The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Roda takdir kembali berputar



Rigel dan yang lain kini tengah berhadapan dengan sosok misterius. Tidak ada apapun yang bisa dideskripsikan tentangnya, karena jubah yang menutupi tubuhnya. Namun, dapat dipastikan bahwa terdapar sesuatu dibalik punggungnya.


"Kau... Siapa?!"


Rigel merasakan frustasi. Tidak hanya kehilangan Ensiklopedia dunia, namun sesuatu tidak mengenakan berasal dari pria yang sedang melayang di udara, seakan dia dapat berjalan dengan bebas di sana.


Asoka, Odin dan Gahdevi hanya bisa menatap dan berwaspada akan segala kemungkinan yang terjadi. Mereka tidak berniat bertindak sembarangan, karena tidak sembarang orang dapat membuat Rigel kelelahan. Belum lagi, satu serangan sebelumnya benar-benar mematikan. Tidak ada pilihan lain, selain bertindak defensif. Kembali dengan selamat juga termasuk dalam kemenangan. Bahkan jika harus melarikan diri, tidak akan ada yang menghilang darinya.


Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Hanya diam mengamati Rigel dan kekuatan yang digunakan untuk menahan serangan sebelumnya.


Dia telah mengembalikan Void, sesaat serangan berakhir. Tentunya dia membuat langkah pencegahan bagi musuh untuk tidak mengetahui lebih jauh kekuatannya. Meski begitu, Rigel telah siap mengaktifkannya kapanpun, karena mereka belum keluar dari situasi genting.


"Cepat katakan siapa dan apa tujuanmu!!"


Rigel kembali bertanya dan kali ini dia sedikit memberikan ancaman dengan tatapan dingin dan niat membunuh yang kuat.


Mendengar itu, sosok pria misterius di langit hanya mendengus geli, seakan ancaman Rigel hanya menggelitik kulitnya.


"Tidak perlu sewaspada itu, manusia...," ujar sosok misterius dengan sedikit bercanda dalam suaranya.


Manusia?? jika dia berkata seperti itu, artinya dia bukan manusia??..., batin Rigel.


Hanya iblis yang dapat terpikirkan oleh Rigel. Memang ada satu eksistensi yang terpikirkan olehnya, namun Rigel segera menyangkalnya karena itu seharusnya tidak mungkin. Tidak... Itu seharusnya mungkin saja, bila mengingat kekuatan yang dikeluarkannya.


Namun Rigel tidak menginginkan asumsi terakhir. Karena dengan begitu, segala hal menjadi semakin rumit dan sulit ditangani. Masih banyak hal yang perlu ditangani sebelum hari akhir tiba. Harapan terbesar Rigel adalah tidak ada musuh lain selain iblis dan malapetaka. Dengan begitu, persiapan akhir menghadapi perang akan menjadi sempurna.


"Aku tidak akan membunuh kalian di sini, karena itu tidak akan menjadi menarik...," lanjut sosok misterius itu.


"Hah! Perkataan yang sungguh tidak bisa dipercaya!"


Kenyataannya dia hampir saja mati akibat serangan cahaya sebelumnya. Terlambat sedikit saja, dapat dipastikan riwayat hidupnya berakhir saat itu juga. Mempercayai perkataan sosok itu sama dengan mempercayakan nyawa kepada malaikat pencabut nyawa.


"Yah, anggaplah itu sebagai salam dariku kepada kalian mahkluk rendahan..., lagipula tujuan utamaku bukan untuk melenyapkan kalian. Melainkan buku yang mencatat kejadian dunia yang sangat merepotkan itu. Meski begitu, aku juga ingin mengetahui, sejauh mana kau dapat bertahan, Rigel... Bila kau mati, maka kau hanyalah babi suci biasa, namun bila kau bertahan, maka kau benar-benar petarung dari umat manusia."


Darimana dia mengetahui namaku? begitulah yang terpikirkan Rigel. Sejauh ini, dia sama sekali belum memperkenalkan diri. Jika dia manusia itu tidak mengejutkan, namun sayangnya sosok itu sudah pasti bukan manusia. Ada kemungkinan dia telah mencari informasi terlebih dahulu, sebelum datang dan menemui Rigel.


Jika sosok itu datang untuk menghancurkan buku pengetahuan, maka dia dapat menerka bahwa sosok itu tidak ingin Rigel mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahui. Apakah itu kebenaran dibalik Ragnarok? atau sesuatu yang menyangkut hal lain, seperti kebenaran dunia ini??


