
Satu Dragon Zombie yang berada di pundakku telah selesai, sekarang hanya memikirkan strategi pasti agar Arch Licht itu terkena serangan dari Anastasia nanti.
Aku dapat merasakan tatapan semua orang menuju padaku, yang telah menyegel Dragon Zombie di dalam penjara beku.
Sepertinya para petinggi lainnya juga berusaha untuk menyegel gerakan dari Dragon Zombie yang mereka tangani, kalau begitu masalahnya tinggal si keparat mayat ini.
Aku berdebat dalam pikiranku haruskah aku membantu Anastasia dalam merapalkan mantra atau membantu Mirai melawan Arch Licht atau membantu petinggi lain?
Aku bisa menyiapkan mana dalam jumlah banyak namun jika Anastasia menyerap terlalu sering itu akan berdampak pada tubuhnya.
Sementara menghadapi Arch Licht adalah beban pertama yang harus di singkirkan, para petinggi lain tampaknya mulai kewalahan dengan Dragon Zombie di tangan mereka.
Huh, aku tidak ingin menggunakan kartu truf di lengan bajuku karena aku khawatir itu akan menimbulkan perhatian yang tidak perlu.
Bahkan, saat menaklukan lantai sebelumnya, aku masih menahan kekuatanku dan membuar mereka berfikir jika aku hanya dapat menggunakan angin, api dan membangun dinding besi.
Kondisi terburuk aku harus menggunakan kartu yang kusimpan baik baik. Aku paling tidak ingin menggunakan Curse Series atau memakai 20ribu batu jiwa di Penyimpananku.
Akan aman aku berasumsi jika para petinggi lainnya mungkin dapat bertahan kurang lebih 15 menit mendatang, setelahnya aku tidak tahu.
Untuk Anastasia, selama tidak ada yang mengganggunya dalam mengumpulkan energi cahaya, dia akan baik baik saja. Para pasukan penakluk lainnya tampak masih bisa bertahan.
Sudah diputuskan, aku akan membantu Mirai melawan Arch Licht itu, tapi sebelum itu...
Aku mengorek isi dari infertoryku dan mengambil beberapa potion yang membusuk di dalam infertoryku. Karena aku dapat mengisi manaku sendiri, aku tidak membutuhkan potion pemulih mana.
Namun, sebaiknya aku tetap menyimpan beberapa potion pemulih stamina karena tidak seperti mana, aku tidak dapat mengisi ulang staminaku dengan instan.
Aku mengeluarkan beberapa dari mereka dan menyimpan sedikit untuk jaga jaga.
"Kalian! Gunakanlah potion ini untuk mengisi kembali mana kalian dan apapun yang terjadi jangan biarkan para tulang itu mengganggu mantra wakil kapten!"
Rigel berteriak.
Aku memerintahkan seluruh pasukan yang sedang berseteru dengan pasukan undead. Aku memberikan potion kepada mereka yang telah kehabisan sihir dan beberapa vanguard yang menjadi tembak pertahanan utama.
Awalnya mereka tampak enggan mematuhi kata kataku, namun setelah melihat Dragon Zombie yang berhasil ku segel dengan membekukannya, mereka akhirnya mengangguk dan mematuhi perintahku.
"Baik, Pak!"
Mereka berteriak serempak, aku membalasnya dengan anggukan kecil dan menuju para petinggi lainnya untuk membagikan potion.
Yah, mungkin karena inilah salah satu alasanku menyembunyikan kekuatanku karena aku tidak ingin mendapatkan jabatan seperti petinggi dan sejenisnya.
Aku dapat dengan percaya diri mengatakan, dengan kekuatanku ini aku yakin mereka akan melakukan apapun agar aku tetap bertahan dalam squad Region.
Huhh~.
Aku mendesah dalam dalam, untuk apa aku berusaha mati matian hanya untuk menolong orang orang lemah ini yang bahkan bukan kerabat atau keluargaku.
Namun, entah kenapa meskipun aku tidak terlalu dekat dengan kadet lainnya, aku dapat merasakan kehangatan tertentu yang membuat nostalgia dan kesedihan tertentu.
Terkadang sempat terbesit dalam ingatan yang berisi wajah dua orang pria muda dan dua orang gadis kembar yang sedang minum bersama. Aku tidak mengenali mereka, namun kenapa hatiku terasa sedih?
