The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Kelahiran kembali



Dua hari semenjak Rigel tersadar. Saat ini dia memfokuskan diri dengan pemulihan dirinya, dan selama itu pula dia merasakan tidur yang sudah lama tidak di rasakan. Tubuhnya mulai terasa segar dari sebelumnya, rasa sakit yang menghantam tubuhnya telah menghilang, sungguh rasa yang sangat menyenangkan. Kondisi tubuhnya telah benar-benar pulih saat ini, tidak akan ada sedikit pun beban tubuh yang akan menghalanginya saat bertempur nanti. Meskipun pemulihan super cepatnya itu terlihat mengerikan, namun setidaknya itu mensyukurkan.


Untuk mengawali pagi, Rigel memutuskan untuk melakukan olahraga tubuhnya dengan push up dan sit up sebanyak 50 kali.


Keringatnya bercucuran dari tubuh dan membasahi lantai tempatnya berolahraga. Rigel telah menyelesaikan push up dan saat dia hampir menyelesaikan sit upnya, pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis cantik dengan sayuran di piring yang dia bawa.


"Ini sarapanmu, Rigel... Apa yang sedang kau lakukan di situ?" dia tidak pernah melihat hal aneh semacam itu, wajar bagi Tirith bingung dan tidak mengetahui nya.


Rigel bangkit dari lantai dan menciptakan handuk untuk membasuh keringatnya selagi berjalan menuju kasur, "Ya, ini di sebut olahraga. Selain meningkatkan kekuatan fisikku, hal itu juga perlahan dapat membentuk otot-otot tubuhku."


Jika di perhatikan lagi, roti sobek telah terukir di perut Rigel. Rigel yang berkeringat dan pemandangan otot-ototnya, ntah kenapa Tirith terlihat sedikit terpesona karenanya. Dia dengan cepat menggelengkan kepalanya dan memberikan sarapan di tangannya kepada Rigel.


"Ini... sarapanmu Rigel. Aku tidak menyangka bahwa kecepatan pemulihanmu benar-benar sesuatu yang sangat gila. Meski sedikit mengecewakan karena hanya sampai sini saja aku bisa merawatmu, namun aku senang bahwa kau telah sehat sepenuhnya." Senyuman lembut terukir di bibirnya.


Rigel menatapnya dalam diam, "Yah, jika ingin kau bisa menyuapiku makan." Tirith sedikit tertegun dengan kata-kata Rigel, namun dengan cepat senyuman tumbuh di bibirnya. Dia duduk di tepi Rigel dan menyuapi nya makan.


"Omong-omong soal swarapan, apa kau sudah mwelakukannya?"


"Kunyah dan telan dulu makananmu sebelum berbicara, Rigel! Yah, aku mengesampingkan sarapanku dan memprioritaskan dirimu dulu." Rigel menatap Tirith dalam diam selagi dia mengunyah makanannya. Dalam sesaat, Rigel mengulurkan tangan kanannya dan meraih sendok di tangan Tirith. Rigel mengambil beberapa sayuran dengan sendok dan mengulurkan nya kepada Tirith.


"Bukalah mulutmu, kau itu seorang gadis, harus makan yang banyak agar dadamu tumbuh lebih besar."


"I-ini juga sudah cukup!" wajahnya merah merona dengan kata-kata Rigel. Tirith perlahan membuka mulutnya, dan memakan sayuran yang di ulurkan Rigel.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Rigel dan Tirith menuju ke ruang tahta, dimana Ray, Ozaru, Misa, Fang, Asoka dan Merial telah berada di tempat. Mereka menyadari kehadiran Rigel dan Tirith yang memasuki ruangan.


"Selamat pagi, tuan Rigel, Putri Tirith. Apakah kondisimu sudah baik-baik saja, tuan Rigel?" Merial menjadi orang pertama yang menyerukan Kata-kata.


"Ya... Tubuhku telah sepenuhnya pulih. Sekarang, langsung saja ke permasalahan yang harus di lakukan. Dimana tubuh Argo? dan Ray, kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan? tidak ada orang lain yang lebih cocok selain dirimu." Rigel mengalihkan tatapannya kepada Ray.