"Kesampingkan hal itu..., jika tujuanmu hanya melenyapkan buku jelek itu, maka tidak ada alasan bagimu merepotkan diri dengan membuang waktu di sini!"


Rigel berniat mengusir sosok itu secepat mungkin. Bukannya dia takut, melainkan terdapat sesuatu yang membuat Rigel merinding terhadap sosok itu. Lalu, jika sosok itu tidak berniat untuk pergi, setidaknya dia harus mengulur waktu sedikit.


"Ya, ini hanyalah hasil sampingan. Aku ingin berbincang sedikit denganmu, Pahlawan manusia...," meski samar, senyuman sinis dan merendahkan dapat terlihat dari balik tudungnya.


"Tidak ada hal yang perlu dibicarakan," balas Rigel dengan tatapan tajam.


Tangan kirinya telah siap. Rigel dengan cepat mengulurkan tangan kirinya dan menembakan laser berkekuatan penuh menuju sosok itu.


"Material Buster! 100%!!"


Laser super panas berkecepatan cahaya melesat langsung, namun dalam waktu microsecond, sosok itu hanya meniup laser Rigel dan menghilangkannya dengan begitu mudah. Asoka, Odin, Gahdevi dan bahkan para dwarf memiliki ekspresi terkejut yang sama.


Serangan yang dapat melubangi sebuah gunung dibatalkan dengan begitu mudahnya. Bahkan yang terburuknya dengan satu hembusan nafas. Rigel sendiri hampir tidak bergeming. Dia sangat terkejut bahwa serangannya seakan tidak ada apa-apanya.


"Kau menganggap percikan api kecil itu serangan?"


Sosok pria misterius di udara itu perlahan mengulurkan tangannya dan menyentil udara lalu mengatakan, "Ini baru namanya serangan..,"


TIK!


CRACK!!


Bersamaan dengan sentilan jarinya, angin berkecepatan tinggi melesat san menghancurkan tangan kiri Rigel, beserta batu sihir di tangan kirinya. Meskipun itu hanya tangan palsu, dia tetap merasakan sakit karena itu terhubung langsung dengan bahunya, sehingga dapat memunculkan darah keluar.


Tidak ada lagi waktu untuk terkejut, Rigel mengayunkan tangannya dan mengirimkan Asura Punch super besar yang diiringin api Purgatory.


Namun lagi-lagi, sosok itu hanya menampar pelan dan menghilangkan serangan Rigel dengan sangat mudah. Itu tidak akan mengejutkan bila dia membutuhkan sedikit usaha, namun dia justru tidak kesulitan sedikitpun.


Ohh, ayolah..., yang benar saja!!


"Kau, bagaimana kau bisa melakukannya semudah bernafas?" Odin sungguh terguncang dengan pemandangan di depannya.


Dia sangat tahu bahwa serangan yang dikeluarkan Rigel bukan sesuatu yang mudah di tangani seperti itu. Bahkan Gahdevi mengakui serangan Rigel sebelumnya lebih dari mampu membunuhnya, meski dalam wujud raksasa.


"Tidak perlu sekejut itu. Aku hanya mematikan pemantik api miliknya...," ujarnya.


Tentunya akan menjadi sebuah provokasi, bahwa api yang dapat melenyapkan manusia tanpa menyisakam debu dianggap pemantik api.


Namun dia tidak bermasalah akan hal itu. Justru nampaknya hal itu benar bila dihadapan sosok misteri ini. Dia bingung apa yang harus dilakukan saat ini. Teleportasi memang sebuah pilihan, namun keadaan jauh lebih buruk bila sosok itu mengikutinya.


"Mari kita bicarakan sesuatu yang lebih menarik, seperti..., benar, manusia yang terlihat mirip denganmu. Dia benar-benar menarik dan melakukan berbagai hal yang selalu diluar perkiraanku," ujarnya selagi bernostalgia.


Rigel tidak tahu siapa yang dimaksud. Namun bila itu seseorang yang mirip, maka ada kemungkinan itu Aludra. Dia memang mendengar nama itu baru-baru ini, namun entah kenapa dalam kasus ini namanya selalu terlibat. Seakan dia adalah orang yang berperan besar dimasa lalu. Entah itu untuk kejahatan, atau kebaikan dunia.