Aku akan menyingkirkan pemikiran itu terlebih dahulu dan fokus pada apa yang akan aku hadapi. Oh, ya satu hal lagi kenapa aku melindungi squad Region karena aku menyukai mereka.
Aku telah sampai di lokasi tempat mirai menghadapi Arch Licht, aku memiliki sebuah strategi atau lebih adil jika disebut sebagai pertaruhan.
Aku mengulurkan tanganku ke arah wajah Arch Licht dan menciptakan api.
"Creator Skill: Create Fire!"
Api muncul di telapak tanganku dan aku membentuknya menjadi bola api dan melontarkannya ke arah tengkorak raksasa itu.
Perhatian tengkorak dan Mirai teralihkan ke arahku, lalu mirai melompat dan mengayunkan pedang besarnya ke wajah Arch Licht yang menyebabkan Arch Licht mundur beberapa langkah.
Mirai melompat dan berdiri di sampingku, tatapannya masih terpaku terhadap Arch Licht namun telinganya fokus pada apa yang akan aku katakan.
Mungkin dia berharap aku memiliki strategi untuk membuatnya tidak bergerak sehingga dia tidak bisa menghindari serangan Anastasia.
"Bagaimana keadaanya?"
Tanya Rigel.
"Buruk, kekuatan sihirnya sangat kuat dan mematikan, lalu tulang tulangnya lebih keras dari berlian yang membuatku tidak dapat menghancurkannya."
Ucap Mirai.
"Jika itu tidak sekeras berlian, kau bisa menghancurkannya, gorila?"
Rigel bertanya sambil menggoda Mirai.
"Meskipun itu benar namun karena ejekanmu itu, kau menginginkan aku atau tulang itu untuk menjadi musuhmu?"
Kata Mirai.
Dia tidak benar benar serius mengatakan itu kan?
"Tentu saja tulang itu bodoh."
"Kalau begitu baik saja. Apakah kau memiliki rencana untuk mengalahkan mahkluk ini?"
Tanya Mirai dengan sedikit harapan.
"Yah, mungkin ini rencana yang gegabah, namun keberhasilannya bergantung pada seberapa efektif serangan cahaya itu."
Kata Rigel dengan dingin.
Mirai merasa bingung mencari makna dari kata kata Rigel.
"Apa maksudmu?"
Mirai bertanya.
"Kau bilang tulangnya lebih keras dari berlian bukan? Jika begitu berarti dia memiliki daya tahan tubuh dan sihir yang cukup kuat. Jika serangan Anastasia tidak mampu mengungguli ketahanannya,
Maka itu hanyalah serangan sia sia. Karena keadaan itulah yang membuatku memikirkan rencana yang sedikit gegabah, mau bertaruh?"
Tanya Rigel dengan seringai di wajahnya.
Mirai sedikit terkejut melihat Rigel yang tersenyum seperti ini, karena Rigel memang jarang sekali menunjukkan emosinya di depan orang banyak. Lalu, Mirai membalas senyum Rigel dengan tersenyum juga.
"Aku ikuti taruhanmu, ceritakan detailnya."
Mirai sangat terkejut setelah mendengar proposal yang dimiliki Rigel, memang sedikit beresiko namun jika berhasil, penaklukannya akan sukses.
Namun, jika rencana ini menemui kegagalan, itu akan menjadi sebuah bencana dan mungkin pasukan utama harus kembali ke lantai ini untuk membereskan kekacauannya.
"Kau mungkin sudah gila, Rigel. Mencoba melakukan hal itu, kau memang sudah tidak waras."
Ucap Mirai.
"Itu hanya akan terjadi jika serangannya gagal, semuanya bergantung dengan seberapa kuat serangan yang digunakan Anastasia."
Kata Rigel.
Mirai terdiam dan memperhatikan Arch Licht yang sudah kembali berdiri. Dia menoleh kepada Rigel dan mengatakan.
"Baiklah, aku akan mengikuti rencanamu, untuk konsekuensi kita akan menanggungnya bersama."
Mirai tersenyum dan langsung meninggalkan Rigel dan berkata "Jangan mati, ya." lalu dia berlari menuju Anastasia.
"Aku khawatir tidak akan menanggung resiko itu karena aku membenci kata tanggung jawab."
Rigel bergumam.
Pertama tama, aku akan membuat kerusakan sebanyak yang kubisa, semakin banyak kerusakan yang dia terima, semakin besar presentasi keberhasilan serangan Anastasia.
