
Setelah menemui Pahlawan lainnya dan mengatakan hal yang perlu dia katakan pada mereka, Rigel berteleport kembali ke Region. Tujuan awal Rigel adalah untuk menyingkirkan para pahlawan dan membiarkan Tortoise berjalan hingga sampai ke lautan. Dengan begitu, dia bisa melaksanakan rencananya dengan lancar.
"Yah, aku sudah menduga bahwa mereka kemungkinan besar akan menolak itu karena, jika melakukan rencanaku itu Britannia harus rata dengan tanah." Gumam Rigel.
Prajurit yang menjaga pintu masuk memberikan hormat pada Rigel dan membuka gerbang menuju ke dalam Kastil. Di sana, dia di sambut dengan Ray, Merial, Yuri, dan Asoka.
Yuri tidak langsung kembali ke tempat Takumi dan yang lain karena Rigel menahannya dan mengatakan bahwa dia perlu bantuannya. Yuri sedikit bermasalah pada awalnya, namun Rigel meyakinkannya dan membantunya meningkatkan kemampuannya selagi di Region.
"Yo, apa ada sesuatu yang kalian butuhkan?" Tanya Rigel selagi menghampiri mereka.
"Yo, apakah kau habis dari tempat Takumi dan yang lainnya? apakah mereka, umm, dia baik-baik saja?" Tanya Yuri dengan sedikit malu.
"Ahh~, maksudmu kekasihmu Takumi ya, dia tampak sehat dan baik-baik saja." Ujar Rigel, sedikit menggoda Yuri.
"D-dia bukan kekasihku!" Bantah Yuri, wajahnya merah padam.
"Tidak bisa jujur ya~." Ujar Rigel.
"Lebih penting lagi, Merial mengatakan padaku bahwa kau belum tidur selama beberapa hari ini. Apakah kau baik-baik saja? setidaknya beristirahatlah selama beberapa jam." Ujar Yuri.
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu Rigel. Kesehatanmu juga di butuh dalam pertempuran nanti." Ujae Asoka dengan khawatir.
Memang benar Rigel hampir tidak tertidur semenjak Tortoise yang telah terbangun sudah di konfirmasi. Sebab, dia harus melakukan banyak persiapan di mulai dari senjata dan strategi dengan kemungkinan menang terbesar. Meski dia sudah merasa terbiasa untuk tidak tertidur dalam waktu yang lama, tetap saja kantung mata hitam terbentuk di kantung matanya. Namun, dia tidak merasa kelelahan atau apapun, justru dia dalam keadaan seperti biasa.
"Tenang saja, tidak perlu sebegitu mengkhawatirkan aku. Selama tubuhku tetap mendapat asupan nutrisi, aku akan baik-baik saja." Ujar Rigel, selagi menggaruk kepala dengan sedikit bermasalah.
"Aku tahu bahwa kau bisa menjadi seperti hewan Nocturnal, namun kau tetap manusia, kau perlu untuk beristirahat selama beberapa waktu, Rigel." Ujar Ray.
"Ray benar, Tuan Rigel. Pulihkan lah stamina dan batinmu dengan beristirahat." Ujar Merial.
"memangnya kalian ibuku... Yah, aku akan melakukannya nanti. Yang lebih penting, bagaimana persiapan pasukan yang di bawah komando Fang?" Tanya Rigel, mengalihkan pembicaraan.
"Semuana baik-baik saja. Ada beberapa masalah dengan tim persediaan pada awalnya namun sekarang sudah terselesaikan... Dan juga, berita bahwa Region membuka tempat pengungsian kemungkinan akan tersebar luas esok pagi." Ujar Ray.
"... Baguslah, dengan begini kita hanya perlu menunggu sampai waktunya tiba." Ujar Rigel.
Mendengar Rigel mengatakan itu, Asoka sedikit bermasalah dengan rencana yang di buat Rigel. Sejujurnya, dia masih tetap menolak rencana ini karena harus mengorbankan sebuah Negara seperti Britannia. Namun karena presentasi kemenangannya 50:50, Asoka harus mengesampingkan egonya dan mengambil rencana yang memiliki kemungkinan menang tinggi.
"Apa kau benar-benar akan menggunakan rencana itu Rigel? Meski kemungkinan menangnya lebih besar, aku masih khawatir jika rencanamu mengalami kegagalan. Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan kerusakan yang di buat Tortoise setelahnya?" Tanya Asoka.
