The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Ozen sang pendekar hitam



POV KAMADA TAKUMI.


Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk sampai ke desa silvet. Aku tahu bahwa desa ini di teror oleh seekor manticore namun tidak kusangka akan separah ini.


Ada beberapa rumah yang hancur dan hanya tersisa puing puingnya saja, ada juga beberapa rumah yang sedang dalam tahap pembangunan.


"A-apa yang sedang terjadi dengan desa?"


Ucap Bell.


Wajah Bell tampak sangat syok dengan keadaan desa Silvet. Tampaknya, sudah beberapa tahun dia tidak kembali ke desa dan meskipun dia seorang petualang,


Dia tidak pernah mendengar kabar bila desa Silvet diserang oleh seekor manticore. Ekspresinya bukanlah sebuah kebohongan. Aku menepuk bahu Bell pelan untuk menenangkannya.


Hal yang membuatku bingung adalah kenapa monster itu masih hidup jika ada seseorang sekuat orang tua yang kulawan tadi? Bahkan akupun tidak yakin menang melawannya


Setelah mengetahui kemampuan yang dia gunakan di akhir pertarungan kami. Lalu, seakan menjawab kecurigaanku, dia mulai berbicara.


"Seperti yang kau lihat, Seekor Manticore telah menyerang desa Silvet seminggu yang lalu. Monster itu sangat licik, setiap kali dia merasakan seseorang yang kuat sedang datang, dia akan pergi menjauh dari tempat ini.


Itulah kenapa sampai saat ini aku belum bisa membunuhnya. Dia menyadari auraku meskipun aku sudah menekannya semampuku."


Ucap guru Bell dengan nada yang tampak kesal.


Jadi begitu, ternyata memang benar selain fakta bahwa monster ini cukup pintar, dia juga monster yang licik.


Bagiku, Manticore menggunakan semacam strategi mengacau dan kabur jika ada sosok yang dapat mengancam nyawanya. Itu adalah strategi yang tepat untuk pengecut sepertinya.


Kami terus berjalan melewati berbagai bangunan yang hancur dan kami tiba di pinggiran hutan yang ternyata cukup dekat dengan tempat kemunculan Manticore.


Selain sebuah rumah kecil yang tidak mewah, aku dapat melihat sebuah lokakarya untuk pandai besi di belakang rumah itu, ada juga sebuah gedung yang tampak seperti dojo atau arena pelatihan.


Kami dipersilahkan masuk ke kediamannya. Aku duduk dikursi yang terbuat dari kayu unik yang memiliki bau aromatherapik yang menggelitik hidung.


Tidak ada hak khusus yang menonjol di rumah itu selain satu set baju tempur bertipe zirah ringan, topeng serta pedang yang berwarna hitam legam.


Seluruhnya berwarna hitam dari ujung kaki sampai ujung rambut. Jika aku menggunakan setelan serba hitam seperti itu, aku mungkin lebih terlihat seperti iblis ketimbang pahlawan.


Meskipun harus kuakui, setelan tempur serba hitam itu sangat keren dan jujur saja aku sudah membayangkan betapa keren dan gagahnya aku jika menggunakannya.


"Apa kau tertarik dengan zirah tempur milik guru?"


Ucap seorang gadis yang duduk di samping Bell.


"ah, ya. Aku belum pernah melihat setelan tempur serba hitam seperti itu."


"Yah, mungkin memang hanya guru saja yang menggunakan setelan norak seperti itu." ucapnya "Ah ya omong omong perkenalkan namaku Tessa, aku adalah teman masa kecil Bell."


Tessa memperkenalkan diri.


" Hey, Tessia. Bukankah cara bicaraku terlalu santai kepada seorang pahlawan?"


Ucap salah satu pria kembar.


"Ahaha, tidak apa apa. Tidak usah terlalu formal karena aku tidak menyukai formalitas semacam itu."


Ucap Takumi sambil tertawa kering.


"Ah, ya. Kalau begitu izinkan kami memperkenalkan diri. Namaku Alfonso, panggil saja aku Al dan ini adikku Elfonso atau lebih akrab di panggil El.


Dan untuk orang yang sedang pingsan tadi adalah teman kamu Egil."


Ucap Al yang memperkenalkan diri.


"Ah, panggil saja aku Takumi. senang bertemu denganmu."


Kami semua saling tersenyum satu sama lain. Aku memperhatikan Bell yang sedari tadi hanya diam.


"Ada apa denganmu Bell?" Tanya Takumi.


"Ti-tidak~, hanya saja aku—"


"Apa jangan jangan kau mengatakan impian kekanak kanakanmu yang ingin menjadi pahlawan di depan pahlawan itu sendiri?" Tessia menggoda Bell.


Seakan kata katanya benar, Bell menutup wajahnya yang memerah padam dan kami semua tertawa bersama sama.


Aku menggelengkan kepalaku untuk berhenti memikirkan masa lalu. Kami saling berbicara satu sama lain dengan riang.


