The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
God Requiem.



Beberapa jam telah berlalu, aku terus berlarut dalam duka. Aku berusaha mengumpulkan teman temanku yang ku kenal selama berada di labyrint. Mereka telah berubah menjadi inti jiwa, bahkan tumpukan mayat yang kubuat sebelumnya, kini menjadi tumpukan inti jiwa hingga mustahil aku membedakan mana yang milik temanku dan bukan.


"Aku tidak dapat menemukan milik Anastasia dan yang lainnya. Namun, setidaknya aku sudah mengenggam inti jiwa milikmu, Priscilla."


Ucap Rigel, tersenyum sedih.


Inti jiwa milik Priscilla sangatlah indah. Warnanya berbeda dengan inti jiwa pada umumnya. Miliknya berwarna merah mudah, meskipun ukurannya sangat pas untuk dijadikan sebuah kalung, namun aku dapat merasakan energi sihir yang sangat besar berasal darinya.


"Aku akan tetap menyimpan peninggalanmu ini apapun yang terjadi. Lalu, sekarang tinggal berurusan dengan keparat yang membuat semua ini terjadi."


Aku menatap ke arah tempat Azartooth dan Satan memperhatikan dari kejauhan. Mereka menatap balikku, Azartooth memiliki senyuman lembut di bibirnya. Namun, untuk saat ini, senyumannya hanyalah sebuah provokasi bagiku.


"Shhh~ huuhh~."


Aku menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu, tubuhku terlihat berkedip dan seolah berteleportasi ke tempat Azartooth berada. Aku mengulurkan tangan kananku dan menggunakan Void untuk menyerang dewa keparat ini.


Azartooth hanya berdiam diri saat seranganku datang karena Satan menjadikan tubuhnya sebagai perisai hidup.


"Anak ini!"


Lengan Satan yang terulur hancur karena seranganku, dia mendecakkan lidahnya karena kesal. Aku langsung mundur dan mengambil jarak beberapa meter darinya.


"Kau bajingan! Kau bilang bahwa mereka bukanlah manusia!"


Ucap Rigel dengan marah.


"Aku tidak menipumu. Mereka adalah jiwa, bukan manusia. Mereka dapat memiliki wujud seperti itu karena inti jiwa yang berperan sebagai pendukung untuk menampung keberadaan jiwa itu sendiri."


Ucap Azartooth, senyuman menghilang dari bibirnya.


"Lalu kenapa, kenapa kau—"


Azartooth memotong sebelum aku dapat menyelesaikan kata kataku.


"Kau membebaskan mereka dari belenggu yang mengikat mereka. Untuk bebas dari labyrint, mereka tidak harus menaklukan 100 Lantai, mereka hanya perlu melepaskan diri mereka dari inti jiwa yang menahan mereka. Nantinya, inti jiwa itu hanya akan mengambil kekuatan dari jiwa yang menempati inti jiwa tersebut."


Ucap Azartooth.


"Jadi, tujuan kami menaklukan labyrint dan bebas hanyalah omong kosong belaka?!"


Ucap Rigel dengan marah.


"Itu bukanlah sebuah kebohongan."


Satan memotong.


"Saat orang orang mencapai lantai 100 dan berhadapan denganku, aku akan dengan senang hati mengangkat jiwa mereka dari inti jiwa yang mengikat mereka. Kami hanya menginginkan inti jiwa itu untuk memperkuat kunci yang kami jaga. Kami tidak membutuhkan jiwa mereka."


Ucap Satan.


"Kami sengaja membuatmu bertarung dengan mereka untuk membebaskan jiwa milik mereka, lihatlah baik baik di atas sana."


Ucap Azartooth sambil menunjuk ke langit.


Aku secara reflek mengikuti arah tempatnya menunjuk dan saat memperhatikannya, air mataku yang seharusnya sudah mengering mulai berjatuhan lagi.


"Priscilla, Mirai, Anastasia dan Braund! Kalian baik baik saja?!"


Tanya Rigel sambil menangis.


"Yaampun, kupikir pada awalnya kau adalah pria yang kuat. Namun kau hanyalah seorang boca cengeng."


Ucap Braund.


Semua orang berada di atas langit, mungkin lebih tepatnya jiwa mereka. Bahkan, jiwa pertama yang ku ambil saat datang ke labyrint ada disana.


"Terima kasih karena telah menepati janjimu untuk membawaku ke lantai 100,Rigel."


