
"Terus maju!!"
Semua kesatria Kesatuan Tempur menyerbu maju dan menghadapi naga berdarah campuran yang menghadang mereka di awal. Satu tim yang beranggotakan sepuluh orang menangani masing-masing satu dari naga campuran.
Namun, apabila mereka bertemu dengan naga murni, maka diwajibkan ada minimal sepuluh tim yang membantunya untuk mengalahkan naga itu.
Saat ini, mereka telah menerobos masuk dan diluar perkiraan, pohon raksasa hanya berdiri di bagian depan saja. Bagian dalamnya tidak terlalu berbeda dengan pohon biasa, namun tanah berwarna ungu kehitaman dan daun-daunnya berwarna ungu membuatnya berbeda.
Kandungan Mana di hutan naga jauh lebih padat, bahkan lebih berlimpah dari hutan peri. Terutama pada tempat di kejauhan sana, tempat Acnologia mengundang Rigel dan Pahlawan lain.
"Bagaimana keadaannya??" tanya Rigel dengan tergesa-gesa.
Kini dia dan Pahlawan lain tidak langsung menerobos maju untuk menerima undangan Acnologia, mereka lebih memilih menunggu beberapa waktu untuk melihat keadaan para kesatria.
"Sisi kiri kini menghadapi sebelas campuran, namun nampaknya tidak ada masalah berarti!" jawab Gahdevi yang tengah membantu sisi kiri.
"Sisi kanan juga sama!" tukas Alexei.
Dari sini, dia menyadari bahwa hanya naga campuran saja yang akan mereka temukan di garis depan. Bila perkiraannya benar, naga murni berada sedikit lebih jauh di depan sana, namun bisa juga...
"Tuan! Seekor naga murni mendekat! Perkiraan dia adalah naga angin!"
Mendengar seruan Evankhell, semua menatap kemana dia memandang. Terdapat seekor naga hijau yang dua kali lebih besar dari campuran bermanuver di langit dan mengirimkan angin tajam menuju mereka.
"Berlindung!!" Hazama berteriak dan mengambil langkah maju, menghadang serangan yang ada.
Meski berhasil meminimalisir kerusakannya, namun terdapat serangan lain yang lepas. Aland tentu membantu mengurus sisi lain, namun tidak semuanya berhasil di tahan. Alhasil, pohon dan kesatria dalam zona itu terpotong rata.
"Argh!"
Rigel menyilangkan tangannya untuk menghindari debu mengenai matanya. Dia menggigit giginya dengan kuat, merasa marah akan teriakan kematian yang terjadi di sekitarnya akibat satu serangan.
"Berapa yang mati?!"
"Sekitar dua tim!" tukas Ozaru, mencegah angin mengenai matanya. "Berhati-hatilah! Dia hendak mendarat!!"
Dua tim, yang berarti ada sekitar dua puluh orang mati dalam satu serangan. Bahkan dengan armor dan perlengkapan tingkat atas yang terbuat dari tulang malapetaka, hal itu tidak membuat mereka menjadi sulit untuk dibunuh. Terdapat bagian yang tidak dilindungi oleh armor, leher misalnya.
"Maka besar! Sudah sangat lama aku tidak membunuh manusia, sekarang mari kita buat sup daging untuk malam ini!"
Melontarkan perkataan super mengerikan, naga itu menggunakan cakarnya untuk mengirimkan bilah-bilah angin yang memotong apapun di sekitarnya.
"Tidak akan kubiarkan!"
Aland mengirimkan palu raksasa dan menghantam seluruh serangan yang diberikan naga itu. Di lain sisi, Ray dan Nadia berlari dari dua sisi berbeda dan melompat tinggi, bersama-sama memenggal kepalanya tanpa banyak usaha.
Naga murni yang membunuh dua puluh orang dalam sekejap ditumbangkan dengan sangat mudahnya oleh para Pahlawan. Bagi kesatria yang melihatnya, tanpa keraguan jantung memompa semakin cepat dalam kegembiraan.
"He-hebat...," tukas salah satu kesatria selagi terperangah karena pemandangan di depannya.
"Para Pahlawan benar-benar berada di tempat yang berbeda dengan kita."
"Satu campuran saja bisa mengancam kita, namun naga murni seakan tidak ada apa-apanya dihadapan mereka."
"Jangan bengong, pertarungan belum berakhir!" Rigel menegur mereka dan membuatnya kembali tersadar untuk fokus ke medan tempur.
Sejauh ini pertempuran masih dapat ditangani, namun jika para murni berbondong-bondong kemari, akan sulit bertahan dengan jumlah banyak. Bila satu mampu membunuh dua puluh dalam sekejap, maka tidak ada pilihan selain menghabisi mereka tanpa pandang bulu.