Tirith dan Merial tampak mengerti kaitan tentang tubuh Argo dengan Ray. Di lain sisi, Fang, Asoka dan Misa tidak mengerti apa yang sedang Rigel bicarakan. Mereka memang mengetahui bahwa Rigel meminta untuk mengamankan tubuh Argo, namun tidak mengetahui tujuan dari hal itu. Hanya ada satu hal yang dapat di hubungkan dengan tubuh Argo, pemanggilan Pahlawan pengganti.


"Ya... Aku sudah mengamankan tubuh Pahlawan Argo, dan juga, aku telah mempersiapkan diri akan kemungkinan itu." Tekad kuat terukir jelas di kedua sorot mata Ray.


Asoka yang bingung memilih untuk bertanya, "Memangnya apa yang kalian rencanakan dengan tubuh Pahlawan Argo, Rigel? bisakah setidaknya aku mendengar sedikit rincian dari apa yang akan kau lakukan?" Bahkan Misa dan Fang tertarik dengan apa yang Rigel rencanakan.


"Maaf Asoka, untuk saat ini aku masih belum bisa menjelaskan rinciannya padamu. Saat waktunya tiba, akan ku jelaskan secara rinci kepadamu." Rigel beralih ke topik lain, "Daripada itu, aku memiliki hal lain yang ingin ku mintai tolong kepadamu, Asoka."


Asoka hanya tersenyum lembut, "Katakanlah, Rigel. Aku akan melakukan yang terbaik atas apa yang kau inginkan. Lagipula aku memiliki hutang budi tak terbayarkan padamu, dengan membunuh Hydra."


Rigel ingat dengan jelas bahwa Asoka memiliki dendam mendalam kepada Hydra sebelumnya. Di karenakan Hydra telah menghancurkan negara dan membunuh kedua orang tuanya. Pemikiran dendam tak terbalaskan pastinya telah dia pikirkan, namun berkat keberadaan Rigel, dendam yang awalnya hanya akan dia pendam kini telah terbalaskan.


Rigel tersenyum, "Bisakah kau persiapkan bahan-bahan sihir yang tahan terhadap suhu tinggi? Aku tidak dapat membuat benda-benda semacam itu, jadi kuserahkan saja kepadamu."


Asoka tersenyum balik, "Baiklah, akan kulakukan. Jika boleh tau apa yang kau rencanakan dengan bahan-bahan itu nantinya?"


Tindakan Rigel selalu di penuhi kejutan, wajar bila Asoka tidak akan dapat menerka tujuan Rigel. Namun yang jelas, tidak perduli apapun itu, dia akan menyiapkannya untuk Rigel.


"Target kita selanjutnya adalah, monster malapetaka, burung api, Phoenix." semuanya menjadi gempar dengan kata-kata itu. Bahkan Asoka dan Merial yang biasanya tenang kini kehilangan ketenangan itu.


Tentu saja, Phoenix bukanlah sesuatu yang mudah di kalahkan seperti membalikan tangan. Phoenix mungkin cocok di sebut dengan monster raja api, karena dia memiliki afinitas kuat terhadap elemen api. Yang membuatnya mengerikan, untuk mengalahkan burung itu para Pahlawan harus pergi ke gunung Vulcan, tempat paling panas di di dunia ini. Phoenix tinggal di dalam gunung Vulcan, lebih tepatnya di antara lahar Vulcan.


"Jika boleh bertanya, apa yang membuatmu ingin menaklukkan Phoenix, tuan Rigel? sejauh ini, kupikir Phoenix sama sekali tidak membuat kekacauan apapun." Merial menyerukan pemikirannya.


Tentu saja, ntah untuk alasan apa Phoenix sama sekali tidak keluar dari sarangnya. Dia tetap tinggal di dalam pegunungan Vulcan itu tanpa ada tanda-tanda akan pergi ke permukaan dan menyerang umat manusia.


"Itu memang benar, fakta bahwa Phoenix sama sekali tidak mengusik kita dapat di syukuri. Namun, apa kau berniat menunggu Phoenix keluar dari sarangnya sendiri?"


