
Setibanya di tepi laut Region, Karaka di sambut dengan senapan mesin otomatis yang menembakinya. Bawahan yang bersamanya melompat di depan Karaka dan membuat sebuah sihir pertahanan. Sihir itu cukup kuat untuk menahan gelombang satu dan dua, namun saat gelombang ke tiga, sihir itu perlahan retak dan hancur. Iblis itu menjadikan tubuhnya sebagai perisai hidup Karaka.
"Jadi itu memang bukan sihir ya... Pantas saja sihir pertahanan biasa tidak akan sanggup menahan banyak dari benda aneh itu. Hahahaha, menarik! benar-benar menarik!" Karaka tertawa gembira selagi di lindungi oleh tubuh bawahannya yang sudah berlubang dan hampir mati.
Karaka sama sekali tidak perduli dengan nyawa bawahannya itu karena dengan mengorbankan nyawanya, mereka bisa jadi sedikit berguna. Selain itu, meski tanpa hadirnya bawahan yang menjaganya, Karaka cukup kuat untuk mengacaukan sebuah benua seorang diri.
Karaka merentangkan ke empat tangannya dan menepuk nya secara bersamaan. Hembusan angin yang sangat kuat muncul dari tepuk tangannya. Saking kuatnya, tembok Region yang terbuat dari beton hancur saat berhadapan dengan Karaka. Tubuh bawahannya juga terhempas bersama tembok besi yang ada di depannya.
Pintu masuk telah terbuka, tentu karena Karaka yang membuat pintu itu sendiri. Dalam sekejap, pasukan militer yang datang ntah dari mana sudah mengepung Karaka dari atas dinding. Di sana berdiri seorang gadis yang memimpin pasukan, "Taruh tanganmu di atas kepalamu! kau sudah terkepung, menyerahlah tanpa perlawanan." Nisa memberikan tatapan sinis terhadap Karaka.
Para prajurit mengacungkan Riflle mereka ke arah Karaka dan akan menembak kapanpun Karaka melakukan gerakan tidak perlu.
"Seorang gadis, ya? apakah kau Pahlawan yang memimpin tempat ini? Tidak. Sepertinya bukan dirimu, kau terlalu lemah tidak seperti yang di katakan Lucifer." Karaka mendesah karena kecewa. Dia langsung menatap Nisa dan prajurit lainnya dengan geli.
Dia berfikir bahwa gadis ini mungkin memiliki setidaknya hubungan baik dengan Pahlawan itu. Dia bisa bermain-main sedikit.
"Hahaha, tidak ada hal yang bisa membuatku patuh terhadapmu... Sekarang, bagaimana kalau kita langsung saja? aku benci menunggu soalnya..."
Mendengar itu, Nisa dan prajurit lainnya bersiaga dengan kata-kata Karaka. Bisa tahu bahwa iblis yang bisa menghancurkan tembok terkuat Region bukanlah seorang iblis biasa. Nisa tidak tahu siapa dia, yang jelas dia bukanlah salah satu dari pilar iblis. Namun kekuatannya mungkin setara dengan mereka.
"Tembak!" Nisa tanpa ragu meminta para para prajurit untuk menembak. Jika pemikirannya benar, hal ini bukan apa-apa bagi iblis bertangan empat itu.
Ratusan hujan peluru menghampiri Karaka dengan cepat. Namun di mata Karaka, waktu seakan berjalan lambat dan dia tersenyum lebar. Karaka dengan kuat mengepalkan ke empat tinjunya dan saling menghantamkan nya satu sama lain. Dia menciptakan gelombang udara aneh yang membuat laju peluru itu berhenti dan berbalik menyerang para prajurit itu.
Melihat itu, Nisa langsung memerintah para prajurit untuk berlindung, namun reaksi para prajurit tidak secepat dirinya. Sehingga hanya dia seorang yang selamat darinya.
"Hehehe, cukup bagus, gadis kecil..." Karaka memuji dan menepuk tangan selagi satu tangan lainnya terulur seperti pistol, "Namun bagaimana dengan ini, gadis kecil? Matahari Neraka." Sebuah bola api kecil muncul di telunjuk Karaka dan meluncur ke arah Nisa dengan kecepatan yang lebih cepat ketimbang lajunya peluru Rifle.
