The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Go To Hell With Me



Pemandangan ribuan prajurit sejauh mata memandang. Mayoritas dari mereka berisikan petualang dari penjuru negeri yang cukup elite untuk mengalahkan satu ekor Naga. Tidak hanya itu, tetapi militer terkuat Region dikerahkan untuk melakukan satu hal..., Raid.


Raid yang akan dilakukan di tahan asing, tempat tinggal para naga. Hal ini akan menjadi sejarah terbesar umat manusia, bahwa mereka telah membebaskan dunia dari cengkeraman monster malapetaka.


Seluruh manusia berdoa akan keberhasilan para Pahlawan dan Kesatuan Tempur yang baru saja dibentuk khusus untuk raid. Tentunya ada lebih banyak orang yang berniat bergabung dalam raid, namun ditolak mentah-mentah. Selain dari mereka orang tambahan yang dibawa Evankhell, seluruhnya adalah orang-orang yang telah diseleksi dan melakukan pelatihan.


Orang yang dapat bergabung hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkemampuan. Di dunia yang keras, tidak ada tempat bagi mereka yang lemah.


Bukan hanya karena kelemahannya saja, alasan sangat sedikit Kesatuan Tempur yang ikut andil dalam raid sangatlah sederhana. Dalam Ragnarok nanti, mereka semua akan dibutuhkan dan sangat penting mempertahankan keunggulan manusia dalam jumlah. Semakin sedikit korban yang berjatuhan, semakin baik pula.


Para Pahlawan, Kandidat Kaisar Surgawi dan eksekutif dari Region tengah berbaris di podium, memberikan pidato singkat untuk meningkatkan semangat Kesatuan Tempur.


Semuanya telah sepakat untuk menyerahkan bagian pidato kepada satu orang saja. Pahlawan yang telah memimpin setiap serangan kepada malapetaka, Creator Hero Amatsumi Rigel.


Prajurit dari Kesatuan Tempur merasa tegang, meski mereka perlu melakukan perjalanan jauh sebelum benar-benar berhadapan dengan para naga. Namun, yang membuat mereka penasaran adalah sosok yang telah memimpin raid malapetaka sampai kini.


Suasana hening, dengan kemunculan satu orang yang sangat tidak bisa mereka abaikan keberadaannya menaiki podium.


Dia menatap dari ujung ke ujung, mengamati para kesatria Kesatuan Tempur. Berbagai ekspresi dapat dia lihat. Dimulai dari khawatir, takut dan bahkan bersemangat.


"Seperti yang kalian tahu, tidak lama lagi kita akan raid melawan Acnologia. Naga malapetaka yang menghancurkan rasnya sendiri dan membuat mereka menderita. Kita tidak perlu memperdulikan naga yang menderita, cukup perduli pada nyawa pribadi, keluarga dan umat manusia."


Para naga sama sekali tidak memiliki hubungan yang mendalam dengan manusia. Tidak perduli apa yang terjadi kepada mereka, umat manusia tidak perlu mengkhawatirkan mereka.


Meskipun Rigel membuat kontrak dengan Red, namun dia tidak memiliki kewajiban untuk menyelamatkan para naga. Yang dia inginkan hanyalah mengurangi jumlah lawan yang harus dia lawan.


Bukan karena ketidakmampuan, melainkan dia harus menyimpan tenaga sebanyak mungkin untuk menghadapi Acnologia dan yang terburuk, sosok misterius yang menculik Priscilla.


"Mungkin kita semua tidak dapat menghirup udara segar lagi, mungkin juga sebaliknya. Ada kemungkinan salah satu diantara kalian menghilang, sangat mustahil raid ini tidak memiliki korban jiwa, namun—"


Dia memejamkan matanya untuk membiarkan orang-orang mencerna kata-katanya. Tidak mungkin mereka dapat kembali dengan jumlah yang sama. Kematian pasti akan terjadi, entah itu dari para eksekutif, Pahlawan ataupun Kandidat Kaisar Surgawi.


Hal itu tidak dapat dihindarkan, namun bisa diminimalisir kematian yang ada. Rigel harus menyiapkan mentalnya, kalau-kalau ada diantara orang yang dirinya pedulikan menghilang.


"—tetaplah berjuang sampai akhir, angkat pedang tanpa gemetar, teriakan semangat juang! Tunjukan bahwa umat manusia tidak lemah!! Bahkan jika kematian menjemput, matilah dengan bangga karena melindungi masa depan anak, istri, keluarga dan umat manusia!!!"


