
POV KAMADA TAKUMI
Takumi memenangkan pertarungannya dengan salah satu dari 12 pilar iblis. Dengan ini konfrontasi sebelum perang antara iblis dan manusia akan memanas.
Manusia telah kehilangan salah satu dari 12 pahlawan yang ada, dan sekarang giliran iblis yang kehilangan salah satu dari 12 pilar mereka.
Takumi menyodorkan tombaknya ke arah leher Behemoth. Di kepala Takumi kenangan saat dia melecehkan Tessia dan membuat Bell dan yang lainnya di siksa oleh para goblin.
Dia ingin segera mengakhiri nyawa dari iblis durjana ini namin—
"Tu-tunggu dulu, pahlawan. Sebelum itu—"
Sebelum Behemoth menyelesaikan kata katanya, Takumi memotong kalimatnya dengan sangat dingin.
"Kau tidak akan memohon untuk aku mengampuni nyawamu kan?!"
Ucap Takumi.
Darah Takumi memanas karena amarah yang tidak dapat ditahannya lagi.
"Aku tidak akan serendah itu. Yang kuinginkan hanyalah bertarung dengan orang kuat dan mati dengan kebanggaan bahwa aku dibunuh dengan seseorang yang sangat kuat.
Aku tidak perduli apa yang akan kau lakukan padaku sekarang karena dengan pertukaran kita tadi, sidah cukup bagiku."
Ucap Behemoth.
Dia memuntahkan darah dimulutnya kesampingnya dan melanjutkan kata katanya.
"Sebelum kau membunuhku, aku akan mem, berikanmu sebuah hadiah karena telah mengabulkan impianku. Ambillah bola mata yang berada di dahiku.
Aku tidak dapat menjelaskan banyak hal karena waktuku tidak banyak. Aku yakin mata ini akan banyak membantumu di masa depan. Namun, itu hanya jika kau 'pantas' dan aku yakin kau adalah orang yang pantas mendapatkannya."
Ucap Behemoth.
Takumi mengulurkan tangannya dan mengambil bola mata yang berada di Dahi Behemoth. Takumi melihat bola mata itu beberapa saat dan memasukannya ke infertory.
Behemoth menunjukan senyumannya dan bergumam
"Bunuhlah aku, pahlawan tombak. Sekali lagi kuucapkan, aku sangat senang bertarung denganmu, kuucapkan terima kasih, Yuusha Takumi. Aku berharap kita akan bertemu lagi dineraka."
Setelah mengucapak itu, Takumi menusukkan tombaknya ke arah leher Behemoth dan memenggal kepalanya.
Senyuman di wajahnya tidak menghilang sampai tubuhnya berubah menjadi abu dan menghilang.
Takumi memandang ke langit yang sudah cerah karena Redanya hujan. Takumi perlahan tumbang karena kelelahan tubuhnya yang telah memuncak dan perlahan kehilangan kesadarannya.
***
"Ugh! Sudah berapa lama aku tidak sadar?"
Takumi bergumam.
Dia meliha ke sekitar dan menyadari bahwa hari mulai beranjak menjadi pagi hari. Takumi mungkin pingsan selama beberapa jam.
Seluruh badannya terasa sakit, bahkan hanya dengan gerakan kecil dapat menimbulkam rasa sakit yang menusuk.
Takumi dapat merasakan beberapa tulang rusuknya patah. Dia berkaca di sebuah genangan air untuk bercermin dan melihat wajahnya.
Di kelopak mata Takumi ada bekas hitam samar yang terlihat seperti sebuah Rune yang muncul saat Takumi menggunakan Curse series.
Layar pandang Takumi juga terlihat kabur mungkin karena efek dari penggunaan Curse series.
Sebelum beranjak bangun dan berdiri, Takumi membuka index dan mencari Skill dari curse series, namun dia tidak menemukannya.
"Kenapa kekuatan itu tidak ada dalam daftar Skill milikku?"
Setelah beberapa saat mencari namun tidak menemukan hasil, Takumi mulai menyadari bahwa ada yang berbeda dari levelnya.
"L-Levelku 180?!"
Takumi terkejut.
Seharusnya levelku tidak setinggi ini. Aku masih ingat betul levelku bahkan belum mencapai 60 kemarin.
Apakah ini karena aku membunuh Behemoth?
Takumi terus berfikir alasan dia menembus level 100 dalam satu malam. Kepalanya masih kacau dan akhirnya dia menemukan jawabannya.
Goblin!
Aku ingat saat aku menggunakan Curse series, aku membuat selurub goblin menjadi malas dan membunuhnya dengan hujan tombak.
Takumi memutuskan untuk beristirahat sebentar lagi karena tubuhnya terasa sangat berat. Dengan levelnya yang naik drastis, seharusnya Takumi dapat membuka banyak senjata dan skill baru.
Namun dia mengesampingkan hal itu, karena masih ada hal yang harus dia periksa dengan segera.