"Tidak hanya mengganggu Pahlawan generasi sebelum dirimu. Dia menciptakan sistem menarik seperti perbudakan dan menjatuhkan dunia dalam kekacauan akibat kemarahan serta kebenciannya. Dia adalah satu-satunya manusia yang mendapat perhatian dariku..., benar, kalah tidak salah, Aludra namanya," ujarnya. Senyum samar tumbuh di bibirnya. Nada suaranya juga terdengar gembira selagi bercerita tentang Aludra.


"Aludra..., maksudmu penjahat keji dimasa lalu?" Asoka tercengang dan seperti mengetahui sesuatu tentangnya.


Rigel tentu menjadi semakin dan semakin tertarik mendengar lebih banyak kisahnya. Namun, waktu tidak akan diam dan menunggu Rigel memuaskan keingintahuannya. Perlu baginya menunda dan menunggu waktu damai untuk bertanya tentang siapa dan apa pria Aludra itu.


"Hoo?? tidak kusangka bahwa manusia masih mengetahui hal tentangnya. Yah, mari kesampingkan..., suatu kesempatan yang langka bagi seorang manusia mendapat perhatianku dan kau harus tersanjung karena mendapatkan perhatian yang sama dengan pria itu, Rigel."


"Maaf, tapi aku sama sekali tidak tersanjung. Justru aku mual mendapat perhatian menjijikan darimu!"


"Hahaha, tentunya begitu..., karena itulah aku sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuatmu bersyukur," dia mengulurkan tangannya dan menciptakan sebuah cermin emas di tangannya.


Begitu Rigel menajamkan matanya dan melihat apa yang ada di balik cermin itu, dia benar-benar terkejut dengan apa dan siapa yang berada di dalamnya. Terdapat seseorang di sana dan itu seseorang yang tidak bisa Rigel abaikan begitu saja.


"Kau..., apa yang kau lajukan padanya?!!!"


Kemarahan besar yang membuat udara bergetar muncul dan asalnya dari Rigel. Kemarahannya sendiri cukup untuk membungkam suara serangga dan hewan yang bergema di hutan. Bukannya takut, sosok misteri itu justru bersiul kagum terhadapnya.


"Fiuw~, Itu sangat sedikit dan lebih sedikit dari sangat sedikit yang membuatku merinding. Nampaknya benar pilihanku untuk membawa gadis ini bersamaku, karena kau dan sosok menarik lainnya akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkannya."


Sosok menarik lainnya, dia pasti mengarah kepada Sylph. Tidak mungkin dia memilih orang secara asal untuk dibawa bersamanya. Dia pasti telah merencanakan sesuatu yang mengerikan, ketimbang menculik Priscilla tanpa tujuan. Kemungkinan besar, hal ini adalah arti dari rasa pahit di lidahnya yang selama ini terus mengusiknya.


Sesuatu seakan berjalan di balik layar tanpa sepengetahuannya. Dilihat dari keadaan, nampaknya Lucifer sendiri tidak menyadari adanya gerak-gerik aneh dari pihak ketiga ini. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana cara keluar dari situasi ini dengan selamat dan menyelamatkan Priscilla yang terpenjara di dalam cermin.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Rigel.


Sosok itu mendengus senang, "Mari kita mainkan sebuah game," ucapnya.


Rigel bergumam "Game?" dengan bingung dan terlambat memproses maknanya. Sosok itu mengangguk dan mengulurkan cermin di tangannya seakan bertujuan menjatuhkannya lalu menghancurkannya. Jika dia melakukannya, maka Priscilla dipastikan terpenjara selamanya.


"Ya..., permainan ini bertemakan 'menyelamatkan' yang seharusnya memang tugasmu sebagai Pahlawan untuk melakukannya. Kau harus menghadapi monster yang sudah kusiapkan dan itu akan menjadi Last Bos bagimu, sebelum menuju perang akhir. Jika kau berhasil mengalahkannya, aku jamin gadis ini akan baik-baik saja dan sebagai hadiah, aku akan mengungkapkan identitasku. Namun, jika kau gagal...," sosok itu dengan sengaja menciptakan tiruan lain cermin dan menjatuhkannya. Dia lalu menghancurkan cermin tiruan itu dengan hembusan angin.


"Baik itu kau, gadis ini, ataupun umat manusia..., akan kujamin penuh kehancuran dimasa depan!"


Dia mengeluarkan tekanan kuat yang nyaris membuat para dwarf mati. Odin, Gahdevi dan Asoka berusaha yang terbaik untuk tetap berakal sehat dihadapan tekanan itu, sementara Rigel tidak bergeming.


