
"Kalau begitu, akan aku matikan lampunya,ya."
Ucap Dandan
"Ya."
Balas Rigel.
Setelah Dandan pergi dan menutup pintu, Rigel tidak langsung tertidur, dia menatap langit langit kamar yang berdebu.
Aku sudah memilah ingatanku dengan baik dan aku mengingat tujuanku datang kesini.
Aku memasuki labyrint neraka untuk mengambil empat kunci dari empat pangeran Neraka di sini dan menyelesaikan 100 lantai Labyrint untuk mengetahui siapa aku sebenarnya.
Aku tidak dapat mengingat wajah pria yang membawaku kesini, hanya kata katanya saja yang dapat kuingat dengan jelas. Meskipun aku tidak mengingatnya,
Hatiku dapat dengan jelas merasakan ada kerinduan tertentu saat berpisah dengannya.
Yah, aku akan melewatkan bagian ini.
Untuk pertama tama, aku akan mencari informasi lebih banyak tentang tempat ini. Aku juga belum mengetahui bagaimana cara menaklukan lantai 1 ini dan beralih ke lantai 2 dari labyrint ini.
Aku bahkan belum memiliki informasi tentang empat pangeran neraka itu, namun dari tebakanku, mereka pasti orang kuat yang menguasai tempat ini.
Aku terus memikirkan berbagai hal, aku memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya dan mengenai perangkap kecil yang sudah kutaruh dengan baik di lenganku untuk membuktikan kata kata pria itu.
Tok, tok.
Suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu kamarku. Apakah itu Dandan? Ini sudah larut malam apa yang dia inginkan?
"Silahkan."
Ucap Rigel.
Pintu itu terbuka dan menampilkan seorang gadis berambut abu abu sedang menggunakan selimutnya untuk menutupi tubuhnya.
"Maaf menggaggumu di tengah malam begini."
Ucap Dandan.
"Ahh, tidak apa apa. Lagipula, aku juga tidak bisa tidur, apakah ada hal yang kau butuhkan dariku?"
Tanya Rigel.
"Tidak. Aku hanya kesepian, karena jarang sekali aku mempunyai orang yang dapat aku ajak bicara."
Ucap Dandan dengan malu malu.
Dandan mungkin sudah berada disini cukup lama dan hidup sendirian. Aku dapat memakluminya karena mungki setelah sekian lama dia baru bertemu orang sepertiku.
Dia masuk dan mulai duduk di tepi tempat tidurku.
"M-malam Ini, b-boleh kah aku *-*-*-t-tidur bersamamu?"
Ucap Dandan.
Wajahnya menjadi sangat merah padam, bagiku wajahnya yang seperti itu terlihat sangat lucu. Meskipun aku tidak dapat melihat wajahku, aku yakin wajahku juga sama merahnya dengan Dandan.
"A-apa kau yakin? A-akusih tidak keberatan."
Ucap Rigel gugup.
Dandan menarik selimut dan berbaring di samping Rigel dengan Canggung.
"Ne, Rigel. Apa kau mengingat saat terakhir hidupmu?" Tanyanya.
"Jika dipikirkan lagi, aku memang mengingatnya, namun itu tampak sangat samar. Yang aku ingat hanyalah aku di khianati temanku dan di bunuh lalu mayatku jatuh kejurang."
Ucap Rigel.
Itu adalah kejujuran. Aku tidak mengetahui siapa si penghianat itu, namun di hatiku, aku memiliki dendam dan amarah yang teramat besar.
"Hanya itu yang kuingat. Bagaimana denganmu? Apakah kau mengingat saat kematianmu?"
Tanya Rigel.
Ada keheningan yang berlangsung cukup lama sebelum Dandan menjawab pertanyaanku.
"Ya." dia mengangguk. "kenangan itu masih terukir jelas di dalam kepalaku."
Aku diam mendengarkan ceritanya.
"Saat itu, aku sedang mencari bahan makanan di hutan. Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah tempat yang dipenuhi oleh bunga bunga yang indah hingga aku singgah sebentar disana.
Aku berbaring dan tertidur disana sampai saat aku bangun, hari sudah gelap. Aku lekas menuju kembali kedesa namun,
Desaku sedang diserang oleh para bandit. Mereka membunuh dan membawa barang barang yang mereka bisa jual kembali.
Aku berlari menuju rumahku dan saat aku membuka pintu, aku menemukan ayah dan ibuku telah terbunuhDan mereka menjadikannya makanan monster yang mereka miliki.
Dandan berhenti sejenak untuk menarik nafas dan dia mulai melanjutkan ceritanya.
"Aku dihadapkan oleh dua buah pilihan, lari untuk tetap hidup dan membiarkan adikku mati, atau membiarkan mereka menangkapku dan adikku selamat.
