kak Rigel, Paman Red!!"
Tanpa bertanya ataupun menolak lebih jauh, Riri dan yang lainnya meninggalkan tempat, menciptakan keheningan antara Rigel dan Red yang saling menatap tajam.
"Apa kamu masih mencurigaiku atau salah satu dari rekanku??"
"Sedikit kecurigaan untukmu, namun mengenai rekanmu tidak ada keraguan. Bila saja salah satu dari rekanmu seorang penghianat, tidak ada ampun berasal dariku."
Dia tidak bercanda. Mustahil dirinya bercanda dengan keseriusan semacam itu. Red sedikit bangkit dari posisi berbaringnya selagi dengan tenang menatap Rigel.
"Jika memang ada penghianat, maka aku akan membiarkanmu membunuhnya, sebagai maaf atas kelalaianku. Namun, jika dirimu membunuh mereka yang tidak bersalah, disaat itu juga aku berdiri sebagai lawanmu."
Ancaman serupa yang sama dengan hal yang akan Rigel ungkapkan. Sebagai veteran dalam peperangan, mereka tidak akan menjadi bodoh untuk memberikan keringanan kepada lawan bicara. Bila mereka memberikannya ancaman, maka harus ada ancaman balik untuk mereka.
"Terserah saja. Aku akan membunuh setiap dari rasmu yang menyerangku lebih dahulu. Mereka yang menyerang adalah musuh, jadi bergeraklah lebih cepat daripada menunggu diriku atau Pahlawan lain melakukan hal yang tidak kau inginkan. Hanya itu saja tujuanku kemari."
Singkatnya, Rigel ingin Red dan rekan naganya bergerak duluan sebelum akhirnya dia dan Kesatuan Tempur memasuki medan perang. Dengan begitu, tidak akan ada kewajiban membunuh naga murni yang mungkin menjadi kendala utama bagi pasukan.
Selain itu, jika Red benar-benar berhasil membujuk naga murni yang ada, maka jalannya medan perang akan berbalik arah. Keunggulan jelas akan terletak pada pihak Rigel.
"Entahlah. Aku sendiri tidak yakin apakah engkau benar-benar dapat membunuh naga darah murni tanpa membuang banyak tenaga. Setidaknya, aku meyakini bahwa kau akan memilih menghemat tenaga sebelum menghadapi Acnologia."
"Yeah, pemikiranku mungkin akan berubah, atau juga tidak. Jangan memaksakan keberuntunganmu lebih jauh lagi."
Meninggalkan perkataan semacam itu, Red membaringkan tubuhnya lagi dan perlahan memejamkan mata, tertidur. Dia tidak lagi tertarik dengan apapun yang akan Rigel katakan selanjutnya. Karena hal itu hanya membuatnya memiliki lebih banyak hal untuk di pikirkan.
"Itu kalimatku. Di sini kau dan rekanmu yang memaksakan keberuntungan dengan hanya masuk medan perang ketika kemenangan sudah dipastikan. Dasar pengecut yang lemah."
Perkataannya sebuah kebenaran atau mungkin mengenai sasaran. Red tidak merespon, benar-benar mengabaikannya sepenuh hati.