"YEAA!!!"


Teriakan semangat juang yang membara, haru dan kemarahan untuk membebaskan umat manusia dari cengkraman monster dan permainan aneh para dewa.


"Tidak perlu berdoa kepada Dewa, tidak perlu berdoa kepada siapapun. Mereka yang membuat kita berada pada situasi ini, mereka juga yang tidak memperdulikan keberadaan manusia! Persetan dengan mereka yang tolol itu, bila memang perlu ke neraka, maka datanglah bersamaku ke sana!!"


Dengan badan tegak, tanpa rasa takut dia akan memimpin mereka menuju neraka. Tidak perlu takut kepada tempat yang seharusnya ditakuti. Selama mereka dapat melindungi apa yang ingin mereka lindungi, maka tidak ada keraguan untuk ke neraka.


"Surga hanya tempat bagi mereka yang suci, kita penuh dengan dosa! Surga tak pantas kita tinggali!!Tidak perlu pergi ke tempat membosankan itu, pergilah ke neraka bersamaku!!"


"YEA!!"


Hanya mereka yang diam dan berlutut kepada yang memulai masalah dengan mengadakan Ragnarok. Hanya mereka yang berdoa dan memohon penyelamatan kepada mereka yang membuat bencana yang dapat memasuki surga.


Mereka yang mengikuti Rigel adalah mereka yang melawan kehendak para dewa, rebellion. Para pemberontak yang menolak takdir pemusnahan yang ditentukan oleh mereka para Dewa.


"Pidato ini..., seakan kita menantang para Dewa." tukas Misa selagi tersenyum masam.


"Benar sekali namun, pidato seperti itulah yang dibutuhkan para prajurit saat ini," balas Gahdevi yang menatap dengan kagum.


"Aku lebih terkejut dia dapat mengatakan itu di depan Raja Kekaisaran Suci, Ruberios," Odin ikut andil dalam pembicaraan.


Ajaran Ruberios memuja Dewa, namun mereka hanya memuja yang mencoba membantu manusia. Para Dewa yang menciptakan artifak kuno untuk membantu manusia, namun pada akhirnya sangat sedikit dari mereka yang dapat ditemukan.


"Menurut saya, Yang Mulia Alexei tidak menganggap apa yang dikatakan Pahlawan Rigel merujuk pada Dewa yang dia dan penganut agama Ruberios puja. Ada banyak Dewa dan memiliki kepribadian berbeda-beda. Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa Dewa yang dimaksud adalah Dewa lain."


Perkataan Natalia tidak salah, kemungkinannya memang seperti itu Alexei menganggap. Bahkan jika dia tersinggung sekalipun, mustahil dia berani menyinggung balik Rigel.


"Sudah seperti Dewa yang bereinkarnasi menjadi manusia, demi membantu kita. Bercanda deh...," tukas Gahdevi.


Keberadaanya sendiri sangatlah mencolok, mungkin yang terkuat diantara manusia. Tidak ada seseorang yang dapat menyainginya, jika hanya mempersempit diantara manusia saja. Akan lain ceritanya bila itu malapetaka, Lucifer dan pemimpin Armageddon.


"Berbincang tentang Dewa, sebelum datang ke dunia ini, aku dianggap Dewa oleh kera di duniaku." Ozaru menyela diantara percakapan mereka.


Tidak ada seorangpun yang membalas ucapannya, hanya tersenyum dan menerimanya mentah-mentah saja. Selagi dalam perbincangan, tidak terduga pidato Rigel masihlah berlanjut.


"Sekarang angkat kepala kalian, pedang kalian dan tekad kalian! Bakar semua kesedihan, kebahagiaan, kemarahan, kemalasan, kebanggaan demi membebaskan masa depan!!"


Para prajurit Kesatuan Tempur menghunuskan pedang mereka yang terbuat dari tulang belulang White Tiger dan Hydra, dengan gantinya mereka harus bersumpah setia dan menyerahkan kesetiaan hanya kepada Region. Para prajurit militer mengangkat senapan mereka setinggi dada dengan serempak dan menunjukkan keyakinan kuat di wajah.


Keyakinan tak tergoyahkan, bahwa mereka akan meraih kemenangan. Tidak perduli bila nyawa dikorbankan, hal itu menjadi harga yang pantas untuk masa depan cerah.


