
Angin berhembus sangat kencang, bagaikan topan yang membawa uap panas pergi. Badai besar terjadi dan ombak di lautan bergejolak dengan suhu tinggi.
Perjalanan Pahlawan lain dan Sylph harus terhenti sementara karena lautan yang kacau balau. Meski Hazama dapat menangkal panasnya air dan uap, namun gejolak ombak tetap menjadi masalah.
Berkat bantuan Sylph, mereka dapat melaju dengan cepat, menggunakan sebuah perahu kecil yang cukup untuk menampung mereka semua.
"Apa yang sebenarnya terjadi?! Apa mungkin tsunami atau gempa bawah laut??" Aland menyerukan keluhan.
"Aku harap begitu, namun apa kau yakin gempa dapat meningkatkan suhu?!" Takatsumi sedikit menaikan suaranya.
Jelas tidak mungkin gempa menjadi penyebabnya. Belum lagi, dia melihat sesuatu yang sangat terang seakan jatuh dari langit, yang meyakinkan argumennya bahwa sesuatu benar-benar terjadi di laut Region.
"Sepertinya ada bekas pertarungan di sana. Aku dapat dengan jelas merasakan jejak sihir besar di depan sana." Sylph menatap kejauhan selagi menggunakan kekuatannya untuk membuat perahu melaju cepat.
Seketika mengamati keadaaan, sesuatu yang benar-benar sesuatu mulai terjadi lagi di depan mereka.
"Oii, oii, jangan bercanda. Orang macam apa yang bisa membelah lautan seperti ini?!" Marcel menyerukan keluhan. Tepat di depan matanya, laut perlahan terbelah dua sampai ke dasarnya.
Dinding laut membentang cukup jauh dan menyisakan ruang yang cukup luas. Memastikan bahwa laut itu tidak akan segera menutup, mereka turun dari perahu dan memijakan kaki di dasar laut. Tidak jauh di depan sana, terdapat sebuah lubang besar terbentuk, mungkin karena sisa-sisa pertarungan sebelumnya. Bersamaan dengan itu, sesuatu turun dari langit bagaikan sebuah bom.
Takumi, Sylph dan Pahlawan lain bersiaga dengan kedatangan sosok misteri itu. Semua nya menyiapkan senjata mereka, jika di lihat dari keadaannya mungkin sosok itu yang menciptakan gejolak laut dan membelah laut.
Kepalanya tertunduk, bajunya compang-camping dan tubuhnya memiliki beberapa luka yang cukup serius. Rambut putih, saat semua melihat warna rambut itu hanya satu orang yang terpikirkan oleh semua orang.
"Rigel!" Seru Takumi, hendak berlari menghampirinya namun di hentikan Sylph.
"Tunggu, Pahlawan Takumi. Ada sesuatu yang salah dengan Pahlawan Rigel." Wajahnya bermasalah dan dia menajamkan alisnya.
Menyadari itu, mereka kembali bersiaga, kalau-kalau terjadi sesuatu di luar perkiraan. Bahkan Sylph juga menyiapkan kekuatannya untuk membantu Pahlawan lain. Rigel perlahan berdiri tegak selagi Terhuyung-huyung ke kiri dan kanan, layaknya sedang mabuk. Dia perlahan mengangkat wajahnya. Giginya mengatup dengan kuat, rambutnya berantakan, wajahnya kusam dan matanya tidak lagi memancarkan warna, terlihat dengan jelas dia sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Dia tidak sadarkan diri... Namun masih bisa bergerak dan membelah lautan ini?" Sylph tidak menyangka bila Rigel benar-benar eksistensi yang unik. Umumnya, saat seseorang tidak sadarkan diri, otak tidak akan dapat memerintahkan tubuhnya untuk banyak bergerak seperti berlari.
Namun Rigel sebuah pengecualian khusus, otaknya dapat terus memerintah tubuhnya untuk bergerak dan bertarung, meski Rigel tidak lagi sadarkan diri. Sebuah keuntungan sekaligus kerugian. Meski dapat bertarung dalam kondisi tak sadarkan diri, dia tidak akan dapat membedakan mana kawan dan lawan, bak pisau bermata dua.
Rigel berjalan terhuyung dan dalam sekejap mata dia sudah memotong jarak diantara mereka. Hazama mengambil langkah ke depan semua orang dan menahan tinju kuat Rigel. Tubuhnya terhempas dengan kuat, mungkin karena dia tidak mempersiapkan diri dengan baik.
