
"Apa yang mendorongmu, hingga mencoba membunuh Rigel dan kami sesama rekan Pahlawanmu?" Yuri bertanya dengan sedih, terhadap Takatsumi yang akan mati tidak lama lagi.
Tidak memberikan jawaban yang di minta Yuri secara langsung, Takatsumi memilih menceritakan kisahnya. Lagipula umurnya tidak akan lama lagi, bahkan tanpa perlu Rigel membalas dendam hingga menyiapkan panggung ini, Takatsumi tetap akan mati karena suatu hal.
"Aku memiliki adik perempuan yang 4 tahun lebih muda dariku. Dia begitu cantik dengan wajah yang lembut, kulitnya yang putih dan rambut sepertiku. Namun, dia memiliki sebuah kekurangan. Kakinya lumpuh, tidak dapat berjalan lagi dan dia tidak dapat melihat, semenjak kecil..."
Kilas kehidupan.
Bell sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran telah berakhir. Semua murid lekas merapihkan barang bawaan, bergegas pulang dan beberapa menuju ruang ektrakurikuler masing-masing.
"Aku duluan ya."
"Ahh, Takatsumi, tunggu! Petang ini, kami berniat ke bioskop, apakah kau mau ikut?"
"Maaf aku lewat untuk hari ini. Aku ada jadwal kerja sekarang, jadi aku tidak punya waktu." Meninggalkan kata-kata itu, Takatsumi berlari keluar kelas.
Murid sekelas yang berusaha mengajaknya ke bioskop mulai membicarakan Takatsumi, bersama 2 gadis yang bersamanya.
"Sudah kuduga dia akan menolak."
"Ya. Apa-apaan sikapnya itu. Bukankah dia berusaha menjaga jarak dari teman kelas? benar-benar menjengkelkan!"
"Tetapi, aku rasa dia tidak berniat menjauh. Tetapi karena keadaannya yang memaksa mengorbankan kesenangan dirinya. Kalian tahu bahwa dia seorang yatim piatu, kan? dia juga harus merawat adiknya yang malang."
Beberapa bulan yang lalu, rumahnya terbakar yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal dan adiknya mengalami kelumpuhan total serta trauma tersendiri.
Mendengar itu, bukannya prihatin, teman kelasnya justru mentertawakannya.
"Hahaha, jika aku menjadi nya, akan kubuang adik tidak berguna seperti itu dan hanya menyusahkan saja."
Takatsumi yang nyatanya tidak benar-benar pulang, melainkan menguping dari samping pintu kelas mendengarnya dengan jelas, apa yang di katakan orang-orang bermuka dua.
Berpikir bahwa mendebat mereka hanya membuang waktu, dia memilih melepaskan orang-orang itu dan menuju ke tempatnya bekerja paruh waktu.
Dia bekerja di sebuah minimarket yang tidak jauh dari rumah dan tempat adiknya berada. Takatsumi memindahkan barang-barang, menyapu dan mengecek tanggal kadaluwarsa serta melayani pengunjung. Dia bekerja begitu keras, demi sepeser uang saku, sampai tidak di sadari langit mulai menggelap.
"Terima kasih atas kerja kerasnya!" Ujar Takatsumi kepada Manager toko.
"Ya, kerja bagus. Kamu sudah boleh pulang, Takatsumi." Dengan lembut, dia memberi uang gaji Takatsumi dan membiarkannya pulang.
"Terima kasih, pak manager."
Setelah membungkuk hormat, dia melepas pakaian kerjanya dan bergegas kembali, menuju tempat adiknya berada.
Di sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari tempatnya bekerja, Takatsumi pergi menuju lantai atas, tempat adiknya di rawat. Di pintu terdapat nama pasien yang bertuliskan 'Haneda Nita' yang merupakan tujuan Takatsumi.
Ketika dia perlahan membuka pintu dan memasuki ruangan, dia melihat seorang gadis cantik tengah duduk di ranjang nya.
"Selamat malam, Nita. Kenapa kamu belum tidur?" Takatsumi tersenyum lelah, karena bersekolah dan bekerja di waktu yang sama butuh banyak tenaga.
Suara yang lembut, begitu akrab di telinganya menembus gendang telinga. Nita dengan senang tersenyum dan menyambutnya.
