
POV AMATSUMI RIGEL.
Aku berjalan mendekati Azazel yang kekuatannya telah kembali sekitar setengahnya.
'Bahkan dia masih lebih kuat dariku.'
Pikir Rigel.
Kemampuan regenratif nya sangat mengerikan. Selain itu, aku lebih terkejut dengan fakya bahwa Priscilla memiliki sebuah hubungan dengan ratu dari penguasa alam peri, ratu peri.
Meskipun aku ingin lebih mengetahui rinciannya, namun aku akan melewatkannya karena ada hal yang lebih mendesak untuk di lakukan. Aku akan menghabisi bajingan ini dengan kedua tanganku sendiri.
Rune berwarna biru yang telah terukir ditubuhku terasa gatal. Sebelumnya, saat Priscilla sedang bertarung habis habisan dengan Azazel, aku menyerap 20ribu inti jiwa manusia yang berada di dalam infertoryku.
Aku menghisap seluruh inti jiwa itu sekaligus tanpa perlu memilih yang besar ataupun kecil. Aku dapat merasakan seluruh kekuatan dan enrgi jiwa yang berlimpah berasal dari seluruh inti jiwa yang telah kuserap keadalam inti jiwaku.
Karena kekuatan yang berlimpah itu, aku memiliki sebuah pemikiran yang cukup bagus. Aku mencoba menggabungkan energi jiwa ini dengan seri kutukan. Aku mengaktifkan kutukan amarah dan saat rune perlahan terbentuk, aku mengalirkan energi jiwaku yang berlimpah mengikuti bentuk rune dari kutukan amarah.
Hasilnya, aku berhasil menghilangkan efek negatif dari seri kutukan sehingga aku dapat dengan bebas memilih menggunakan kekuatan ini atau tidak. Singkatnya, aku tidak akan mengalami kerugian apapun saat menggunakan seri kutukan, bahkan kemungkinan besar efek samping yang mengutuk tubuhku tidak lagi terjadi.
Ini benar benar seperti cheat saja. Aku mendapatkan kekuatan maha dahsyat ini begitu saja dan sangat mudah. Aku bahkan hampir berfikir apakah aku benar benar boleh menggunakan kekuatan seperti ini? Bukankah ini sangat melenceng dari kekuatanku yang sebenarnya yaitu Creator?
Yah, aku mungkin tidak harus mengkhawatirkan hal ini sekarang. Karena bagaimanapun, kekuatan adalah keadilan, yang lemah akan ditindas dan tersingkir sementara yang kuat akan menindas yang lebih lemah.
"Maaf karena butuh waktu lama untukku mengalahkan pengguna kekuatan peri itu, pahlawan."
Azazel merentangkan tangannya sambil tersenyum.
"Yah, namun berkat Priscilla yang memberiku banyak waktu untuk menggunakan kartu di lenganku, aku dapat menggunakan kekuatan ini. Dengan ini, mungkin ini adalah hari terakhir bagimu untuk bernafas."
Ucap Rigel memprofokasi Azazel.
"Kalau begitu, perlihatkanlah apa yang kau bisa."
Azazel mengambil posisi bertarung.
Aku diam menyaksikan Azazel yang bibirnya masih melengkung. Aku telah mengumpulkan cukup banyak mana alam di sekitar tangan kiriku, bukan hanya untuk menggunakan skill, namun aku mengumpulkannya untuk memperkuat lengan kiri palsu yang kukenakan ini. Aku khawatir benda ini akan hancur saat kami akan bertukar pukulan.
Shuu~
Aku menarik nafas panjang dan mengambil langkah yang sangat cepat menuju Azazel. Azazel juga berlari menghampiriku sambil mengulurkan tinju kirinya. Aku juga mengulurkan tinju kiriku dan membenturkannya ke tinju Azazel yang terulur.
Bam!
Krek!
Pukulan kuat kami saling beradu, yang membuat retakan di lantai tempat kami berdiri.
Aku mengambil beberapa langkah mundur dan mengulurkan kedua tanganku secara bersamaan. Karena aku telah menggunakan kekuatan kutukan amarah, aku hanya perlu membayangkan apapun yang ingin kubentuk tanpa perlu waktu lama.
Aku membayangkan tiga buah anak panah raksasa dan seolah merespown keinginanku, cahaya mulai berkumpul di sekitarku dan membentuk tiga anak panah raksasa berwarna biru.
"Light Arrow!"
Aku melemparkan ketiga anak panah itu langsung menuju Azazel yang masih berdiri di tempat kami bertukar pukulan sebelumnya.
"Hmm." Azazel mengejek. "Perlindungan api neraka." lanjut Azazel, mengaktifkan skill miliknya.
Azazel merentangkan kedua tangannya dan sebuah pelindung tembus pandang berwarna merah kehitaman muncul di depannya. Azazel menahan ketiga anak panah yang aku lepaskan dengan sangat mudah seolah sedang menangkap panah yang berasal dari bayi.
Selagi Azazel sedang menahan ketiga anak panah raksasaku, aku mengambil kesempatan itu untuk melancarkan serangan kuat yang lainnya. Aku mengumpulkan lebih banyak mana ke tangan kiriku, lalu melesat seperti kilat, langsung mengarah ke Azazel yang masih menahan tiga anak panah raksasaku.
