The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Pahlawan VS Tortoise I



setelah berbicara dengan Ratu Peri, Rigel pergi mencari Ozaru dan teleport kembali ke Ruberios untuk menjemput Asoka dan Merial. Sesaat Rigel tiba, semua orang tampak terkejut karenanya. Wajah mereka tampak seperti orang yang baru saja melihat hantu.


Rigel mengabaikan kejutan di wajah mereka dan memandang sekitar. Ada lebih sedikit orang yang hadir ketimbang sebelumnya. Rigel juga memperhatikan bahwa para kandidat Kaisar surgawi sedang duduk seakan berdiskusi.


Jika benar, Rigel menyimpulkan bahwa yang di perbolehkan mendengar diskusi mereka hanyalah kepala kesatria Ruberios, orang penting dari masing-masing negara seperti seperti Tirith dan Merial serta beberapa bangsawan berpengaruh.


"Rigel! apa yang sedang kau lakukan di sini??" Tanya Asoka, berlari menghampiri Rigel.


Di sisi lain, Alexei juga tampak penasaran. Dia bangkit dari kursinya dan bertanya bagaimana keadaan di sana.


"Sejauh ini, kami belum mendengar berita apapun tentang Tortoise semenjak para pahlawan pergi ke lokasi Tortoise. Bisakah anda menceritakan sedikit tentang apa yang terjadi, Tuan Rigel?" Tanya Alexei dengan ramah.


Rigel ragu sejenak, namun dia mengira tidak apa-apa memberinya sedikit informasi sebagai buah tangan darinya.


"Pada awalnya ada puluhan ribu pasukan monster dari jenis yang berbeda. mulai dari Goblin hingga Naga campuran. Mereka di kendalikan Tortoise melalui parasit, namun kami berhasil membersihkannya tanpa masalah. Yang menjadi masalah adalah parasit itu, mereka akan mencari inang baru untuk di tinggali saat inang lamanya mati, Untuk itu, aku menyarankan agar kalian tidak mengirim pasukan." Ujar Rigel kepada Alexei.


Semua orang terkejut mendengarnya. Bahkan menghadapi sekelompok Goblin cukup merepotkan. Di tambah, ada banyak jenis Ras monster dan Naga darah campur dan jumlah mereka mencapai ribuan? Semua orang hanya bisa membayangkan betapa brutalnya pembantaian ini. Mereka memastikan satu hal, bahwa para pahlawan saat ini sangatlah kuat.


"Lalu, bagaimana dengan Tortoise?" Tanya Alexei.


"Dia sedang tertidur. Yah, aku yakin salah satu pahlawan akan datang dan menjelaskannya." Tatapan Rigel beralih pada Asoka dan Merial, "Ayo kita segera pergi dari sini, Asoka, Merial." Lanjut Rigel.


"E-eh? ke-kembali? maksudmu ke Region?" Tanya Asoka dengan terkejut, bahkan Merial sama terkejutnya.


"Memangnya kemana lagi kita akan pulang?" Rigel menjawab dengan mengajukan pertanyaan lagi.


"Kenapa? bukankah kita harus menghadapi Tortoise?! jika kita kembali sekarang juga, akan ada banyak orang mati dan terinjak oleh mahkluk itu, Rigel!" Ujar Asoka, sedikit menaikan suaranya.


"Aku tahu apa yang aku lakukan, Asoka. Lagipula, para pahlawan itu ada di sana. Mereka tidak akan kalah dengan mudah dan aku yakin mereka dapat bertahan sampai pengungsian sekitar selesai. Dingin kanlah kepalamu baik-baik, Asoka. " Ujar Rigel dengan dingin.


Asoka tertegun, ini pertama kalinya dia dan Rigel hampir bertengkar seperti ini. Asoka menarik nafas dari mulutnya dan menghembuskannya. Setidaknya, kepalanya akn mendingin sedikit.


"Huh... kau benar Rigel. Nampaknya aku terlalu stress seharian ini sehingga tidak dapat mencerna segala hal." Ujar Asoka, memijit dahinya dan berjalan mengikuti Rigel dengan lesu.


Sesaat Rigel hendak pergi, suara seorang pria tua terdengar dari belakangnya.


"Apa kau ingin melarikan diri dari tanggung jawabmu, Pengecut?!" Ujar Altucray, bangkit dari kursi dan berteriak.


Rigel berhenti melangkah, dia mengepalkan tangannya dengan marah dan berkata, "Aku sudah cukup bersabar terhadapmu, Babi. Aku menahan dendamku karena kau mencoba membunuhku bersama bajingan Takatsumi itu. Aku tidak bisa sabar lebih jauh dari ini, sepertinya kau harus mendapat hukuman." Rigel berbalik dan berjalan menuju Altucray.


Rigel melepaskan hawa membunuh yang telah dia kumpulkan selama ini. Semua orang yang hadir berkeringat dingin karena tekanan itu, bahkan Altucray sampai mengambil satu langkah mundur.


Alexei dan Rudeus tidak bisa membantu, mereka hanya bisa diam dan merasakan tekanan Rigel yang sangat kuat. Saat Rigel hampir naik ke podium, seorang gadis berambut pirang menghadangnya dan mengacungkan pedangnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu lebih jauh lai dari ini!" Bentak Tirith.


Rigel berhenti sesaat dan mengatakan, "Minggir dari jalanku." dengan tatapan dingin.