"Selamat datang, kakak! Aku menunggu kakak mengunjungiku dan berbicara bersama kakak sebelum tidur."
"Haha, seperti biasanya ya." Takatsumi tersenyum selagi mencubit lembut pipi adiknya yang membuat ekspresi imut.
Melihat Nita dapat tersenyum seperti biasa membuatnya tenang dan kelelahan tubuhnya seakan kembali ter pulihkan.
"Bagaimana dengan sekolahmu, kak? kamu tidak membolos atau berkelahi kan?" Tanya Nita dengan sikap seperti seorang ibu khawatir pada anaknya.
"Kamu anggap aku apa memangnya? mana mungkin orang selembut dan serajin aku berkelahi atau bahkan membolos sekolah, kan?"
"Hahaha, benar juga. Kakak memiliki kepribadian seperti anak culun, jadi mustahil kau melakukan itu." Nita tertawa geli, selagi Takatsumi melawan argumen itu dengan lembut.
Nita perlahan meraih wajah Takatsumi dan meraba-raba untuk mengetahui seperti apa wajahnya.
"Aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat wajah kakak, aku hanya bisa membayangkannya dan aku yakin kakakku cukup tampan." Nita tersenyum lembut, sedikit kesedihan dalam suaranya.
Takatsumi tidak dapat membantu apapun mengenai itu. Yang dia bisa hanyalah merawat adiknya dan sebisa mungkin membahagiakannya. Dia rela mengorbankan masa mudanya untuk menjaga adiknya dan melakukan apapun untuk kebahagiaan satu-satunya keluarga yang di miliki.
Nita menyadari terdapat perubahan pada kerutan wajah Takatsumi, "Ada apa kak?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir, jika adikku yang cantik berkata bahwa aku cukup tampan, lantas kenapa sampai kini aku tidak kunjung mendapatkan pacar." Takatsumi mengalihkan pembicaraan, namun Nita tahu bahwa dia tengah menyembunyikan kesedihan dan kelelahannya.
"Hehe, mungkin mereka bingung tentang bagaimana cara mendekati kakak," Nita tertawa kecil sesaat, "Umm, kak, bisakah kau duduk di sini dan berikan aku punggungmu?"
Tanpa perlu menanyakan tujuannya, Takatsumi menurut dan duduk di samping Nita. Dia perlahan meraba punggung Takatsumi, perlahan memijat bahunya yang kamu dengan lembut.
"Aku tahu kakak begitu kelelahan. Bagaimana rasanya?"
Meski tenaga yang di keluarkan Nita tidak cukup kuat, namun rasanya cukup melegakan.
"Ini tidak buruk, aku merasa rasa sakit di punggungku perlahan menghilang." Dia tersenyum lembut selagi membiarkan Nita memijatnya.
"... Kamu tahu, kak? saat ini hanya ada kamu di sisiku. Ayah dan Ibu telah tiada. Kakiku lumpuh dan aku tidak bisa melihat dunia ini. Aku juga tidak memiliki teman, atau siapapun yang dapat kuajak bicara selain kamu. Kamu adalah kakakku, temanku, ayahku dan juga sahabatku," Nita mulai berhenti memijat, tangannya gemetaran, "Jadi, jangan pernah tinggalkan aku sendiri. Dunia begitu gelap, hanya suara yang menjangkau ku. Namun dengan keberadaanmu, aku dapat melihat cahaya, sosokmu begitu berkilau hingga menembus kegelapan ku. Aku ingin cahaya itu tetap bersamaku, tidak perduli apapun yang terjadi, aku ingin tetap bersamamu, kak..."
Nita memeluk Takatsumi, tubuhnya yang gemetar semakin kuat, isak tangis mulai terdengar dan butiran air mulai membasahi punggung.
Hidup tanpa pernah mengenali warna, rupa dan wajah orang yang di cintainya, di tambah dengan penderitaan kelumpuhan pada kakinya. Jika saja semua derita itu dapat di pindahkan, tanpa keraguan sedikitpun, Takatsumi akan meminta semua di pindahkan pada dirinya.