Aku lebih memilih untuk menyelamatkan adikku dan membiarkan para bandit itu menangkapku. Mereka memperkosaku tepat di depan mata adikku dan setelah puas mereka membawaku untuk dijadikan budak.
Lalu, naasnya dalam perjalanan, kami bertemu sekelompok monster dan menyerang kami. Para bandit itu kabur meninggalkan aku dan para wanita yang hendak dijual ke tukang budak dan disitulah akhir riwayatku, aku mati dikunyah oleh sekelompok monster."
Itu cerita yang menyedihkan. Seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Itu sangat cocok untuk mewakilkan peristiwa yang dialami Dandan.
Mungkin karena hal inilah yang membuatku membenci dunia yang dipenuhi perbudakan seperti ini. Kerajaan hanya memalingkan wajah mereka ketika para bandit membunuh dan menyerang desa kecil.
"Lalu, bagaimana dengan nasib adikmu?"
Tanya Rigel.
"Dia selamat. Para bandit tidak menyadari keberadaanya dan meninggalkannya begitu saja. Namun, aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak saat ini. Aku berharap dia menjalani hidupnya dengan bahagia."
Dia terdengar sangat sedih, di culik bandit dan hendak dijual ke pedagang budak lalu di serang monster dalam perjalanannya. Dandan benar benar memiliki keberuntungan yang buruk.
Aku tidak berfikir jika dia orang jahat, karena dia mengorbankan nyawanya untuk adiknya. Sepertinya peringatan pria itu tentang jiwa yang dipenuhi tipu muslihat tidaklah benar.
Aku yakin tidak semua jiwa yang berada disini seperti itu.
"Aku mengagumimu lo, Dandan." ucap Rigel.
"Eh?"
Dandan tersentak terkejut dengan pernyataanku.
"Menurutku, kau sangat keren karena lebih mementingkan adikmu dari pada dirimu sendiri. Aku yakin kau seharusnya mengetahui nasib apa yang akan menimpamu jika menjadi seorang budak.
Namun, kau tetap memilih melindungi adikmu bagiku dan adikmu, kau seperti sosok pahlawan wanita yang hebat!"
Ucap Rigel sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
Mata Dandan terbuka lebar dan sedikit mengeluarkan air matanya, dia memeluk Rigel dan menggumamkan.
"Terima kasih, kata katamu itu membuatku bahagia."
Dandan tersenyum kepada Rigel.
Dandan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Rigel. Tangannya mengarah ke arah Rigel seolah ingin mengusap dada Rigel.
Aku juga mendekatkan wajahnya saat beberapa senti lagi bibir mereka bersentuhan, aku tersentak kaget.
!!!
Instingku menjerit seakan bahaya mendekatiku dan aku dapat merasakan hawa membunuh keluar dari dalam diri Dandan.
Aku menarik diri dari kasurku dan menghempaskan Dandan dengan menendangnya dengan kakiku.
Dubrak!
Dandan menghantam dinding. Aku melihat tangannya yang berusaha meraih dadaku. Di tangannya, terdapat kuku kuku yang panjang tumbuh dari jari jarinya.
"Kau, kenapa kau mencoba membunuhku?!"
Rigel meraung kepada Dandan.
Dandan merapikan dirinya dan mulai berdiri.
Dia mulai memanjangkan taring di giginya serta kukunya.
"Aku belum menceritakan hal yang membuat tempat ini seperti neraka. Disini berlaku hukum Rimba, kau harus membunuh jiwa lain jika ingin tetap hidup dan semakin banyak jiwa yang kau bunuh, kau dapat menaiki lantai selanjutnya!
Dan juga, semakin tinggi lantai yang dapat kau naiki semakin banyak energi jiwa yang kau miliki dan jika berhasil mencapai lantai 100, kau akan dihidupkan kembali dan dapat bertemu keluarga yang kau tinggalkan."
Jadi itu alasannya menyerangku untuk menyerap jiwa milikku. Syarat untuk menaiki lantai tampaknya adalah dengan menyerap jiwa sebanyak banyaknya.
Akhirnya aku mengetahui alasan labyrint ini memiliki surga dan neraka nya sendiri. Saat aku masih mengolah informasi yang baru kudapatkan, Dandan melesat kearahku.
Dia mengayunkan cakarnya dan mengincar dadaku. Namun, yang membuatku terkejut adalah gerakannya tampak sangat lambat bagiku.
Mungkin ini adalah hasil dari pelatihanku dengan orang itu.
Aku menghindari cakarnya dengan menunduk dan mengulurkan tangan kananku untuk mencengkram lehernya dan membantingnya kelantai dengan keras.
Boom!
"Khak!"
Dandan memuntahkan isi perutnya dan kehilangan kekuatannya untuk mempertahankan kesadarannya.
Aku memang melupakan banyak hal tentangku karena ingatan yang di segel. Namun, aku tidak melupakan siapa jati diriku.
Aku adalah seorang pahlawan, Creator Hero.