
"Lantas tidak ada waktu untuk disia-siakan. Aku akan menjelaskan situasi tanpa perduli akan pertanyaan."
Waktu untuk menjelaskan situasi sangatlah singkat. Dia memang meninggalkan beberapa ratus prajurit kematian, namun sampai kini dia dapat mengetahui bahwa mereka hancur dengan cepat. Tentunya mereka dapat pulih jika dia memberikan pasokan Mana, namun itu tidak diperlukan untuk sekarang, dikarenakan dia harus berhemat tenaga.
Setidaknya ada tiga menit baginya menjelaskan hal yang telah ditemukan olehnya. Meski tidak dapat dipastikan, namun setidaknya dia dapat menyelesaikan penjelasannya.
"Terdapat 10 White Tiger saat ini namun bukan berarti dia hidup dalam kelompok. Dikarenakan tidak ada orang yang mengetahui bahwa 'White Tiger' bukanlah satu individu, tetapi kelompok."
Bila iya, seharusnya Ray, Merial atau bahkan Natalia memberitahu padanya mengenai informasi itu. Namun mereka tidak mengatakannya. Bukannya tidak ingin, melainkan mereka memang tidak mengetahuinya. Mengambil dari hal itu, dia menyimpulkan bahwa terdapat trik dibalik jumlahnya. Misalnya seperti,
"Pembelahan tubuh atau kesadaran. Hal itu yang berkemungkinan besar menjadi kunci jawaban mengenai jumlah yang dimiliki mahkluk itu. Kita seharusnya tahu, bahwa tujuan monster itu memberikan rasa sakit kepada kehidupan yang ada. Namun mengapa dia tidak membuat kelompoknya terpecah dan mengitari dunia? Tentunya aneh kan??"
Jika memikirkannya lebih jauh lagi, bahkan orang bodoh sekalipun dapat menemukan jawabannya. Sangat tidaklah logis bila memiliki kelompok namun tidak memecahnya. Bila mereka khawatir dilenyapkan satu persatu dan memilih bergerak secara kelompok untuk menghindari hal itu memang mungkin. Namun White Tiger bukanlah monster biasa. Dia adalah monster yang mengacaukan dunia lebih dari seribu tahun sehingga tidak dapat disamakan dengan yang lainnya.
Selain itu, Rigel dapat menyentuh jiwanya di World Of Void, jadi itu bukanlah bayangan belaka semacam jurus seribu bayangan dari anime di bumi.
"Karena itu pembelahan tubuh atau kesadaran yang memecah jiwa dapat jadi kemungkinan. Dari yang kuamati, nampaknya tidak ada satupun tubuh aslinya yang bertarung. Lantas, kabut penghapus yang bersamanya menjadi solusi sekaligus penghalang."
Tanpa perlu baginya memberitahu arti dari penghalang yang dimaksud. Tidak hanya minimnya pengelihatan, dengan adanya kabut mereka tidak dapat memastikan lokasi satu sama lainnya. Belum lagi sesuatu yang dapat menghapus keberadaan mereka dari dunia dan ingatan orang-orang. Tiada hal selain merepotkan untuk mengatasinya.
Dia sendiri tidak yakin, entah dapat atau tidak kabut itu dihilangkan. Bila itu sihir pada umumnya, maka Void tentunya bisa menghapusnya. Namun jika sebaliknya, maka dia tidak dapat memikirkan cara lain.
"Karena itu, Garfiel, Odin, Natalia dan Gahdevi. Kalian tidak kuizinkan ikut andil. Dikarenakan kami tidak dapat memegang apapun selain senjata dan nyawa kami pribadi, kalian hanya akan menjadi penghambat. Karena itu, Natalia, jangan pergi ke Region atau tempat berpenghuni selama White Tiger belum terbunuh."
Natalia hanya diam tanpa mencoba menyela Rigel, namun dapat dipastikan dia mengerti instruksinya. Lagipula dia telah menjelajah banyak tempat kosong sehingga tidak perlu khawatir.
Bukannya Rigel atau yang lain menyombongkan diri tentang kekuatan, tetapi memang fakta bahwa Pahlawan di tempat ini jauh lebih kuat ketimbang pendekar biasa. Bila mereka yang disegani tidak menjamin keselamatan mereka sendiri, lantas bagaimana dengan orang selain mereka?? Tentunya mustahil menjaga dua api dengan satu tangan.
Mengenai alasan mengapa dia tidak mengizinkan kembali ke Region, dikarenakan tetap ada kekhawatiran White Tiger akan menyusul melalui Garfiel yang menjadi incarannya. Dengan penciumannya yang super tajam, lantas tidak mustahil dia dapat mengendus Garfiel meski dia berada di ujung dunia sekalipun.