Tidak perduli dirinya tidak dapat berjalan lagi, selama Nita dapat berlari di bawah mentari saja sudah cukup. Tidak perduli jika dirinya tidak dapat lagi melihat, selama Nita mengetahui warna dunia sudah cukup baginya. Tidak perduli jika dirinya harus kehilangan kebahagiaan, selama Nita bahagia saja sudah cukup.
Air mata mulai berjatuhan dari matanya.
"Ya... Aku... Aku akan tetap, di, sisimu... Apapun yang terjadi, aku akan menemanimu... Apapun yang terjadi..."
"Tetaplah jadi cahayaku, cahaya yang akan terus menerangi kegelapan yang kulihat..."
"... Ya... Aku berjanji..."
Malam begitu dingin, malam begitu sunyi, membawa segala beban dan kesedihan berlalu bersama langit malam. Bintang bersinar, rembulan menampakan sinar dan menerangi langit malam.
Setelah Nita berhenti menangis, Takatsumi berpamitan padanya dan kembali menuju rumah yang dia sewa dengan harga murah. Membiayai sekolahnya sendiri, biaya makan dan sewa rumah sangat membebani nya. Beruntung bahwa mereka memiliki asuransi kecelakaan, sehingga dia tidap perlu membiayai rumah sakit Nita. Namun, hanya butuh waktu hingga itu terjadi.
"Jika di pikir lagi, aku belum makan apa-apa hari ini. Uangku tidak akan cukup untuk membayar sewa, sepertinya aku harus tahan berpuasa dan memakan roti saja."
Mengabaikan untuk mengisi perut yang terus berbunyi, Takatsumi bergegas mandi dan pergi ke ranjangnya, bersiap untuk memulai hari esok.
Keesokan harinya, waktu berlalu dengan cepat namun terasa begitu lambat dengan perut yang belum terisi sejak kemarin. Istirahat makan siang tiba, Takatsumi pergi ke kantin dan kembali ke kelas untuk memakan dua roti lapis isi telur yang dia beli bersama air mineral.
Memang tidak begitu mengenyangkan, namun cukup untuk mengganjal lapar di perut. Selagi menyantap makanannya, orang bermuka dua yang sama dengan kemarin menghampirinya.
"Yo, selamat siang Takatsumi. Kudengar adikmu masih di rawat, apa dia baik-baik saja?"
Nadanya sedikit mengejek, namun dia tidak merisaukan nya dengan tujuan tidak ingin membuat keributan.
"Dia sehat-sehat saja." Balasnya dengan acuh, tetap menyantap roti lapisnya.
"Sehat-sehat saja, maksudmu tetap berbaring karena lumpuh dan buta untuk seumur hidupnya??"
"Ahahaha, pastinya sangat menyedihkan, bukan?"
"Tunggu kalian berdua! bagaimanapun itu terlalu berlebihan!"
Dua lainnya mengejek, sementara seorang gadis yang bersama mereka juga saat kemarin mencoba membela. Tentunya pembelaan itu tidak akan berarti, karena dua orang itu tetap menuturkan penghinaannya.
"Bagaimana ya... Jika aku berada di posisimu, sudah pasti akan kubuang adik tidak berguna itu. Ahh~ Aku mungkin akan menjualnya ke om-om mesum atau semaca—"
*DAR!
Botol air mineral di tangan kirinya hancur, ketika Takatsumi mencengkram nya begitu erat. Air menciprat kemana-mana, hingga pakaiannya beserta tiga orang itu basah.
"Apa masalahmu?!!" Teriak gadis yang menghinanya.
"Tidak... Tanganku terpeleset, karena aku mendengar seseorang menghina adikku. Mungkin itu hanya perasaanku saja, benarkan? Jika iya, maka beruntunglah hanya air dan bukan darah yang membanjiri kelas. Aku permisi."
Membawa tasnya bersama dirinya, bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan kelas. Suasana hatinya buruk, tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan kelas, dia akan pulang lebih awal hari ini.
Tidak ada pekerjaan yang harus dia lakukan pada jam ini, dia memutuskan untuk pergi menemui Nita tanpa perlu mengikuti pelajaran hingga akhir.
Takatsumi sampai di rumah sakit tempat Nita di rawat. Sesat hendak menuju lantai tempatnya berada, suster bagian administrasi memanggilnya.
"Permisi, Takatsumi-San, bisakah kita bicara sebentar?"