Aku menarik kebelakang tinju kiriku yang terbalut mana untuk memperkuat seranganku serta kekuatan yang selalu ku andalkan. Azazel menyipitkan matanya karena kemunculanku yang tiba tiba. Dia dengan cepat menyilangkan kedua tangannya ke dadanya untuk menahan pukulanku.
"teknik mana, Mana hand : Asura Punch!"
Teriak Rigel.
Terbentuk sebuah tinju raksasa berwarna emas yang terbuat dari mana alam dan dipadatkan lalu aku bentuk menyerupai tinju kiriku. Tinju mana raksasa itu mengikuti ke arah tempat tanganku mengarah, tinju mana itu menghantam tubuh Azazel dang menghempaskannya ke dinding dengan sangat kuat hingga membentuk retakan di tempat dia mendarat.
Awan debu berkumpul di sekitar tempatnya mendarat dan tanpa peringatan meteor mini berwarna hijau melesat ke arahku dengan sangat cepat. Aku bisa saja menghindarinya, namun jika aku menghindar, orang orang yang berada di belakangku akan merasakan serangannya.
Aku juga bisa membangun banyak dinding besi, namun aku tidak yakin itu dapat menghentikan serangannya, sehingga aku tidak mempunyai pilihan lain selain menghadapinya secara langsung!
Aku mengumpulkan mana alam dan memadatkannya membentuk kedua lengan yang sama persis dengan lenganku.
"Mana hand : Double Hand!"
Rigel berteriak.
Aku merentangkan kedua tangan kecil dan tangan mana raksasa berwarna emas yang berhasil kubuat dengan cara memadatkan sekumpulan mana yang berhasil ku kumpulkan.
Saat serangan Azazel sudah mencapai jarak seranganku, aku dengan cepat menyatukan kedua tanganku seolah sedang menepok nyamuk.
Bam!
Ledakan terjadi karena meteor mini yang di lontarkan Azazel telah hancur seperti nyamuk dan meledak. Ledakannya mengakibatkan awan debu di sekitar sehingga aku tidak dapat melihat apapun.
Sing!
Pack!
Di tengah awan debu itu, sosok hijau dengan cepat menerjang ke arahku dan menghantam perutku dengan sangat kuat. Aku tidak sempat bereaksi karena tidak dapat melihat apa apa di tengah awan debu itu.
Beruntunglah aku belum mengisi perutku dengan makanan sehingga aku tidak memiliki apapun untuk di muntahkan selain asam lambungku.
Saat aku ingin mencari dimana sosok yang menyerangku barusan, aku dapat merasakan aura membunuh di sampingku dan sebuah kilauan hijau muncul dari samping.
Sebelum dia mulai menerjang dan memukulku lagi, aku menciptakan badai angin besar untuk menyapu asap dan apapaun yang berada di sekitarku.
"Tornado!"
Teriak Rigel.
Awan debu yang menutupi daerah sekitar terbawa kedalam pusaran angin dan perlahan menghilang.
Saat aku menyadari, Azazel telah menerjang ke arahku. Dia mengarahkan tinjunya ke arah perutku, namun kali ini aku berhasil menahannya dengan cara menggenggam tinjunya dengan tangan kananku. Aku menarik tangan kiriku dan menghantamkannya ke wajah Azazel.
Azazel terhempas karena pukulanku. Dia menggunakan kedua kakinya dan tangan kanannya untuk menahan tubuhnya agar tidak terhempas terlalu jauh.
Aku ingin bertarung habis habisan dan menggunakan seluruh kekuatanku namun karena ini berada di dalam ruangan, aku mengurungkan niatku. Karena, di ruangan ini ada Mirai dan Anastasia yang sedang menyembuhkan luka Priscilla.
Belum lagi para pasukan Region yang kemungkinan besar masih bertarung disana. Karena jangkauan seranganku sangat luas dan cukup kuat, aku khawatir jika salah satu dari seranganku akan melukai salah satu dari mereka.
Aku harus membawa Azazel keluar dari sini karena di luar lebih luas dan aku tidak perlu khawatir dalam menggunakan seluruh seranganku, namun yang jadi masalah adalah, bagaimana caranya?
Membawa Azazel keluar melewati pintu gerbang sangatlah mustahil. Karena para pasukan Region masih berada tidak jauh dari pintu gerbang. Jika aku mengarahkan Azazel ke sana, aku khawatir bahwa dia akan membunuh orang orang dalam perlajanannya bahkan ada banyak orang yang menunggu di luar gerbang. Jadi cara ini mustahil untuk dilakukan.
Hanya ada satu cara yang teramat barbar terpikirkan di kepalaku. Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak. Jika orang lain mendengar rencana yang terpikirkan olehku ini, mereka pasti akan menganggapku sudah gila.
Bahkan aku meragukan apakah aku masih waras atau tidak. Namun, aku hanya bisa bertaruh saja!
Aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk menjadi palu dan menggunakan Azazel sebagai paku. Rencana yang terfikirkan olehku adalah—
Membuat lubang di dinding yang menghubungkan lantai ini dengan lantai selanjutnya!