"Sepertinya naga murni sengaja berpencar dan menunggu di hutan dalam selagi menunggu pasukan yang menghampirinya. Cerdik dan menyebalkan,ya..." gumam Rigel, mendecakan lidahnya.
Naga adalah monster cerdas, sepertinya hal itu bukanlah kebohongan belaka. Nyatanya mereka memilih menunggu di kedalaman hutan karena pastinya para kesatria sudah lelah lebih dulu ketika melawan naga campuran.
Namun, ada kemungkinan kecil yang terpikirkan dalam kepala Rigel. Kemungkinan itu muncul berkat naga murni yang dibunuh Ray dan Nadia sebelumnya.
Daripada menunggu diam seperti yang lainnya, dia memilih menyerang langsung dengan gegabah. Entah bodoh atau ketidak sabaran, yang manapun tidak masalah.
"Dengan keadaan seperti ini, tidak mungkin kami dapat langsung menuju tempat Acnologia. Selain itu—"
Kiiiiieeeeekkkkk!!
Seekor naga kecil memekik dan terbang langsung menujunya dan hendak mengoyak Rigel dengan taring dan cakar miliknya. Namun, tanpa perlu menoleh dia menciptakan puluhan duri besi yang menusuk langsung naga itu dan membunuhnya tanpa susah payah.
"Berisik! Jangan ganggu aku saat berpikir..." gumamnya dengan jengkel selagi menarik rambutnya.
"Sial, aku jadi lupa pemikiran bagus sebelumnya."
Dengan perasaan kesal dalam dada dia menerjang ke naga yang berkumpul dan membantu para kesatria yang kesulitan. Tidak perlu bersusah payah membunuh mereka, sambil menguap juga dapat dikalahkan.
"Sial, apakah kita harus menuju tempatnya langsung atau membantu di sini dulu??" tanya Takumi selagi membunuh satu ekor Wyvern.
"Sepertinya begitu, buktinya Rigel tidak meminta kita langsung menuju ke sana," tukas Ozaru, melompat tinggi dan menghancurkan kepala naga di dekatnya.
Rigel berlari dan melompat, menghancurkan tengkorak kepala naga yang dia temui dan menjadikannya sebagai pijakan untuk melompat ke naga lainnya. Tanpa penundaan sedikitpun, dia terus membunuh naga yang ada di hadapannya.
"Hebat..., Enam, atau bahkan tujuh dibunuhnya dalan satu gerakan. Aku bahkan sama sekali tidak memikirkan para Pahlawan dapat terluka."
"Yea, jika kekuatan masing-masing dari mereka segila itu, kupikir Ragnarok tidak akan ada apa-apanya."
"Seperti yang diharapkan dari Pahlawan! Benar-benar kuat nan tak tertandingi!!"
"Sepertinya tidak sia-sia aku berpartisipasi dalam raid untuk melihat kemampuan para Pahlawan, meski nyawa taruhannya."
Mengabaikan serangkaian pujian yang dia terima dari para kesatria, Rigel menjadikan naga yang kepalanya dia ledakan dengan Mana sebagai pijakan untuk melompat tinggi.
Dengan ketinggiannya itu, seluruh hutan dapat dengan jelas dia lihat, termasuk keberadaan para naga murni yang tersebar luas. Jumlahnya terlihat lebih sedikit dari yang dia bayangkan, bahkan mungkin kurang dari 150 ekor.
Lantas dia menatap gunung— gua besar yang dia lihat di gunung dan menemukan satu ekor naga besar yang dikelilingi energi ying dan yang.
"—kita berikan dia sambutan hangat, Material Buster!!"
Menembakkan kekuatan kuat dari kedua tangannya, langit bersinar sedikit keemasan berkatnya. Serangannya ditembakkan langsung menuju naga itu—Acnologia.
Meskipun serangannya ini berbasis cahaya dan dapat dengan mudahnya ditangani oleh Acnologia. Rigel sama sekali tidak berharap dapat melukainya dengan ini. Dia hanya ingin memberikan salam bahwa dia akan datang kepadanya tidak lama lagi.
Dari kejauhan, Rigel dapat dengan jelas melihat bahwa serangannya diserap olehnya dan Acnologia dengan wujud yang nampak seperti robot duduk bersila menantikan kedatangan Rigel.
"Jauh dari bayanganku. Aku tahu bahwa dia dapat berjalan layaknya manusia, namun..., wujudnya lebih mirip dengan manusia yang menggunakan setelah robot serta sayap hitam legam..." gumamnya selagi melakukan pendaratan.