"Kita harus menghentikannya! dia sedang tidak memegang Otoritas atas tubuhnya, hentikan dia tanpa perlu memberikan luka fatal!" Sylph dengan sigap memberikan arahan kepada Pahlawan lain.
Rigel sudah tidak sadarkan diri, jadi membuatnya tertidur atau pingsan akan menjadi usaha yang sia-sia. Sylph memeras otaknya, untuk saat ini jalan terbaik adalah menghentikan pergerakan Rigel sepenuhnya atau membuatnya kehabisan tenaga.
Rigel melesat dan memberikan tendangan kuat kepada Takumi. Dia menyilangkan tombaknya untuk mengurangi dampak yang dia terima akibat tendangan Rigel. Meski begitu, tangannya masih terasa sakit karena benturan sebelumnya. Petra berlari dan menyerang Rigel dari belakang, namun dalam sekejap mata Rigel telah menghilang dari pandangan mereka.
Mencari ke daerah sekitar namun tidak menemukannya di manapun, sampai akhirnya Takumi menatap ke langit. Di sana Rigel telah membuat dua buah belati dan menerjang langsung menuju Takatsumi.
*Bom........
Takatsumi mengambil langkah mundur untuk menghindari Rigel. Hazama mengambil kesempatan sesaat itu untuk mencoba membatasi pergerakannya.
"Shield Prison!" Sebuah Perisai dengan bentuk tabung muncul dan memenjarakan Rigel di dalamnya, "Rantai!"
Rantai-rantai sihir melilit sekujur tubuh Rigel dengan erat. Dia berusaha melepaskan diri dengan mengerahkan kekuatannya. Satu rantai hancur dan dua menggantikannya, dua rantai hancur dan dua yang lain menggantikannya. Semua usahanya akan sia-sia dan hanya menghabiskan tenaga. Jari di tangan kanan masih bebas, Rigel berhenti mencoba melepaskan diri, dia menjentikan jari telunjuk kanannya.
*Tak........
*Jder..........
Rantai dan penjara perisai tabung menghilang dalam satu jentikan jarinya, seolah itu benar-benar tidak pernah ada. Pemandangan yang jelas namun sulit di percaya.
"Kau masih saja kuat... meskipun sudah tidak sadarkan diri lagi, Rigel." Marcel bahkan sampai mengakui ketangguhan yang di miliki Rigel. Dia tidak akan terkejut lagi jika Lucifer akan mencoba membunuhnya karena ancaman yang di miliki Rigel itu nyata.
"Aland, bisakah kau menggunakan Palu raksasamu untuk menahan pergerakannya?"
"Mungkin saja bisa, namun aku khawatir itu akan mematahkan beberapa tulangnya. Selain itu, masih ada kemungkinan bahwa Palu raksasaku bisa di lenyapkan."
Pada dasarnya, Palu raksasa yang di buat Aland terbuat dari Mana alam, sehingga Rigel dapat menghancurkannya tanpa banyak usaha. Marcel mendecakan lidahnya, hal ini semakin merepotkan saja. Mereka harus memikirkan cara lain, namun di saat bersamaan Rigel tidak membiarkan mereka berpikir dengan tenang.
Rigel melesat dan berputar, dia mengirimkan tendangan yang sangat kuat menuju Sylph. Hazama kembali mengambil langkah maju untuk melindungi Sylph dan menahan tendangan Rigel. Kali ini, dia tidak lagi terhempas karenanya.
"Lightning Arrow!" Yuri menembakan beberapa panah petir dan membuat Rigel mengambil langkah mundur untuk menghindar.
Rigel dengan cepat melompat menuju Hazama, dia sudah mengulurkan tangan kiri buatannya yang perlahan bersinar ke emasan. Hazama sedikit terkejut karenanya, namun dalam sepersekian detik, sebuah tongkat panjang dan besar jatuh tepat di punggung Rigel dan menghentikan pergerakan sepenuhnya.
Petra bergumam, "Tongkat ini..." selagi memandangnya. Dia mengenalinya dengan jelas, bentuk dan rupanya. Sebuah tongkat yang dapat memanjang, memendek, mengecil dan membesar semaunya. Tentu hanya satu orang yang akan terpikirkan olehnya.
Di saat yang bersamaan, seseorang turun dari ujung tongkatnya dan mendarat di antara Rigel dan Hazama.