Pedang Tirith sedikit gemetar, sepertinya dia merasa takut mengacungkan senjatanya pada Rigel dan berharap dia berhenti sampai di sini. Namun, Rigel tetap mengambil langkah maju. Bilah pedang Tirith mengiris pipi Rigel sehingga mengeluarkan darah.


"B-berhentilah!" bentak Tirith.


Rigel terus memotong jarak, sampai wajahnya benar-benar dekat dengan Tirith. Rigel memiliki senyuman lebar di bibirnya selagi matanya menatap Tirith.


"Kau pikir aku akan berhenti begitu saja Terhadap gadis yang telah mengkhianatiku dan berani mengacungkan senjata pada orang yang di cintainya?! Kau tahu bahwa bajingan itu dan Ayahmu mencoba membunuhku, namun kau tetap melindunginya... kau mengecewakanku lagi, Tuan putri." Ujar Rigel.


Setelah mengatakan itu, Rigel berbalik dan menatap Altucray yang terlihat menjijikan karena di lindungi putrinya sendiri.


"Karena kau masih di butuhkan, aku akan melepaskanmu. Selanjutnya, tidak ada lain kali." Ujar Rigel, melangkah menuju Asoka dan yang lainnya.


Asoka, Merial, dan Ozaru berkumpul di sekitar Rigel untuk berteleportasi kembali ke Region. Masih ada cukup banyak hal yang harus di lakukan mulai dari sekarang. Sesampainya di Region, Rigel meminta Asoka untuk memberitahu apa saja yang mereka diskusikan selagi Rigel menghadapi Tortoise.


Ringkasnya, mereka berdiskusi tentang menggabungkan pasukan negara mereka sebagai bentuk bala bantuan untuk para pahlawan. Tiga kandidat itu menyetujuinya, namun Asoka menolak dan meminta mereka untuk menunggu keadaan terkini tentang Tortoise dari pahlawan. Semuanya sepakat dan mengirimkan tim kecil untuk menemui para pahlawan dan dari situlah, Marcel meminta mereka mengirimkan bala bantuan. Rudeus mengirimkan berbagai surat undangan ke Negara kecil untuk mengirimkan pasukan mereka sebagai dukungan untuk pahlawan.


Rigel berfikir sepertinya mereka tidak akan mendengarkan nasihat Rigel untuk tidak mengirimkan pasukan. Situasi akan semakin merepotkan jika ada banyak orang yang terkena parasit. Yah, Rigel memilih untuk memperhatikan situasi selagi dia melakukan persiapan. Sekarang, mari kita lihat bagaimana pertempuran para pahlawan lain tanpa kehadiran Rigel, Ozaru dan Yuri.


...____________________...


Waktu subuh, matahari sebentar lagi akan terbit dan para pahlawan sudah berbaris dan bersiap untuk pertempuran besar. Dinding besi yang di ciptakan Rigel adalah garis pertahanan terakhir. Mereka tidak boleh membiarkan Tortoise mencapai dinding itu apapun yang terjadi.


"Bersiaplah, kita akan bertarung seharian penuh." Ujar Marcel.


"Huh, padahal aku baru saja pulih." Ujar Petra.


"Jangan sampai terkena parasit lagi... Mereka mengincar tengkuk, jadi berhati-hati." Ujar Takatsumi.


Pahlawan yang terinfeksi oleh parasit telah berhasil di sembuhkan oleh Ozaru dan telah pulih dengan cepat. Mereka tidak tahu bagaimana Ozaru melakukannya. Dia hanya mengetukkan ujung tongkatnya dan parasit itu menghilang.


Tim kecil yang di kirim dari Ruberios telah tiba pada saat tengah malam. Mereka adalah Arc Wizard, support dan beberapa petualang kelas atas yang akan mendukung pahlawan. Dunia sudah mulai bergerak, setiap Negara mengirimkan pasukan mereka untuk membantu pahlawan mengalahkan Tortoise. Tentu saja ada beberapa Negara yang tidak mengirimkan pasukan, Region adalah salah satunya.


Pasukan gabungan dari berbagai Negara itu di kenal dengan Tentara Persatuan. Kemungkinan besar, pasukan itu akan tiba sekitar lima hari dari sekarang. Sebelum Ragnarok tiba, umat manusia harus berhasil bertahan hidup menghadapi mahkluk malapetaka dan teror dari ras iblis.


"Dia bangun..." Gumam Takumi.


Gunung di punggung Tortoise bergetar dan perlahan naik bersamaan dengan sinar matahari yang mulai terbit. Pasukan kecil dari Ruberios tampak berkeringat dingin dan takut melihat pemandangan di depan mereka. Bahkan para pahlawan terlihat cukup terkejut. Seharusnya, terdapat retakan besar di bagian kepala Tortoise itu. Namun...


"Luka-lukanya..." Gumam Aland.


"Menghilang??" Gumam Takumi dengan wajah tidak percaya.


"Oii, apakah mungkin kita mengalahkan mahkluk ini..." Gumam Argo.


Di antara mahkluk malapetaka, Tortoise adalah monster dengan daya serang paling lemah. Namun, dia adalah monster dengan daya hancur dan pertahanan terkuat di antara mereka. Sekali lagi, umat manusia di ingatkan tentang seberapa mengerikannya Mahkluk malapetaka. Pertempuran baru saja akan di mulai....