
Selagi terus berjalan menuju kastil yang di tinggalkan, Fang yang merupakan mantan komandan dari kerajaan Yurazania menjelaskan hal hal yang telah terjadi selama satu minggu saat Rigel tidak sadarkan diri.
Ringkasnya, saat Cold datang ke pulau ini dan mengungkapkan dirinya adalah pangeran Yurazania, Asoka Van Yurazania. Dia mengungkapkan jika dia meminta pertolongan kepada Pahlawan tombak dan Pahlawan Creator untuk membantunya membebaskan pulau Yurazania dari genggaman Hydra dan menjelaskan bahwa para Pahlawan telah berhasil membebaskan pulau ini.
Mendengar berita ini, semua warga dan beberapa tokoh penting yang di tinggalkan sangatlah bahagia. Mereka sudah bertahun-tahun tinggal di dalam tempat yang Rigel sebut terowongan dengan harapan jika keajaiban akan terjadi suatu saat nanti. Meskipun begitu, orang orang tidak di izinkan keluar sampai daerah luar benar aman dari monster yang tersisa.
Untuk Takumi, dia mengisolasi dirinya sendiri di sebuah tempat khusus yang dapat menekan aura kemalasannya selagi menyembuhkan diri. Nampaknya bayaran dari menggunakan kutukan pemalas lebih besar dari sebelumnya. Dari ceritanya, Takumi harus bisa mengikhlaskan penurunan levelnya. Levelnya kini telah menurun cukup banyak sampai sampai dia harus menetap di kisaran level tiga ratus. Namun, tidak hanya itu, banyak dari skill miliknya mengalami gangguan dan tidak dapat di gunakan untuk saat ini. Mudahnya, Takumi saat ini dalam kondisi terlemah. Untuk sekarang, kutukan kemalasannya telah berhasil di hilangkan setelah lima hari mengisolasi diri dan saat ini dia sedang menaikan level dengan memburu banyak monster di sini.
Untuk kabar lainnya, berita kekalahan Hydra telah tersebar melalui batu ramalan dan di sana tertulis jika Hydra di kalahkan oleh Creator Hero beserta Fraksi pendatang baru, Asoka Van Yurazania. Rigel sangat ingin mengetahui sebenarnya apa dan seperti apa batu ramalan. Rigel sekalipun tidak pernah melihat wujud dari batu ramalan itu... Batu ramalan mungkin akan menjadi hal yang di selidiki Rigel selanjutnya.
Lalu, hal yang membuat Rigel terkejut adalah dua belas pahlawan akan berkumpul untuk pertama kalinya di tempat Rigel mengalahkan Hydra untuk mengambil beberapa bagian tubuh dan meningkatkan serta membuka kemampuan baru dari senjata ilahi. Rigel benar benar tidak menduga ini, dia memang memiliki keinginan untuk melihat seperti apa wajah para pahlawan lain dan kesempatan itu datang dengan sendirinya.
Rigel mungkin sedikit kesal karena tidak memiliki senjata ilahi untuk menyerap tubuh Hydra. Jadi, mungkin Rigel tidak akan mendapatkan apapun selain point Exp karena mengalahkan Hydra. Yah, meski begitu Rigel berharap setidaknya mendapatkan Item drop yang bagus.
"Lalu dimana semua orang berada sekarang...??" Tanya Rigel kepada Fang.
"Ya... Saat ini, Tuan muda Asoka sedang mengunjungi makam Raja dan Ratu... Lalu, untuk Nona Merial, Tuan Ray, Nona Misa dan Nona Nisa sedang mempersiapkan jalan dan tempat untuk pertemuan para pahlawan di mayat Hydra sedangkan untuk pahlawan Tombak, dia sedang berburu di dalam hutan monster..."
"Begitu... Kalau begitu, lebih baik aku pergi ke tempat Merial dan yang lainnya..."
Rigel langsung memutuskan tujuannya. Rigel tidak ingin mengganggu Cold yang mungkin sedang menangisi makam orang tuanya. Untuk Takumi, Rigel ingin membiarkannya menaikan level agar dia dapat mengembalikan levelnya yang hilang. Mendengar tujuan Rigel, Fang tampak bermasalah dengan tujuannya.
"Maaf atas kelancanganku, Tuan Pahlawan... Lokasi tempat anda mengalahkan Hydra dan pulau ini jaraknya cukup jauh... Butuh sekitar tigapuluh menit berlayar menggunakan kapal..."
Rigel hanya tersenyum kepada Fang yang tampak sedikit takut saat dia memberikan Rigel peringatan.
"Tenang saja, aku punya solusi pergi kesana tanpa perlu menaiki kapal..."
***
Jauh di dalam hutan, terdapat sebuah tempat tinggi yang menghadap kerajaan Yurazania. Pemandangan lautan dan kerajaan akan sangat indah jika di lihat dari tempat itu. Disana, terdapat sepasang makam suami istri dan seorang pria yang sedang duduk berlutut di depan makam itu. Pria itu adalah Cold, yang identitas aslinya adalah putra mahkota dari kerajaan Yurazania dan makam yang berada di depannya adalah makam ayah dan ibunya.