Nisa berniat menahan serangannya itu, namun karena firasatnya menjerit keras, dia langsung menjauh dari jangkauan serangan bola api kecil itu. Begitu Nisa menjauh, bola api kecil itu menghantam dinding besi dan mengeluarkan ledakan kecil saat menghantamnya. Dinding besi langsung hancur dan meleleh, mungkin karena suhu api itu yang sangat panas. Beruntung bagi Nisa karena dia memilih menghindarinya.
"Hahahaha, bagus! bagus! gadis kecil. Kau memilih menghindarinya ketimbang menahannya. Padahal aku berharap kau tidak menghindar dan mati terbakar." Karaka sekali lagi bertepuk tangan.
Nisa tidak ingin terus menerus di serang, sekarng gilirannya menyerang. Nisa melompat dari dinding dan mengayunkan bola besi seukuran kepalan tangan yang tersambung dengan belatinya. Bola besi itu melesat menuju kepala Karaka, namun Karaka berhasil menangkap rantai yang tersambung dengan belatinya.
Karaka berpikir bahwa itu skak untuk Nisa, namun tak terduga rantai yang dia pegang sudah melilit tangannya itu dan Nisa menjadikan bahunya sebagai pijakan selagi berniat menusuk kepala Karaka.
Tidak menduga bahwa gadis kecil itu sudah berada di punggungnya dan hendak menusuk kepalanya, Karaka dengan cepat mengetahkan lengan lain dan meninju Nisa. Melihat tinju Karaka menuju ke arahnya, Nisa hanya melompat dan menarik satu tangan Karaka yang terlilit rantainya. Nisa langsung mengaktifkan rantai berduri miliknya dan membuat luka di satu lengan Karaka.
"Haha, hebat juga kau gadis kecil... Rantai ini bisa memabuang sampai ukuran tertentu dan dapat mengeluarkan Duri. Pasti Pahlawan itu yang membuatnya dengan material langka... Hahahaha, aku semakin ingin menemuinya, dimana dia sekarang? Padahal anak buahnya sedang dalam bahaya." Karaka berseru.
Begitu, jadi tujuannya sejak awal memang ingin bertemu Rigel, ya... Sayangnya aku tidak akan bisa bertahan melawannya. Aku harus mengulur waktu beberapa menit untuk tuan Rigel atau pasukan lain datang membantu.
Di karenakan dia sedang mengerjakan sesuatu, Rigel tidak bisa langsung turun tangan terhadap Karaka. Bahkan jika itu pilar iblis sekalipun, Rigel tidak dapat meninggalkannya.
Nisa berpindah tempat lagi dan melilitkan rantainya ke tangan lainnya. Karaka hanya dengan santai menghindar selagi mengulurkan tinjunya ke arah Nisa. Nampaknya Karaka masih ingin bermain-main dengan Nisa.
Dia berhasil melilit kedua tangan Karaka yang berada di sisi kiri, namun masih ada dua lagi yang harus di urus. Memilih mengatasi dua tangan terlebih dahulu, Nisa berputar dan mengayunkan belatinya dengan sangat kuat. Dia berpikir bahwa telah memotong lengannya, namun tidak terduga dia hanya berhasil menggores dagingnya saja.
"Terkejut ya? seranganmu hanya membuatku geli... Beginilah yang di namakan serangan!" Karaka mengulurkan kaki kirinya dan menendang Nisa sampai membuatnya terhempas jauh ke dalam hutan.
Nisa menghantam pepohonan dan memuntahkan darah dari perutnya. Dia berusaha sangat keras untuk mencoba kembali berdiri dan menghadapi Karaka sebelum dia masuk lebih jauh dari ini. Tubuhnya lemas, isi perutnya terasa seperti keluar dari tubuhnya, beberapa tulang rusuknya patah hanya dengan satu tendangan Karaka.
"T-tidak akan.... k-ku b-biarkan kau masuk ke Region!" Nisa kembali berdiri dan melesat menuju Karaka dengan kecepatan penuh.
Dia menikam kan pisaunya, Karaka menahannya dengan mengulurkan pergelangan tangannya dan membiarkannya tertusuk. Nisa mencabut kembali belatinya dari tangan Karaka.
"Stealth!" tubuh Nisa dan hawa kehadirannya langsung menghilang saat dia menggunakan skill khusus untuk membunuh.
Karaka berhenti bergerak dan berusaha mencari keberadaan Nisa yang tidak terlihat. Dia menatap sekelilingnya seperti orang yang benar-benar tidak merasakan kehadirannya. Saat Nisa mencoba menusuk dari belakang, Karaka tersenyum dan meraih leher Nisa.