Merial terbelalak, langsung memahami tujuan Rigel dengan kalimat itu. Asoka, Ray dan Misa perlahan menyentuh inti dari apa yang coba di sampaikan Rigel, sampai akhirnya Rigel menyatakan niatnya.


"Daripada duduk diam dan menunggu Phoenix sendiri yang menghampiri kita, lebih baik kita menyerangnya duluan sebelum dia mulai membuat kekacauan. Tidak hanya Phoenix, tetapi macan putih dan Naga penghancur juga akan menjadi target kita! uat manusia tidak akan tinggal diam lagi. Sekarang sudah waktunya umat manusia menyerang balik." Keyakinan kuat terukir jelas di kata-kata yang di ucapkan Rigel.


Manusia tidak lagi bisa tinggal diam selagi menunggu masalah muncul satu-persatu. Jika mereka tetap seperti itu maka hanya masalah waktu sampai manusia lenyap karena monster malapetaka dan perang Ragnarok nanti. Rigel mendapat pelajaran dari invasi iblis. Dalam peperangan Ragnarok nanti, bukan hanya para Pahlawan saja yang tumbuh kuat. Melainkan umat manusia itu sendiri yang harus menjadi sangat kuat!


Mustahil bagi dua belas orang melindungi tujuh miliyar mahkluk hidup di dunia ini. Namun, keadaan akan berbalik jika angka tujuh miliyar ini bergabung dengan dua belas Pahlawan dan menantang langit. Bahkan para dewa sekalipun akan dibuat gentar karenanya. Sejak awal manusia telah memiliki satu keunggulan mutlak yang tidak akan di miliki iblis ataupun malaikat. Keunggulan itu ada pada jumlah. Cahaya hidup manusia memang mudah redup, namun jika salah satu redup maka cahaya lain akan menggantikannya.


"Aku mengerti, tuan Rigel. Memang benar kata pepatah, pertahanan terbaik adalah dengan melakukan serangan. Sepertinya aku kini memahami arti dari kata-kata tersebut." Merial tersenyum mengejek betapa bodoh dirinya sendiri.


Asoka ikut tersenyum, "Yah, kalau begitu aku akan mencari apa yang kau minta dan memilih beberapa orang-orang berbakat untuk menjadi prajurit hebat."


Rigel mengangguk dan beralih ke orang lainnya, meski dia tidak wajib melakukannya, namun ntah kenapa dia merasa perlu untuk melakukannya, "Kau juga ikut denganku, Tirith. Ada hal yang harus aku tunjukan kepadamu."


Ada beberapa hal yang sengaja Rigel tidak beritahukan pada mereka, seperti alasan sebenarnya dari Rigel ingin mengalahkan Phoenix. Dia membutuhkan air mata dan darah Phoenix, jika ingin membangkitkan kembali Priscilla. Ntah bagaimana reaksi Asoka dan yang lain ketika mengetahui bahwa Rigel mengalahkan Phoenix hanya untuk tujuan egois semacam itu. Belum lagi, dia tidak yakin Pahlawan lain mau membantunya hanya dengan alasan itu.


Tidak ada siapapun lebih dari diri-Nya sendiri yang menyadari keegoisannya. Karena hal itu Rigel menyembunyikan fakta di balik tujuan yang masuk akal.


Dengan sekejap, mereka telah mencapai Valhalla para peri. Semuanya terlihat sama seperti sebelumnya, namun ada sedikit perbedaaan.


"Selamat datang, Pahlawan Rigel dan reka-rekannya. Aku senang melihatmu sudah baik-baik saja, Pahlawan Rigel." Tidak seperti sebelumnya, kali ini Sylph datang ke sini. Dengan lembut Sylph memberikan sambutan hangat kepada Rigel dan yang lainnya.


"Ya... Aku juga lama tidak melihatmu, Sylph." Rigel membalas sapaannya dengan senyuman.