"Rigel!"
Jauh di sisinya, Takumi dan Yuri berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa. Beberapa noda darah terlihat menempel pada wajah dan pakaian mereka, jelas bahwa mereka juga membunuh naga seperti halnya Rigel.
"Para naga campuran terus saja berdatangan, tidak ada habisnya sama sekali. Bahkan beberapa dari mereka sangatlah kuat untuk ditangani para kesatria!" tukas Takumi.
"Kemungkinan besar mereka memiliki gen naga murni yang mendominasi. Selain itu, aku menyaksikan bahwa naga yang tersebar perlahan berkumpul di titik ini, tempat kita berada. Apa yang harus dilakukan??"
Yuri memiliki pengelihatan cukup bagus. Bila itu yang dikatakan olehnya, maka itulah kebenarannya. Gadis sepolos Yuri tidak akan pernah bisa memiliki pemikiran untuk menipu dikondisi ini.
Meski begitu, tidak ada jejak khawatir ataupun wajah bermasalah. Rigel tetap pada wajah pokernya yang sama sekali tidak berubah, sedikitpun tidak. Baginya situasi ini tidaklah membahayakan sampai perlu baginya untuk khawatir.
Kendati ada situasi yang benar-benar terbilang bahaya, hal itu hanya akan terjadi saat beberapa tamu yang tidak diinginkan berada di tempat ini. Jika begitu, tidak diragukan lagi langkah sulit harus diambil. Yang terburuknya, dia harus mengorbankan semua kesatria Kesatuan Tempur. Bahkan mungkin Kandidat Kaisar selain Asoka.
Bila memang diperlukan, tanpa keraguan dia akan mengorbankan mereka. Selama orang-orang itu bukanlah orang-orang yang dia kasihi.
"Apa yang perlu ditakutkan, berkumpulnya mereka adalah kabar baik. Paruh pertama belum berakhir, sampai waktu ketika mereka berkumpul, maka pertarungan paruh kedua baru akan dimulai."
Yuri dan Takumi memiringkan kepalanya, jelas tidak tahu apa yang coba Rigel sampaikan kepada mereka. Berkumpulnya para naga yang terpencar adalah situasi yang buruk, lantas mengapa dia mengatakan tidak perlu khawatir?
Apa yang dia pikirkan, maka hanya dia seorang saja yang mengetahuinya. Sulit untuk memperkirakan dan menebak apa yang dipikirkan oleh Rigel.
"Sampai ketika aku memerintahkan untuk menuju sarang naga goblokk itu, jangan coba-coba menantangnya. Selain itu, diamnya dia selagi kita membantai pasukannya patut dicurigai."
Rigel tidak benar-benar perduli jika prajurit dari pihaknya atau lawan musnah semua. Untuk apa perduli kepada nyawa orang-orang asing, dia cukup mempersempit keperdulian kepada mereka yang dikasihi.
Diamnya Acnologia bisa menjadi racun bagi pikirannya. Dia benar-benar tidak tahu apakah Acnologia memiliki rencana atau tidaknya. Benar-benar tidak nyaman namun diuntungkan di sisi lain.
"Namun bagaimana dengan naga yang tengah menuju kemari? Haruskah kita bertindak dan membunuh mereka??" tanya Yuri, nampak jelas khawatir. Alisnya berkerut risau, marah disisi lain.
"Tidak perlu dikhawatirkan. Untuk saat ini, aku masih memegang kendali, jadi tidak ada masalah."
Yuri sedikit terbelalak akan perkataan tanpa keraguan Rigel. Alis matanya perlahan mengendur, namun kerisauannya tidak menghilang.
Apanya yang memegang kendali? Justru dengan berkumpulnya para naga membuat mereka berada di situasi paling mengerikan.
Seakan menyadari sesuatu, Yuri dengan canggung-cangung mengatakan—
"—apa kau berencana mengorbankan Kesatuan Tempur? Seluruh pejuang yang dengan berani ikut andil dalam raid ini??"
Takumi yang pada awalnya hanya menyimak ikut terkejut dengan hal yang ditemukan Yuri. Dari isi pidatonya yang menantang Dewa dan menanamkan rasa untuk tidak takut akan kematian memperkuat omong kosongnya.
"Apa itu...—benar Rigel?"
Keheningan, sepenuhnya keheningan diantara mereka. Rigel hanya diam membatu, tidak menjawab ataupun bergeming.
Dibilang tidak benar, salah. Namun dibilang benar, tidak sepenuhnya benar. Dia bingung harus menjawab seperti apa agar mereka mengerti.