"U-ugh!" Nisa tidak bisa bernafas karena di cekik Karaka. Dia berulang kali menusuk tangan Karaka dengan belatinya, namun itu tidak cukup untuk membuat Karaka mengurangi kekuatannya.
"Hahaha, kau cukup bagus untuk seorang gadis kecil. Namun, jika kau tidak ingin orang benar-benar mengetahui keberadaanmu, sembunyikanlah niat membunuhmu dan segala perasaan dalam dadamu. Aku dapat merasakan dengan sangat jelas niat membunuhmu sehingga tidak sulit bagiku menemukanmu." Karaka menyeringai kepada Nisa yang melepaskan senjatanya dan berusaha melepaskan cengkraman Karaka dengan tangannya.
Karaka tidak mengurangi atau menambah kekuatannya. Dia sangat menikmati melihat Nisa tersiksa dan berjuang melepaskan diri dari tangannya. Jika dia mengerahkan sedikit saja tenaganya lagi, leher Nisa di jamin akan patah dan itu tidak menyenangkan bagi Karaka.
"Tujuanku ke sini adalah memprovokasi Pahlawan itu dan membuatnya marah sampai benar-benar ingin membunuhku... Selain membunuhmu, aku akan melakukan penghinaan pada jasadmu." Karaka tersenyum dan melepaskan armor lalu pakaian Nisa.
*Cruch!
Lengannya yang mencekik Nisa terpotong oleh pria berambut putih yang menatap dengan penuh kemarahan. Ray yang datang bersamanya melepaskan tangan Karaka dan membawa Nisa pergi. Karaka tidak perduli lagi dengan gadis itu, meski baru pertama kali melihatnya, dia langsung tahu siapa pria itu.
"HAHAHAHAH! Akhirnya kau datang, Pahlawan! Senang bertemu denganmu, mari kita saling bunuh membunuh!" Karaka tertawa dengan sangat bahagia saat Rigel muncul dan memotong salah satu lengannya.
Rigel mengabaikannya dan berputar lalu menendang Karaka sampai terhempas kembali ke tepi pantai. Karaka merasakan sakit di perutnya, namun dia malah terlihat senang. Lucifer tidak salah, Pahlawan ini mungkin yang akan menjadi perwakilan manusia saat perang. Adrenalin Karaka mulai meningkat dan dia merasa akan gila kapanpun.
Rigel langsung memulihkan tembok yang hancur dalam sekejap dan berdiri di atasnya. Dia menatap Karaka dengan kemarahan dan kebencian yang membuat Karaka kegirangan.
"Akhirnya aku dapat bertemu denganmu, Pahlawan. Kau terlihat lebih muda dari yang—" Ucapan Karaka di potong oleh Rigel.
"Diamlah," Rigel berkata dengan sangat dingin, "Sampah kurang ngajar dan lancang sepertimu tidak pantas menginjakan kaki di tanahku." Rigel mengulurkan tangan kirinya menunjuk Karaka, mata Rigel berkilau biru.
Lautan di belakang Karaka mulai bergejolak dan mengamuk seakan merespown kemarahan Rigel. Karaka menatap bingung lautan, dia merasa bahwa itu bukan fenomena alam biasa. Melainkan sesuatu menggerakannya. Karaka menatap Rigel kembali.
"Enyahlah..." Rigel berkata dengan dingin dan sesaat kemudian, Karaka merasakan dingin di punggungnya.
*Graoorrrrrr.......
Monster raksasa berkepala dua muncul dari lautan dan berdiri tepat di belakang Karaka. Monster berkepala dua, Hydra. Lautan di belakangnya mulai membentuk Duri dan siap menyerang kapanpun. Karaka melihat monster di belakangnya yang membuatnya sedikit merinding. Dia terkejut dengan apa yang dia lihat dan tersenyum lebar.
"Keheheh, ternyata kau memang benar-benar sesuatu, Pahlawan! Bahkan sekali lihat aku langsung tahu. Monster ini merupakan monster yang kau bangkitkan menggunakan Necromacer!"
Karaka belum pernah merasa sebahagia ini. Dia mungkin akhirnya telah menemukan lawan yang benar-benar membuatnya merasakan apa itu pertarungan sesungguhnya.
