The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Asoka Van Yurazania




Kami telah sampai di sebuah kediaman seorang bangsawan yang jauh nerada di pinggiran kerajaan. Tidak ada orang yang mengetahui identitasku selain Cold dan yang lainnya, karena wajhku tertutup oleh topeng.


"Jadi, apakah kita sudah sampai?"


Tanya Rigel.


"Ya, kita sudah mencapai gerbang depan dari kediamannya."


Ucap Cold.


Cold menyapa salah satu prajurit demi human yang menjaga pintu gerbang. Saat kami memasuki gerbang, didalamnya terdapat hamparan gandum yang sudah berwarna ke emasan. Tidak hanya gandum, ada juga tempat perternakan dan perkebunan yang memiliki berbagai macam tumbuhan. Teh adalah salah satunya.


Namun yang mengejutkanku bukan hanya itu. Para petani dan orang orang yang bekerja di tempat ini mayoritasnya adalah demi human. Aku juga dapat melihat beberapa manusia yang sedang bercakap cakap dengan demi human. Melihat manusia dan demi human rukun seperti ini, mengingatkanku dengan serikat Region.


"Aku mengerti sekarang, jadi hal ini yang telah kalian capai selama setahun. Kalian sangat hebat."


Ucap Rigel.


Cold, Ray, Misa dan Nisa hanya tertawa malu dengan pujian yang kuberikan kepada mereka. Di sisi lain, aku masih melihat ke sekitar tempat ini dari jendela pedati. Selain daerah pertanian dan perternakan, aku juga melihat beberapa rumah yang nampaknya tempat para pegawai tinggal.


Jadi, hal yang selama ini dilakukan Cold dan yang lainnya adalah membeli para budak demi human dan manusia lalu membiarkan mereka bekerja dan hidup di kediaman bangsawan ini. Meskipun tidak lepas dari kehidupan budak, namun mereka terlihat lebih hidup di tempat ini. Mereka tidak di perlakukan buruk seperti para pemilik budak di luar sana.


Tempat ini benar benar cocok untuk mendapatkan julukan negara di dalam negara. Aku yakin alasan bangsawan ini sangat berpengaruh karena suplai makanannya kepada keluarga kerajaan. Bahkan dalam sekali lihat, setiap orang tahu bahwa bangsawan ini adalah seorang pedagang besar. Sangat jelas saat aku melihay perternakan dan perkebunannya.


Bahkan aku yakin bahwa raja sialan itu tidak akan berani melakukan hal buruk kepada bangsawan ini. Aku ingin tahu, seperti apa bangsawan hebat ini.


"Baiklah, kita sudah sampai. Ini adalah mansion utama bangsawan Ainsworth."


Ucap Cold.


Bahkan mansionnya sangatlah megah dan indah. Hampir seperti sebuah istana kecil. Saat aku masuk kedalam, lantainya di hiasi karpet berwarna merah. Beberapa vas bunga dan lukisan dinding tersusun dengan rapih.


"Ah, kau sudah kembali rupanya, tuan muda Asoka. Siapa orang bertopeng ini?"


Ucap seorang pria paruh baya.


Asoka? Aku tidak tahu siapa Asoka yang dia maksud. Mungkinkah aku salah mendengar?


"Sebelum aku memberitahu identitasku, aku ingin bertanya siapa yang kau maksud Asoka? Aku tidak kenal orang dengan nama itu."


Ucap Rigel.


"Ahh, aku lupa bahwa kau belum kuberitahu."


Ucap Cold, menggaruk kepalanya dan tersenyum aneh.


Lalu, tanpa Pemberitahuan apapun cold menundukan tubuhnya dengan anggun, hampir seperti seorang bangsawan. Cold meletakan tangan kanannya di dadanya dan tangan kirinya di belakang pinggangnya.


"Izinkan aku memperkenalkan diriku yang sebenarnya. Aku adalah pangeran kerajaan Yurazania, namaku yang sebenarnya adalah Asoka Van Yurazania. Cold adalah nama samaran yang kubuat untuk menutupi identitasku."


Ucap Cold— Asoka.


"Yurazania? Aku belum pernah mendengar nama itu. Jadi, Cold—maksudku Asoka. Bisakah kau menjelaskan rinciannya padaku terlebih dahulu?"


Ucap Rigel.


"Kau boleh terus memanggilku Cold. Namun, bisakah kau memperkenalkan dirimu dulu?"


Ucap Cold, sambil menunjuk ke arah bangsawan yang bingung itu.


Yah, kupikir bangsawan ini orang yang bisa di percaya. Aku melepaskan tudung yang menutupi rambutku dan membuka topengku.