Dia hanya menatap dan memahami sebaik mungmin siapa orang di depannya itu. Tidak perduli seberapa keras dia menebak, namun tidak ada alibi yang dapat menguatkannya. Meski tahu tidak berguna, Rigel tetap akan menanyakan pertanyaaan jebakan.


"Kau..., apa kau seorang iblis?!"


Terdengar konyol, namun dia tidak ingin memiliki kemungkinan lain yang mengerikan. Setidaknya, jika sosok itu menolak, maka jawaban telah ditentukan.


"Hahahaha!! kau benar-benar lucu dan menarik, Rigel!" dia tertawa dengan bahagia swlagi perlahan tertarik ke langit. Sosok itu menghilangkan cermin di tangannya dan merentangkan kedua tangan selagi perlahan terbang tinggi.


"Entahlah, siapa aku sebenarnya..., Manusia, iblis, malaikat atau mungkin dewa! Yang manapun tidak masalah karena aku hanya menginginkan sebuah permainan yang menghapus rasa bosan ratusan tahun ini," senyuman di bibirnya tak kunjung hilang. Sosok itu terus terbang semakin tinggi secara perlahan, seakan sesuatu tengah menarik dirinya.


Namun Rigel tahu, bahwa itu adalah kemampuan milik sosok misterius itu sendiri.


"Aku akan menunggumu, Rigel..., Tanah Naga terlupakan akan menjadi titik pertemuan kita selanjutnya. Untuk monsternya, kau seharusnya sudah menebaknya~,"


"Naga malapetaka!" ujar Rigel, menggertakan giginya, "Aku pasti akan datang mengungkap siapa kau dan mengakhiri hidupmu!"


"Mengakhiri? Huhahaha, sayang harus mengecewakanmu, tetapi ini bukan sebuah akhiran, melainkan sebuah awalan! Roda takdir akan kembali berputar dan hanya mereka yang pantas berdiri di tempat yang sama denganku! Buktikanlah padaku, bila kau layak berdiri sejajar denganku..., aku akan menunggumu dengan sabar di medan tempur pembukaan kita, selamat tinggal~," sosoknya perlahan tampak pudar dan hendak menghilang. Namun disaat-saat terakhirnya, dia mengatakan sepatah dua patah kata.


"Ahh~, sebagai bonus, aku akan memberimu peringatan. Sebelum datang ke tanah Naga yang terlupakan, hadapilah kabut monster yang menanti di depanmu, sebelum menghadapi Last bos."


Begitu dia mengatakan itu, sosoknya menghilang seakan tidak pernah ada. Rigel tidak perlu repot-repot memikirkan makna terakhir dari ucapannya. Dia tahu. Dia benar-benar langsung mengetahui peringatan terakhirnya.


"Kabut apa itu?" tanya salah satu Dwarf selagi menunjuk hutan yang jauh.


Rigel dan yang lain mengikuti arah yang ditunjuk Dwarf dan menemukan hutan yang dikelilingi kabut putih. Tidak hanya itu, pepohonan di sekitarnya berubah menjadi putih begitu termakan oleh kabut.


"Sudah datang, ya," gumam Rigel selagi menyipitlan mata, "Kita kembali dan menghubungi Pahlawan lain untuk segera berkumpul! Cepat, tidak ada waktu untuk dibuang!" lanjutnya.


"Memangnya hal apa yang mendekati kita, tuan Pahlawan?" tanya Gahdevi.


Rigel memunggungi mereka dan mengangkat tangan untuk menyiapkan teleportasi. Cahaya kebiruan mulai bersinar mengitari mereka, sebelum mereka terpindahkan, Rigel mengatakan :


"Monster malapetaka, bajingan yang mungkin telah mengawasiku semenjak terbang menuju Darkness..., White Tiger!"


Pepohonan mulai tumbang dan terpotong rapi. Sebuah bayangan putih melesat dengan kecepatan gila menuju Rigel dan yang lainnya. Bayangan itu memperlihatkan taringnya dan hendak mengunyah mereka, namun sepersekian detik sebelum itu terjadi, Rigel dan yang lain telah menghilang.


Roda takdir terus berputar, dunia bergerak dan hendak dalam kekacauan besar. Macan putih mulai bergerak dan bersamaan dengan itu, Kaisar Surgawi akan ditentukan.