Ucap Dandan.


"Apakah Sungguh menyakitkan ditinggalkan oleh gadis cantik sepertiku, Rigel?"


Ucap Priscilla sambil tersenyum mengejek.


Aku tidak membalas perkataannya. Aku hanya menundukan kepala dan menghapus air mataku dan secara perlahan aku melihat lagi ke arah mereka, keluargaku, serikat Region. Aku mengerahkan semua yang aku bisa untuk tidak ada air mata di perpisahan Terakhir kami, mungkin untuk selamanya.


"Tidak, aku hanya frustasi karena bocah loli membuatku merasakan jigong bau miliknya."


Ucap Rigel sambil tersenyum lebar.


"Huh?! Memangnya ciumanku sebelumnya menjijikan?!"


Ucap Priscilla dengan marah.


Dia dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi senyuman. Di sampingnya Mirai dan Anastasia juga tersenyum lembut ke arahku.


"Terima kasih, Rigel. Karena telah membebaskan kami dari belenggu yang mengikat kami."


Ucap Anastasia.


"Kalau begitu ini perpisahan, ya. Padahal aku ingin sekali berduel satu lawan satu denganmu."


Ucap Mirai sambil menghela nafas.


"Tenang saja. Kita akan melakukan itu suatu hari nanti, di suatu tempat dimasa depan. Sampai hari itu tiba, aku akan menciptakan sebuah dunia yang damai, tempat kalian akan bereinkarnasi dan menapaki kaki kalian lagi di dunia."


Ucap Rigel.


Semua orang tersenyum dengan kata kataku. Tenang Rigel, tidak boleh ada air mata, ini akan jadi terakhir kalinya kau melihat mereka!


"Ya! Ciptakanlah dunia yang dipenuhi gadis cantik, bocah. Jadi, saat aku bereinkarnasi, aku dapat membuat harem dengan banyak gadis cantik didalamnya, Hahahaha."


Ucap Braund sambil tertawa.


"Ya. Aku berharap kau tidak terlahir jadi orang yang jelek, Braund."


Ucap Rigel, suaranya mulai bergetar.


"Kata katamu sungguh melukaiku hanya karena kau sedikit tampan, bocah."


Ucap Braund sambil tersenyum.


"Ya, ya. Maafkan aki, Leywin."


Ucap Rigel.


"Akhirnya kau mau memanggilku dengan nama asliku."


Ucap Braund.


Ayolah, sebentar lagi, Rigel. Jangan biarkan bendungan air yang telah kau buat tumpah begitu saja! Jangan hiasi perpisahan ini dengan air mata.


Saat aku terus menguatkan diriku untuk menahan air mata yang mulai memberontak untuk keluar, Priscilla turun menghampiriku, dia saat ini sedang dalam wujud dewasanya yang cantik dan menawan. Lalu, Priscilla memelukku namun aku tidak dapat merasakan apapun selain dinginnya tubuh seorang jiwa yang transparan.


"Terima kasih karena telah membebaskan kami Rigel. Ingatlah ini, Rigel. Kami akan selalu berada di belakangmu untuk mendorong dirimu maju dam mendukungmu. Janganlah pernah kau berpikir bahwa kau sendirian, kami akan selalu ada untukmu. Tidak perduli jalan apa yang akan kau pilih, selama kau berhasil meraih hasil yang kau inginkan maka itu baik baik saja. Aku, kami akan senantiasa bersamamu. Aku. Mencintaimu, Rigel. Kalau begitu, ini adalah akhir,"


Perlahan, sosok Priscilla dan orang orang yang berasal dari labyrint mulai terbang menjauh dan tubuhnya mulai menghilang.


"Jangan lupakan kata kataku barusan, lalu jangan pernah lupakan aku, gadis yang memberikan ciuman pertamanya kepadamu dan kau tolak cintanya. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, aku berharap akan menjadi istrimu di kehidupan yang baru nanti."


Ucap Priscilla.


Sosoknya yang tersenyum mulai menghilang seolah tidak pernah ada. Inti jiwa miliknya yang berada dalam genggamanku mulai berkedip seolah dia memberitahuku bahwa aku akan baik baik saja.


"Kita pasti akan bertemu lagi."


Gumam Rigel, air matanya mulai menetes lagi.