"Aku yakin kau mengenalku. Perkenalkan, aku adalah salah satu dari 12 pahlawan, Creator Hero. Amatsumi Rigel."


Ucap Rigel.


"Apa?! Bukankah seharusnya kau sudah meninggal satu tahun yang lalu?!"


Bangsawan itu terkejut.


"Aku akan menjelaskannya nanti."


Ucap Rigel.


"Maaf atas ketidak sopananku. Perkenalkan, aku adalah kepala pemimpin bangsawan Ainsworth, namaku Walther Ainsworth. Aku sangat senang karena jadi bangsawan pertama yang anda temui."


Ucap Walther.


Setelah perkenalan singkat itu, kami diantarkan keruang tamu dan aku menceritakan apa yang aku alami kepada Walther. Aku memberikan cerita yang sama seperti yang aku ceritakan kepada Cold dan yang lain.


"jadi begitulah, butuh waktu satu tahun bagiku untuk mendaki ke permukaan."


Ucap Rigel.


"Tidak kusangka bahwa ini adalah skenario yang dibuat raja dan hero pedang."


Ucap Walther.


"Jadi, sekarang giliranmu menjelaskan mengenai jati dirimu yang seorang pangeran, Cold."


Ucap Rigel.


Cold menatap Walther karena ragu sebentar dan siap untuk menceritakannya. Cold tidak menyuruh Ray dan yang lainnya untuk pergi, sepertinya mereka sudah mengetahui hal ini.


"Yurazania adalah sebuah kerajaan besar yang berada di tengah laut. Untuk sampai kesana, dibutuhkan sekitar 3 hari berlayar dari perairan kekaisaran timur. Yurazania adalah sebuah kerajaan yang bahkan lebih makmur dari tiga kerajaan di benua ini. Disana manusia dan demi human dapat hidup dengan damai dan rukun. Namun, saat aku berusia delapan tahun mahkluk itu muncul."


Ucap Cold.


Cold memiliki ekspresi yang pahit di wajahnya sedangkan walther tampak sedih.


"Salah satu dari hewan malapetaka, Hydra. Ular berkepala dua itu datang membawa banyak monster dan menempati perairan Yurazania. Akibatnya, kami harus diteror oleh aura sihir besar yang dipancarkannya dan para monster yang dia bawa. Seluruh warga Yurazania, termasuk ayah dan ibuku mati dimakan para monster itu."


Ucap Cold.


Cold mengepalkan jari jarinya dengan kuat. Aku tahu ini bukan cerita yang ringan untuk di ceritakan.


"Lalu, bagaimana caramu selamat dari malapetaka mengerikan itu?"


Tanya Rigel.


"Ini semua berkat ibu dan ayahku. Mereka menghadapi hydra dan menahan para monster untuk memberi aku dan anak anak lainnya kabur dari tempat ini namun sialnya, hanya aku yang berhasil selamat dari kejadian itu. Saat aku hampir mati di tengah lautan, aku bertemu tuan Walther yang merupakan seorang pedagang sekaligus teman baik ayahku. Dia membawaku kerumahnya dan merawatku seperti anaknya."


Ucap Cold.


"Kau juga mengalami masa kecil yang berat ya."


Gumam Rigel.


Monster malapetaka, Hydra ya. Dia adalah monster ular raksasa yang sudah menteror dunia ini selama lebih dari 400 tahun. Seharusnya monster ular itu memiliki delapan kepala. Namun dunia ini memiliki monsternya sendiri yaitu hydra berkepala dua. Meskipun dia seekor ular, hydra juga termasuk ke dalam jenis naga.


Bahkan para pilar iblis tidak mencoba untuk mengalahkannya, berarti monster ini bahkan sangatlah kuat. Ada terlalu banyak masalah yang harus di urus, sialan. Pertunangan Tirith, kaisar surgawi, membentuk pasukan, lalu membalas perbuatan Takatsumi dan raja keparat itu.


Aku ingin membunuh Takatsumi, namun aku tidak bisa melakukannya. Selain fakta bahwa dia tetaplah seorang pahlawan, membunuhnya sama saja memberikannya keringanan dari apa yang telah dialakukan. Aku ingin melakukan sesuatu yang lebih dari itu seperti membuat sarang belatung dari tubuhnya!


"Rigel? Apa yang sedang kau lamunkan?"


Tanya Cold dengan bingung.


Aku mengabaikan tatapan Cold dan semua orang yang sedang menatapku dengan bingung. Aku terfikirkan sebuah rencana bagus!


"Hahahahahaha."


Rigel tertawa keras.


"Melempar dua burung dengan satu batu, ya. Tidak, ini akan lebih dari sekedar dua burung saja."