"O-Ozaru?? kau sudah sadarkan diri?" Hazama menjadi orang pertama yang bereaksi.
Seekor Monyet— Manusia setengah Monyet yang tampan telah memasuki arena pertarungan. Dia kini tidak lagi terlihat seperti seekor Monyet, dengan bulu dan ekor panjangnya yang di potong. Sekarang dia hanyalah seorang pria tampan yang hanya mengenakan celana panjang.
Ozaru mengabaikan orang-orang yang menatapnya dengan kejutan, dia berjalan menuju Rigel yang berusaha membebaskan diri dari tongkatnya. Ozaru menundukan tubuhnya dan menempelkan jari telunjuknya di dahi Rigel.
"Qu Shuijiao." Telunjuknya bersinar keemasan dan perlahan Rigel yang memberontak mulai melemah dan akhirnya telah berhenti sepenuhnya. Tidak ada yang tahu apa yang di lakukan Ozaru padanya, namun nampaknya itu bekerja dengan baik.
Ozaru dengan segera mengecilkan kembali tongkatnya dan membopong tubuh Rigel di bahunya. Dia langsung menatap Sylph dan Pahlawan lain, "Kalian sebaiknya segera pergi dari sini. Lautan sebentar lagi akan runtuh dan kembali ke semula. Bergegaslah jika sayang nyawa."
Ozaru berbalik dan melompat keluar dari dasar lautan yang terbelah. Saat dia mencapai permukaan, sebuah awan keemasan datang menjemput dan membawanya pergi.
Hazama menatap kepergiannya dan bergumam, "Dia... Ada sesuatu yang berubah darinya."
Tidak hanya Hazama, tetapi Pahlawan lain juga merasakan perbedaan yang sangat jelas antara Ozaru yang dulu dan sekarang. Ozaru yang sekarang tampak jauh lebih berwibawa dan bijaksana. Bahkan wajah dan tingkah laku konyolnya seakan menghilang tanpa jejak sama sekali. Namun mereka memutuskan untuk memikirkan itu nanti, karena dinding di sisi mereka sudah mulai runtuh. Sylph dan Pahlawan lain akan kembali ke tempat mereka di tugaskan masing-masing dan menunggu Rigel sendiri yang memberikan kabar.
Lautan kembali ke asal semula tepat saat Pahlawan lain pergi. Nampaknya suhu lautan masih cukup tinggi karena Matahari yang di jatuhkan Rigel. Saat ini, Ozaru tengah menuju Region selagi membawa Rigel di punggungnya. Ozaru sedikit melirik Rigel yang tidak sadarkan diri.
"Nampaknya kau tidak akan sadar dalam waktu dekat, ya. Maaf karena aku bangun sedikit terlambat, Rigel. Namun, kau sudah berjuang keras selama ini, serahkan saja sisanya kepadaku. Akan ku lindungi orang-orangmu di bawah pengawasanku." Ozaru kembali menatap ke daratan di depannya, Region.
Tidak butuh waktu lama untuk Ozaru mencapai istana Region. Dia dapat melihat bahwa semua orang sangat sibuk saat ini. Di mulai dari membereskan mayat pejuang yang gugur serta perbaikan bangunan yang tidak merata. Ozaru mengambil tongkat dan Rigel lalu melompat dari awan Kinton. Dia berjalan menuju ruangan dalam yang tampak kacau. Orang-orang tengah sibuk dengan tugas mereka, sehingga mereka tidak ada waktu untuk memberikan hormat kepada Ozaru. Tidak jauh di depan sana, dia melihat Merial yang kelelahan sedang memberikan instruksi kepada semua orang.
Di lihat dari kondisinya, dia tampak sangat kelelahan dan bisa jatuh pingsan kapanpun. Ozaru berjalan ke arahnya, Merial menyadari kehadirannya dan seseorang yang berada di punggungnya.
"Tuan Ozaru, Tuan Rigel!" Merial hendak berlari menghampirinya, namun dia tersandung karena tidak memiliki cukup banyak tenaga tersisa.
"Tidak perlu memaksakan dirimu. Dia baik-baik saja, mungkin dia tidak akan sadar untuk beberapa lama. Sebelum kau beristirahat, bisakah kau ceritakan keadaan yang terjadi semenjak aku mengamuk? Namun sebelum itu antarkan aku ke ruangan untuk menaruh Rigel."