"Kita tetap bergerak bersama saat memasuki kabut dan saling melindungi punggung. Bila kemungkinan kita dapat saling berpisah, maka berusahalah untuk keluar atau mencari yang lain. Hindari bergerak sendirian."
Bergerak sendiri di tempat yang merupakan sarang musuh adalah pilihan bodoh. Pilihan terbaik adalah tetap bersama, setidaknya harus ada tiga orang paling sedikit.
Doom!
Langit-langit—lebih tepatnya seluruh tempat mulai bergetar karena kedatangan sesuatu. Bukan karena sesuatu yang besar, melainkan sesuatu yang nampak melemparkan sesuatu. Waktunya begitu tepat, sampai-sampai terlihat mengerikan bagi Rigel.
"Sudah datang ya..., tetaplah pada rencana. Karena sinar bulan tidak dapat menembus kabut itu, kau tidak perlu khawatir Ozaru."
Dia tidak membalas, hanya mengangguk mengerti. Lagipula dia merasa Rigel tidak sebodoh itu untuk melupakan tentangnya. Jadi, dia pasti telah menduga hal seperti itu.
Rigel beranjak bangun, kini tangan kirinya tidak lagi berguna dan hanya akan mengganggu bila dibiarkan saja. Untuk itu, dengan kasar dia menariknya hingga lepas untuk tidak mengganggu. Mengabaikan rasa sakit yang diterimanya, dia mengulurkan tangan kanan dan meledakan tembok sampai cukup menghancurkan apapun yang ada dibaliknya.
"Serbu!!"
Serempak mereka melangkah bersama, disambut oleh keberadaan kabut yang tak kunjung hilang, meski di terpa badai, hujan atau bahkan yang lain. Sarang musuh berada, kabut keabadian atau mungkin kabut penghapus?? yang manapun tidak masalah, karena kabut itu tetap merepotkan.
Pengelihatan terlalu minim, mereka bahkan hampir tidak dapat melihat rekan satu sama lain. Rigel berjalan di bagian belakang, sementara Ozaru dan Nadia yang memiliki insting hewani yang bagus memimpin. Alasan dia tidak memimpin dikarenakan dia cukup kelelahan dan kondisinya setengah dari kata baik-baik saja. Bahkan jika dia menyadari adanya serangan mendekat, reaksinya tidak akan pernah tepat waktu.
Mereka terus berlari, ditengah kabut mematikan tanpa memperdulikan apapun. Tujuan mereka adalah mencari tubuh asli White Tiger yang berkemungkinan besar bersembunyi di tengah kabut abadi.
"Lancang sekali manusia hina nan rendahan memasuki rumahku tanpa permisi. Lantas terimalah kematian sebagai hukuman!"
Suaranya bergema di dalam kabut. Entah darimana asalnya, tidak dapat dipastikan. Dikarenakan mereka bahkan tidak mengetahui lokasi pasti mereka saat ini. Rigel juga sudah mencoba menggunakan Ciel, namun bahkan Ciel tidak dapat menjangkaunya.
Sesaat perkataan White Tiger mengatakan untuk mati, kabut di sekitar mulai bergerak dan menampilkan 10 White Tiger telah mengepung mereka dalam satu tempat. Tidak ada yang menyadari bahwa terdapat sosok yang mengikuti mereka atau memang sejak awal tidak ada yang mengikuti mereka. Tetapi para White Tiger itu baru datang atau bahkan tercipta dari kabut.
"Sial, apa-apaan ini!"
"Nampaknya bukan kebohongan belaka. Jumlahnya kini benar-benar lebih banyak!!"
Marcel dan Takumi hanya bisa berdecak kesal terhadap keputus'asaan di depan mereka. Membunuh satu sulitnya sudah bukan main, namun bagaimana dengan 10 ekor?? akankah mereka berhasil melakukannya??
Bukannya tidak bisa ataupun mustahil. Namun kemenangan sempurna dengan membunuh seluruhnya hampir tidak mungkin. Jika keberuntungan berpihak pada mereka, Bahkan keberuntungan tidak akan sebaik itu sampai membiarkan mereka memang tanpa terluka parah.
"Jumlahnya memang mengerikan, namun kecepatannya berkurang pesat!! Setidaknya kuyakin kalian dapat mengikuti pergerakannya kali ini!!"
Bahkan Rigel tahu, hanya dengan dapat mengikuti kecepatannya tidak membuat mereka keluar dari situasi ini. Dia sendiri telah memastikan bahwa memang kecepatan dan daya serangnya jauh lebih lemah, namun White Tiger saat ini lebih mematikan dari sebelumnya. Alhasil, dia babak belur sampai kehilangan lengan kiri palsunya.