Cold dan yang lainnya masih tidak mengerti dengan sikap Rigel saat ini. Dia tertawa dan berbicara sendiri seolah sudah gila atau semacamnya.


"Cold, apakah kau ingin membangun kembali kampung halamanmu?"


Tanya Rigel, tersenyum berani.


Semua orang terkejut setelah mendengar pertanyaan yang ku ajukan. Mereka pasti memikirkan hal yang sama, bahwa aku berniat membunuh hydra dan membebaskan kampung halaman Cold.


"Tunggu! Bahkan meskipun kau seorang pahlawan, kau tidak akan menang menghadapi hydra! Aku memang menginginkan kampung halamanku terbebaskan, namun aku tidak bisa membiarkanmu bertindak gegabah seperti itu!"


Ucap Cold.


"Tenang saja, Cold. Kau tidak mengetahui neraka apa yang sudah aku lalui di kematianku jadi percayalah padaku. Namun, aku memiliki beberapa syarat yang harus kau penuhi sebelum aku membebaskan kampung halamanmu."


Ucap Rigel.


Semua orang tanpa sadar menelan air liur mereka. Bahkan Ray dan Walther tidak bisa untuk tidak takut akan proposal yang aku ajukan.


'Dia tidak seperti tuan Rigel yang dulu.'


Batin Ray.


Cold sedang dilema saat ini. Jika Rigel berhasil membunuh Hydra dan membebaskan kampung halamannya merupakan hal yang bagus. Namun, jika itu gagal sama saja bahwa Cold mengirim Rigel kedalam kematiannya sekali lagi. Tapi, Rigel yang saat ini berbeda dengan yang sebelumnya.


"Mari kita dengarkan syarat yang kau ajukan. Namun, aku memiliki satu syarat khusus yaitu kau tidak boleh mati saat melawan monster itu!"


Ucap Cold, nadanya bergetar entah karena marah atau sedih.


"Baiklah. Syarat yang aku ajukan adalah...."


Rigel mengajukan syarat syarat yang dapat dia pikirkan. Semua orang menahan nafas saat Rigel mengajukan syarat syaratnya. Bahkan Walther Ainsworth yang seorang bangsawan tidak bisa untuk tidak terkejut dengan syarat yang di ajukan Rigel.


"Syarat yang di ajukan tuan pahlawan memang bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Namun, apakah anda tdapat menjamin hasilnya?"


Tanya Walther.


"Aku sendiri tidak tahu. Kita akan mengetahui hasilnya saat harinya tiba. Bagaimana, Cold? Apakah kau mau menerima hal itu? Jika kau menyetujuinya, janji kita akan terwujud."


Ucap Rigel.


Cold diam sebentar memikirkan pilihan yang tepat mengenai rencana besar milik Rigel.


"Baiklah, Rigel. Aku akan melakukannya. Tidak hanya demi janji kita, tetapi ini juga untuk para demi human dan masa depan dunia. Selain itu, orang tuaku pernah berkata bahwa mereka ingin dimakamkan di tanah kelahiran mereka."


Ucap Cold, tersenyum sedih.


"Kalau begitu Baiklah. Cold, Ray, Misa dan Nisa apakah kalian juga berpartisipasi?"


Tanya Rigel.


Mereka saling memandang satu sama lain dan mengangguk.


"Kami akan mengikuti rencanamu."


Ucap Ray.


"Lagipula kita sudah sering bertarung bersama sebelumnya, kan?"


Ucap Nisa, tersenyum.


"Yah, lagipula kau masih berhutang padaku saat aku menyembuhkan itu milikmu."


Ucap Misa eajahnya memerah malu.


Sial, aku lupa bahwa burung kesayangan milikku pernah hampir terpanggang!


"Y-yah kita abaikan masa lalu itu. Lalu, kapan pertunangan Tirith akan dilaksanakan?"


Tanya Rigel.


"Sekitar empat hari yang akan datang. Aku bisa mendaftarkan namamu sebagai salah satu orangku, tuan Rigel."


Ucap Walther.


"Sayangnya itu tidak bisa. Jika kau lakukan itu, aku khawatir jika raja ampas itu akan menuduhmu telah menyembunyikan keberadaanku. Ray, Misa dan Nisa. Aku ingin kalian menjadi pengawal tuan Walther nanti."


Ucap Rigel.


"Bagaimana dengan anda?"


Tanya Walther.


"Aku akan datang dengan hebat dan menghancurkan pertunangan mereka."


Ucap Rigel.


Aku tersenyum namun sorot mataku menyampaikan sebuah kemarahan.


Aku akan melakukan persiapan selama empat hari ini.