
Rigel pergi mencari Ray yang mengurus jasad Takatsumi. Penting untuk mengamankan nya terlebih dahulu sebelum memakamkannya. Mungkin orang-orang telah menyadari bahwa Pahlawan saling membunuh, karena ada cukup banyak prajurit yang memperhatikan.
Prajurit bukanlah masalah, mereka hanya penjilat yang mencari harta. Namun, jika itu orang lain selain Pahlawan, aku khawatir sesuatu yang merepotkan akan terjadi. Batin Rigel.
Bukan berarti benar-benar memprihatinkan. Jika itu hanya orang biasa, maka mereka dapat dengan mudah di bungkam oleh harta atau kekuatan. Kemungkinan terburuk, Rigel sendiri yang akan membunuh mereka untuk menutup mulut.
Mereka tidak tahu asal-usul para Pahlawan membunuh Pahlawan lain atau Pahlawan Pedang. Lalu beruntungnya informasi bahwa Pahlawan yang mati bisa di bangkitkan belum tersebar luas. Jika saja Rigel memilih menyebarkannya secara luas, kudeta dari negara kecil yang ingin memanggil Pahlawannya sendiri tidak dapat tertolong.
Dalam perjalanan, dia bertemu dengan Nadia yang mengatakan bahwa Ray telah kembali ke Region untuk mengawetkan tubuh Takatsumi.
Bagusnya bahwa Ray tidak langsung membawanya ke kuil pemanggilan. Mungkin dia tahu betul, bahwa belum ada kandidat yang tepat untuk menggantikannya. Namun, sayang sekali bahwa Rigel sedang mempersiapkan kandidatnya.
"Kau mau pergi ke mana?"
Nadia menghentikan Rigel yang berjalan melewatinya setelah menanyakan tentang Ray. Sejujurnya Rigel tidak berniat menjawab, namun akan merepotkan jika Nadia menahannya terus menerus.
"Ke suatu tempat. Jika kau ingin ikut, maka ikut sajalah. Lakukan sesukamu."
Meninggalkan kata-kata itu, dia kembali melanjutkan perjalanan, bersama dengan Nadia di belakangnya.
Mereka tiba di ruang pelatihan, untuk menemukan Tirith sparing pedang dengan Leo. Yang menjadi kejutan bukan hanya mereka yang sparing dalam level berbeda, melainkan Leo yang pertumbuhannya di luar perkiraan.
Kini Leo memiliki perawakan anak berusia 15 tahun, meski umurnya belum mencapai angka itu. Pertumbuhannya sangat cepat, dalam beberapa waktu lagi, mungkin Leo akan terlihat lebih tua ketimbang Rigel.
"Sparing ini berada di level yang berbeda." Nadia terkesima, melihat pertarungan Tirith dan Leo dalam kecepatan yang tidak dapat di ikuti mata tak terlatih.
Di mata Rigel, pertarungan itu hanya berjalan seperti biasa sehingga dia tidak perlu bersusah payah mengikuti pergerakan mereka.
Tirith mengambil jarak dan berputar di belakang Leo, dengan kecepatan luar biasa, dia telah melancarkan delapan serangan dalam satu gerakan. Begitu pula Leo yang dengan tergesa-gesa menahan serangannya, namun dia terlewat satu yang menggores sedikit pipinya.
Karena Pedang yang mereka gunakan sungguhan, satu kesalahan kecil menyebabkan luka. Tirith berhenti bergerak, menandakan pertarungan berakhir dan menyadari keberadaan Rigel dan Leo.
"Ayah! Sejak kapan kamu kembali?!" Leo berlari menghampiri Rigel, sementara Nadia sangat terkejut dengan panggilan Ayah.
"Belum lama aku tiba. Memangnya kau tidak mendengar apapun tentang itu?"
"Tidak. Aku selalu berada di sini mengayunkan pedang dari hari ke hari. Aku sama sekali tidak tertarik dengan yang lain dan ingin cepat-cepat untuk bisa bertarung bersamamu!" Leo tersenyum.
Meski perawakannya lebih tua dari umurnya, senyuman yang di tunjukan nya masih sangat kekanak-kanakan yang membuat Rigel lega.