Takumi menggunakan tombaknya untuk menahan tubuhnya dan membantunya berjalan.
***
Takumi terus berjalan, dia menginjak dan melewati mayat mayat goblin yang berserakan. Pada awalnya Takumi berfikir jika Al dan El telah mengungsikan warga.
Namun, saat Takumi mengecek ke dalam rumah warga satu persatu, dia menemukan mayat warga dan anak anak yang terbunuh.
"Bagaimana bisa, hal seperti ini terjadi?"
Takumi bergumam.
Takumi mulai menangis dan berteriak.
"Seseorang! Adakah seseorang yang masih hidup? Kumohon.. Jawablah aku."
Sekeras apapun Takumi berteriak, tidak ada orang yang menjawab panggilannya. Hanya ada tubuh manusia yang dingin dan tak bernyawa.
Lalu, Takumi sampai di tempat yang dia tuju. Tempat teman temannya berada. Dia menemukan Bell, Ozen, Al dan El serta egil yang tubuhnya di penuhi pisau kecil dan luka di tubuh mereka.
Takumi jatuh berlutut, nafasnya tidak beraturan dan air mata yang seharusnya keluat di gantikan dengan air mata darah keluar dari matanya.
"AAAAAAARRRRRRGGGGGGHHHHH!"
Takumi berteriak.
Teriakannya bergema di sekitar. Amarah, kesedihan, berbagai emosi bertumpuk di dirinya.
"T-ta, ku, mi."
Takumi tersentak karena seseorang memanggil namanya. Dia mencari sumber suara itu dan menemukan seorang gadis yang tanpa busana.
Takumi dengan buru buru menghampirinya dan memeluk tubuhnya yang mendingin.
"Tessia! Maafkan aku, maafkan aku! Karena begitu lemah, aku tidak dapat menyelamatkanmu dan orang orang, MAAFKAN AKU!"
Takumi menangis sedu saat memeluk tubuh Tessia yang mendingin.
"Tidak apa apa, Takumi. Kah tidaklah lemah, faktanya kau telah berhasil membunuh Behemoth, kan?"
Ucap Tessia dengan lemah.
"Tapi! Meskipun begitu, aku tidak dapat menyelamatkan siapa siapa, apanya yang pahlawan? Aku bahkan tidak dapat menolongmu saat kau dilecehkan!"
Takumi terus menangis sambil memeluk tubuh dingin Tessia yang dingin. Tessia memeluk balik Takumi dan mengelus rambut merah milik Takumi.
"Hehe, kau seperti anak kecil, Takumi."
Ucapnya sambil menepuk kepala Takumi.
"Takumi, sebelum waktuku tiba, maukah kau mengabulkan satu keinginan kecilku?"
Ucap Tessia.
Takumi berhenti memeluk Tessia dan memandang langsung ke wajah Tessia. Tessia mengulurkan tangannya dan menyeka air mata yang bercampur darah di mata Takumi.
Tessia terus menatap mata Takumi untuk melihat kedalam dirinya.
"Apapun yang terjadi, teruslah melangkah maju Takumi. Jangan pernah berfikir bahwa kau itu sendirian. Bukalah matamu dan lihat sekitarmu,
Bahwa kau tidak sendirian, aku, kami akan selalu menemanimu, Takumi. Lindungilah dunia tempat kita bertemu, Lindungilah umat manusia dan satu hal lagi..."
Mata Tessia perlahan tertutup dan nafasnya kian melemah dan kata kata terakhir yang dia ucapkan adalah
"Aku mencintaimu, Yuusha Takumi."
Tangannya yang memegang wajah Takumi perlahan jatuh dan nafasnya berhenti. Air mata Takumi kembali menetes karena gadis yang mencintai dirinya meninggal di tangannya."
"Tessia? Tessia bangunlah, bangunlah TESSIA!!!!"
Butuh beberapa waktu bagi Takumi menghentikan tangisannya. Matahari sudah memperlihatkan penuh dirinya. Tubuh Takumi kotor dan compang camping.
Mengabaikan rasa sakit yang dia alami, dia memakamkan seluruh penduduk desa seorang diri.
"Aku berjanji padamu, Tessia. Aku akan melindungi dunia tempat kita bertemu dan aku akan melindungi umat manusia, jadi lihatlah perjalananku sampai akhir bersama dengan yang lainnya, Tessia. Aku juga mencintaimu."
Takumi tersenyum kearah makam tempat Tessia. Sinar matahari yang menyilaukan mengaburkan wajah Takumi.
Takumi pergi menjauh dari makam Tessia dan yang lainnya dan untuk terakhir kalinya kembali melihat kebelakang makamnya berada dan pergi.
Perjalanan Takumi akan terus berlanjut dengan bayangan jiwa dari Ozen, Bell, Egil, Al dan El serta wanita yang mencintainya, Tessia.