Merial menatap Ozaru dengan terkejut. Sesuatu telah berubah di dalam diri Ozaru, padahal seharusnya Ozaru bukanlah orang yang tertarik dengan hal semacam itu. Karena kharisma dan wibawa Ozaru saat ini, Merial tidak dapat mengatakan apapun selagi mengangguk dan mengantarkannya ke ruangan kosong.
Ozaru telah membaringkan Rigel, kini saatnya dia mendengarkan cerita dari Merial tentang peristiwa apa saja yang terjadi semenjak Ozaru tidak sadarkan diri dari hari pertarungan melawan Tortoise. Merial dengan patuh menjelaskan kejadian apapun dengan detail tanpa ketinggalan satupun. Tentunya dia tidak memberitahu apapun mengenai pembangkitan Pahlawan kepada Ozaru.
Setelah selesai menceritakan keadaan, Merial sedikit ragu jika Ozaru akan memahami apa yang dia baru saja ceritakan. Ozaru memejamkan matanya dan membukanya dengan cepat selagi mengangguk-angguk.
"Aku mengerti garis besarnya. Kau dan Asoka bertarung melawan iblis bertangan empat itu dan saat ini Asoka tengah pingsan karena kelelahan. Nisa juga telah terbunuh, lalu sebagian besar pejuang berada di luar negara ya." Ozaru membuat kesimpulannya dan menyentuh dagunya.
"Apakah kau tahu cara mengendalikan hal aneh yang di sebut Ciel oleh Rigek?"
Mendengar itu, Merial mengangguk, "Ya, saat ini nampaknya Leo sedang mengendalikannya. Aku bisa menghubunginnya dengan alat kecil ini." Merial menyerahkan radio kecil itu kepada Ozaru.
"Bagus, hubungi lah dia untuk segera menemuiku di ruangan tahta. Kau beristirahatlah, sisanya serahkan saja kepadaku." Ozaru dengan acuh berbalik dan melangkah pergi.
"A-anu! mungkin terdengar tidak sopan aku menanyakan ini, tetapi—" Ozaru menghentikan Merial dan tahu apa yang hendak dia tanyakan kepadanya.
Wajar saja bagi Merial untuk tidak percaya terhadap Ozaru yang di kenal dengan tingkah lakunya yang bodoh. Ozaru berbalik dan menatap Merial, senyuman lembut tumbuh di bibir Ozaru.
"Tenang saja. Raja kera yang sesungguhnya baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Semua akan baik-baik saja, beristirahatlah." Ozaru langsung berbalik dan meninggalkan Merial di ruangan Rigel.
Meski masih sedikit bingung dengan perubahan karakter Ozaru, Merial sendiri mau tidak mau harus mempercayainya. Dia belum pernah melihat Ozaru seperti itu dan nampaknya tidak masalah menyerahkan ini kepadanya dan Leo.
Sesampainya di ruang tahta, Ozaru melihat seorang bocah demi human yang terlihat sedikit tegang. Ozaru menghampirinya.
"Jadi kau, Leo. Mulai saat ini aku yang akan mengambil kendali sementara atas negara ini." Mendengar itu, Leo sedikit bingung dan tidak mengerti maksudnya. Selama ini dia hanya berfikir bahwa Ozaru hanyalah orang bodoh, namun tidak terduga dia memiliki sifat semacam itu.
"Hubungi lah pasukan yang sedang berada di luar dan tarik mundur mereka. Perintahkan mereka untuk tetap menjaga komunikasi dengan Pahlawan lain."
Leo menyela, "Tu-tunggu! kenapa kau meminta pasukan untuk mundur?! jika iblis menyerang negara lain, bagaimana jadinya nanti?? akan ada banyak korban jiwa!" dia tidak setuju dengan Ozaru yang menarik mundur pasukan.
Ozaru tetap tenang dan akan menyelesaikan kesalahpahaman Leo secara perlahan, "Para Pahlawan telah tersebar rata, bahkan dua ratus iblis kecil tidak akan mengalahkan mereka. Selain itu, antara negara orang lain, dengan negaramu sendiri, mana yang jauh lebih penting?"
Mendengar itu, Leo dengan cepat menyerah. Dia dengan cepat memahami kesimpulan dari apa yang coba Ozaru sampaikan kepadanya, "Baiklah, aku akan melakukannya." dan begitulah, seluruh tentara Region telah di tarik mundur atas perintah Ozaru.