"Sepertinya kalian berhasil mengalahkan Phoenix dan aku bersyukur bahwa tidak ada yang tewas dalam pertempuran." Tirith menghampiri selagi mengelap keringat.
Sudah sejak lama Rigel penasaran, tentang bagaimana Tirith tidak memiliki bau keringat yang menyengat, justru sebaliknya, itu harum. Dia benar-benar penasaran dengan mekanismenya. Sayangnya, hal itu bukanlah sesuatu yang dapat di katakan dengan mudah.
"Ya, beruntung Rigel telah menyiapkan antisipasi untuk itu."
Tirith dan Nadia sedikit sedih. Mungkin karena tahu sisi busuk dari sosok bernama Haneda Takatsumi yang telah di bunuh langsung oleh Rigel.
"Daripada itu, ayah, maukah kau sparing denganku? aku ingin menunjukkan kemampuanku selagi kau pergi!"
"Yah, tidak ada salahnya untuk itu. Lagipula aku tidak memiliki luka fatal akibat pertarungan."
Ya, tidak salah untuk melakukannya. Mungkin dia bisa melupakan sejenak rasa pahit di lidah dan hatinya. Rigel menciptakan pedang yang cukup kuat dengan Creator Skillnya dan pergi menuju sisi lain.
Nadia berinisiatif untuk menjadi wasit dan berdiri di tengah mereka yang telah memasang kuda-kuda.
"Bersiap... Mulai!"
Untuk mengetahui sejauh mana Leo berkembang, hal pertama yang di lakukan Rigel adalah mengarahkan seluruh tekanan yang di miliki nya kepada Leo. Tekanan yang di berikan sangat besar, cukup untuk membuat Tirith bergidik ngeri.
Leo sama sekali tidak bergeming, bahkan tidak terlihat takut dengan tekanan terhadapnya. Dia sengaja menggigit bibirnya dan merasakan sakit, agar tidak terlalu terbawa dalam tekanan Rigel. Dia benar-benar telah berkembang pesat.
Leo mengambil langkah lebih dahulu dan dengan cepat sudah berada di belakang Rigel, namun sosok Rigel dalam sekejap sudah di belakang Leo. Rigel memberikan pukulan dengan gagang pedang ke punggung Leo.
"Ada apa, Leo? menurutku kau sama sekali tidak berkembang pesat. Jika aku bersungguh-sungguh, kamu sudah di pastikan mati, tahu? jangan ragu padaku, kerahkan kemampuan terbaikmu."
Sesaat Rigel mengatakan itu, Leo mengambil jarak dan melompat, menyerang Rigel dari atas. Rigel berputar dan menghindari serangan Leo, lagi-lagi Leo menjauh dan mengambil jarak.
Dia menghunus kan pedangnya ke depan dan mengalirkan Mana ke dalamnya, "Light Sword!"
Pedangnya bercahaya dan melesat dengan kecepatan kilat, namun dapat dengan jelas di lihat Rigel. Sebelum Rigel hendak menghentikannya, bayangan Takatsumi yang hendak menusuknya muncul dari Leo, yang membuat Rigel kehilangan kendali.
Dia meraih pedang Leo dengan tangan kanan dan mecengkramnya sampai hancur. Rigel mengeluarkan niat membunuh, mengulurkan tangan kiri dan menciptakan pedang baru di tangan kanannya hendak menikam dada Leo.
Tirith dan Nadia melompat masuk, menahan Rigel yang entah mengapa kehilangan kendali. Tirith menggunakan pedangnya untuk menahan pedang Rigel sekuat tenaga, sementara Nadia menyilangkan kedua cakarnya untuk menahan tangan kiri Rigel.
"Hentikanlah Rigel! kendalikan dirimu!"
"Sadarlah Rigel!"
Mendengar itu, Rigel tersentak dan kembali ke kenyataan. Dia tidak lagi melihat Leo sebagai Takatsumi dan dirinya perlahan kembali tenang.
Leo menjadi orang yang paling terkejut. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia melihat Rigel marah dan benar-benar ingin membunuh seseorang.
"Aku... Aku, maafkan aku, Leo... Aku..."
"Lebih baik kau beristirahat, Rigel. Sepertinya kamu masih kelelahan dan belum lepas dari saat bertarungmu."
Rigel menatap Tirith dan menyetujui usulannya untuk beristirahat.