Aku mengusap semua air mataku dan menenangkan diriku lagi. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk melakukannya. Azartooth dan Satan hanya tersenyum dan entah kenapa mereka terlihat sangat bersimpat kepadaku.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"


Tanya Rigel.


"Tidak ada. Pelatihanmu sudah selesai sampai disini. Kau jauh melampaui ekspetasiku, kunci yang kau gunakan itu sebenarnya adalah kekuatan dari kehampaan."


Ucap Azartooth.


Jadi begitu, aku ingat apa yang dia katakan bahwa aku hanya akan menerima kekuatannya hanya jika aku pantas. Jadi pantas atau tidaknya itu mengacu pada sebuah kunci yang memilihku.


Tanya Rigel.


"Ya, aku akan segera membangkitkanmu kembali. Namun, aku menyarankanmu untuk tidak terlalu bergantung pada kekuatan di lengan kananmu. Di dunia kehidupan, kau akan merasakan efek samping yang bahkan lebih mengerikan ketimbang saat kau menggunakan seri kutukan. Gunakanlah kekuatan itu hanya saat keadaan yang hampir membunuhmu."


Ucap Azartooth dengan serius.


Aku mengangguk sebagai jawaban. Akhirnya tiba, hari dimana aku akan kembali. Aku tidak melupakan apa yang telah kau perbuat padaku, Takatsumi. Kau mengakhiri hidupku dan kau mencoba mengambil Tirith dariku.


Lalu, aku akan mewujudkan kata kataku bahwa aku akan bangkit dari tanah kematian dan menghajarmu!


"Akhirnya, waktunya tiba."


"Aku sudah menunggu lama untuk ini, kau tahu."


"Yo, lama tidak bertemu kalian semua."


Tiga orang yang pernah aku duga muncul dari langit dan menghampiri kami. Mereka adalah Beelzeebub, Astaroth, dan Azazel.


"Kalian, apa yang kalian lakukan disini?"


Tanyaku.


Oh iya. Aku baru kali ini melihat Astaroth karena dia mengorbankan inti jiwa miliknya sendiri dan lari dari tugasnya menjaga kunci.


"Tentu saja untuk melakukan ritual pembangkitanmu."


Ucap Azazel.


Mereka berlima membentu lingkaran dengan aku yang berada di tengahnya. Cahaya berwarna biru dan berbentuk lingkaran sihir muncuk saat mereka mengeluarkan suara yang mirip dengan nyanyian.


"Akhirnya semua orang sudah berkumpul. Sekarang, teman temanku sosok yang akan membawa perubahan besar telah terpilih. Jadi, nyanyikanlah harapan kalian! Alam kehidupan akan berguncang karena hal ini, karena nyanyian dari para dewa, God Requiem!"


Di EarthLand, badai petir, angin topan dan gempa bumi terjadi di penjuru dunia. Petir mengamuk di langit dan membuat semua orang penasaran.


"Apa yang sedang terjadi?"


Ucap Takumi.


Tidak hanya Takumi, para pahlawan lain juga sama herannya dengan Takumi.


"Ini, alam terlihat seperti sedang merayakan sesuatu."


Ucap Yuri.


"Bersinarlah batu ramalan, bersinarlah jurang kegelapan, bersinarlah dunia! Hari ini dan sekarang ini juga. Buatlah seluruh dunia gemetar sampai ke nirwana para dewa. Buatlah semua yang ada di dunia bergetar karena kelahiran seseorang yang akan membawa perubahan besar."


Ucap Azartooth, merapalkan mantra.


Di kerajaan iblis, para pilar iblis berkumpul di satu tempat. Ini adalah pemandangan langka menemukan para pilar iblis yang berpencar dapat bertemu seperti ini.


"Apa ini? Apakah dunia kiamat?"


Ucap Leviathan.


"Mana mungkin hal itu terjadi bodoh. Kalau tidak salah ini—"


Kata kata Diablo di potong oleh pilar iblis terkuat.


"Ini adalah nyanyian harapan dari para dewa, God Requiem."


Ucap Zenos.


Semua pilar iblis melihat ke arah Zenos secara bersamaan karena reflek.


"Jarang sekali kau mau meninggalkan pintu tempat yang mulia Lucifer tertidur, Zenos."


Ucap Dante.


"Ya. Aku merasakan ada gejolak yang aneh dengan alam dan rupanya karena hal ini. Kalian bersiaplah, jangan sampai nasib yang sama dengan Behemoth menimpa kalian. Sesuatu yang besar akan dimulai."