Sylph langsung beralih ke sesuatu yang berada di punggung Ray. Sesuatu itu di bungkus dengan selimut dan tidak memungkinkan untuk melihat apa itu. Namun, ini Sylph. Matanya tidak akan tertipu oleh hal itu.


"Nampaknya tujuanmu ke sini adalah menggantikan Pahlawan yang gugur, ya. Aku tidak menyangkan bahwa apa yang kamu pikirkan benar adanya, Pahlawan Rigel. Kalau begitu, adakah hal yang dapat kubantu untukmu?"


"Ya... Aku ingin kau mengantarkan Tirith ke tempat kristal ujian aneh itu. Aku ingin membawa Tirith ke tempatnya, namun seperti aku, dia juga harus melalui ujian pohon itu, kan?"


Jika tidak ada ujian semacam itu, Rigel sudah pasti membawa Tirith ke sana dengan teleportasi dan tidak akan menghabiskan banyak waktu di sana. Namun mau bagaimana lagi, akan sangat merepotkan jika Rigel tetap mengabaikan pantangan yang ada dan membuatnya marah. Tidak akan ada hal baik yang datang ketika tidak menjaga sopan santun di tempat orang lain.


"Aku mengerti, meskipun tujuanmu melakukan ini sangat misteri. Namun, sama seperti ketika kau melaluinya, aku tidak akan memberikan bantuan apapun terhadapnya selain saran kecil itu. Tidak apa kan?" Senyuman jahil terukir di bibir Sylph.


"Ya... Aku yakin kau juga tidak menyukai jika di berikan keringanan, kan Tirith?" Rigel juga tersenyum dan beralih kepada gadis yang terlihat bingung itu.


"Meskipun aku tidak memahami dengan jelas apa yang sedang kalian bicarakan, namun intinya aku harus melalui sesuatukan? kalau begitu aku akan melakukannya sekuat tenaga." Tekad terbentuk dari sorot matanya dan membuat Sylph sedikit terkejut.


"Hoho?... kalau begitu baguslah, gadis muda bernama Tirith ya? kalau begitu akan kupanggil Tirith saja, ikutlah denganku. Tempat yang kita tuju berbeda dengan tempat yang Pahlawan Rigel tuju." Sylph memimpin jalan yang berlawanan arah dengan tempat yang Rigel tuju.


"Aku akan menemuimu nanti ketika tugasku di sini telah selesai. Berjuanglah dan hadapi ujianmu sebaik mungkin." Rigel melambaikan tangan kepada Tirith yang pergi bersama Sylph.


"Ya! aku akan berjuang! Ray, kau juga berjuanglah!"


"Ya, terima kasih dukunganmu, Putri Tirith." Ray menberikan hormat kepada Tirith yang menjauh bersama Sylph.


"Sekarang, mari kita tuntaskan ini secepatnya dan membuatmu menjadi seorang Pahlawan, Ray."


Rigel dan Ray pergi menuju tempat yang jauh di kedalaman Valhalla. Satu-satunya tempat yang dapat digunakan untuk melahirkan kembali Pahlawan yang gugur. Sesampainya di sana, Ray meletakan tubuh Argo secara perlahan di tengah lingkaran sihir. Sebelum ritual kuno ini benar-benar di mulai, Ray ingin menyampaikan beberapa kata kepada Rigel. Ray menyentuh dadanya,


"Meskipun aku sudah merasa yakin akan hal ini, namun tetap saja sangat mendebarkan dan ada sedikit rasa tidak enak terukir di dadaku. Apakah kau yakin bahwa aku dapat benar-benar melakukannya? sekarang aku mengerti dengan apa yang di rasakan Merial saat lalu."


Apakah aku dapat melakukannya? apakah aku sanggup mengemban tanggung jawab itu? Rigel telah menduga bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan muncul di dalam hati mereka. Berbeda dengan Rigel yang tanpa izin darinya atau peringatan apapun di paksa harus mengemban tugas sebagai Pahlawan.


"Aku tidak tahu, tidak akan ada yang tahu jawaban dari pertanyaanmu."