"Mengapa kau diam? Jawab aku, Rigel..." suara Takumi sedikit bergetar, takut akan hal yang dia takuti terjadi.
"—Yea," jawab Rigel secara singkat, menatap langsung ke mata Takumi dan Yuri yang bertahap penuh kejutan. "Namun tidak sepenuhnya benar ataupun salah."
"Aku tidak berniat mengorbankan nyawa para prajurit, namun bukan berarti tidak memiliki rencana untuk melakukannya. Aku akan mengorbankan mereka ketika waktunya tiba, dimana ini akan menjadi langkah tersulit yang pernah kuambil."
Memang bukan langkah final, para Kesatria yang ada hanyalah salah satu pion yang dibutuhkannya untuk bertaruh pada rencana yang entah berhasil atau tidak.
Melihat reaksi yang dimiliki Takumi dan Yuri, mereka jelas tidak percaya akan kata-katanya. Seakan mereka tidak pernah tahu bahwa orang yang telah lama bersama mereka bisa bertindak begitu keji. Ketimbang memberikan mereka rasa khawatir yang tidak diperlukan, alhasil memberikan bagian dari rencananya pada mereka menjadi jalan satu-satunya.
"Sejauh ini, maksimal hanya tiga rune yang kugunakan di tangan kanan ini. Namun bukan berarti aku hanya bisa menggunakan tiga saja."
Rigel mengangkat tangan kanannya dan menatap dengan tatapan kosong. Dia tidak ingin menggunakannya, bahkan tidak mengharapkan memilikinya. Setiap kali dia menggunakannya, sesuatu di hatinya menghilang. Meskipun begitu, seringkali dia bergantung pada Void, kekuatan yang bukan miliknya.
"Tahap empat dari kekuatan ini dapat memberikanku kekuatan berlimpah dengan cara menyerap energi kehidupan di sekitarku. Atmosfer, tumbuhan, monster, bahkan manusia sekalipun dapat menjadi tumbalnya. Aku telah menyerap energi dan menyimpannya baik-baik, namun hal itu mungkin masih belum cukup."
"Kekuatan seperti itu..,—darimana kamu mendapatkannya?" tanya Yuri dengan gentar dan sedikit takut. Kekuatan yang menyerap energi kehidupan atau terbilang nyawa mahkluk hidup. Sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki manusia.
"Sebenarnya hal seperti apa yang telah terjadi padamu, Rigel??" Takumi terlihat sedih, seakan melihat beban di pundak temannya itu.
"Tidak penting darimana dan apa yang terjadi padaku. Nyatanya kekuatan ini sangat sering membantuku, meski terdapat keganjilan. Namun, bila itu untuk melindungi mereka yang aku kasihi, mengotori tangan dengan darah hanyalah perkara kecil. Bahkan jika perlu mengorbankan jutaan nyawa, akan kulakukan dengan lapang dada."
"Aku tidak tahu apakah dengan menggunakan tahap empat dapat membawakanku kemenangan. Karena itulah, rencana ini menjadi pertaruhan terakhir yang bisa kumiliki. Tentunya, bilamana kita berada di keadaan terpojok dan jatuh dalam keputusasaan. Demi menghindari hal itu, aku meminta kalian untuk mengerahkan segalanya agar pertaruhan ini tidak pernah terjadi."
Tidak akan ada kemenangan tanpa pengorbanan, itu yang coba Rigel tekankan kepada Takumi dan Yuri. Kemenangan tidak akan bisa diraih jika tidak ada oranh yang mengotori tangannya dengan darah dan dosa.
Mengulurkan tinjunya kepada dua orang yang lama dia kenal, Rigel menunjukkan senyuman yang seolah kesepian.
Takumi dan Yuri saling memandang satu sama lain. Beberapa bagian nampak ditutupi, namun yang mereka lihat saat ini hanya Rigel yang meminta bantuan dengan tulus.
Mengabaikan segala pemikiran, kecurigaan dan ketidak percayaan, mereka berdua tersenyum. Mereka memberikan tinju mereka ke tangan Rigel sebagai persetujuan.
"Ada beberapa hal yang membuatku penasaran, namun akan kuabaikan. Aku akan menolongmu, kawanku." tukas Takumi, tersenyum dengan sangat riang.
"Yeah, lagipula kita telah saling mengenal lama satu sama lain. Bisa dibilang, kita sahabat lama atau semacamnya, deh. Aku juga akan membantu."
Mendengar perkataan mereka membuat bibir Rigel melengkung senang. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Rigel mensyukuri memiliki mereka sebagai sahabat.