Aku tidak tahu sihir cahaya seperti apa yang akan dia keluarkan, namun karena membutuhkan energi cahaya dalam jumlah besar, pasti itu serangan yang kuat.
Aku mengumpulkan mana dalam jumlah yang tidak akan mempengaruhi Anastasia dalam mengumpulkan energi cahaya.
Saat mana mulai berkumpul di dalam tubuhku, aku mengalirkannya ke seluruh tubuhku untuk memperkuat setiap serangan yang akan aku ciptakan.
Arch Licht itu memperhatikan aku karena mana yang berkumpul di sekitarku, dia mengangkat kakinya kebelakang dan mencoba untuk menendangku seperti bola.
Bukannya menghindar, aku melesat maju ke arah kakinya datang dan mengayunkan tanganku yang sudah kuperkuat dengan mana dan elemen beratribut bumi.
Aku melesat tepat ke arah ibu jari kakinya berada, saat sudah semakin dekat aku mengulur tinjuku kebelakang untuk ancang ancang dan menghantamkannya sekuat mungkin ke arah ibu jari kaki Arch Licht.
Bam!
Angin kencang bergemuruh di sekitar kami karena benturan yang sangat keras terjadi, aku terus mendorong lenganku dan benar saja tulangnya sangatlah keras, namun bukan berarti aku tidak bisa menghancurkannya.
"Haaaaaa!!"
Rigel Meraum.
Krak!
Tulangnya perlahan retak daru tempat tinju Rigel berada.
Krak!
Krak!
Krak!
Krak!
Krak!
Krak!
Krak!
Krak!
Krak!
Boom!
Ibu jarinya hancur berkeping keping dan Arch Licht itu meraum kesakitan karenanya. Rigel tidak berhenti sampai disitu,
Dia menciptakan angin dan melemparkannya ketanah untuk menghempaskan Rigel tepat ke wajah Arch Licht.
Rigel berputar beberapa kali karena hempasan angin yang dia ciptakan dan mulai memasok tubuhnya dengan mana.
Saat Rigel telah berada tepat di depan wajah Arch Licht yang marah, Rigel mulai mengambil ancang ancang untuk memukul wajahnya.
Namun, jaraknya cukup jauh dari jangkauan tinju Rigel. Arch Licht itu menyeringai mengejek karena berfikir bahwa Rigel sangat bodoh.
Melihat itu, Rigel juga menyeringai seperti seorang sadistic yang menyukai penyiksaan dan kekerasan, seringai menyeramkan Rigel membuat orang yang memperhatikan pertarungannya menggigil ketakutan.
Rigel menggunakan salah satu dari lima pemanfaatan mana yang telah dia pelajari, yaitu pemadatan mana.
"HYAAAAAAAA!!!"
Rigel berteriak dan bayangan tinju raksasa yang berwarna kuning keemasan yang transparan terbentuk sesuai keinginan Rigel dan menghantam wajah Arch Licht bersamaan dengan tinju Rigel.
Baam!
Grrrrooooaaarrr!
Arch Licht berteriak kesakitan karena tulang tulang di wajahnya berhasil di hancurkan oleh Rigel dengan satu pukulan.
Disisi lain, Mirai menatap tercengang karena tulang yang bahkan tidak dapat dia hancurkan, dapat di hancurkan oleh Rigel dengan sangat mudah.
"K-kekuatan macam apa, yang dia gunakan?"
Mirai berguman.
Sekarang aku mengerti kenapa dia bisa menaklukan tujuh lantai seorang diri dan membantai orang orang di lantai tersebut.
Dengan kekuatan ini, mungkin saja dia dapat menyaingi ketua dalam pertempuran.
Pikir Mirai. Lalu, dia mengambil sebuah kesimpulan egois dari dirinya sendiri bahwa masih ada banyak hal yang disembunyikan Rigel, dia masih dipenuhi misteri.
Dia dapat mengajukan proposal yang bahkan tidak dapat dipikirkan orang dengan sangat percaya diri, mungkin dia akan menjadi harapan besar bagi kami squad penakluk.
Ada satu hal pasti yang tidak perlu di bandingkan, dari semua orang yang berada disini, mungkin Rigel yang terkuat. Mirai hampir menganggap bahwa sosok Rigel yang sebenarnya adalah —
Seorang Dewa.