Puas mengatakan apa yang harus dia katakan, Rigel undur diri dan tidak lagi memperdulikan hal lain selain memfokuskan diri demi pertempuran yang akan datang.


Dirinya yakin, bila Asoka dan yang lainnya tahu dengan betul hal yang harus mereka lakukan. Keberangkatan akan memakan waktu lama, karena itu mereka perlu bergerak cepat.


Tidak perlu takut dirinya akan tertinggal, lagipula ada Takumi dan Pahlawan lain yang bersedia menjemput Rigel. Dia juga meninggalkan alat komunikasi darurat yang hanya dimiliki Leo. Karena dirinya dan Garfiel bersikeras untuk ikut, Rigel akhirnya mengizinkan mereka dengan syarat tidak gegabah dan kematian tidak diizinkan.


Rigel tiba disebuah tempat yang tidak diketahui siapapun selain mereka yang berdarah Pendragon. Danau keemasan yang mengalir tanpa henti dan terserap tanah yang membuatnya sangat subur dam kaya akan Mana.


"Sekarang..., haruskah aku melakukannya? Sebagai pertaruhan terakhir yang kumiliki."


Air mancur keemasan dengan pedang super kuat tertancap di tengahnya, Kuil Excalibur. Nyala Rune kebiruan menghangatkan lengan kanannya. Hal yang tidak pernah dia gunakan dalam pertarungan. Hanya tiga garis Rune yang telah dia gunakan, namun kali ini, empat garis terbentuk secara langsung. Yang menandakan, Tahap keempat dari kekuatan itu. Pertaruhan terakhir yang akan dia lakukan.


Entah akan dia gunakan dalam pertarungan ini atau tidak, jawaban akan diketahui bila waktunya tiba.


[***]


Tanah Naga Terlupakan, kini dipenuhi oleh berbagai naga yang tersebar secara merata. Baik itu darah murni ataupun tidak, di bawah perintah satu naga, mereka patuh tanpa perlawanan. Tentunya ada sebab akibat di tengah itu, namun yang jelas mereka tengah bersiap akan sesuatu.


"Mereka sudah bergerak. Para manusia jelek itu..." tukas sosok berjubah yang bersandar di hidung seekor naga hitam yang dipenuhi kekuatan ying dan yang.


"Nampaknya ancaman licik yang kau gunakan dan mengambil wujudku benar-benar berhasil. Meski aku menolak engkau memanfaatkan ku untuk melakukan hal tolol seperti itu."


"Jangan bertingkah seperti itu. Manusia dapat menjadi merepotkan jika kau memberikan mereka waktu. Bila bersatu, mereka akan menjadi kecoa yang sulit dilenyapkan. Perlu memberikan mereka tekanan sehingga memilih mengambil tindakan ofensif ketimbang defensif."


"Namun, dengan memunculkan wajahku di langit dan menyiarkannya ke seluruh dunia, bukankah membuatku harus mengambil langkah-langkah sulit? Aku yakin kelelawar-kelelawar hitam yang jelek itu tidak akan tinggal diam."


Meskipun wajah dan tubuhnya tertutupi oleh jubah dam tudung sepenuhnya, namun terlihat jelas bahwa bibirnya melengkung. Dia mengangkat tangannya ke wajahnya, alhasil muncul sebuah cermin kecil yang memperlihatkan seorang gadis terkurung di dalamnya.


"Kelelawar? Maksudmu Lucifer dengan anteknya?? Justru memang itu tujuannya. Tentunya bentrokan besar akan terjadi, karena itu yang aku inginkan dan kau tidak perlu mengambil langkah-langkah sulit. Lucifer dan manusia tidak bekerjasama, mereka dua sisi berlawanan."


"Darimana kamu tahu? Bagaimana jika mereka benar-benar bekerjasama??"


Sosok itu menggoyang cermin di tangannya, seakan memberitahukan pada naga di bawahnya, bila jawaban itu ada pada gadis yang terjebak di dalam cermin.


"Peri kecil itu pasti berpihak kepada manusia. Aku yakin dia rela mengorbankan tubuhnya demi melahirkan Raja peri sebagai langkah antisipasi bila dirinya ditiadakan. Melakukan itu semua hanya untuk gadis kecil ini, yang terjebak dengan bodohnya dalam cermin." ujarnya, mengejek sepenuh hati.


Mendapati itu, naga di bawahnya langsung memahami mengapa iblis dan manusia tidak akan berada di pihak yang sama. Berkat keberadaan gadis itu, semuanya menjadi jelas.