"Yah, kita tidak akan tahu sampai saatnya tiba..." Ujar Rigel, dia sedikit berfikir dan berkata. "Untuk dampak samping yang di sebabkan Tortoise, tentu saja kita akan mengurusnya sendiri. Aku yakin seluruh negara akan menilai kita positif karena telah mengalahkan dua mahkluk malapetaka dan membereskan kekacauannya." Lanjut Rigel.
Pada akhirnya, penilaian orang-orang terhadap Demi-human akan sedikit meningkat dan meski jauh dari genggaman, setidaknya diskriminasi akan berkurang. Mungkin ini adalah hasil baik jika Region benar-benar menaklukkan Tortoise dan membereskan kekacauannya.
Meski itu hanyalah sebuah gambaran kasarnya saja, Merial, Ray, Asoka dan Yuri cukup pintar untuk membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Rigel tersenyum kepada mereka dan berjalan melewatinya.
"Sekarang, kita hanya perlu menunggu dan menyaksikan pertarungan pahlawan lain bersama Tentara Persatuan." Ujar Rigel, berjalan dengan tangan kanan di masukan ke kantung celana.
***
Keesokan paginya, berita tentang Region membuka tempat pengungsian telah tersebar ke penjuru Negara. Region adalah satu-satunya Negara yang di kelilingi oleh lautan luas, lebih tepatnya di tengah laut. Semua orang berfikir, mungkin Region adalah tempat pengungsian yang lebih aman dari tempat lainnya. Semua orang mulai berbondong-bondong pergi menyelamatkan diri ke Region.
Tempat pengungsian itu sendiri adalah sebuah daratan tempat pertarungan Rigel dengan Hydra. Tempat pengungsiannya berada di bawah tanah dengan seratus lantai. Yah, Rigel sudah mengerjakan tempat itu sejak Region baru berdiri.
Di sisi lain, para pahlawan telah bersiap dan memulai kembali pertarungan mereka untuk menahan Tortoise. Meski mereka tidak berniat mengakhiri pertempurannya hari ini, mereka masih berusaha untuk membuat luka di tubuh Tortoise. Perbedaan besar hari ini dengan kemarin adalah ketebalan kulitnya yang kini sangat kokoh sehingga tidak dapat digores dengan mudah.
"Tch! Bukankah ini menjadi sangat sangat keras?!" Ujar Argo, mengutuk.
"Sepertinya benar bahwa Tortoise akan meningkatkan pertahanannya setiap hari. Jika kita tidak mengalahkannya secepat mungkin, aku khawatir pertahanannya tidak dapat di tembus lagi..." Ujar Takumi.
"Ya... Untuk itu, kita harus menunggu sampai esok hari dan menghajarnya bersama Tentara Persatuan!" Ujar Marcel.
Mereka bertarung dan berhasil menahan Tortoise sampai malam hari tiba. Tentara Persatuan Pembangunan yang di pimpin Rudeus telah sampai dan Takumi menjadi orang yang menjemput Altucray dan Alexei. Pertemuan strategi bersama Kandidat Kaisar surgawi di laksanakan.
"Baiklah para pahlawan, bisakah kami mendengar apa saja yang kalian temukan tentang Tortoise?" Tanya Alexei.
"Ya. Kami telah memastikan bahwa Tortoise selalu meningkatkan pertahanan dirinya setiap malam dan terus bertambah kuat. Bahkan aku sendiri tidak dapat menggores nya jika tidak mengerahkan seluruh tenagaku." Ujar Takatsumi.
"Tidak hanya itu, kami juga menemukan sebuah gua misteri di gunung yang ada di punggungnya. Masih belum di ketahui apa yang ada di dalamnya karena keberadaan parasit Tortoise yang merasahkan." Ujar Hazama dengan sedikit kecewa.
"Selain itu, Tortoise tidak mengeluarkan serangannya selain berusaha menginjak kami. Hal itu juga masih belum di ketahui kenapa Tortoise tidak mengerahkan kekuatannya sama sekali." Ujar Marcel.