"Aku tidak akan pernah membuat kesalahan yang sama dua kali, manusia!! Bahkan dengan 100 tubuh, kalian tetap merepotkan bila bersatu..."
Karena itu merupakan sifat dasar ras manusia, dimana mereka menyatukan kekuatan, maka surga akan terkalahkan. Dewa, iblis, bahkan Malaikat memang lebih kuat dan nampak agung. Namun, mereka tidak memiliki apa yang dimiliki oleh manusia, ras yang memiliki daya hidup terbatas. Hal itu dikenal dengan rasa solidaritas sesama.
Contoh saja ras Dewa, mereka terlalu mengagungkan diri mereka sendiri hingga menyebabkan perang diantara mereka. Meski manusia tidak jauh berbeda, namun manusia tetap bisa saling merangkul tangan satu sama lain.
"Tetap bersama, kucing itu merencanakan sesuatu!!" ujar Yuri, menarik anak panahnya.
"Tch!! Seandainya ada Hazama di sini!!" Petra mengutuk.
Sekarang dapat terlihat dengan jelas kerugian yang disebabkan dengan absennya Hazama, pelindung terkuat yang dimiliki umat manusia. Dengan keberadaannya, mereka tidak perlu terlalu mengkhawatirkan punggung karena Hazama pasti akan melindunginya.
"Dia datang!!"
Salah satu White Tiger melompat menuju Marcel dengan gesit, namun dapat diikuti. Marcel mengambil satu langkah maju dan memutar sabitnya untuk menciptakan tornado yang menghempaskan White Tiger itu. Dua melompat menujunya dari arah berlawanan, namun Nadia dan Aland dengan cerdik mengatasinya.
Rigel hendak memperingati mereka untuk tidak terlalu jauh, namun dia sendiri kerepotan terhadap tiga White Tiger yang menyerangnya. Mereka menyerang di waktu bersamaan dan Rigel hanya bisa menangani yang terdekat.
"Lightning Arrow!!"
Anak panah dan tombak melesat menuju dua White Tiger yang mengepungnya. Tidak perlu dipertanyakan lagi, itu berasal dari Takumi dan Yiri yang memposisikan diri di belakangnya. Ingin mengucapkan terima kasih, namun sebaiknya ditunda setelah dia menyelesaikan yang ada di tangannya.
"Hand Of Midas!!"
Rigel mencengangkan White Tiger dan melemparkannya dengan sangat kuat untuk menjauh darinya. Tiga White Tiger melangkah mundur secara perlahan, membiarkan diri mereka menghilang di dalam kabut. Rigel menarik nafas lega dan menatap sekitarnya.
"Terima kasih atas ban—..."
Dirinya terhenti, terlalu fokus pada apa yang di depannya. Hingga tidak menyadari, bahwa kini hanya tersisa mereka bertiga. Kemungkinan terburuk yang tidak ingin terjadi, yaitu mereka terpencar ke segala tempat.
Mendapati Rigel yang terkejut, Takumi dan Yuri menatap sekitar dan berekspresi ngeri, sama halnya dengan Rigel. Lantaran mereka juga tidak menyadari, bahwa White Tiger berniat memecah mereka menjadi beberapa kelompok.
"Kemana yang lainn?? Oiii!! Jika mendengarku jawablah!!" Takumi berteriak, berharap mendapatkan jawaban namun sampai akhir tiada suara balasan dari tempat lain.
"Ini yang terburuk, sialan!!"
"Bagaimana ini, Rigel??"
Meski dirinya marah karena terkena jebakan murahan seperti ini, dirinya harus tetap berkepala dingin dan berpikir logis. Lantas, setidaknya Pahlawan lain terpisah dalam kelompok tiga atau empat orang, mungkin terburuknya ada yang terpisah seorang diri. Jika memang harus, setidaknya biarlah orang itu Ozaru, sosok yang dipercayai Rigel memiliki ketangkasan yang jauh lebih hebat dari dirinya.
Bahkan jika dia dan Ozaru bertarung, Rigel tidak yakin dapat menang tanpa memanfaatkan penuh kekuatan Voidnya.
"Yah, mencoba mencari mereka hanya menuju pada kebuntuan saja. Setidaknya mereka tahu tujuan awal untuk mencari tubuh sebenarnya kucing sialan itu. Mari kita lanjutkan perjalanan dan jangan sampai terpisah lebih jauh."
"Ya, untuk saat ini itu pilihan terbaik untuk mengakhiri neraka kabut dengan cepat, sebelum ada yang hilang dari ingatan kita."
"Kalau begitu aku akan mengawasi nama-nama dalam kertas, berharap tidak ada yang tidak kukenal."
Yah, beruntunglah mereka tidak berkepala batu dan mengikutinya dengan baik. Lagipula Rigel telah mengenal lama mereka berdua, sehingga cukup bersyukur bahwa mereka orang dalam kelompoknya.