"Hahaha, sungguh licik padahal suci. Aku ingat bahwa Ratu peri sangat membenci Lucifer, jelas dia akan memberontak bila Pahlawan tolol dan manusia mencoba bekerjasama, bahkan walau hanya sesaat."


Tidak perlu diragukan lagi, bahwa tidak ada sosok selain Sylph yang benar-benar membenci Lucifer. Mengingat atas hal yang terjadi pada masa kekacauan, hal itu membuatnya geli. Meskipun dirinya tidak turun langsung, namun dia jelas menyaksikannya.


"Kamu terlewat satu hal. Dia juga sangat membenciku loh, bahkan peri kesayangannya ini terlihat menyeramkan dan bisa menggigitku kapan saja."


Melihat hal itu, mereka mulai cekikikan dan mengejek gadis dalam cermin. Tidak ada sedikitpun suara terucap dari gadis itu, karena apapun yang dia katakan tidak akan mengubah situasi. Justru, sebaiknya dia berusaha untuk tidak membuat keadaan menjadi semakin buruk.


"Hahaha, benar juga. Situasi dunia ini jauh lebih menarik pada seribu tahun lalu, ketimbang saat ini. Terutama keberadaan pria itu—Aludra yang segala tindakannya berada di luar perkiraan."


Kembali memejamkan matanya, dia mulai mengingat segala peristiwa hebat yang terjadi pada masa kekacauan itu. Tidak ada hal lain selain kerinduan mendalam akan kekacauan dan kehancuran terburuk yang pernah terjadi. Untuk itu, dia semakin tidak sabar menantikan hari akhir.


"Memang disayangkan. Keberadaannya sendiri bagaikan bidak yang tidak seharusnya ada. Jujur aku merasakan sepi karena ketidak hadirannya di zaman ini. Benar kan, Acnologia??"


Acnologia hanya mendengus nafas kasar, tidak berniat menjawab. Dia berniat melanjutkan tidur singkatnya, namun menyadari bahwa terdapat kehadiran lain yang mendekatinya.


Seekor naga langit berwarna putih yang memiliki luka besar di punggungnya mendarat dan membungkuk dengan hormat begitu tiba di depan gua Acnologia.


"Yang Mulia, seluruh pasukan telah berada di posisi yang anda inginkan. Apa perintah selanjutnya??"


Dia kembali membuka mata dengan malas dan seakan tidak tertarik kepada apapun lagi.


"Bunuh mereka yang memasuki hutan. Entah itu manusia, peri, iblis dan bahkan Dewa sekalipun. Lenyapkan benda asing apapun yang mencoba mencapai tempatku. Ahh, lalu, bunuh Red dan para pengecut yang melarikan diri ketika melihat mereka."


Mendengar nama yang tidak asing di telinganya, naga langit itu sedikit tertegun namun hanya berlangsung secara singkat. Dia langsung kembali memejamkan matanya dan membungkuk hormat lebih dalam.


"Sesuai keinginan anda, Yang Mulia," meninggalkan perkataan itu, si naga langit terbang menjauh menuju posisi yang telah ditentukan.


"Apa kau yakin? Kemungkinan dia akan berpindah sisi." tukas sosok misteri bertudung itu.


"Aku hanya perlu membunuhnya jika itu terjadi. Tidak perduli jika dia dan manusia jelek itu bergabung melawanku, tidak ada kesempatan bagiku untuk kalah. Dengan benih tidak lengkap yang kau berikan, hal itu menjadikanku tidak ada tandingannya."


"Sangat percaya diri, ya~..., mari lihat saja apakah itu kebenaran atau bualan belaka. Tujuanku kemari hanya untuk bersenang-senang sedikit, mengatasi kebosanan yang berlangsung sangat lama ini."


Dalam kegelapan, mata kuningnya dapat terlihat jelas, bersinar dalam kegelapan. Mata yang seakan melambangkan kegilaan dan sesuatu yang melihat kekacauan sebagai kebahagiaan.


"Mari lihat, seberapa hebat ini akan terjadi...," melepaskan tudung yang menutupi wajahnya, memperlihatkan rambut panjang coklat dan wajah yang nampak bagus serta menenangkan.


Dari semua hal yang mengagumkan dari wajahnya, yang paling menarik darinya adalah sesuatu yang bundar di atas kepalanya.