Cold telah mendengar rincian pasti dari kematian orang tuanya. Ayahnya yang seorang Raja pada saat itu bertarung satu lawan satu dengan Hydra untuk mengulur waktu agar para penduduk melarikan diri atau bersembunyi di bawah tanah. Di saat Sang Raja bertarung untuk mengulur waktu, Sang Ratu membantu penduduk melarikan diri dari pulau ini dan juga membangun sebuah perlindungan pada kota bawah tanah agar para penduduk tidak dapat merasakan aura intimindasi Hydra. Sang Ratu mengorbankan nyawanya untuk menciptakan perlindungan itu. Untuk sang Raja, dia bertarung habis habisan dengan Hydra. Meskipun dia sudah berubah menjadi wujud singa emas, dia tidak sebanding dengan Hydra dan akhirnya di kalahkan...
Setelah beberapa jam semenjak Hydra menginvasi lautan dan mengurung pulau, Komandan Fang nekat untuk pergi ke tempat Raja bertarung dan disana, dia menemukan mayat Raja terbaring lemah. Tubuh sang raja terbujur kaku dan dingin, dia hampir ke hilangan separuh tubuhnya. Sang Raja mati dengan bangga karena telah berhasil melindungi putra dan rakyatnya yang dia cintai. Bagi semua orang, sosok Raja dan Ratu adalah pahlawan di antara Pahlawan.
"Ayahanda, Ibunda... Terima kasih karena kalian melindungiku... Membiarkanku melarikan diri dari pulau ini... Aku juga berterima kasih kepada komandan Fang karena memakamkan kalian di tempat yang sangat kita sukai ini..."
Cold duduk berlutut di makam kedua orang tuanya. Dia tidak sedang menangis melainkan tersenyum kepada makam kedua orang tuanya yang sangat dia kagumi dan sayangi.
"Maafkan aku, karena membutuhkan waktu bertahun-tahun untukku mendatangi makam kalian... Pulau ini telah dibebaskan oleh sahabatku, Rigel yang merupakan seorang pahlawan Creator dan juga Pahlawan Tombak Takumi...Jadi, kalian tidak perlu khawatir akan masa depan dari kerajaan ini..."
Suara Cold mulai bergetar bersamaan dengan bahunya. Namun, dia tetap berusaha yang terbaik untuk tersenyum dan melakukannya tanpa air mata.
"Ibunda... Kau tidak perlu mencemaskanku di surga sana... Aku makan dan mandi dengan teratur, aku juga memiliki banyak orang yang bisa kusebut dengan teman dan kami sering berpetualang bersama seperti yang aku impikan sejak kecil... Aku sama sekali tidak merasa kesepian meski tidak adanya Ayahanda dan Ibunda... Aku juga rajin berlatih dan menjadi kuat... Tuan Walther dan Istrinya Nyonya Natalia yang merupakan teman baik ibu, merekalah yang merawatku dan melatihku... Aku juga tumbuh bersama putri mereka Merial... Kami tumbuh dan besar bersama... Lalu, untuk gadis yang kucintai, aku belum memilikinya dan mungkin akan butuh waktu untukku membawanya kesini dan menemui kalian..."
Cold berhenti sejenak untuk mengambil nafas agar menenangkan dirinya yang mencapai batas dimana dia hampir tidak dapat menahan kesedihannya.
"Lalu, Ayahanda.... Aku telah menjadi seorang pria yang kuat sesuai keinginanmu... Meskipun aku masih belum bisa menjadi singa emas sepertimu, namun aku akan terus mengejar dan melampauimu, jadi saat di surga nanti mari kita cari tahu siapa yang lebih kuat di antara kita...Jangan merajuk jika aku mengalahkanmu nanti... Aku juga akan menjadi Raja hebat sepertimu, orang yang sangat menyayangi keluarga dan rakyatnya lebih dari apapun... Orang yang tidak akan ragu membuang nyawanya untuk menyelamatkan banyak orang... Aku akan melanjutkan kerajaan ini dan membangun surga di tempat ini... Mungkin nama kerajaan ini akan di ganti dengan nama lain, namun ini akan menjadi awalan di mulainya Era pemerintahan baru yang berada di bawah pimpinanku, Asoka Van Yurazania... Jadi..."
Cold tidak lagi kuasa menahan tangis, bendungan yang dia buat dengan mudah runtuh saat mengingat wajah orang tuanya dan kenangan yang dia lalui bersama mereka. Cold menundukan kepalanya dan menangis...
"Kalian t-teruslah perhatikan aku dari atas sana... Perhatikanlah aku yang akan menjadi Raja yang lebih hebat dari Ayahanda... Aku mencintai kalian... Aku rindu dengan kalian... Ayahanda, ibunda... Jika saja ada kesempatan untuk kita lahir kembali... Aku hanya menginginkan kalian menjadi orang tuaku... Sampai jumpa..."