Ucap Zenos.


"Saat kau hidup kembali, sebisa mungkin kumpulkanlah pasukan sebanyak mungkin, Rigel. Kau akan membutuhkannya karena Ragnarok adalah peperangan dengan skala besar, bukan individu."


Ucap Satan.


"Kau juga tidak boleh hanya puas dengan kekuatanmu yang sekarang, kau harus terus bertambah kuat jika ingin melindungi orang orang yang kau cintai."


Lanjut Azazel.


Aku hanya mengangguk dalam diam dan menanamkan kata kata mereka di dalam kepalaku.


"Dengan ini, seluruh jejak yang kami tinggalkan akan terhapuskan. Kami akan selalu memperhatikanmu, pahlawan."


Ucap Astaroth.


"Jangan langsung mati setelah susah payah dihidupkan kembali ya."


Ucap Beelzeebub.


Aku masih ingin menghajar bocah tak tahu sopan santun ini!


Lalu, saat nyanyian para dewa semakin terdengar jelas olehku, tubuhku mulai bersinar karena cahaya pembangkitan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku menggenggam erat erat inti jiwa milik Priscilla yang berada di tanganku.


"Akan kubiarkan kau memiliki inti jiwa milik peri itu. Namun, setiap inti jiwa yang berada di infertorymu dan tempat ini akan digunakan untuk kebangkitanmu."


Ucap Azartooth.


"Terima kasih, Ayah."


Ucap Rigel.


Azartooth berkata bahwa jiwa putranya berada didalam jiwaku juga. Mungkin ini adalah kata kata yang ingin di ucapkan oleh jiwa anaknya yang berada di dalam jiwaku. Yah, tidak ada salahnya bagiku untuk mengatakan itu sebagai terima kasih karena telah membantuku menjadi kuat dan menghidupkanku lagi.


"Ya, berhati hatilah putraku, Antares."


Ucap Azartooth sambil menangis.


Lalu, Azartooth dan empat pangeran lainnya menggumamkan mantra pembangkitan secara bersamaan saat nyanyian para dewa, God Requiem berakhir.


"Resurrection!"


"Akhirnya, aku akan segera menemui istriku, Athena."


Gumam Azartooth.


"Kalau begitu, aku pergi!"


Ucap Rigel.


Cahaya biru turun dari langit dan menghujani tubuhku lalu membawa jiwaku kembali ketempat tubuh fisikku berada, jurang tanpa batas.


Tubuh fisikku melayang keluar dari jurang tak berdasar. Kepala, kaki dan tanganku melambai seolah hanya dadaku saja yang bergerak naik. Aliran listrik statis mengalir ke tubuhku yang masih tak bernyawa, lalu


Bang!


Sebuah hantaman keras dari cahaya berwarna biru menghujani tubuh fisikku yang mati dan tak bernafas. Perlahan, rambutku yang hitam mulai memutih seperti uban namun bukan karema umur tua, luka luka yang sebelumnya ada di tubuhku telah dipulihkan. Otot otot di tubuhku mulai terbentuk dan di tangan kiriku, terdapat sebuah lengan logam palsu yang kubawa dari alam kematian.


Tubuhku yang berbaring melayang mulai berbalik dan berdiri. Lalu, saat kakiku yang telanjang menginjakan tanah dingin dan keras yang sudah lama tidak kurasakan, aku membuka mata kananku yang bersinar biru di tengah alam yang sedang kacau.


"Aku telah kembali dari kematian dan aku akan menggunakan dunia ini."


Ucap Rigel.


Aku hanya mengenakan celana saja yang menutupi tubuhku. Ahh, sekarang aku dapat dengan jelas membedakan rasanya memiliki tubuh fisik dengan tidak.


Aku memeriksa infertory milikku dan mengecek apakah inti jiwa monster yang kumiliki masih ada atau tidak.


"Bahkan inti jiwa Arch Licht dan milik Dandan juga hilang."


Ucap Rigel.


Namun, ada satu inti jiwa berwarna merah muda yang tersisa di infertoryku, itu adalah inti jiwa milik Priscilla. Aku bersyukur benda ini tidak hilang.


"Baiklah, sekarang mari kita cari tahu apa saja yang telah terjadi selama setahun ini."


Aku berjalan menuju ke dalam hutan untuk pergi ke sebuah tempat jauh yang berada di sana, Britannia.