"Jadi begitu ya, aku juga memiliki penemuan tentang Tortoise saat mencarinya di buku-buku lama tentang pahlawan. Dalam legenda di katakan, para pahlawan di masa lalu mengalahkan Tortoise. Namun kenyataan sebenarnya, para pahlawan di masa lalu hanya bisa menyegel Tortoise karena mereka yang saat itu belum mampu mengalahkannya. Empat dari. mereka dan seorang gadis misterius mengorbankan nyawanya untuk menyegel Tortoise dengan harapan saat dia terbangkit kembali, pahlawan di generasi selanjutnya telah mencapai puncak keemasannya dan mengalahkannya." Ujar Alexei.
Sebuah informasi yang belum di ketahui para Pahlawan. Kenyataan bahwa Tortoise di segel memang tidak mengejutkan karena mereka sudah menduganya. Namun fakta bahwa pahlawan masa lalu harus mengorbankan nyawa hanya untuk menyegel nya sangat mengejutkan.
"Lalu, apakah mereka menuliskan sebuah cara untuk mengalahkan Tortoise atau semacam kelemahannya?" Tanya Takumi.
"Untuk itu, sayangnya aku tidak dapat menemukannya. Buku catatan yang aku temukan itu sendiri sudah rusak dan tintanya saja sudah luntur karena umurnya yang sangat tua. Namun, aku menemukan sesuatu yang mungkin dapat membantu." Ujar Alexei, mengambil sebuah kertas dari sakunya dan menaruhnya di tengah meja agar para pahlawan dapat melihatnya.
Kertas itu adalah sebuah kertas tua yang berasal dari kulit hewan jadi itu tidak akan hancur seperti kertas. Di atas kulit itu telah di lukis sebuah gambar Kura-kura raksasa dan beberapa orang manusia. Meskipun gambarnya terlihat seperti anak SD yang membuatnya, namun yang menarik adalah apa yang di gambarkan itu. Di kertas itu menggambarkan bahwa para manusia memotong kepala Tortoise dan membuatnya berhenti bergerak.
"Seperti yang kalian pikirkan. Kemungkinan saja, ini adalah pesan dari pahlawan di masa lalu bahwa dengan memenggal kepala Tortoise kita mungkin saja dapat membunuhnya. Tidak perduli seberapa kuar pertahanannya, jika kita berhasil memotong kepalanya, dia akan mati." Ujar Alexei dengan serius.
Hal itu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut dan bersemangat. Jika mereka bekerja sama satu sama lain, kemungkinan besar mereka berhasil memotong kepalanya.
"Jika benar begitu, kita harus berterima kasih kepada pendahulu kita atas informasinya yang berharga ini." Ujar Hazama.
"Ya, setidaknya mereka sedikit berguna untuk kita pahlawan yang akan menyelamatkan umat manusia." Ujar Marcel dengan angkuh.
"Entah kenapa aku merasa ingin mendengar lebih banyak cerita tentang pahlawan pendahulu." Gumam Takumi.
Semua orang tertawa dengan apa yang di katakan Takumi, mereka berfikir bahwa itu hanyalah sebuah lelucon Takumi. Namun Takumi serius mengatakan itu. Mereka melanjutkan percakapan ringan seperti bagaimana keadaan negara saat mereka menahan Tortoise dan tentang senjata yang mereka maksud. Saat diskusi hendak di akhiri, suara seorang pria terdengar.
"Sepertinya semua orang telah berkumpul , ya..."
Semua orang dengan waspada memandang orang itu. Di tengah meja diskusi, seorang pria yang datang dengan teleportasi tiba dan duduk santai di meja diskusi.
"Rigel...?" Takumi dan Petra bergumam di saat yang bersamaan.
"Hmm, apakah kau ke sini untuk menguping pembicaraan kami?" Ujar Takatsumi dengan mengejek.
"Hum, aku tidak butuh informasi apapun yang kau miliki. Aku ke sini hanya menanyakan jawaban kalian tentang kesepakatan yang aku ajukan kemarin." Ujar Rigel dengan malas.
"Kesepakatan? kesepakatan macam apa yang kau ajukan?" Tanya Rudeus.
Takatsumi ingat bahwa mereka belum mendengar apapun tentang hal ini dan dengan sukarela menjelaskannya.
"Kesepakatan itu meminta kami untuk menggiring Tortoise sampai ke lautan lepas. Untuk itu, Britannia dan negara di sepanjang jalan akan hancur dan menghilang dari peta." Ujar Takatsumi.
"A-apa?!" Teriak Altucray, "Jangan konyol! mana mungkin aku mau Negaraku di hancurkan oleh Tortoise seperti itu?!" bentak Altucray ke arah Rigel.