Lantaran mereka tidak lagi tahu mana Utara dan mana Selatan, tidak ada hal lain selain melangkah maju terus menerus. Rigel juga mengaktifkan kemampuan yang membuatnya melihat kebohongan seperti ilusi atau fatamorgana, sehingga tidak ada kesempatan bagi White Tiger menipu arah.
Di lain sisi, tiga orang berupa Marcel, Aland dan Nadia berkumpul untuk berunding bersama. Mereka juga sadar bahwa tujuan White Tiger adalah memecah mereka.
"Kita terkena perangkap menyedihkan semacam ini..., benar-benar memalukan," gerutu Aland yang menggaruk kepalanya.
"Benci bagiku mengakuinya, namun itu memang benar," ujar Nadia.
"Ya..., setidaknya kita beruntung tetap bersama. Aku penasaran bagaimana dengan yang lainnya...,"
"Terakhir kulihat, Takumi dan Yuri bersama Rigel, namun entah dengan yang lainnya. Apa yang akan kita lakukan sekarang, Marcel??"
"Mengingat situasinya mengerikan, bukan pilihan baik pergi mencari yang lain. Lebih baiknya jika kita pergi mencari tubuh asli White Tiger. Kemungkinan besar, Rigel juga akan berpikir seperti itu."
Tanpa membuang waktu, Marcel berjalan memimpin tanpa mengurangi sedikitpun penjagaannya. Nadia mengikuti di belakang selagi memantau sekitar dan menemukan Aland berdiam diri.
"Bukankah jauh lebih berbahaya jika kita mencari monster itu??" tanya Aland dengan jelas khawatir.
"Justru karena semua orang berkemungkinan mencari tubuh asli White Tiger terlebih dahulu, maka kita dapat bertemu dengan mereka dalam perjalanan atau saat pertarungan," jawab Nadia.
Aland tidak dapat berargumen lagi, mau tidak mau dia hanya bisa mengikuti mereka untuk mencari monster yang jelas sangat berbahaya itu.
[***]
"Jadi tujuannya adalah memecah kami, ya."
Pria dengan tongkat, Ozaru menghela nafas lelah selagi berjalan tanpa tujuan, dengan harapan berjumpa Rigel atau Pahlawan lainnya.
"Sebelumya aku melihat Ray, Merial dan gadis kipas bersama, jadi setidaknya hanya aku yang sendirian."
Jika mereka ingin menang tanpa kehilangan siapapun, maka antara dia dan Rigel yang lebih cocok terpisah sendirian. Bukannya menyombongkan diri, namun Pahlawan lain pastinya akan mati bila pergi sendirian.
Yah, jika ingin bergabung dengan yang lainnya, nampaknya aku perlu mencari wujud asli monster ini, karena semua akan berpikir begitu..., batinnya.
Pada akhirnya, Ozaru memutuskan berjalan lurus ke depan karena di tengah kabut ini, dia tidak lagi bisa membedakan arah mata angin.
Belum lama dia berjalan, namun aura tidak mengenakan dapat dirasakan tidak jauh di depannya. Dia menyiapkan tongkat, berjalan dengan hati-hati hingga perlahan melihat apa yang ada di depannya.
BaDumb!!
BaDumb!!
Dentuman—lebih tepatnya dia mendengar suara detak jantung. Di hadapannya, terdapat sebuah pohon besar berdiri tegak dan seseorang berpenampilan macan putih yang mirip dengan transformasi Garfiel.
Ozaru dapat mendengarnya dengan jelas, bahwa suara detak jantung itu berada di pohon yang berada tepat di belakang manusia macan itu. Untuknya, tidak perlu dipertanyakan lagi siapa itu.
"Hahaha!! Tidak kusangka bahwa aku akan menjadi orang pertama yang kau undang," Ozaru terkekeh dan memejamkan mata singkat lalu kembali membuka matanya.
Rencana awalnya aku ingin membunuh manusia rambut putih keparat itu dulu, namun dirimu yang sendirian dan juga sama berbahayanya dengan manusia itu, kayaknya. Sebaiknya kuhabisi kau terlebih dahulu!!"
Senyuman beringas yang membuat taring-taringnya terekspos muncul di bibirnya. Kepercayaan dirinya nampak tak terbantahkan dan Ozaru meyakini bahwa sosok di depannya adalah wujud asli dari White Tiger. Tidak hanya itu, sosok White Tiger seperti di awal yang dia jumpai mulai bermunculan untuk menghadapinya. Bajingan itu benar-benar ingin membunuhnya sekarang.
"Lantaran kau menganggap ku berbahaya, cukup menyanjung. Sebagai gantinya..., mari bermain!!"