"Apakah kau tau, guru memiliki julukan Ozen sang pendekar hitam?"


"Ozen sang pendekar hitam? Jadi nama pria tua itu Ozen?"


Tanya Takumi.


Tessia mengangguk sebagai jawaban. Julukan Ozen sang pendekar hitam mungkin sangat cocok untuknya karena satu set baju tempur yang seluruhnya berwarna hitam itu.


Aku membayangkan bagaimana jika aku mrndapat julukan Takumi si pahlawan hitam, itu terdengar sangat tidak etis. Aku dapat membayangkan wajah Yuri yang tertawa lepas.


"Yare yare, bisakah kalian tidak menyebutkan julukan memalukan itu?"


Suara pria tua Ozen keluar dari dapur.


Dia membawa teko yang berisi teh serta beberapa cangkir yang terbuat dari kaca. Dia menuangkan teh dan mengisi seluruh cangkir yang kosong dengan anggun.


"Maafkan aku jika teh ini tidak selembut seperti yang mungkin biasanya kau minum, pahlawan tombak."


Ucap Ozen sambil menundukan kepala.


"Ah tidak apa apa, lembut atau kasar daun tetaplah daun, dan aku mohon kau tidak perlu menggunakan formalitas seperti itu."


Takumi menggaruk kepalanya sambil tersenyum.


"Daun tetaplah daun, ya? Kata katamu itu mungkin menyakiti hati kami para penikmat teh."


Dia tersenyum lembut sambil sedikit menggoda.


Bahkan setinggi apapun kualitas yang mereka miliki, bagiku semua itu sama saja, daun tetaplah daun dan tidak ada yang berubah.


"Yah, kita lewatkan saja pembicaraan tentang daun, bagaimana kalau kau jelaskan situasi terkini mengenai rubah licik itu?"


Takumi mengalihkan pembicaraan.


Pak tua Ozen duduk di sebrang tempatku duduk dan mulai menjelaskan situasi mengenai Manticore.


Singkat ceritanya, belum ada pergerakan besar dari monster licik itu selama seminggu ini dan menurut saksi dari Al, nampaknya Manticore itu sedang mengumpulkan monster monster lemah seperti goblin.


Sepertinya Manticore ini lebih cerdas dari perkiraanku. Saat ini dia sedang membangun pasukan yang diisi dengan monster lemah dan berniat menyerbu desa ini.


Dari perkataan Ozen, mereka telah memberikan Quest kepada guild namun belum ada satu petualangpun yang menjalankannya.


Aku dan Bell datang di waktu yang tepat, mungkin tidak akan lama lagi bagi Manticore untuk menyerang desa ini.


Bell memiliki kemampuan yang cakap dalam pertempuran fisik maupun sihir, untuk Al, El dan Tessia mereka tidak setangguh cold dalam pertarungan fisik,


Namun kekuatan sihir dan kordinasi mereka yang sempurnalah yang membuatnya mengerikan. Untuk Egil, dia memiliki badan yang kekar dan diberkahi kekuatan fisik yang hebat.


Untuk kemampuan sihir dia setara dengan Al namun dia lebih memfomuskan sihirnya pada sihir pertahanan yang membuatnya menjadi perisai daging yang kokoh.


"Oh iya, dari yang kuingat saat kau menahan tombak milikku di pertempuran sebelumnya, kau menggunakan Divine protection? Bukankah itu hanya sesuatu yang dimiliki para pahlawan?"


"Tidak juga. Divine protection adalah kekuatan ilahi dari dewa yang didapatkan seseorang sejak lahir atau berlatih dengan keras atau bahkan kau bisa mendapatkannya dengan cara menerimanya dari seseorang."


"Aku tidak akan menjelaskan bagaimana caraku mendapatkan Divine protection of soul-Earth. Namun, untuk kasus dari Divine milik pahlawan berbeda.


Divine milik pahlawan adalah sesuatu yang terus diwariskan oleh roh pahlawan dari generasi sebelumnya dan juga roh senjata suci."


Aku terus diam mendengarkan penjelasan Ozen. Bahkan Bell dan teman temannya mendengarkannya dengan tenang.


"Divine yang diwarisi hanya kepada para pahlawan adalah Divine Protection of saint Hero dan Divine protection of saint weapon."


Aku mengerti garis besar dari Divine yang dimiliki pahlawan. Contohnya Divine saint weapon, aku yakin itu adalah Divine yang dapat mengakses senjata suci yang dimiliki pahlawan.


Setelah berbicara mengenai beberapa seri dari divine protection lainnya, entah bagaimana pembicaraan itu berubah arah menjadi cerita tentang duniaku sebelum datang kesini.


Bahkan, pak tua Ozen mendengarkan dengan sangat tertarik mendengarkan ceritaku mengenai bumi.


Tanpa disadari matahari mulai terbenam dan aku memutuskan untuk tinggal di rumah pak tua ozen malam ini.