Hal macam apa yang di inginkan perawat dariku? mungkinkah menyangkut Nita?
Berbagai pemikiran muncul dalam kepala, tidak mungkin baginya untuk tidak merasa khawatir pada apapun.
"Umm, apa yang Anda ingin bicarakan? apa ini menyangkut adikku, Nita?" Dia bertanya dengan khawatir dan suster itu mengangguk.
"Ya, namun ini tidak berkaitan dengan kondisinya, tetapi pada bagian biaya. Selama ini pasien atas nama Haneda Nita biaya rumah sakitnya di tanggung oleh adanya asuransi kecelakaan. Namun asuransi itu tidak berlaku selamanya, ada batas dimana asuransi itu kehilangan biayanya sehingga mulai saat ini anda di perkenankan menanggung biayanya sendiri."
Seperti perkiraan, hanya masalah waktu sampai dia benar-benar harus menanggung biayanya sendiri.
"Umm, berapa perkiraan biaya rumah sakit Nita perhari?"
"Ya, perkiraan sekitar 20.000 sampai 30.000 Yen untuk 2 hari menginap."
"Baiklah, saya akan usahakan untuk membayarnya. Terima kasih atas informasinya, saya permisi dahulu."
"Ya. Apa kamu merasa yakin dapat menanggungnya, Takatsumi-San? bukan maksudku merendahkan, namun belum lama ini kamu kehilangan orang tuamu dan harus menanganinya sendirian, kan?" Tanya suster itu dengan khawatir.
Orang tuanya di larikan ke sini saat insiden kebakaran yang merenggut nyawa mereka. Tidak mengejutkan jika perawat itu mengetahuinya.
"Ya, aku baik-baik saja. Mungkin akan sangat sulit bagiku melunasi nya, namun ntah bagaimana akan kucari jalan keluarnya. Terima kasih atas perhatiannya, permisi." Setelah membungkuk hormat, dia pergi menuju lantai atas.
Saat dia menuju Lift, seorang pria yang sebelumnya duduk tidak jauh dari tempatnya bicara ikut pergi menuju Lift yang sama. Takatsumi menekan tombol ke lantai yang dia tuju duluan sebelum pria itu. Saat Lift mulai naik, pria di sisiNya mulai bicara.
"Umm, permisi. Saya tidak sengaja mendengar percakapan anda dengan suster sebelumnya. Dari yang saya lihat anda sedang membutuhkan uang, kan?"
Tidak ada orang lain selain dia dan Takatsumi di dalam Lift. Dia tidak mencoba untuk menjawab pria itu karena begitu mencurigakan.
"Saya juga mendengar bahwa keluarga anda tidak hanya lumpuh, tetapi tunanetra. Jika berkenan, saya memiliki satu solusi yang dapat membuat Anda menghasilkan uang dengan cepat."
Takatsumi mengangkat alis, tetapi masih tidak memiliki niat untuk menjawab. Tentunya, alasannya karena dia mencurigakan. Lift berhenti di lantai tujuan dan Takatsumi hendak pergi dari lift.
"Maaf tetapi saya tidak tertarik pada apapun yang Anda maksud. Permisi." Takatsumi mulai berjalan, namun pria itu tidak menyerah dengan mengatakan,
"Saya yakin uang itu akan lebih dari cukup untuk biaya pendonoran mata pada keluarga anda."
Takatsumi berhenti berjalan, matanya terbelalak terkejut, mendengar kata 'pendonoran mata.' yang artinya masih ada kesempatan untuk Nita melihat dunia.
Pria tua itu benar-benar hebat dalam berbisnis, mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat kliennya tertarik di akhir.
"Jika anda tertarik, silahkan hubungi saya kapanpun, ini kartu nama saya. Detail tentang hal yang anda harus lakukan akan saya beritahukan saat anda menghubungi saya kembali. Saya permisi."
Saat Takatsumi mengambil kartu namanya, pria itu pergi menuruni lantai dengan senyuman di bibirnya. Dia menatap kartu nama itu dan menemukan nama 'Dr. Hendricson' di kartu namanya.
Dia tidak tahu siapa pria itu, namun untuk saat ini dia akan menyimpan baik-baik kartu itu jika keadaan mulai menjepit nya, dia akan menghubungi pria tua itu.