"Hei, Pahlawan... Aku Karaka, pejuang dari Neraka. Sebutkan lah namamu." Karaka bertanya dengan senang.
"Amatsumi Rigel. Ingatlah itu baik-baik saat kau kembali ke neraka."
Karaka menggumamkan nama Rigel dan bersamaan dengan itu, Hydra menelannya dan membawanya pergi ke lautan jauh. Rigel tahu bahwa dia tidak akan mati hanya dengan hal itu, namun setidaknya dia bisa menjauh dari Region saat ini. Medan perang Rigel dengan Karaka akan di tunda saat ini karena ada banyak hal mendesak untuk di lakukan. Rigel langsung beralih ke tempat Nisa yang di bawa pergi oleh Ray.
Rigel pergi dengan teleport dan dengan cepat sampai ke tempat Ray membawa Nisa. Keadaannya cukup parah, memar dapat terlihat jelas di leher Nisa dan beberapa di tubuhnya.
"Bagaimana keadaannya?" Rigel bertanya kepada Misa yang sedang mengobati saudara kembarnya selagi menangis.
"Buruk... Dia sedang kritis saat ini... Bahkan jika aku menghentikan penyembuhan sesaat, keadaannya akan semakin memburuk." Misa menjelaskan keadaan Nisa saat ini.
Ray juga terlihat prihatin namun dia langsung pergi kembali ke tempat Asoka karena keadaan sedang sangat mendesak. Bahkan Rigel tidak bisa membuang waktunya, namun jika dia tidak segera menolong Nisa, kemungkinan dia akan mati.
Rigel menghampiri Nisa dan menuangkan potion penyembuhan tingkat tinggi yang dia buat. Perlahan, kondisi Nisa membaik, namun bukan berarti dia keluar dari masa kritisnya. Tidak berhenti sampai di situ, Rigel langsung menggunakan skill penyembuhan yang dia miliki. Setidaknya dia harus membantu Nisa keluar dari masa kritisnya.
Beberapa menit berlalu dan akhirnya Nisa berhasil keluar dari masa kritisnya namun dia masih belum sadarkan diri. Untuk sekarang, Rigel akan kembali ke ruang control dan memantau keadaan saat ini.
"Aku akan kembali ke ruang kendali, aku serahkan Nisa kepadamu."
"Ya... Terima kasih karena telah membantuku merawat Nisa di masa sulit ini, Rigel."
Rigel hanya mengangguk dan berteleport ke ruang kendali. Di sana, dia melihat Leo sedang melakukan pekerjaannya, yaitu memantau wilayah. Sekarang Rigel meminta perluasan pemantauan yaitu sejauh lima kilometer.
"Leo, bagaimana keadaan sekarang?" Rigel berjalan menghampiri Leo.
"Ayah! sejauh ini baik-baik saja dan juga, penyusup yang sebelumnya masih hidup, namun dia tidak kembali berjalan menuju Region." Leo menjelaskan situasi selagi memperhatikan radar.
"Begitu, teruskan kerja bagusmu dan jangan memaksakan diri. Jika kau merasa lelah, beristirahatlah dan biarkan Ciel menggantikanmu."
Leo hanya mengangguk dengan saran yang di berikan Rigel padanya. Rigel duduk di kursinya. Dia memikirkan pertemuannya dengan Karaka tadi. Dia berkata bahwa dirinya pejuang dari Neraka, dan nampaknya dia juga bukan salah satu dari pilar iblis yang ada. Meskipun hanya sekilas, Rigel dapat merasakan bahwa iblis itu kuatnya bukan main. Mungkin dia berada di atas Diablo.
"Kira-kira ada berapa banyak iblis sepertinya yang keluar dari gerbang dunia bawah? ini menjadi semakin merepotkan dengan meningkatnya kekuatan iblis." Rigel bergumam sendiri. Leo diam-diam menguping kata-kata Rigel tanpa perlu bertanya. Meski dia masih muda, Leo cukup pintar.
Rigel menghela nafas dalam, "Sepertinya aku harus menyiapkan kartu truf baru yang meningkatkan kekuatan tempur, ya..."
Sekarang, kekacauan sesungguhnya akan di mulai cepat atau lambat, sampai saat itu Rigel harus segera menemukan solusi yang pasti untuk masalah ini. Dia juga harus menghadapi Phoenix nanti. Prioritas saat ini adalah dengan menemukan gerbang dunia bawah dan menghancurkannya.