"Hmm, setidaknya aku memiliki peluang kemenangan 50:50 jika kau mau mengorbankan tempat jelek itu." Ujar Rigel.
Semua terkejut saat Rigel mengatakan bahwa dia memiliki peluang kemenangan sebesar itu. Yang artinya, Rigel sudah mengetahui cara mengalahkan Tortoise dan sudah menyiapkan strategi yang tepat untuk melakukannya.
"... Kau sepertinya sudah mengetahui cara mengalahkannya namun tidak memberitahukan apapun kepada kami..." Ujar Marcel dengan sedikit kemarahan.
"Oi, oi aku sudah mengatakan ini sebelumnya tapi apakah ingatanmu benar-benar seburuk itu? bukankah kau menolak bekerja sama denganku? selain itu, kalian tidak bertanya padaku." Ujar Rigel dengan senyuman meremehkan.
"Jadi bagaimana? apakah kalian mau menyetujuinya atau tidak? cepatlah karena aku tidak memiliki waktu santai seperti kalian." Ujar Rigel dengan malas.
Bahkan sikapnya itu cukup untuk memprovokasi Marcel, Argo dan Takatsumi. Di sisi lain, kandidat kaisar Surgawi juga tampak tidak nyaman dengan sikap Rigel. Mereka saling mengangguk kepada Takatsumi yang menatap mereka. Jawabannya tentu saja sudah di prediksi oleh Rigel sejak awal.
"Hm, tentu saja kami akan menolak rencana jodohmu itu." Ujar Takatsumi.
"Oh, begitu. Kalau begitu, kita akan melakukan rencana masing-masing dan tidak akan mengganggu satu sama lain. Aku juga tidak akan mencampuri urusan kalian, bahkan jika kalian mengemis padaku aku tidak akan menolong." Ujar Rigel, perlahan berdiri dan menatap Takatsumi.
Dari tatapan mata Rigel, dia menyampaikan bahwa suatu saat dia akan membunuh Takatsumi melalui tatapan matanya.
"Sebelum aku pergi, aku akan meruntuhkan dinding besi itu agar tidak mengganggu kalian. Yah, meski begitu aku tidak yakin Tortoise akan mati hanya dengan kepalanya yang terpenggal." Ujar Rigel dan menghilang, berteleport kembali ke Region.
"Apa?! dia sudah tahu bahwa kita berniat memenggal kepala Tortoise?" Ujar Petra dengan terkejut.
"Namun, kenapa dia mengatakan tidak yakin jika Tortoise akan kalah dengan memenggal kepalanya?" Ujar Nadia.
"Hum, biarkan saja. Aku yakin dia hanya menggertak saja, abaikanlah. Seperti katanya, kita hanya perlu mengurus urusan masing-masing." Ujar Marcel.
"Ya, lebih baik kita mulai menyusun Strategi." Ujar Rudeus.
***
Pagi hari, tembok besi telah runtuh dan memperlihatkan sosok besar Tortoise yang berjarak cukup jauh. Para prajurit telah bersiap dan para pahlawan bersama kandidat kaisar Surgawi berdiri di dinding besi yang telah runtuh.Marcel akan menjadi orang yang memberikan pidato.
"Hari ini, untuk pertama kalinya kita akan bertarung bersama-sama untuk menghadapi monster yang ada di hadapan kalian. Monster yang telah menginjak banyak manusia, hari ini! kita telah bersatu dan mengacungkan senjata kepada mahkluk yang menginjak kita selayaknya semut! jangan gentar, kami, para pahlawan ada bersama kalian!" Teriak Marcel, mengepalkan tinjunya ke langit.
"Uoooaaaahhh!!!" Para prajurit berteriak semangat.
Pertarungan sesungguhnya baru saja akan di mulai. Untuk kali ini, dunia akan bersatu dan salinb bahu membahu untuk menghadapi mahkluk malapetaka, Tortoise.
"Baiklah, sekarang waktunya bagi kita untuk mengeluarkan kekuatan penuh dan menghabisi mahkluk ini untuk selama-lamanya." Ujar Marcel, mengayunkan Sabitnya.
Di sisi lain, Rigel sedang bersantai duduk di ruang kendali dan menyaksikan jalannya pertarungan pahlawan lain.
"Baiklah, mari kita lihat apa saja yang bisa dia lakukan." Gumam Rigel.