Ray menatap Rigel dengan bingung atas kata-kata yang baru saja dia lontarkan. Pertanyaan konyol semacam itu, siapapun tidak akan memiliki jawaban benarnya. Rigel tidak akan mengatakan kata-kata tidak berguna seperti kau bisa melakukannya dan semacamnya.


"Orang lain tidak akan dapat menjawabnya, tetapi dirimu sendiri yang harus menjawabnya. Terimalah tanggung jawab itu dan jalani, lalu buktikanlah bahwa kau layak mengembannya! tidak perduli layak atau tidaknya dirimu, selama aku mempercayaimu dan juga sebaliknya, maka tidak ada yang perlu di khawatirkan. Jika kau tidak layak mengembannya, maka buatlah dirimu layak!"


Tertegun oleh kata-kata Rigel, Ray tersenyum geli. Bukannya mencoba menghilangkan kekhawatiran di hatinya, tetapi Rigel menyuruh Ray untuk menghadapi kekhawatirannya sendiri. Persetan dengan layak atau tidaknya, tidak akan ada yang tahu jawabannya selain Ray sendiri yang membuktikannya.


"Baiklah, aku telah siap Rigel. Mari kita mulai saja langsung."


Rigel tersenyum kepada tekad yang di miliki Ray dan tanpa ragu lagi, Rigel mengaktifkan lingkaran sihir. Cahaya biru bersinar di garis-garis tulisan sihirnya, tubuh Argo perlahan bersinar dan Ray mengucapkan sumpahnya.


"Namaku Ray, aku tidak yakin akankah cocok mengemban nama sebagai Pahlawan, aku sendiri tidak yakin. Namun, bukan aku yang menentukannya, bukan Rigel atau siapapun. Waktu yang akan menentukan kelayakanku. Namun, kau bebas memilihku atau orang lain yang pantas. Namun, pilihlah aku sebagai pewaris Pahlawan Argo. Ini bukan permintaan melainkan Perintah dariku!" Tekad yang jelas sangat kuat terukir jelas dalam kata-katanya.


Tubuh Argo bersinar semakin terang, sampai akhirnya cahaya yang menyelimuti tubuhnya terbang ke udara dengan cepat dan berputar-putar di udara. Perlahan cahaya itu berputar di sekitar Ray.


Ray menatap kedua tangannya, kekuatan dari Siporit Heroes perlahan mengalir jelas di dalam tubuhnya saat cahaya itu memasuki tubuhnya secara perlahan. Seluruh tubuh Argo bersinar cahaya dan sedikit terangkat ke udara selama beberapa saat sampai semuanya kembali seperti semula.


Rigel berjalan menghampiri Ray, "Bagaimana, rasanya Ray? sepertinya kau berhasil dan di pilih oleh Spirit Heroes. Mari kita lihat seperti apa pisau yang kau miliki."


Mendengar itu, Ray mengangguk dan meneriakan, "Index!"


Cahaya mulai berkumpul dan bersinar di tangan kanannya, membentuk sebuah bilah panjang sebuah belati. Belati itu memiliki ukuran Naga dan sebuah batu berwarna merah di tengahnya. Bilah belati itu sendiri berwarna putih dan memantulkan segala cahaya. Sedikit mengejutkan, karena yang muncul bukanlah pisau kecil seperti milik Argo sebelumnya.


"Sepertinya tidak ada perbedaan besar antara Pisau dengan Belati. Yah, syukurlah, karena kecocokanmu dengan belati sangat tinggi, Ray. Dengan begini kita bisa membeberkan kematian Argo, namun tetap menyimpan pergantian Pahlawan sebagai rahasia..."


Sampai aku membunuh Takatsumi.


Rigel masih belum melupakan dendamnya itu, dan kini dia tidak bisa membiarkan Takatsumi menatap dunia lebih lama dari ini. Sebuah rencana telah di siapkan, panggung yang bagus telah siap. Pemakaman burung api Phoenix, dan Takatsumi siap Rigel eksekusi kapanpun. Sekarang, aku hanya perlu menebar umpan penghianatannya dan mengungkap sosok busurnya di depan semua orang. Pertarungan selanjutnya akan semakin mendebarkan!