"Baiklah... Kalau begitu, aku pergi dulu. Sekali lagi, maaf, Leo."
Meninggalkan permintaan maaf, Rigel pergi ke kamar tempatnya tinggal dulu.
Rigel tiba di kamarnya, seperti biasa itu sengaja di kosongkan karena Rigel dapat datang dan pergi kapan saja. Dia duduk dan menekan dahinya dengan lelah. Bayangan yang dia lihat sebelumnya benar-benar nyata. Apa mungkin dia mulai mengalami gangguan mental atau semacamnya? susah di mengerti.
Jika tidak ada Nadia dan Tirith, dapat di jamin bahwa nyawa Leo akan berakhir di tangannya. Membayangkan darah hangat Leo membanjiri tangannya membuat Rigel bergidik ngeri.
"Bagaimana jika aku tiba-tiba kehilangan kendali seperti sebelumnya di saat tidak ada orang yang mampu menghentikanku? Bagaimana jika aku secara tidak sadar membunuh semua orang di Region?"
Pemikiran semacam itu tidak bisa berhenti muncul di kepalanya. Bayangan tentang apa yang dia lakukan di Labyrinth tiba-tiba muncul di kepalanya, membuatnya mencekram kepala semakin kuat.
"Kergh! sialan, berhentilah mengingatkanku!"
Dia mengatupkan giginya dengan kuat, menarik rambutnya dengan kesal dan tubuhnya gemetar, sampai seseorang mengetuk pintu dan masuk ke kamarnya. Sosok yang masuk adalah Tirith, yang telah melepas zirah dada dan menyisakan pakaian minim yang menampilkan kulit leher dan bahu.
Rigel melirik sedikit ke arahnya dan kembali ke dalam dirinya sendiri. Tirith berjalan dan duduk di sisi Rigel dalam diam.
"... Apa kau baik-baik saja?"
Tirith bertanya, namun tidak kunjung menerima jawaban apapun darinya. Tirith hanya bisa memaklumi nya.
"Aku memiliki belenggu yang akan mengikat ku kepada orang pertama yang kucintai dan kau tahu itu. Tidak perduli hal apa yang kau lakukan, aku tidak akan pernah bisa membencimu."
Rigel sangat tahu hal itu. Alasan Altucray membencinya mungkin karena hal itu dan dia bahkan membuat kesepakatan untuk melepas belenggu yang mengikat Tirith. Rigel tentu bisa melepasnya dengan menghapus ingatan Tirith menggunakan Void. Namun dia tidak memiliki niat untuk melakukannya dalam waktu dekat.
"Namun, bahkan tanpa belenggu ini, aku tetap tidak akan bisa membencimu. Aku mencintaimu bukan karena belenggu yang mengikat ku. Ini murni dari hatiku. Bagiku, kamu adalah sosok pertama yang mengajarkanku tentang betapa luasnya dunia dan memberikanku kenyamanan yang sama dengan ibuku."
Tirith terus berbicara, tanpa menyadari bahwa Rigel mulai melirik nya.
"Aku tidak perduli akan menjadi seperti apa kau di masa depan, bahkan jika kamu menjadi iblis atau penjahat yang paling di benci di seluruh dunia, aku akan tetap mencintaimu. Tidak perduli seperti apa kau menjadi, aku akan tetap bersamamu di sisimu dan memelukmu untuk memberi kehangatan. Aku memang tidak bisa menghilangkan penderitaanmu, namun kamu bisa memberikannya sedikit padaku."
Mengatakan itu, Tirith memeluk Rigel dengan lembut dan penuh kasih sayang. Rigel mulai menatap wajah Tirith yang tersenyum, mereka saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya mendekat dan merasakan nafas masing-masing sampai bibir mereka bertemu.
Ahh, biarlah. Kupikir tidak apa-apa untuk diriku menghibur diri. Aku telah banyak berjuang, sangat banyak berjuang untuk dunia yang bahkan bukan tempatku lahir. Aku yakin ini tidak apa-apa. Batin Rigel.
Mereka saling memeluk, selagi bibir saling bertemu. Hasrat mereka lepaskan, pakaian tipis yang menjadi pembatas mereka lepaskan, membuat kulit saling bersentuhan, memberikan kehangatan satu sama lain. Dia mengulurkan tangan kebagian bundar di dada Tirith dan merangsang semakin jauh, hingga akhirnya dia mendorong Tirith ke kasur.
"Apa tidak apa-apa? jika mau, aku bisa membasuh diriku terlebih dahulu. Tubuhku masih bau keringat."
Tirith mengatakannya dengan malu dan merona, menatap Rigel yang tanpa busana. Rigel yang berada di atas Tirith hanya menatapnya tanpa emosi. Dia mendekatkan wajahnya dan mengatakan...
"Tidak apa-apa... Aku tidak membencinya, itu harum."
Meninggalkan kata-kata itu, Rigel kembali menempelkan bibirnya. Dua pasangan muda saling bercumbu, melepaskan semua hasrat panas yang mereka miliki dengan menyatu menjadi satu.
Tidak terduga, langit sudah gelap, sekarang tepat tengah malam. Rigel menoleh gadis tanpa busana yang tidur di dalam pelukannya, Tirith. Dia tidak pernah menduga akan ada hari dimana dia melakukan nya dengan Tirith untuk pertama kalinya. Dia dengan lembut membelai Tirith yang tertidur dengan pulas dan menyelimuti tubuhnya lalu pergi ke luar untuk menghirup udara segar.
Dia menatap langit, menemukan bulan purnama penuh yang bersinar terang di langit. Malam yang begitu damai dan memenangkan. Kondisi mental Rigel telah sedikit membaik, dia telah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Rigel memikirkan sesuatu yang akan dia lakukan ke depannya. Menjadikan Leo sebagai Pahlawan memang prioritas, namun dia setidaknya ingin Leo memiliki pengalaman pertarungan yang nyata.
Selagi Rigel terus memikirkan berbagai hal, seberkas cahaya hijau kecil muncul dan menghampirinya. Cahaya itu Rigel tentu mengenalnya, pecahan kecil dari Sylph.
"Ada apa? aku tidak menduga kamu akan segera menghubungiku."
"Ya, kita lewatkan itu, ini benar-benar mendesak. Aku tidak tahu untuk alasan apa, tetapi Priscilla dengan tergesa-gesa pergi ke suatu tempat yang tidak aku ketahui. Dia menggumamkan ingin menemuimu atau semacamnya, apa kau melihatnya??"
Dari suaranya, sepertinya Sylph sedikit panik dan tidak tenang. Ini bukan pertanda baik, jika Priscilla pergi dengan ingatan yang kacau, dia bisa saja jatuh ke dalam masalah.
"Tidak, aku tidak melihat atau bahkan merasakan dia datang ke sini. Mungkinkah..."
Priscilla baru saja terbangun, tidak tahu banyak tentang dunia yang jauh dari zaman dia hidup. Jelas sekali bahwa dia sama sekali tidak tahu di mana Rigel berada atau apapun tentang Region.
"Kalau begitu ini gawat. Aku sama sekali tidak bisa melacak keberadaannya sehingga tidak tahu kemana dia pergi." Nada suaranya terdengar sedih dan bermasalah.
Rigel menyipitkan matanya, tidak menduga bahwa Sylph yang seorang ratu peri tidak dapat melacak keberadaan Priscilla. Seharusnya sesuatu seperti itu sangat tidak mungkin, pasti sesuatu telah benar-benar terjadi padanya.
"Sial, memangnya apa yang kau lakukan sehingga dia dapat dengan mudah menyelinap dan hilang dari pengawasanmu?"
"Ada beberapa masalah terhadap para peri yang gelisah jadi aku pergi untuk menyelesaikan masalah mereka. Namun saat aku kembali ke tempatnya, dia telah menghilang dari tempat tidurnya."
Jika begitu Sylph tidak patut untuk di salahkan atas hal ini. Dengan tujuan apa Priscilla pergi mencarinya dan menghilang begitu saja? pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padanya. Mungkin saja, ada kaitannya dengan Labyrinth neraka, atau dia mengetahui sesuatu yang lain seperti God Requiem misalnya.
Jika begitu, mau tidak mau Rigel harus mencarinya. Selain itu, mana mungkin dia mau kehilangannya setelah dengan susah payah membangkitkannya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan segera mengirim orang-orang ku untuk mencarinya. Aku juga akan turun tangan langsung untuk mencarinya."